News

Ngeri! Afganistan Diterjang Banjir Bandang, 31 Orang Tewas

Tiga distrik di Provinsi Parwan rusak parah dengan ratusan rumah hancur serta ribuan hektare lahan, ternak, dan jalan juga terdampak.

Ngeri! Afganistan Diterjang Banjir Bandang, 31 Orang Tewas
Dampak bencana alam di Afganistan diperparah oleh konflik selama beberapa dekade dan kurangnya investasi dalam pengurangan risiko bencana. (Deutsche Welle)

AKURAT.CO Banjir bandang yang menerjang Provinsi Parwan, Afganistan utara, menewaskan sedikitnya 31 orang, menurut laporan Kantor Berita Bakhtar pada Senin (15/8). Bencana itu terjadi setelah Kabul diguyur hujan deras pada Minggu (14/8).

Dilansir dari Deutsche Welle, anak-anak turut menjadi korban tewas, sementara puluhan orang belum ditemukan. Ribuan hektare tanah, ternak, dan jalan juga terdampak.

Tiga distrik di Parwan rusak parah. Ratusan rumah hancur sebagian atau total, menurut seorang pejabat. Provinsi lain, termasuk Kapisa, Panjshir, dan Nagarhar, juga terdampak banjir.

baca juga:

"Situasinya parah. Kami berharap badan-badan nasional dan internasional memberikan bantuan darurat untuk mencegah bencana kemanusiaan lainnya," ungkap Karimullah Wasiq, direktur Departemen Informasi dan Budaya Provinsi Kapisa.

Otoritas Penanggulangan Bencana Nasional pun telah menyediakan bantuan tunai langsung dan paket makanan untuk keluarga korban.

Sementara itu, diperkirakan curah hujan semakin tinggi dalam beberapa hari mendatang di 34 provinsi Afganistan, menurut otoritas cuaca setempat.

Banjir musiman merusak rumah, lahan pertanian, dan infrastruktur setiap tahun di Afganistan. Provinsi-provinsi utara yang dikelilingi gunung kerap dilanda banjir akibat hujan deras. Banjir bandang menewaskan 40 orang di seluruh Afganistan bulan lalu.

Dampak bencana alam di Afganistan diperparah oleh konflik selama beberapa dekade dan kurangnya investasi dalam pengurangan risiko bencana. Menurut Mary Ellen McGroarty, kepala upaya Program Pangan Dunia di Afganistan, ada tingkat kerawanan pangan dan kekurangan gizi yang belum pernah terjadi sebelumnya di negara tersebut.

"Panen tahun ini tak sebaik yang kita harapkan karena di beberapa daerah masih terjadi kemarau panjang. Krisis ekonomi terus berlanjut dan situasinya terus memburuk," pungkasnya.[]