News

Nurdin Abdullah Didakwa Terima Suap dan Gratifikasi Rp 13 Miliar, Rekening Pengurus Masjid Jadi Penampungan

Nurdin didakwa dengan dakwaan kumulatif


Nurdin Abdullah Didakwa Terima Suap dan Gratifikasi Rp 13 Miliar, Rekening Pengurus Masjid Jadi Penampungan
Potret Gubernur Sulawesi Selatan Nurdin Abdullah nonaktif bekerja di tengah pandemi virus corona (Instagram/nurdin.abdullah)

AKURAT.CO, Jaksa Penuntut Umum (JPU) Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) mendakwa Gubernur Sulawesi Selatan nonaktif Nurdin Abdullah dengan pasal berlapis. Nurdin disangka menerima aliran dana terkait sejumlah proyek. Total uang yang diterima Nurdin Rp13 miliar.

"Mengenai dakwaan yang didakwakan kepada saudara Nurdin Abdullah kami memasang atau menerapkan pasal dengan dakwaan kumulatif. Kumulatif artinya, bukan hanya satu perbuatan tetapi ada dua perbuatan secara akumulasi," kata Jaksa Muhammad Asri dikutip dari dakwaan yang dibacakan di Pengadilan Tipikor Makassar, Rabu (22/7/2021).

Nurdin didakwa dengan dakwaan kumulatif yakni Pasal 11 dan pasal 12 huruf a dan b Undang-undang RI nomor 31 tahun 1999 tentang pemberantasan korupsi sebagaimana telah diubah dengan undang-undang RI nomor 20 tahun 2001 tentang perubahan atas UU nomor 31 tahun 1999 tentang korupsi juncto pasal 55 ayat (1) ke 1 KHUPidana juncto pasal 64 ayat (1) KHUPidana.

Suap diterima Nurdin dari pemilik PT Agung Perdana Bulukumba Agung Sucipto sebesar 150 ribu dolar Singapura dan Rp 2,5 miliar. Uang diterima Nurdin melalui Sekretaris Dinas Pekerjaan Umum dan Tata Ruang (PUTR) Provinsi Sulawesi Selatan Eddy Rahmat.

Kemudian Nurdin didakwa menerima gratifikasi Rp 6,7 miliar dan 200 ribu dolar Singapura dari beberapa kontraktor. Dari deretan penerimaan gratifikasi yang diterima Nurdin, dalam dakwaan disebutkan ia menerima Rp 300 juta dari rekening Sulsel Peduli Bencana.

Nurdin bahkan menerima uang dengan total Rp 1 miliar dari beberapa pihak yang ditempatkan di rekening Bank Sulselbar atas nama pengurus mesjid.

"Penerimaan gratifikasi yang dilakukan oleh Terdakwa tersebut tidak pernah dilaporkan kepada KPK dalam tenggang waktu 30 hari kerja sebagaimana dipersyaratkan dalam Pasal 12 C ayat (1) Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi," ujar Jaksa dalam dakwaan.

Berikut daftar penerimaan gratifikasi Nurdin Abdullah seperti dalam dakwaan jaksa penuntut umum KPK:

1. Sekitar pertengahan tahun 2020, Nurdin menerima uang sejumlah Rp 1 miliar dari Robert Wijoyo (Kontraktor/Pemilik PT Gangking Raya dan CV Michella) melalui Syamsul Bahri selaku ajudan yang diterima di pinggir Jalan Perintis Kemerdekaan Kota Makassar.