News

Ngeri! 5 Kasus Penembakan Sekolah AS Paling Memilukan, 32 Orang Tewas Dibantai

Selasa (24/5), seorang remaja mengamuk, menyerbu SD Robb di Uvalde, Texas sembari menenteng senapan semi-otomatis AR-15.


Ngeri! 5 Kasus Penembakan Sekolah AS Paling Memilukan, 32 Orang Tewas Dibantai
Dalam foto ini, para orang tua bereaksi saat menunggu berita setelah laporan penembakan di SMA Marjory Stoneman Douglas di Parkland, Florida, 14 Februari 2018 ( Joel Auerbach/AP)

Selain penembakan, Harris dan Klebold menanam beberapa bom rakitan di sekolah, meskipun gagal meledak. Dua bom dipasang sebagai pengalihan di lokasi lain yang jauh dari sekolah, salah satunya diledakkan sebagian.

Sebanyak 10 siswa meregang nyawa di perpustakaan, tempat duo penyerang itu kemudian melakukan bunuh diri. Sementara itu, 21 orang lainnya menjadi korban luka karena tembakan.

Pada saat itu, tragedi Columbine menjadi penembakan sekolah menengah paling mematikan dalam sejarah AS. Penembakan itu juga digadang-gadang telah mengilhami lusinan pembunuhan peniru, termasuk banyak penembakan mematikan di seluruh dunia.

baca juga:

Motif kedua pelaku masih belum jelas. Namun, mereka dikatakan telah merencanakan serangan itu setidaknya selama satu tahun dan berharap aksinya 'memanen' banyak korban.

Insiden tersebut juga akhirnya memicu pengenalan taktik Immediate Action Rapid Deployment (Penerapan Cepat Tindakan Segera), yang digunakan dalam situasi penembak aktif. Hal ini terjadi usai kecaman terus digaungkan, memprotes polisi yang dinila lambat memasuki sekolah dan tidak ikut campur selama penembakan Columbine.

4. Penembakan di menara Universitas Texas,  18 tewas dan 31 luka-luka

Ngeri, 5 Kasus Penembakan Sekolah AS Paling Memilukan, 32 Tewas Dibantai - Foto 4
 AP Photo

Tidak hanya sekolah dasar atau menengah, teror pada kenyataannya juga kerap terjadi di lingkungan universitas. Salah satu insiden terjadi pada 1 Agustus 1966 silam, di mana seorang veteran Marinir yang mengalami gangguan depresi, mengamuk di Universitas Texas di Austin. Serangan itu membunuh lusinan orang, termasuk seorang bayi yang belum lahir.

Pada bulan-bulan sebelum serangan, Charles Whitman, yang berusia 25 tahun, telah mencari bantuan profesional untuk masalah kekerasan akut, termasuk fantasi tentang menembak orang dari menara.

Puncaknya, Whitman menikam ibu dan istrinya hingga tewas, malam sebelum insiden penembakan massal terjadi. Keesokan harinya setelah menghabisi keluarganya, Whitman menyewa truk, membeli senapan, dan berkotak-kotak amunisi. Di toko senjata, pria itu berencana untuk berburu babi hutan, tetapi ujungnya, ia mengubah targetnya.