Rahmah

Niat Memeras Hadiah Abu Nawas, Penjaga Kerajaan Ini Malah Dapat Petaka, Auto Ngakak!

Abu Nawas berpikir jika penjaga itu sungguh menjengkelkan. Belum saja dirinya mendapat hadiah, tetapi sudah minta jatah saja.


Niat Memeras Hadiah Abu Nawas, Penjaga Kerajaan Ini Malah Dapat Petaka, Auto Ngakak!
Ilustrasi Abu Nawas (Alif)

AKURAT.CO  Di dalam kerajaan, ada sebuah aturan bagi siapa saja yang bisa membawa berita bagus untuk Baginda, maka Baginda akan memberikan hadiah yang sangat besar. Kabar itu haruslah berita yang disukai Baginda. Jika Baginda tidak menyukainya, maka hukuman pancung akan menantinya.

Dimulai saat itu, tidak semua orang berani menghadap dan menyampaikan berita hangat kepada Baginda. Namun tidak dengan seorang Abu Nawas. Disaat peraturan itu ditakuti oleh orang-orang, ia justru mendatangi istana dengan tujuan akan menyampaikan kabar yang menarik.

Pagi itu, Abu Nawas berangkat menuju istana sendirian. Setibanya di gerbang istana, Abu Nawas dihentikan oleh beberapa pengawal. Karena pengawal itu membayangkan jika Abu Nawas akan berhasil membuat Baginda senang dan pulang membawa hadiah.

"Wahai Abu Nawas, engkau akan aku izinkan masuk jika engkau berjanji terlebih dahulu kepadaku," kata penjaga gerbang kerajaan.

"Janji apa?" Tahya Abu Nawas seperti benar-benar tidak mengerti.

"Engkau harus berjanji kepadaku bahwa apapun hadiah yang engkau terima, harus dibagi sama rata denganku," kata penjaga itu 

"Ohh begitu, baiklah," kata Abu Nawas sedikit jengkel. 

Abu Nawas berpikir jika penjaga itu sungguh menjengkelkan. Belum saja dirinya mendapat hadiah, tetapi sudah minta jatah saja. Kejengkelan itu akhirnya membuat Abu Nawas ingin memberi pelajaran kepada penjaga itu.

Setelah masuk istana, Baginda Raja Harun al-Rasyid merasa sangat senang melihat kehadiran Abu Nawas. Kemudian Abu Nawas menyampaikan berita yang amat langka dan jarang diketahui oleh masyarakat, Baginda pun merasa sangat senang dan puas dengan kabar tersebut. 

"Wahai Abu Nawas, kali ini tentukanlah sendiri hadiah yang engkau inginkan," kata Baginda. 

"Terima kasih, paduka yang mulia, jika diperkenankan memilih hadiah, maka hamba meminta seratus cambukan," jawab Abu Nawas. 

Hal itu tentu saja membuat Baginda heran. Baginda berpikir jika kali ini Abu Nawas memiliki tujuan lain dibalik ini semua. Akhirnya Baginda menyuruh para algojo untuk mencambuk Abu Nawas secara pelan-pelan.

Singkatnya, para algojo sudah bersiap dan Abu Nawas dipersilahkan maju. Sesuai dengan arahan Baginda, algojo itu mencambuk Abu Nawas dengan pelan. Tepat pada hitungan ke limapuluh Abu Nawas berteriak, 

"Berhenti....!!!" 

"Mengapa engkau meminta hukuman cambuk dihentikan. Bukankah engkau sendiri yang memintanya?" kata Baginda masih belum mengerti terhadap sikap Abu Nawas.

"Baginda yang mulia, sebenarnya penjaga pintu gerbang istana telah melarang hamba untuk masuk kecuali hamba mau berjanji membagi sama rata hadiah apapun yang akan hamba terima. Kini hamba mohon sisa hukuman itu dibebankan kepada penjaga pintu gerbang itu, wahai Paduka yang mulia," kata Abu Nawas menjelaskan maksudnya.

Bukan kepalang murkanya Baginda mendengar perkataan Abu Nawas. Tanpa membuang-buang waktu, pengawal itu dipanggil untuk masuk. 

Baginda berpesan kepada algojo untuk melanjutkan hukuman lecut kepada pengawal yang zalim itu dengan sabetan yang sekeras-kerasnya. 

Algojo dengan suka cita menerima titah Baginda. Karena sabetan itu, pengawal itu hampir pingsan. Abu Nawas merasa sangat senang berbagi lecutan dengan penjaga kerajaan itu. Meski begitu, Abu Nawas belum juga puas, karena harusnya dia mendapat hadiah dari Baginda. Emang cerdik Abu Nawas ini.[]