image jamkrindo umkm
Login / Sign Up
Image

Achsanul Qosasi

Anggota III BPK RI

Nilai Strategis Kampus Merdeka dan Magang

Image

Ilustrasi Wisuda | TODAYONLINE.COM

AKURAT.CO, Di tengah karut-marut kualitas pendidikan Indonesia, yang bisa dikatakan jalan di tempat atau bahkan mengalami kemunduran, pada akhir Januari ini Mendikbud Nadiem Makarim mensosialisasikan kebijakan “Kampus Merdeka.” Ini menjadi sequel dari kebijakan “Merdeka Belajar” yang disosialisasikan pada Desember 2019.

Bagi sebagian orang, kedua kebijakan ini bisa jadi terasa out of nowhere, tak terduga atau mungkin dianggap gegabah. Bahkan di media massa, sebagai contoh, ada tokoh pendidikan yang terang-terangan mengungkapkan kalau Mendikbud tak paham pendidikan.

Mengatasi ragam polemik yang mengemuka, dalam kacamata positif, kebijakan Merdeka Belajar bisa dilihat sebagai alternatif supaya pendidikan kita keluar dari keterpurukan. Sebab, setidaknya jika berpatokan pada sesuai laporan PISA-OECD 2018, siswa Indonesia rata-rata berada pada posisi 70-an dari 79 negara dalam tiga aspek yang dinilai, yakni kemampuan membaca, matematika dan sains.

baca juga:

Demikian juga, kebijakan Kampus Merdeka bisa menjadi alternatif kuat bagi perbaikan kualitas pendidikan tinggi kita. Dengan kerja keras dan kerjasama semua stakeholders pendidikan umpamanya, perguruan tinggi Indonesia bisa naik kelas, tidak lagi berada para peringkat 700-an atau lebih rendah lagi, seperti yang bisa kita baca dalam laporan Webometrics Ranking of World Universities.

Program Kampus Merdeka sendiri mencakup restrukturisasi program akreditasi perguruan tinggi, pemberian hak belajar tiga semester di luar prodi bagi mahasiswa, otonomi pembukaan prodi baru serta kemudahan untuk menjadi perguruan tinggi negeri berbadan hukum. Tiga program, dengan demikian, terkait dengan debirokratisasi kampus dan satu program terkait langsung dengan pengembangan diri mahasiswa.

Khusus mengenai program belajar tiga semester di luar prodi, hemat saya, adalah terobosan luar biasa. Kampus akan memberikan hak bagi mahasiswa untuk menukar 40 SKS atau setara dengan perkuliahan dua semester dengan kegiatan di luar kampus. Selain itu, mahasiswa berhak menukar 20 SKS atau setara dengan satu semester perkuliahan dengan belajar di program studi lain.

Kegiatan pengganti 40 SKS dari sistem perkuliahan biasa bisa diganti dengan ragam pilihan sesuai minat, bakat, dan pilihan karir mahasiswa. Mereka bisa memilih praktik magang, pertukaran mahasiswa, proyek di desa, wirausaha, riset, studi independen, kegiatan mengajar di daerah terpencil, atau bahkan proyek kemanusiaan.

Dalam kacamata pendidikan, pertama-tama,terobosan ini menunjukkan keberpihakan penyelenggara negara pada aspek kemanusiaan mahasiswa. Dengan asumsi bahwa mereka memiliki minat dan bakat yang berbeda-beda, terdapatnya ruang untuk memilih serta kesempatan untuk mendapatkan pengalaman baru dan melakukan eksperimentasi akan menjadi semacam proses pematangan sekaligus evaluasi diri dalam rangka menentukan pilihan karir setelah kuliah.

Hal ini juga menjadi jawaban atas salah satu kritik terhadap kebijakan perkuliahan di luar prodi tersebut. Ruang refleksi bagi mahasiswa, yang selama ini terbatas dalam ruang-ruang perkuliahan, kini dibawa ke dunia nyata. Jika sebelumnya mahasiswa lebih banyak berdialog dengan buku-buku teks dan dosen, dengan program magang atau proyek kemanusiaan, umpamanya, mereka seperti masuk ke dalam kawah Candradimuka, di mana segenap kemampuan harus dikerahkan dan dikembangkan.

Tuduhan bahwa program ini berdasar pada asumsi penyamarataan perguruan tinggi juga tak berdasar. Pengelompokan lembaga pendidikan tinggi menjadi umum, politeknik, akademi dan sebagainya harus dilihat sebagai variasi pilihan, bukan sebagai pilihan mati. Seorang mahasiswa politeknik permesinan, misalnya, ketika menemukan kualitas dirinya ternyata juga dalam bidang sastra, bisa saja memupuk bakat tersebut dan menjadikannya sebagai nilai tambah atau bahkan karir utama dalam hidupnya.

Demikian juga, jika kita berpegang pada tujuan akhir dari sebuah proses panjang pendidikan, setiap mahasiswa yang telah selesai kuliah tetap saja harus bekerja, baik sebagai employee maupun employer. Dengan segala kelebihan dan kekurangan, mereka harus mandiri dan mencapai kesejahteraan diri (well-being). Menjadi pekerja atau penyedia lapangan pekerjaan harus dilihat sebagai pilihan, bukan by design.

Seiring dengan itu, adalah terburu-buru jika gagasan-gagasan Mendikbud ini dipandang sebagai bias teknokratisme dalam Dunia Pendidikan. Apalagi jika secara naif dan serampangan ini dikaitkan dengan realitas diri sang menteri yang berlatar belakang pengusaha. Singkat kata, saya tak melihat bahwa kebijakan ini mengarah pada penjerumusan perguruan tinggi dan para mahasiswa ke dalam pusaran industrialisme atau pasar.

Begitu pula, adalah naif jika mempertentangkan kebijakan ini dengan pandangan aktivisme dalam gerakan-gerakan mahasiswa yang bernuansa politik praktis. Sebaliknya, dengan melihat fasilitasi ruang kemerdekaan berekspresi dan berbuat dalam skema Kampus Merdeka, aktivisme mendapatkan lahan yang lebih subur. Keterampilan-keterampilan olah pikiran, menulis kritis-kreatif, persuasi, lobbying dan negosiasi bisa diasah dalam konteks yang lebih riil dan berujung produktivitas.

Dalam konteks kompetisi antar negara, kita bisa melihat lebih jauh arah kebijakan ini sebagai upaya membawa pendidikan Indonesia untuk mengambil satu posisi yang jelas di tengah berbagai kemungkinan perubahan zaman. Kebijakan ini bisa dilihat sebagai salah satu jawaban bagi kebutuhan yang tak bisa ditawar terkait kualitas sumber daya manusia sebuah negara, agar bisa bertahan dan berkembang.

Salah satu patokannya adalah apa yang disebut sebagai kepemilikan atas ragam keterampilan abad ke-21 (21st century skills). Ini sesuai dengan rilis berbagai lembaga dunia, seperti UNESCO dan OECD, yang disusun dengan melibatkan para pendidik, pemimpin bisnis, akademisi, dan lembaga pemerintah terkait  sumber daya manusia yang mampu hidup dan bersaing pada abad ini.

Sebagai contoh, di tengah perubahan ekonomi dan teknologi yang cepat, program-program pendidikan wajib memfasilitasi perkembangan penalaran analitik, pemecahan masalah-masalah kompleks, dan kemampuan bekerja dalam tim. Secara kualitiatif, keterampilan-keterampilan ini berbeda dari berbagai konten pendidikan akademis-tradisional yang bersifat sangat kognitif dan prosedural.

Untuk itu, bagi mahasiswa yang memilih program magang misalnya, mereka akan bisa belajar dan mengasah ragam keterampilan tersebut ketika secara langsung menjadi pendamping program-program pemerintah, seperti pengelolaan Dana Desa, Bansos, Keluarga Berencana, Banpres, subsidi benih, pupuk, LPG, atau program-program kesehatan.

Sebagai penutup, saya berharap kebijakan ini mesti disambut semua pihak: kementerian dan lembaga, BUMN, dan perusahaan swasta. Di samping itu, supaya menjadi kebijakan yang memiliki kaki-kaki yang kuat, program Kampus Merdeka, terutama terkait program pemberdayaan mahasiswa secara langsung dalam dunia riil wajib didukung oleh semacam Keputusan Presiden (Kepres).

Editor: Dian Rosmala

berita terkait

Image

News

Ujian Tak Mudah Bagi Pancasila

Image

News

Membenahi Tradisi Ilmiah Perguruan Tinggi

Image

News

Mengalihkan Lembaga Pendidikan Agama kepada Kemendikbud

Image

Ekonomi

BPK: TVRI Adalah Raksasa yang Harus Tetap Tidur

Image

News

Kolom

Mempertahankan Kadaulatan NKRI di Natuna

Image

News

Kolom

Banjir dan Pembenahan Tata Ruang Kawasan Jabodetabek

Image

News

Kaleidoskop 2019

Kekerasan di Dunia Pendidikan sepanjang 2019 Didominasi Pelajar

Image

News

Kolom

Belajar dari 2019, Optimis Menyongsong 2020

Image

Ekonomi

Emak-emak Diminta Berperan Membangun Jiwa Wirausaha Sejak Usia Dini

komentar

Image

0 komentar

terkini

Image
News

Polemik Revitalisasi TIM, Gerindra Minta Anies Penuhi Panggilan DPR RI

Saya mengatakan (Jakpro) kurang intens komunikasinya kepada para Seniman.

Image
News

Hilang Kendali, Truk Terperosok di Tol Jakarta-Tangerang

Ini diduga ada kendaraan yang hendak menyalip

Image
News

Tsamara Kritisi Draf RUU Ketahanan Keluarga: Kewajiban Suami Istri Tergantung Kesepakatan bukan Aturan Negara

RUU kontroversi.

Image
News

Sempat Dipermasalahkan, Pengadilan Swiss Putuskan Logo Miras Jagermeister Bukan Penghinaan Terhadap Agama Kristen

Pengadilan Swiss memutuskan bahwa gambar salib yang ada pada logo minuman keras Jagermeister bukanlah penghinaan terhadap agama Kristen

Image
News

Jadi News Anchor Wanita Pertama, Begini Kisah Lee So-jeong Dobrak Budaya Patriarki Korsel

Sebelum menjadi pembawa acara berita wanita pertama, Lee berupaya keras mendobrak sistem serta budaya kental patriarki di lingkungannya.

Image
News

Gelar Peragaan Bernuansa Rasis, Kampus Fashion di New York Minta Maaf

Pihak Fashion Institute of Technology, New York, minta maaf setelah melakukan pagelaran busana yang dianggap rasis oleh masyarakat

Image
News

KPK Periksa Tiga Pegawai PT Waskita Karya Terkait Proyek Fiktif

yang bersangkitan akan diperiksa sebagai saksi untuk tersangka Fathor Rachman

Image
News

SpeQtral, ITB dan Kennlines Capital Group Teken Kerjasama Kembangkan Jaringan Aman Kuantum di Indonesia

Teknologi Komunikasi Kuantum memiliki kekuatan untuk melakukan transformasi dalam keamanan jaringan telekomunikasi di seluruh Dunia.

Image
News

Bakal Ditangkap Teteskan Lilin saat Bersetubuh, Sigit Widodo: Penegakan Hukumnya Gimana?

Tujuannya untuk hindari kekerasan dalam rumah tangga.

Image
News

Selama ini Dianggap Kejahatan, Kini Senat Utah Sepakat Legalkan Poligami

Sekitar 30.000 orang diperkirakan tinggal di komunitas poligami di Utah

terpopuler

  1. Status Transgender Dibongkar Lucinta Luna, Ini Malapetaka yang Menimpa Keluarga Gebby Vesta

  2. 5 Meme Lucu Kekalahan Liverpool dari Atletico, Bikin Haters Seneng

  3. Kejagung Koordinasi dengan Korlantas Polri Blokir Semua Plat Nomor Kendaraan Milik 6 Tersangka Kasus Jiwasraya

  4. Anies Ogah Keluar Ruangan, Massa Marah Dan Terobos Pagar Balai Kota

  5. Viral, Puluhan Pengendara Motor Terjebak Macet Dalam Taman Makam Menteng Pulo

  6. Tak Percaya Ashraf Sinclair Telah Tiada, Bunga Citra Lestari: Saya Masih Shock

  7. Datang ke Pemakaman Ashraf Sinclair, Ini yang Disampaikan Ariel NOAH

  8. Usai Diotopsi, Karen Idol Masukan Permen Hingga Baju ke Liang Lahat Makam Putrinya

  9. Kini Menetap di Kanada, 10 Potret Terbaru Cut Memey yang Makin Terlihat Awet Muda

  10. Calonkan Diri Jadi Wakil Bupati Pohuwato, Vicky Prasetyo Ngaku Punya Pengalaman Ceramah

fokus

Hutan Kecil Terarium
Target SDGs
Catatan 100 hari Jokowi-Ma'ruf Amin

kolom

Image
Achsanul Qosasi

Ujian Tak Mudah Bagi Pancasila

Image
Girindra Sandino

Tujuh Analisa dan Persoalan Urgen Pilkada 2020

Image
Abdul Aziz SR

Menanti Kebangkitan PPP

Image
Achmad Fachrudin

Paska Penolakan Pemulangan Mantan ISIS

Wawancara

Image
Gaya Hidup

Bintangi Get Married Series, Prilly Latuconsina Ragu Tak Bisa Seperti Nirina Zubir

Image
Gaya Hidup

Literasi

Rakerpus Perpusnas: Penguatan Indeks Literasi untuk SDM Indonesia Unggul

Image
Video

VIDEO Jejak Sepotong Roti Jakarta

Sosok

Image
News

Hapus UN hingga Bayar SPP Pakai GoPay, 5 Kebijakan Nadiem Makarim Ini Curi Perhatian Publik

Image
News

Jarang Tersorot, 10 Potret Hangat Bupati Karawang Cellica Nurrachadiana Bersama Keluarga

Image
Ekonomi

Pernah Rugi Rp100 Juta di Usia 18 Tahun, Ini 9 Fakta Menarik Valentina Meiliyana, Pemilik Sepatu Selkius Maxwell