Lifestyle

Nikah dengan Adat Batak, Berikut 10 Tahapan yang Harus Dilalui

Matonggo raja adalah upacara pembentukan panitia (parhobas) sekaligus membahas mengenai persiapan pesta besar


Nikah dengan Adat Batak, Berikut 10 Tahapan yang Harus Dilalui
Suasana pesta unjuk, yakni proses pernikahan adat Batak. (Instgram/herlina_sianipar)

AKURAT.CO, Beragam suku di Indonesia, membuat beragam pula adat istiadat untuk proses pernikahannya.

Untuk pernikahan dengan mengusung adat Batak diketahui prosesnya termasuk yang cukup panjang

Ada banyak proses yang kamu lalui agar lamaranmu bisa diterima oleh pihak wanita sehingga kamu bisa menikahi wanita impianmu. Agak terkesan berbelit-belit, tapi sebetulnya menarik untuk dilalui.  

Walaupun saat ini rangkaian prosesi pernikahan adat Batak dijalankan secara lebih ringkas. Namun, tetap tak ada salahnya untuk mengetahui bagaimana urutan prosesi pernikahan adat Batak yang sebenarnya, dikutip dari berbagai sumber.

Mangarisika

Prosesi pertama yang harus dilalui untuk menikah dengan adat Batak adalah mangarisika, yakni momen di mana pihak pria berkunjung secara tidak resmi ke kediaman pihak perempuan untuk melakukan penjajakan. Biasanya pihak pria membawa buah tangan berupa cincin emas atau kain.

Marhusip-husip

Rangkaian acara pra pesta pamasumasuon (lamaran) dalam adat Batak adalah marhusip, yang merupakan acara perundingan antara pihak laki-laki dan perempuan, biasanya membahas berapa besar sinamot (mas kawin) yang akan diberikan oleh calon mempelai pria kepada pihak calon mempelai perempuan. 

Secara harfiah, marhusip-husip memiliki arti berbisik. Namun bukan berarti prosesi ini dilakukan dengan berbisik-bisik.

Marhata Sinamot

Ini merupakan proses pernikahan di mana pihak pria ‘membeli’ wanita untuk menjadi istrinya. Bukan membeli dalam arti yang sesungguhnya. Pihak pria dan perempuan biasanya kan membicarakan sinamot (mahar), ulos, jumlah undangan, tanggal dan lokasi pesta, tata cara adat, serta tanggap untuk martumpol di rumah keluarga perempuan. 

Ada pula acara pembagian daging (Jambar Juhut) bagi para kerabat, baik dari marga ibu, marga ayah, serta orang-orang tua atau pariban.

Martumpol

Martumpol dilakukan di Gereja, dimana dihadiri oleh saksi dari keluarga calon mempelai laki-laki dan keluarga calon mempelai perempuan. Prosesi ini biasanya dilaksanakan 2-3 minggu sebelum pernikahan.

Martonggo Raja

Matonggo raja adalah upacara pembentukan panitia (parhobas) sekaligus membahas mengenai persiapan pesta besar, pernikahan misalnya. Prosesi ini dilakukan di masing-masing pihak mempelai. 

Jika zaman dulu pihak hula-hula tidak diperbolehkan hadir, kini semua pihak keluarga dan teman-teman sekampung boleh dihadirkan saat martonggo raja.

Manjalo Pasu-pasu Parbagason

Ini proses menuju puncak, yakni prosesi pemberkatan pernikahan yang dilakukan di gereja. Acara pemberkatan ini kemudian dilanjutkan dengan rangkaian pesta adat Batak.

Pesta Unjuk

Dalam adat Batak, kedua mempelai harus memperoleh pemberkatan dari seluruh keluarga, orang tua khususnya. Kedua mempelai dilimpahi doa-doa sembari ditandakan dengan pemberian ulos. 

Acara kemudian dilanjutkan dengan pembagian jambar ke pihak wanita dan uang (tuhor ni boru). Sementara itu, pihak pria menerima ikan mas yang dimasak menjadi arsik dan ulos.

Dialap Jua / Ditaruhon Jual

Pesta pernikahan ala adat Batak seperti menari tor tor, dibagi menjadi dua yakni dialap jual dan ditaruhon jual. Kalau dialap jual, pesta pernikahan dilakukan di kediaman perempuan. Sedangkan ditaruhon jual jika pesta dilakukan di kediaman pihak laki-laki.

Paulak Une

Prosesi ini langsungkan seminggu setelah dilaksanakannya pesta adat, yakni saat kedua mempelai sudah resmi menjadi suami istri. Pihak pria berkunjung ke rumah mertua untuk berterima kasih dan menyampaikan bahwa acara pernikahan yang telah dilangsungkan dengan benar ‘une’. 

Di momen ini, pihak pria menyampaikan rasa terima kasih bahwa orang tua pengantin wanita berhasil mengasuh, mendidik dan memelihara adab dan adat borunya, sehingga tetap menyandang status ‘gadisi, sampai dengan hari perkawinannya.

Manjae

Manjae merupakan prosesi khusus yang dilakukan jika mempelai pria bukan anak bungsu. Setelah beberapa waktu menjalani biduk rumah tangga, pria tersebut akan dipajae atau dipisah rumah dan mata pencarian dari keluarganya. 

Namun, jika pengantin pria merupakan anak bungsu, acara ini tidak perlu dilangsungkan, karena biasanya anak bungsu akan mewarisi rumah milik orang tuanya.

Maningkir Tangga

Ini prosesi acara balasan dari pihak keluarga pengantin perempuan atas kunjungan pihak keluarga pria (paulak une), sekaligus untuk mengetahui keadaan sosial, ekonomi dan spritual pihak pria yang telah menikahi anaknya. 

Prosesi ini juga merupakan implementasi bahwa hubungan kekeluargaan tidak hanya sebatas pada acara pernikahan saja, tapi juga menyangkut keluarga besarnya juga.[]