News

Ngeri! Taliban Gantung 4 Mayat Terduga Penculikan di Alun-alun Kota Herat

Sehari sebelumnya, pejabat Taliban memperingatkan bahwa hukuman ekstrem seperti eksekusi dan amputasi akan dilanjutkan.


Ngeri! Taliban Gantung 4 Mayat Terduga Penculikan di Alun-alun Kota Herat
Taliban menggantung 4 mayat terduga penculik dengan dalih demi mencegah penculikan lebih lanjut. (Foto: RAWA.org dan Mirror.co.uk) ()

AKURAT.CO Taliban telah menggantung 4 mayat di alun-alun Kota Herat, Afganistan, baru-baru ini. Menurut klaim kelompok tersebut, mereka ditembak mati atas dugaan penculikan.

Dilansir dari BBC pada Minggu (26/9), pemandangan mengerikan ini terpampang sehari setelah seorang pejabat Taliban memperingatkan bahwa hukuman ekstrem seperti eksekusi dan amputasi akan dilanjutkan.

Keempat orang itu tewas dalam baku tembak usai diduga menangkap seorang pengusaha dan putranya, menurut pernyataan pejabat setempat. Para penduduk pun mengakui ada mayat digantung dari sebuah derek di pusat kota.

Menurut keterangan Wazir Ahmad Seddiqi, seorang penjaga toko setempat, ada 4 mayat dibawa ke alun-alun. Salah satunya digantung di sana, sedangkan 3 mayat lainnya dipindahkan ke alun-alun lain di kota untuk dipajang.

Wakil Gubernur Herat Maulwai Shair beralasan pemajangan mayat tersebut dilakukan demi mencegah penculikan lebih lanjut. Ia menjelaskan keempat orang tersebut tewas dalam baku tembak usai Taliban mengetahui mereka telah menculik seorang pengusaha dan putranya. Kedua korban tersebut telah dibebaskan.

Sejak mengambil alih kekuasaan di Afganistan pada 15 Agustus, Taliban telah menjanjikan bentuk pemerintahan yang lebih ringan daripada masa jabatan mereka sebelumnya. Namun, sudah banyak laporan pelanggaran HAM yang dilakukan di seluruh negeri.

Menurut mantan kepala polisi agama Taliban, Mullah Nooruddin Turabi, yang kini bertanggung jawab atas penjara, hukuman ekstrem seperti eksekusi dan amputasi akan dilanjutkan di Afganistan karena diperlukan untuk keamanan. Dalam wawancara dengan Associated Press, ia menyebut hukuman ini mungkin tak dilaksanakan di depan umum, berbeda dari pemerintahan Taliban sebelumnya pada era 1990an.

Saat itu, eksekusi publik kerap diadakan di stadion olahraga Kabul atau di halaman luas masjid selama 5 tahun kekuasaan kelompok tersebut. Namun, Turabi menepis adanya kemarahan terhadap eksekusi publik mereka di masa lalu.

"Tidak ada yang akan memberi tahu kami seperti apa hukum kami seharusnya. Semua orang mengkritik kami atas hukuman di stadion, padahal kami tak pernah mengomentari hukum dan hukuman mereka," ujarnya.

Pada bulan Agustus, Amnesty International mengatakan para militan Taliban merupakan dalang pembantaian 9 anggota minoritas Hazara yang teraniaya. Menurut Sekretaris Jenderal Amnesty International Agnes Callamard, kebrutalan berdarah dingin dalam pembunuhan tersebut menjadi pengingat atas catatan masa lalu Taliban dan indikator mengerikan tentang apa yang mungkin dibawa oleh pemerintah Taliban.[]