image jamkrindo umkm
Login / Sign Up
Image

Abdul Aziz SR

Dosen Ilmu Politik FISIP Universitas Brawijaya dan Senior Researcher pada Center for Election and Political Party (CEPP) FISIP UI

Pemerintah, Untuk Apa dan Siapa?

Kolom

Image

Presiden Joko Widodo saat akan menyambut kedatangan Perdana Menteri Hungaria Viktor Orban di Istana Merdeka, Jakarta Pusat, Kamis (23/1/2020). Kunjungan Perdana Menteri Hungaria ini membahas sejumlah kerja sama bilateral, salah satunya penyediaan air. Dalam pertemuan ini turut hadir Menteri Luar Negeri Retno Marsudi, Sekretaris Kabinet Pramono Anung, Menteri Sekretaris Negara Pratikno, dan Menteri PUPR Basuki Hadimuljono. | AKURAT.CO/Sopian

AKURAT.CO, Maafkan kedua orangtuamu

Kalau tak mampu beli susu

BBM naik tinggi

baca juga:

Susu tak terbeli

Orang pintar tarik subsidi

Anak kami kurang gizi

 

Penggalan syair lagu “Galang Rambu Anarki” Iwan Fals itu relevan menggambarkan kehidupan negeri ini saat ini. Ia seakan mewakili jeritan hati dan pilu jiwa jutaan rakyat Indonesia.

Tataplah beberapa kenyataan berikut. Subsidi tabung melon (Elpiji) untuk rakyat kecil dan kalangan kurang mampu dicabut. Alasan pemerintah, banyak kalangan mampu ikut memanfaatkan tabung melon. Tapi, tidak pernah ditelusuri mengapa kalangan mampu ikut menggunakan tabung melon? Jangan-jangan daya beli mereka juga merosot jauh. Kini, harga tabung melon pun melambung.

Sebelumnya pemerintah tiba-tiba menaikkan iuran BPJS hingga seratus persen. Pesertanya kemudian ramai-ramai turun ke kelas tiga. Di era BPJS justru sederet panjang klaim rumah sakit tidak terbayarkan. Manajemen BPJS berhutang triliunan rupiah ke begitu banyak rumah sakit, termasuk rumah sakit swasta. Anehnya, pelayanan kesehatan dengan akses BPJS ternyata juga tidak selancar dan tidak sebaik yang dijanjikan. 

Kenyataan lain, pemerintah juga tiba-tiba menaikkan tarif dasar listrik dan tarif jalan tol. Jauh sebelumnya pemerintah sudah berulang kali menaikkan harga bahan bakar minyak. Suatu ketika malah diumumkan di tengah malam. Tak banyak yang tahu. Tiba-tiba harga BBM sudah berubah. (Mungkin gaya sembunyi-sembunyi seperti itu yang menginspirasi KPU ketika menetapkan dan mengumumkan hasil Pemilu 2019 di kesunyian malam). 

Di satu sisi, pemerintah mencabut subsidi untuk sejumlah jenis kebutuhan masyarakat. Tabung melon salah satu di antaranya. Di sisi lain, pemerintah sangat “kreatif” dan berambisi menarik beragam jenis pajak dan retribusi dari warga hingga ke tingkat yang sangat spesifik.  

Kartu Bodong?

Kondisi demikian tentu sangat membebani dan memberatkan warga, lebih-lebih rakyat kecil. Ibarat kata pepatah, sudah jatuh tertimpa tangga pula. Begitulah beban hidup warga saat ini. Jangankan berakhir, penderitaan malah bertambah.

Lalu, di mana letak kesaktian sederet katu yang pernah ditawarkan dan digadang-gadang Presiden Joko sejak musim Pilpres 2014? Adakah kartu-kartu itu punya makna bagi perbaikan nasib dan peningkatan kesejahteraan warga? Di musim kampanye Pilpres 2019 yang lalu, Presiden Jokowi juga memperkenalkan apa yang disebutnya Kartu Prakerja. Apa wujudnya kartu itu kini? Itu kartu sakti atau kartu bodong? Entahlah.

Tapi, tak ada gunanya bermain kartu.  Kebijakan yang memihak rakyat kecil lebih dibutuhkan saat ini. Bukan kartu ini kartu itu yang tak berisi. Yang tak bisa memberi akses untuk pelayanan terbaik bagi warga. Berhentilah bermain kartu. Mengatur negara tidak segampang membolak-balik kartu.

Sudah saatnya pemerintah mengevaluasi diri. Mengevaluasi kebijakan-kebijakannya. Kebijakan-kebijakan yang berlagak genit dan lebih melayani kepentingan segelintir orang –pemilik modal– segera diubah ke kebijakan yang lebih menyentuh kepentingan dan basic needs warga kebanyakan.

Jauh dari Keadilan

Mungkin juga tidak terlalu disadari, ketika pemerintah hobi berutang dan terus menambah utang, akan menjadi beban rakyat di kemudian hari. Utang pemerintah dan bunganya yang kini sekitar Rp646 triliun bukanlah jumlah yang kecil. Butuh waktu lama untuk mengembalikannya. Ia akan berubah menjadi bencana dan malapetaka jika pemerintah tidak benar-benar bijak, hati-hati, dan tepat dalam menggunakannya.

Ketika pemerintah juga gemar mengimpor berbagai komoditas, terutama pangan, telah berdampak langsung pada kehidupan rakyat kecil. Garam, misalnya, lebih suka diimpor oleh pemerintah ketimbang memberdayakan industri garam dalam negeri. Garam impor menggeser produk garam dalam negeri. Industri garam kita –lebih-lebih garam yang diproduksi secara tradisional oleh petani-petani garam– kalah bersaing dengan garam impor. Tapi, pemerintah tampaknya tak peduli dengan itu.

Kegemaran impor bahan-bahan pangan seperti beras, garam, daging, gula, aneka buah, dan lain-lain, selain melumpuhkan produk pertanian kita, juga melawan janji pemerintah itu sendiri. Dalam berbagai kesempatan Presiden Jokowi menyatakan akan mengurangi secara signifikan impor pangan. Nyatanya, jangankan mengurangi namun malah memperkuat impor.

Memang, tidak harus total tanpa impor. Ada kalanya impor itu perlu ketika kondisi mengharuskan untuk itu, dan dilakukan pada waktu yang tepat serta dalam takaran yang pas (sesuai kebutuhan).  

Kondisi kehidupan warga yang berat dengan beban yang terus bertambah, memaksa kita mempertanyakan eksistensi dan peran pemerintah. Untuk apa dan siapa pemerintah itu ada?

Pemerintah dibentuk untuk melayani warga. Untuk membuat kehidupan warga terjamin secara ekonomi (kesejahteraan), pendidikan, kesehatan, dan keamanan. Itu pesan konstitusi kita. Tetapi, ketika pemerintah hadir justru untuk membuat kesengsaraan, menciptakan penderitaan, dan memperberat beban hidup warga, maka pemerintah sesungguhnya sedang melanggar konstitusi.

Pemerintah tampak begitu sibuk dengan agenda-agenda yang kurang memberi makna bagi peningkatan kesejahteraan warga. Jalan tol terus dibangun di mana-mana, tentu tidak salah. Tetapi, ketika agenda itu merampas hak warga untuk sejahtera mestinya segera hentikan dulu. Jangan meletakkannya sebagai prioritas. Bagaimanapun jalan tol lebih melayani kepentingan sebagian kecil warga saja.

Anggaran negara begitu banyak tersedot ke proyek jalan tol serta infrastruktur lainnya. Pada waktu sama, berbagai kebutuhan dasar warga menjadi terabaikan. Anggaran yang seharusnya untuk subsidi bagi kepentingan rakyat kecil dirampas demi jalan tol dan infrastruktur yang terlampau berlebihan.

Dalam konteks ini, pemerintah abai akan perannya yang oleh Pierson disebut the state as redistrutor (negara sebagai redistributor). Peran ini berkait dengan  pajak yang ditarik oleh negara dari warga. Terhadap pajak yang ditarik itu, negara berkewajiban mendistribusikannya kembali untuk kepentingan kesejahetraan warga.

Menurut Pierson, to tax is to redistribute. The modern state is a tax state and the process of taxing and spending is one in which governments redistribute wealth. Governments’ tax and spending behaviour may be progressive (taking from the rich to give to the poor) or regressive (taking from the poor to give to the rich). It may shift resources between other groups, from men to women, from hose in work to the unemployed, from those of working age to those who are retired, from adults to children.

Dengan peran redistribusi itu, pemerintah atau negara memberi akses kepada semua warga untuk menikmati hasil-hasil pembangunan secara adil. Bukan justru merampas hak warga tertentu untuk dialihkan begitu saja ke kelompok lainnya. Pemerintah atau negara diharap tidak berbuat dzolim terhadap warganya.

Sayang sekali, kebijakan-kebijakan pemerintah saat ini tidak berorientasi pada peningkatan kesejahteraan warga. Melainkan lebih untuk kepentingan kaum oligark ekonomi dan politik. Kebijakan-kebijakan terlalu jauh dari sentuhan-sentuhan keadilan. Wallahu’alam. []

 

Editor: Sunardi Panjaitan

berita terkait

Image

News

Kolom

Politik Dinasti, Oligarki dan Anomali Demokrasi

Image

News

Kolom

Menanti Kebangkitan PPP

Image

News

Kolom

Paska Penolakan Pemulangan Mantan ISIS

Image

News

Formula E yang Jadi Rame

Image

News

Kolom

Tantangan Internal PAN dan Kekacauan Politik Nasional

Image

Ekonomi

Kolom

Kambing Hitam Seretnya Pertumbuhan Ekonomi

Image

News

Kolom

Negara Sandiwara

Image

News

Kolom

Jebakan Tahta, Harta dan Wanita

Image

News

100 hari Jokowi-Ma'ruf Amin

100 Hari Jokowi-Ma’ruf yang Tak Meyakinkan

komentar

Image

2 komentar

Image
cristian malok

Hmmmm ....... Ambigu saya....

Image
cristian malok

Hmmmm ....... Ambigu saya....

terkini

Image
News

Sadis, Tidak Terima Utangnya Ditagih, Seorang Seniman Pukul IRT 58 Tahun dengan Gergaji

Korban mengalami luka robek di bagian kepala.

Image
News

Raja Arab Saudi Jamu Pendeta Yahudi dari Israel untuk Pertama Kalinya dalam Sejarah

Image
News

Luncurkan IKP, Bawaslu Harap Pemangku Kepentingan Dapat Bekerjasama dengan Baik

"Peningkatan pelayanan harus dilakukan untuk memastikan akurasi data pemilih dan partisipasi masyarakat"

Image
News

Presiden PKS - Ketum Golkar Gelar Pertemuan Tertutup

PKS meyakini meski berbeda secara politik di tingkat nasional, ada titik temu yang dibicarakan

Image
News

Banjir Kepung Jakarta, 375 Sekolah Terpaksa Diliburkan

Pemprov DKI Jakarta telah mengevakuasi warga ke 74 titik posko evakuasi yang terdaftar hingga Selasa sore tadi.

Image
News

Banyumas Mantu Nikahkan 143 Pasang Calon Pengantin, Tertua Umur 94 Tahun

Banyumas Mantu ini nantinya akan melibatkan 85 perias

Image
News

Bawaslu Luncurkan Indeks Kerawanan Pilkada Serentak 2020

"IKP juga bertujuan mengetahui dan mengidentifikasi ciri, karakteristik dan kategori kerawanan di masing-masing daerah"

Image
News

ICW Nilai Kepercayaan Publik Terhadap KPK Turun karena Kasus Harun Masiku

"Pimpinan KPK gagal melindungi tim KPK yang sedang mencari Harun Masiku di Perguruan Tinggi Ilmu Kepolisian."

Image
News

Berkas Dua Tersangka Penyiraman Air Keras Novel Baswedan P21

Kedua tersangka penyiram air keras ke penyidik KPK Novel Baswedan akan diserahkan ke Kejaksaan Agung.

Image
News

Polda NTB Nyatakan Status Siaga Satu Hadapi Siklon Tropis Ferdinand

Artanto mengatakan bahwa pihaknya kerap berkoordinasi dengan BMKG perihal perkiraan cuaca.

terpopuler

  1. Masyarakat Minoritas yang Dulu Dukung di Pilpres Kini Sedang Menunggu Kebijakan Jokowi untuk Lawan Intoleransi

  2. Gegara Ketahuan Nikah Siri, Siswi Kelas 1 SMK Swasta di Depok Dikeluarkan, Orang Tua Kecewa

  3. 5 Artis Indonesia yang Terima Kado Mewah di Hari Ulang Tahun, Ada Mobil Seharga Rp3,4 Miliar!

  4. Bukan karena Tidak Perawan, Siswi Kelas 1 SMK Swasta di Depok Dikeluarkan Gegara Merokok

  5. Pesan Ibu Mertua ke Shahnaz Haque: Jangan Galak-Galak Sama Suami

  6. Gembong Nilai Anies Miskin Solusi, Tinjuan Banjir Hanya Buat Foto Selfie

  7. Kisah Para Malaikat Tak Bersayap Selamatkan Puluhan Siswa di Tragedi Susur Sungai Sempor

  8. Baru Mundur dari Jabatan PM, Mahathir Langsung Hengkang dari Partai BERSATU

  9. Viral Ingin Bunuh Diri karena Dibully, Quaden Bayles Diundang jadi Penonton Istimewa Pertandingan Rugby

  10. Kisah Saima Chowdhury, Vlogger Inggris yang Populerkan Fenomena Anti-Mainstream Hijab Cosplay

fokus

Hutan Kecil Terarium
Target SDGs
Catatan 100 hari Jokowi-Ma'ruf Amin

kolom

Image
Achmad Fachrudin

Politik Dinasti, Oligarki dan Anomali Demokrasi

Image
Ujang Komarudin

Agama dan Pancasila

Image
Achsanul Qosasi

Ujian Tak Mudah Bagi Pancasila

Image
Girindra Sandino

Tujuh Analisa dan Persoalan Urgen Pilkada 2020

Wawancara

Image
Gaya Hidup

Literasi

Kepala Perpusnas: Budaya Baca Bangsa Indonesia Tidak Rendah

Image
Gaya Hidup

Literasi

Rakornas Perpusnas, Penguatan Budaya Literasi Wajib untuk SDM Indonesia Unggul

Image
Gaya Hidup

Bintangi Get Married Series, Prilly Latuconsina Ragu Tak Bisa Seperti Nirina Zubir

Sosok

Image
News

Tewas Saat Luncurkan Roket Buatannya, Ini 6 Fakta Menarik Penganut Bumi Datar Mike 'Mad' Hughes

Image
Ekonomi

7 Fakta Menarik Ryan Angkawijaya, Sukses Raup Omzet Rp250 Juta Per Bulan dari Arum Manis

Image
News

Masuk 30 Under 30 Forbes, 10 Pesona Cucu Luhut Pandjaitan Faye Simanjuntak