News

Niat Meracun Muncul di Benak Pelaku Sate Sianida Sejak Tahun Lalu

NA didakwa pasal pembunuhan berencan


Niat Meracun Muncul di Benak Pelaku Sate Sianida Sejak Tahun Lalu
Sidang perdana kasus sate beracun di Pengadilan Negeri Bantul, Kamis (16/9/2021) (akurat.co/Kumoro Damarjati)

AKURAT.CO, Sidang perdana kasus sate beracun di Kabupaten Bantul, DIY, dengan terdakwa NA (25) digelar di Pengadilan Negeri Bantul, Kamis (16/9/2021).

Dalam sidang daring itu, NA yang berada di Lapas Perempuan Kelas IIB Yogyakarta di Baleharjo, Wonosari, Gunungkidul didakwa pasal pembunuhan berencana.

"Perbuatan Terdakwa NA tersebut sebagaimana diatur dan diancam pidana dalam Pasal 340 KUHP," kata Jaksa Penuntut Umum (JPU) Sulisyadi dalam sidang yang dipimpin hakim ketua Aminuddin.

Sulisyadi memaparkan apa yang menjadi dasar pihaknya menjatuhkan dakwaan demikian. Semua berawal dari rasa sakit NA kepada Tomi Astanto yang merupakan anggota Sat Reskrim Polresta Yogyakarta, karena menikah tanpa memberi tahu.

Disebutkan pula padahal antara NA dan Tomi sebelumnya telah terjalin suatu hubungan. Dari situ juga niatan memberi pelajaran terhadap Tomi muncul di mana terdakwa kemudian memesan Pottasium Cyanide (KCN) melalui aplikasi belanja pada 14 Juni 2020.

Usai menerima paket itu, NA justru urung melanjutkan niatnya lantaran Tomi masih mau menjalin komunikasi.

"Saksi Yohanis Tomi Astanto dinilai oleh terdakwa masih baik dan masih bisa dihubungi," ujar jaksa.

Hanya saja, niatan tersebut muncul kembali setelah nyaris setahun berselang. Dipicu dari sikap Tomi yang mulai tak bisa dihubungi dan berbohong setiap kali diajak ketemuan.

Pada 28 Maret 2021, NA lagi-lagi lewat aplikasi belanja membeli 10 gram Pottasium Cyanide (KCN) yang diterimanya 31 Maret. Sampai pada 25 April, tekad terdakwa semakin bulat lantaran Tomi kembali masih tak bisa dihubungi.

NA melancarkan aksinya dengan pertama membeli seporsi sate ayam di Warung Sate Mr. Teto Gambiran, Umbulharjo, Yogyakarta dan beberapa snack lain.

"Kemudian terdakwa mencampur bumbu sate ayam dengan serbuk sianida," terang Jaksa yang menambahkan bahwa sisa material beracun itu kemudian dibuang NA di tempat terdakwa bekerja, Griya Fit di Umbulharjo.

Usai mengganti pakaiannya dengan gamis, NA bertemu Bandiman, sosok pengemudi ojek online sekaligus ayah korban, Naba Faiz. Keduanya bertemu di Masjid Noor Alam, Umbulharjo.

Terdakwa saat itu meminta Bandiman mengirimkan paket sate serta snack tanpa melalui aplikasi, dan mengatasnamakan pengirim dengan nama Hamid. Paket itu dialamatkan ke kediaman Tomi, di Kasihan, Bantul.

Kendati paket itu ditolak lantaran tak ada yang mengenali sosok Hamid. Sate serta snack kemudian dibawa pulang Bandiman dan kemudian disantap bersama Naba juga Titik Rini, istri Bandiman.

Naba Faiz meninggal usai sempat dilarikan ke RSUD Kota Yogyakarta, sementara nyawa Titik masih bisa terselamatkan.

Selain Pasal 340 KUHP, terdakwa NA juga didakwa pasal lain, yaitu pasal 338 KUHP subs 353 ayat (3) subs 351 ayat (3) KUHP. Lalu, Pasal 80 ayat (3) dan/atau Pasal 80 ayat (3) dan/atau Pasal 359 KUHP.

Agenda pembacaan eksepsi sendiri harus ditunda karena Ketua Majelis Hakim tengah berhalangan. Sidang rencananya kembali digelar 27 September 2021.

Diberitakan sebelumnya, NA (25), warga asli Majalengka, Jawa Barat diamankan jajaran Polres Bantul di kediamannya, Jalan Potorono, Cempokojajar, Sitimulyo, Piyungan, Bantul, Jumat (30/4/2021) lalu.

NA diduga bertanggung jawab atas meninggalnya Naba Faiz (10), warga Salakan, Bangunharjo, Sewon, Bantul, Minggu (25/4/2021). Bocah itu meregang nyawa tak lama setelah memakan sate beracun yang dititipkan NA kepada Bandiman (47), pengemudi ojek online sekaligus ayah Naba.

Hasil penyidikan memunculkan dugaan bahwa Naba jadi korban salah sasaran. Pasalnya, NA sebenarnya berniat mengirimkan paket sate beracun itu kepada Tomi, sosok yang disebut telah melukai hatinya. []