image jamkrindo umkm
Login / Sign Up
Image

Zainul A. Sukrin

Direktur Politika Institute

Negara Sengketa

Kolom

Image

Aliansi Mahasiswa Indonesia yang terdiri dari sejumlah BEM Universitas melakukan aksi dengan membawa bunga di depan Gedung DPR/MPR, Jakarta Pusat, Selasa (1/10/2019). Mereka kembali menuntut RUU bermasalah, seperti RKUHP dan RUU Pertanahandan beberapa isu kejahatan lingkungan, isu antikorupsi, dan penangkapan aktivis. | AKURAT.CO/Dharma Wijayanto

AKURAT.CO, Tanda negera sengketa ialah selalu timbul kasus yang sama, berulang, dan urung diselesaikan. Artinya terperangkap dan tak ada solusi. Dengan menyeruaknya kasus-kasus Korupsi sebagai penada Indonesia dalam keadaan negara sengketa?

Awal tahun ini, kasus Jiwaswara, dan OTT Anggota Komisioner Komisi Pemilihan Umum (KPU) yaitu Wahyu Setiawan oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menguatkan label tersebut.

Negara sengketa dalam tulisan ini bukan memperdebatkan masalah kedaulatan negara. Tidak membahas wilayah kedaulatan dan atau disengketakan oleh negara. Namun negara sengketa yang diuraikan ialah istilah dari benang kusut yang menjadi pusaran masalah negara. Hal tersebut menjadi bom waktu, dan tentu mengancam kehendak umum.

Menguraikan lekuk likuk negara ini tentu harus mengulas berbagai benturan politik dalam sejarahnya. Ada hal yang belum dituntaskan. Disabotase oleh kehendak pribadi, menyebabkan kesukaran secara politik. Ketahanan negara loyo dan tak memiliki daya untuk menguraikan masalahnya. Dalam negara sengketa kekuasaan dan Korupsi di dalam satu bandul.

baca juga:

Jatuh di Lubang yang Sama

Periode 1950-an panggung politik nasional diwarnai oleh benturan politik ideologi. Segala polemik dan konflik selalu bermuatan ideologi. Akibatnya situasi nasional tidak stabil. Namun dalam gagasan dan konsep berbangsa dan bernegara sangat ideal. Dinamikanya sangat demokratis. Puncak diskursus pada massa itu sebenarnya mewujudkan politik yang sakral. Tujuannya ialah untuk kebaikan semua.

Dekrit Presiden 5 Juli 1959 menguburnya. Otoritarian dan tangan besi Soekarno membuka babak kekuasaan yang koruptif. Atau membuka gerbang negara sengketa. Karena coraknya dari negara tersebut ialah nafsu untuk berkuasa dan memperkaya diri sendiri dan golongannya.

Kekuasaan ditontonkan sebagai kehendak golongan dan pribadi. Walaupun status politik Soekarno ada yang menilai tepat untuk stabilitas, namun kebijakan tersebut seperti obat penenang. Hanya sementara, kemudian akan kambuh, dan berkembang dengan masalah yang lebih buruk. Kepatutan dari kekuasaan yaitu melayani kepentingan pribadi dan golongan yang berkuasa. Hal ini bertentangan kepentingan atau kehendak bersama.

Oleh sebabnya, kekuasaan sejak periode Soeharto sampai Joko Widodo akar masalahnya pada bandul yaitu kekuasaan dan Korupsi. Berkuasa untuk Korupsi, kalau Korupsi pasti sedang berkuasa. Sehingga kebodohan, keterbelakangan, dan kemiskinan masyarakat dirawat sedemikian rupa. Untuk memuluskan segala kepentingannya.

Kondisi saat ini bukan kutukan seperti dalam budaya Jawa tradisional. Namun ini mata rantai yang terus disambung secara politik. Karena kekuasaan dibangun atas kehendak pribadi atau sekelopmok elite yang berkuasa (oligarki). Mereka yang hura-hura, rakyat yang sengsara.

Rakyat dalam negara sengketa hanya dapat membuat liga kasus Korupsi. Mengurutkan kasus-kasus Korupsi besar di negara ini. Rakyat hanya puas dengan mewacanakannya. Karena hanya dengan mewacanakan kasus-kasus tersebut yang melambungkan harapannya. Namun oligarki yang korup akan membuatkan wacana tandingan.

Jika rakyat tak mampu lagi melawan wacana negara, maka ikut tenggelamlah kasus Korupsi dan wacananya tersebut. Dan rakyat hanya menunggu liga Korupsi yang baru yang dapat diwacanakan kembali. Jadinya dalam negara sengketa, rakyat solah-olah dalam labirin. Sengaja dibingungkan oleh negara. Rakyat dijatuhkan di lubang yang sama.

Sebenarnya dalam situasi yang penuh kebingungan. Rakyat atas nama keadilan untuk semua dapat menggugat negara sengketa ini. Karena kontrak kekuasaan itu batal jika rakyat tidak mendapatkan keadilan. Suara rakyat tersebut dianggap sah jika disuarakan oleh anggota parlemen. Jika wakil rakyat seperti ban kempes. Maka akta dan kontrak sosial di bangsa menjadi salah satu solusi terakhir. Yaitu ketuhanan, kemanusiaan dan adab, kebajikan, dan atau keadilaan untuk semua harus direfleksi. refleksi terhadap bangsa dan negara saat ini sangat penting, agar kita dalam keadaan baik-baik saja. []

Editor: Sunardi Panjaitan

berita terkait

Image

News

Kolom

Menanti Kebangkitan PPP

Image

News

Kolom

Paska Penolakan Pemulangan Mantan ISIS

Image

News

Formula E yang Jadi Rame

Image

News

Kolom

Tantangan Internal PAN dan Kekacauan Politik Nasional

Image

Ekonomi

Kolom

Kambing Hitam Seretnya Pertumbuhan Ekonomi

Image

News

Kolom

Negara Sandiwara

Image

News

Kolom

Jebakan Tahta, Harta dan Wanita

Image

News

100 hari Jokowi-Ma'ruf Amin

100 Hari Jokowi-Ma’ruf yang Tak Meyakinkan

Image

News

Kolom

Pemerintah, Untuk Apa dan Siapa?

komentar

Image

0 komentar

terkini

Image
News

Ajak Masyarakat Jegal Anies Maju Pilpres 2024, Said Didu ke PSI: Jangan Salahkan jika Pihak yang Tidak Searah Bersatu

Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan selama ini dinilai gemar memainkan isu populisme agama.

Image
News

Rapat Tertutup dengan Menko Polhukam, Bamsoet:  Bahas Masalah Keamanan Papua

Untuk mencari penyelesaian permanen masalah Papua.

Image
News
Wabah Corona

Dua Penumpang Terkena Gejala Virus Corona, Otoritas Austria Sempat Larang Semua Jalur Kereta Italia

Austria menangguhkan semua lalu lintas kereta ke dan dari Italia pada hari Minggu (23/2)

Image
News

Israel Serang Target Jihad Islam Dekat Ibu Kota Suriah

“Jet-jet tempur menyerang target teroris Jihad Islam di selatan Damaskus, setelah tembakan roket dari Jalur Gaza,” papar pernyataan militer

Image
News

Tak Puas Pernyataan Komisioner KPAI, Sigit Widodo Sebut Sitti Telah Menyebar Kebohongan

Diminta mundur dari KPAI.

Image
News

Bamsoet Kembali Dorong Pengendara Motor Agar Masuk Jalan Tol

Wujud keberpihakan negara dalam memberikan keadilan sosial dan keadilan ekonomi bagi setiap warga negara.

Image
News

Tukang Gali Lobang Pipa PAM Tewas Tersetrum

Sejumlah masih diperiksa polisi.

Image
News

Ibu Greta Thunberg Ungkap Putrinya Sempat Depresi Sebelum Jadi Aktivis

Ibunda dari aktivis muda Greta Thunberg mengungkapkan bahwa putrinya sempat mengalami depresi sebelum ia menjadi aktivis lingkungan

Image
News

Formappi: Kenapa Tak Sekalian Tugas Bapak, Om, Tante Diatur RUU?

Kenapa RUU tersebut spesifik mengatur pekerjaan ibu saja tanpa menyinggung anggota keluarga lain?

Image
News

Identifikasi Kebutuhan Pembangunan, Tito Karnavian Instruksikan BNPP Turun ke 222 Lokpri

222 Lokpri tersebut terdiri dari 176 Lokpri di dalam koridor pertumbuhan dan pemerataan, serta 46 Lokpri di luar koridor pertumbuhan dan pem

terpopuler

  1. Ditahan, Tersangka Penyebab Hanyutnya Siswa SMPN 1 Turi Diduga Gagal Paham Manajemen Risiko

  2. Kontroversi Ucapan Kehamilan di Kolam Renang, Komisioner KPAI: Saya Minta Maaf kepada Publik karena Berikan Statement yang Tidak Tepat

  3. Cek Ruang Radiologi RSCM, Terawan: Oh Ternyata Sudah Dikeringkan, Kita Sudah Panggil Para Vendor untuk Periksa

  4. Wilder: Petinju Terbaik telah Menang Malam Ini

  5. Sindir Anies Usai Jadi Korban Banjir, Yunarto: Makasih dan Silakan Lanjutkan Tiktoknya Pak, Ditunggu Kata-kata Ajaibnya untuk Menyurutkan Air

  6. Indo Barometer: Pilpres 2024, Suara Jokowi Lebih Banyak Pindah ke Prabowo Ketimbang Anies

  7. Tengku Zulkarnain: Sekelompok Pembesar Ribut Soal Formula E di Monas, Tapi Diam Soal Rampok Jiwasraya dan Asabri

  8. Dituding Rajin Keliling Indonesia untuk Persiapan Nyapres, Ini Penjelasan Ganjar Pranowo

  9. Anthony Ginting Berpeluang Naik ke Ranking Dua Dunia

  10. Survei Indo Barometer: Nama Jokowi Masih Dipilih untuk Jadi Capres 2024

fokus

Hutan Kecil Terarium
Target SDGs
Catatan 100 hari Jokowi-Ma'ruf Amin

kolom

Image
Ujang Komarudin

Agama dan Pancasila

Image
Achsanul Qosasi

Ujian Tak Mudah Bagi Pancasila

Image
Girindra Sandino

Tujuh Analisa dan Persoalan Urgen Pilkada 2020

Image
Abdul Aziz SR

Menanti Kebangkitan PPP

Wawancara

Image
Gaya Hidup

Literasi

Rakornas Perpusnas, Penguatan Budaya Literasi Wajib untuk SDM Indonesia Unggul

Image
Gaya Hidup

Bintangi Get Married Series, Prilly Latuconsina Ragu Tak Bisa Seperti Nirina Zubir

Image
Gaya Hidup

Literasi

Rakerpus Perpusnas: Penguatan Indeks Literasi untuk SDM Indonesia Unggul

Sosok

Image
News

Jarang Tersorot, 10 Potret Romantis Wamen BUMN Kartika Wirjoatmodjo Bersama Istri

Image
News

Hidup di Kontrakan, 5 Fakta Tak Terduga Naniel Yakin Pencipta Lagu 'Bento' Iwan Fals

Image
News

Pernah Digugat Rp1 Triliun, 5 Fakta Penting Marwan Batubara Orator di Aksi 212