image
Login / Sign Up
Image

Abdul Aziz SR

Dosen Ilmu Politik FISIP Universitas Brawijaya dan Senior Researcher pada Center for Election and Political Party (CEPP) FISIP UI

Kerusakan Moral dalam Politik

Kolom

Image

Komisioner KPU Wahyu Setiawan (kedua kiri) mengenakan rompi tahanan usai menjalani pemeriksaan di gedung KPK, Jakarta, Jumat (10/1/2020) dini hari. KPK menetapkan empat orang tersangka dalam Operasi Tangkap Tangan (OTT) pada Rabu (8/1/2020) yakni WSE Komisioner KPU, ATF mantan anggota Bawaslu serta HAR dan SAE dalam kasus dugaan penerimaan hadiah atau janji penetapan anggota DPR Terpilih 2019-2024 dengan barang bukti uang sekitar Rp400 juta dalam bentuk mata uang dolar Singapura dan buku rekening. | ANTARA FOTO/Dhemas Reviyanto

AKURAT.CO, Tertangkapnya Wahyu Setiawan karena menerima uang suap dari Harun Masiku melalui Saeful Bahri, Doni Tri Istiqomah, dan Agustini Sitorus (yang konon atas perintah Hasto Kristiyanto) bisa dijelaskan dalam berbagai perspektif. Salah satunya adalah perpektif moral.

Moral yang dimaksud dalam konteks ini adalah berkenaan dengan kemampuan bertindak yang baik sebagai manusia. Moral lebih banyak diproduksi oleh budaya dan agama. Hukum-hukum yang diberlakukan di masyarakat juga mengandung dimensi moral yang kuat.  Misalnya, orang dilarang berbohong, korupsi, berjudi, membunuh, memperkosa, dan lain-lain. Kebaikan seseorang sebagai manusia diukur dari apa yang dikatakan baik oleh agama dan budaya (aturan-aturan sosial yang dianut masyarakat). Juga yang ditetapkan oleh hukum-hukum positif.

Untuk Wahyu Setiawan, tentu tidak sebatas sebagai manusia saja –seperti pada umumnya manusia– melainkan manusia yang juga pejabat negara. Wahyu yang komisioner Komisi Penyelenggara Pemilu. Bobot pelanggaran moral dialamatkan kepadanya menjadi jauh lebih berat.

baca juga:

Begitu pula dengan Hasto Kristiyanto –jika benar-benar terlibat– pelanggaran moral yang dilakukannya juga berat. Tindakan Hasto –sekali lagi jika benar-benar terlibat– dilakukan tidak sebatas sebagai manusia biasa pada umumnya, melainkan lebih sebagai Sekretaris Jenderal PDI Perjuangan. Partai besar dan sedang berkuasa saat ini.  

Harun Masiku dan tiga orang yang menjadi kurir pemberian uang suap ke Wahyu (Saeful, Doni, dan Agustini) merupakan orang-orang dekat Hasto. Sekaligus juga kader PDI Perjuangan. Khusus Agustini bahkan pernah menjadi anggota Badan Pengawas Pemilu.  Bobot pelanggaran moral mereka tentu juga termasuk berat.

Menyingkirkan Moral

Jika ditelusuri lebih dalam dan lebih jauh, suap kepada Wahyu yang komisioner KPU kemungkinan juga memiliki rentetan yang panjang dengan PDI Perjuangan. Artinya, ada hal-hal lain yang berkaitan dengan proses dan hasil Pemilu 2019 dapat ditelusuri di dapur PDI Perjuangan. Kemungkinan terjadi sederet palanggaran moral oleh partai ini bukan sesuatu yang mustahil, baik untuk pemilu legislatif maupun pilpres. Tapi, apakah ada upaya penelusuran hingga ke sana? Entahlah.

Seandainya ada upaya sampai ke sana tentu menarik untuk sekaligus bergerak lebih jauh lagi hingga ke soal dugaan kecurangan dalam Pemilu 2019. Berbagai kalangan mengatakan bahwa Pemilu 2019 mengandung banyak sekali kecurangan. Jika benar demikian maka hasil pemilu yang ditetapkan KPU menjadi “barang” haram. Rentetan keharamannya juga menjadi sangat panjang. Tapi, agar tidak menjadi fitnah dan beban sejarah, ada baiknya ditelusuri. Pintu masuknya adalah kasus suap Wahyu.

Sekadar contoh. KPU menetapkan hasil Pemilu 2019 pada dini hari. Di keheningan malam. Ketika semua orang terlelap dalam tidur. Mengapa mesti begitu? Mengapa KPU takut diketahui publik? Bukankah pemilu itu milik seluruh warga, menyangkut suara warga, dan untuk kepentingan warga?

Tindakan KPU yang menjauhkan pemilu (penetapan hasil) dari publik, dapat dikategorikan sebagai kejahatan moral. Bagi Immanuel Kant, misalnya, ukuran untuk menilai sebuah tindakan bermoral atau tidak adalah publisitas. Bermoral ketika publik mendapat akses untuk tahu. Pertimbangan-pertimbangan untuk sebuah tindakan –lebih-lebih ketika menyangkut kepentingan masyarakat luas– harus dapat diketahui oleh publik. Sebaliknya, ketika dijauhkan dari publik ia menjadi tidak bermoral. Secara moral menjadi tindakan terlarang dan jahat.

Apakah tindakan yang tidak bermoral itu dapat dijadikan indikasi bahwa ada kecurangan-kecurangan dalam Pemilu 2019? Kita belum tahu. Untuk memastikan sebaiknya ada upaya menelusurinya.

Berbagai penyelewengan yang dilakukan oleh para politisi, pejabat negara, dan birokrat antara lain karena berbagai tindakan yang mereka lakukan tidak lagi mempertimbangkan variabel moral. Moral telah disingkirkan jauh-jauh. Mungkin karena dianggap tidak penting, usang, dan kuno. Pertimbangan moral dianggap sebagai penghambat.

Tindakan-tindakan akhirnya lebih didasarkan pada kepentingan sesaat, jangka pendek, diri sendiri, dan kelompok. Ketika kepentingan-kepentingan macam itu mengedepan, maka pertimbangan-pertimbangan moral tidak lagi berbicara. Artinya, kebaikan dalam ukuran moral tidak lagi punya tempat dalam tindakan mereka.

Uang dan Kekuasaan 

Wahyu hanya segelintir dari sederet panjang pejabat negara yang selama ini mempertontonkan perilaku yang tidak lagi mempertimbangkan variabel moral. Sejumlah menteri menjadi pelaku tindakan korup. Ratusan kepala daerah (bupati, walikota, gubernur) terjerat korupsi dan suap-menyuap. Demikian pula dengan ratusan anggota parlemen (pusat dan daerah). Sugguh sangat banyak pejabat-pejabat birokrasi yang melakukan penyelewengan-penyelewengan dan menyalahgunakan kedudukan.

Membisunya pertimbangan-pertimbangan moral dari tindakan mereka –dalam  kapasitas sebagai pejabat publik– tidak lain karena menempatkan serta memperlakakuan uang dan kekuasaan sebagai berhala. Uang dan kekuasaan sebagai berhala yang diagungkan. Uang sebagai alat mendapatkan kekuasaan, dan kekuasaan dimanfaatkan untuk mengumpulkan uang.

Dua peralatan penting kehidupan manusia itu (uang dan kekuasaan) berubah makna dan fungsi di tangan politisi dan pejabat publik yang jauh dari sentuhan-sentuhan moral.

Mereka sesungguhnya sedang tdak memiliki kemampuan –sebagai pejabat publik, bukan sekadar manusia pada umumnya– melakukan tindakan-tindakan yang baik. Mereka menjadi sosok-sosok gagal dalam ukuran moral. Gagal bertindak dalam kebaikan. Padahal, politik sejatinya untuk kebaikan dan kemaslahatan bersama.   

Di tangan manusia-manusia itulah wajah politik negeri ini menjadi hitam warnanya. Aturan-aturan menjadi barang dagangan. Kehidupam sosial menjadi retak dan tidak harmoni. Ekonomi berantakan dan tidak membawa keberkahan. Negara pun kacau-balau dan tak henti-hentinya dirundung masalah.

Plato membayangkan negara sebagai arena menggapai kebahagiaan, dan itu dapat terwujud manakala manusia dalam konteks politik tidak serakah mengejar kesenangan indrawi. Sebuah negara mencapai titik idealitasnya ketika dipimpin oleh orang yang berpengetahuan atau memiliki tingkat kebijaksanaan yag tinggi. Itulah yang disebutnya philoshoper king. Raja yang bijaksana. Raja yang berpengetahuan.

Negeri ini saat ini tentu saja sangat jauh dari apa yang dibayangkan Plato itu. Ia justru sedang terlempar ke titik nadir kehinaan. Banyak hal terbaik-balik atau sengaja didesain terbalik-balik. Yang haram menjadi halal. Kepalsuan menjadi kebenaran. Oang baik di-bully, orang jahat dipuji-puji.

Sungguh, telah tiba era kerusakan moral dalam politik kita. Wallahu’alam. []

 

Editor: Sunardi Panjaitan

berita terkait

Image

News

Kolom

Negara Sengketa

Image

News

Dicari Pimpinan KPK Bernyali Tinggi

Image

News

Kolom

Menimbang Tes DNA dalam Penetapan Hak Waris

Image

News

Kolom

Gagang Politik Trump

Image

News

Kolom

Unjuk Gigi Pimpinan KPK Baru

Image

News

Kolom

Mempertahankan Kadaulatan NKRI di Natuna

Image

News

Jaminan Electoral Justice dalam Pilkada

Image

News

Kolom

Rekening Gendut Pejabat Negara

Image

News

Banjir, Kepala Daerah dan Jokowi

komentar

Image

0 komentar

terkini

Image
News

Kontraktor Sebut akan Dibangun Kolam dan Plaza di Area Revitalisasi Monas

pembuatan kolam dan plaza untuk upacara di Monas itu, menjadi dua fokus pekerjaan yang digarap

Image
News

Lemkapi Ragukan Pernyataan Lutfi Soal Dianiaya Polisi

Setelah melihat fakta di lapangan, kami meragukan pengakuan yang bersangkutan

Image
News

Siap Amankan Imlek, Polda Babel Kerahkan 300 Personel

300 personel yang dikerahkan tersebut merupakan gabungan personel Polda dan Polres jajaran

Image
News

Penasihat Hukum Soetikno Akan Hadirkan Sofyan Djalil Sebagai Saksi

mewacanakan untuk menghadirkan Menteri Badan Usaha Milik Negara (2007-2009) Sofyan Djalil sebagai saksi

Image
News

Kejagung Periksa Lima Saksi Terkait Tindak Pidana Korupsi Jiwasraya

"Lima saksi diperiksa hari ini,"

Image
News

Polda Jatim Periksa Saksi Kunci Investasi Bodong "MeMiles"

"Dia banyak mengetahui karena bagian keuangan,"

Image
News

"Jakarta Imlekan" Jadi Hiburan Tersendiri Bagi Warga Saat Jam Pulang Kerja

"Semarak Perayaan Jakarta Imlekan" hadir di sejumlah ruang publik di Kota Jakarta

Image
News

Polisi Menduga Pembunuh Pelajar Miliki Prilaku Seks Menyimpang

tersangka YA (32), kerap melakukan panggilan telepon melalui video call dengan memperlihatkan alat kelaminnya

Image
News

Firli Imbau Masyarakat Laporkan Keberadaan Harun Masiku

Saya juga imbau kepada seluruh masyarakat yang tahu tentang keberadaan saudara tersangka (Harun Masiku) untuk memberitahukan

Image
News

Moeldoko: "Satgas 115" Belum Dibubarkan

Sementara ini akan tetap dijalankan dengan berbagai perbaikan, selama ini ada evaluasinya

terpopuler

  1. Dibuka Lowongan Kerja untuk Tinggal di Irlandia Gratis, Ini Syaratnya

  2. Dengan Wajah Babak Belur, Donald "Cowboy" Cerrone Masih Sempatkan Diri Berpesta

  3. Tren Selebritas Hijrah Meningkat, ini 4 Kelompok Pengajian Artis Terpopuler di Indonesia

  4. Dari Call Center hingga Jadi Wadirut Garuda, 5 Fakta Perjalanan Karier Dony Oskaria

  5. Mawar Eva de Jongh Akui Nyaman dengan Bryan Domani, Resmi Pacaran?

  6. Baru Diangkat Jadi Komisaris, Yenny Wahid: Garuda Utangnya Banyak

  7. Capai Rp3,1 M! Ini 10 Senjata Api Paling Mahal di Dunia

  8. Utusan AS untuk Iran: Pengganti Soleimani Hadapi Nasib Sama Jika Bunuh Warga Amerika

  9. Bawa Barang Bukti Ganja, Anggota Polres Jakbar Nyaris Dibegal di Lampung

  10. Banyak Tentara AS Tinggalkan Irak karena Potensi Cedera Otak

fokus

Menyambut Shio Tikus Logam
Toleransi vs intoleransi
Problematika Kota

kolom

Image
UJANG KOMARUDIN

Negeri Darurat Korupsi

Image
Zainul A. Sukrin

Negara Sengketa

Image
Ujang Komarudin

Dicari Pimpinan KPK Bernyali Tinggi

Image
Pangi Syarwi Chaniago

Politik Dinasti Jokowi dalam Pilkada 2020

Wawancara

Image
Video

VIDEO Jejak Sepotong Roti Jakarta

Image
Sea Games

Milos Sakovic

"Polo Air Indonesia Butuh Liga dan Banyak Turnamen"

Image
Gaya Hidup

Pertama Kali Akting Bareng, Giorgino Abraham Langsung Nyaman dengan Sophia Latjuba

Sosok

Image
Iptek

Di Davos, Johnny Plate Paparkan Strategi Komprehensif Dukung Ekosistem Digital

Image
Gaya Hidup

Najwa Shibab Bawa Perpusnas Rangkul Generasi Muda Cinta Literasi

Image
News

Pilih Jadi Seniman daripada Politisi, 5 Fakta Menarik Putri Bungsu Gus Dur Inayah Wahid