image
Login / Sign Up
Image

Ujang Komarudin

Direktur Eksekutif Indonesia Political Review (IPR) & Pengamat Politik Universitas Al-Azhar Indonesia (UAI) Jakarta

Refleksi Akhir Tahun Politik Indonesia

Kolom

Image

Presiden Joko Widodo (tengah) di dampingi Ketua Penyelenggaran Munas X Partai Golkar, Melchias Markus Mekeng (kiri) dan Ketua Golkar Airlangga Hartarto saat membuka Musyawarah Nasional (Munas) X Partai Golongan Karya di Jakarta, Selasa (3/12/2019). Munas X Partai Golkar yang mengusung tema 'Kita Satu Untuk Indonesia' itu akan berlangsung pada 3-6 Desember 2019. | AKURAT.CO/Dharma Wijayanto

AKURAT.CO,  Tahun 2019 yang disebut dengan tahun Politik akan segera berakhir. Tutup buku tahun 2019, tentu akan membuka lembaran baru dan goresan tinta Politik tahun 2020. Tahun 2019 yang penuh kecemasan, karena adanya rivalitas Jokowi-Ma’ruf dengan Prabowo-Sandi di Pilpres. Semoga tertutup oleh harapan baru Politik Indonesia tahun 2020, yang penuh kestabilan dan kenyamanan.

Sebagai bangsa yang waras, kita tak boleh melupakan tragedi Pemilu 2019. Pileg dan Pilpres yang dilakukan secara serentak, ternyata telah memakan banyak korban anak bangsa. Tidak kurang 486 orang petugas KPPS meninggal dunia. Entah karena kelelahan, entah karena ada faktor yang lain, sehingga mereka kehilangan nyawa.

Belum lagi sekitar 4.849 orang lebih penyelengara Pemilu juga jatuh sakit dan dirawat. Ini menandakan bahwa Pemilu 2019 merupakan Pemilu yang paling bermasalah sejak Indonesia berdiri. Pemilunya berjalan. Namun banyak yang menjadi pertanyaan. Pemilunya beres. Tapi meninggalkan ekses.

baca juga:

Pilpres 2019 telah menghadirkan rivalitas yang keras, antara kubu Jokowi-Ma’ruf dengan Prabowo-Sandi. Narasi kampanye yang dikembangkan pun narasi saling serang, menjelekan, menjatuhkan, menghujat, melecehkan, dan saling menafikan.

Untuk menjadi pemenang, tak heran kedua kubu melakukan Politik menghalalkan segala cara ala Machiavelli. Apapun dilakukan asal menang. Apapun dijalankan asalkan bisa unggul. Tak penting melanggar norma dan aturan.

Pilpres 2019, juga telah menumbuhkan polarisasi yang tinggi dan keras di tengah-tengah masyarakat. Masyarakat saling bermusuhan antara para pendukung kedua kubu. Hingga saat ini pun, resonansi pembelahan dan perpecahan di masyarakat masih ada dan terjadi.

Demonstrasi akibat Pilpres pun beberapa kali terjadi. Sempat terjadi kerusuhan, walaupun langsung bisa diatasi oleh Polisi. Namun demonstrasi, tetap memakan korban 8 nyawa meninggal dunia sia-sia. Tragedi Pilpres dan pasca Pilpres yang tak boleh dilupakan.  

Pilpres 2019 memang telah membuat stres. Telah membuat lelah dan khawatir semua anak bangsa. Telah menghadirkan tontonan yang mengecewakan, dan tak menarik bagi nalar publik. Telah melahirkan narasi kebencian di tengah-tengah masyarakat.

Catatan lain Pilpres 2019 adalah tak netralnya Polisi dalam penegakkan hukum Pemilu. Polisi seolah-olah telah menjadi alat kekuasaan untuk memenangkan kubu tertentu. Jika ada kubu lawan yang mengkritik dan bersalah, Polisi langsung memproses hingga dijebloskan ke penjara.

Lawan-lawan Politik juga banyak yang dijadikan tersangka, mereka juga bulak-balik datang ke kantor Polisi untuk diperiksa. Hukum tumpul ke kawan dan tajam ke lawan. Hukum dapat menghancurkan lawan dan sekaligus bisa membuat kawan nyaman.

Catatan Pilpres, harus juga menjadi catatan penegakkan hukum di Indonesia. Jika hukumnya sudah memihak, dikendalikan, menyasar lawan dan mengamankan kawan. Ketika hukumnya bisa dikondisikan dan berantakan, maka Demokrasi pun tak akan berjalan.

Pilpres merupakan bagian dari pesata Demokrasi, yang sejatinya harus berjalan dengan menyenangkan dan menggembirakan. Dalam negara yang demokrasinya sudah tingkat tinggi, maka persaingan itu bukan lah masalah. Persaingan dan kontestasi Politik itu hal biasa. Dan kalah menang juga biasa.

Demokrasi tanpa penegakkan hukum yang adil, hanya akan menyisakan luka. Hanya akan menyisakan kebencian publik kepada para penegak hukum. Karena bagaimana pun Demokrasi harus pararel dan sejalan dengan penegakkan hukum.

Jika bangsa ini belum on the track dalam penegakkan hukum, maka selama itu pula Demokrasi tak akan pernah berjalan dengan baik. Demokrasi akan berjalan timpang. Demokrasi tak akan memihak pada mereka yang tertindas. Demokrasi akan berjarak dengan rakyat.

Dan Demokrasi hanya akan melahirkan oligarki. Bukan demokrasinya yang salah. Bukan Pemilunya yang salah. Tapi elite-elite politiknya yang dengan sengaja menumbuhkan, menjaga, dan memelihara oligarki. Agar mereka langgeng berkuasa.

Ketika oligarki dipelihara, maka akan menciptakan merebaknya dinasti Politik. Demokrasi telah diperkosa dan dibajak oleh para elite Politik, dengan cara menjaga dan melanggengkan oligarki dan dinasti Politik.

Demokrasi yang sudah dibajak dan dibegal dengan oligarki dan Politik dinasti, membuat bangsa ini seperti kembali ke sistem kerajaan. Lihatlah kepala daerah-kepala daerah terpilih, mereka seperti raja-raja kecil di daerahnya.

Lihat juga para yang punya kuasa di tingkat pusat, mereka juga seperti raja-raja, titahnya harus ditaati, rakyat sulit mendekat, feodal, dan masih marak budaya upeti diantara para pejabat. Budaya setor-menyetor masih tinggi, makanya korupsi tak bisa dibasmi.

Negeri ini aneh tapi nyata. Negeri yang penuh anomali dan paradoks seperti dunia terbaik. Korupsi merajalela. Kita termasuk republik yang darurat korupsi. Elite-elite banyak yang melakukan korupsi. Tetapi KPK-nya yang dihabisi. Revisi UU KPK merupakan upaya mengkerdilkan, membonsai, melemahkan, dan membunuh KPK.

Hiruk-pikuk Pilpres telah usai. Prabowo pun sudah masuk kabinet Jokowi-Ma’ruf. Tahun Politik 2019 pun akan segera berlalu.

Dengan masuknya Prabowo dan Gerindra ke barisan koalisi Jokowi-Ma’ruf. Artinya koalisi pemerintah sangat gemuk. Secara Politik, jika koalisi gemuk tersebut bisa dipertahankan, bisa saja stabilitas Politik akan terjaga.

Namun ada kekhawatiran yang mendalam bagi bangsa ini. Koalisi pemerintah yang mayoritas. Dan disaat yang sama juga menyisakan minoritas oposisi. Itu semua, hanya akan membawa pada pemerintahan yang akan cenderung otoriter.

Kuatnya koalisi pemerintah. Dan lemahnya pihak oposisi. Hanya akan membuka jalan penyalahgunaan kekuasaan. Karena secara naluriah, kekuasaan itu cenderung akan disalahgunakan. Kekuasaan itu akan cenderung korup, seperti itulah Lord Acton pernah berkata.   

Lihatlah kasus Garuda, disana ada manipulasi keungan dan korupsi. Tengoklah kasus korupsi asuransi Jiwasraya dan Bumiputera. Intiplah BUMN konstruksi seperti Wika, dan teman-temannya, disana juga banyak utang. Belum lagi BUMN-BUMN lain, hanya tinggal menunggu waktu bangkrut karena kasus korupsi.

Korupsi masih menjadi musuh utama bangsa ini. Namun KPK-nya telah dipreteli dan dibunuh. Ke depan masih akan banyak kasus-kasus korupsi yang tak akan bisa diungkap. Dan ke depan seandainya indeks korupsi Indonesia menurun, itu bisa saja sudah dikondisikan.

Apapun yang terjadi dengan republik ini. Kita harus tetap menatap masa depan Politik Indonesia di 2020. Tak boleh kita pesimis walaupun langit akan runtuh. Tak boleh juga kita mengeluh walaupun kekuasaan tak memihak pada kita.

Kita adalah jiwa-jiwa mandiri. Jiwa-jiwa yang siap mengabdi untuk bangsa ini, baik diminta atau pun tidak. Menatap masa depan Indonesia dengan penuh optimisme adalah bagian dari jiwa-jiwa pemenang. Jadilah kita semua sebagai pemenang di tahun 2020.

                        

Editor: Sunardi Panjaitan

berita terkait

Image

News

Kolom

Rebranding Pilkada Serentak 2020

Image

News

Kolom

Kontroversi RUU HIP

Image

News

Kolom

New Normal dan Mengerucutnya Oligarki

Image

News

Kolom

Rasisme Tertolak di Dunia yang Beradab!

Image

News

Kolom

Ancaman Gangguan Kejiwaan di Pilkada 2020

Image

News

Kolom

Milenial Reform

Image

News

Kolom

Jebakan Kampanye Virtual di Pilkada 2020

Image

News

Kolom

Rasisme Itu Dosa Asal Amerika

Image

News

Kolom

Salah Urus dan Salah Pengurus

komentar

Image

0 komentar

terkini

Image
News
Satgas Pamtas

Jaga Ketersediaan Stok, Prajurit TNI di Perbatasan RI-PNG Donorkan Darahnya

“Kami akan selalu bersinergi dengan pihak manapun untuk kepentingan masyarakat“

Image
News

TNI Gelar Penyuluhan Pelestarian Hutan kepada Warga Natabui dan Toweta

“Penyuluhan itu bertujuan untuk memberikan wawasan kepada warga Natabui dan Toweta tentang bagaimana cara menjaga dan melestarikan hutan”

Image
News

Filosofi Guru Penggerak Berpijak pada Pesan Ki Hadjar Dewantara

“Fokus program Guru Penggerak adalah kepemimpinan bagi semua ekosistem pendidikan di Indonesia“

Image
News

Kejagung Periksa Tiga Pengusaha Ekspedisi dalam Kasus Impor Tekstil

Pemeriksaan saksi tersebut dilakukan guna mencari serta mengumpulkan bukti tentang tata laksana proses importasi barang dari luar negeri.

Image
News

Dua Pegawai Disdukcapil Kabupaten Cirebon Jadi Tersangka Pungli e-KTP

“Mereka ditangkap saat transaksi di Kantor Dinas Dukcapil Kabupaten Cirebon“

Image
News

Aher: Alutsista Maupun Jumlah Personilnya, Saya Kira Belum Sebanding dalam Transformasi Pertahanan

Ahmad Heryawan juga menyoroti soal kemampuan anggaran, kemudian juga industri pertahanan dalam negeri.

Image
News

Marsekal Hadi Perintahkan PPRC TNI Harus Siap Ketika Dibutuhkan

Di tengah situasi pandemi, TNI harus selalu berada dalam tingkat kesiapan tertinggi untuk menghadapi ancaman nyata yang mungkin terjadi.

Image
News

Bareskrim Janji Selesaikan Kasus Maria Pauline Meski Dua Eks Jenderal Polisi Pernah Terlibat

"Kalau bisa lebih cepat, lebih bagus. Kita cepat selesaikan penyidikannya“

Image
News

Curhatan Keluarga Korban Sarang Burung Walet Saat Doa Bersama

Kami sudah meninggalkan keluarga dan anak kami demi berjalannya proses hukum ini

Image
News

Usai Dikritik Warganet, Kantor Berita China Konfirmasi Batik Berasal dari Indonesia

"Kerajinan ini juga dikenal sebagai batik, sebuah istilah Indonesia yang mengacu pada teknik pewarnaan tahan lilin..." klarifikasi Xinhua.

terpopuler

  1. Diduga Artis HH yang Terlibat Prostitusi, Ini Unggahan Terakhir Hana Hanifah

  2. 7 Potret Cantik Hana Hanifah, Sosok yang Sedang Jadi Perbincangan Warganet

  3. Natalius Pigai: Hagia Sophia dari Gereja ke Masjid, Itu Dirampas!

  4. Anies Ditantang Alihkan Anggaran Ormas Rp2,8 Triliun untuk Penanganan Covid-19

  5. Tatap Sedih Jenazah Ayahanda, Ivan Gunawan: Dad, We Love You

  6. Kasus Corona Jakarta Meroket, Anggota DPRD DKI: Anies Terlalu Banyak Cengengesan

  7. Keuangan Makmur! 6 Zodiak Ini Lagi Mujur Banget di Bulan Juli 2020

  8. Terungkap! Segini Tarif Kencan Artis Diduga Hana Hanifah, yang Masih Makan Mie Pakai Nasi Minggir Dulu

  9. Bukan Pengusaha, Ternyata Karyawan Swasta yang Diduga Pesan Hana Hanifah Sampai Puluhan Juta

  10. Heboh Penangkapan Artis HH, Kriss Hatta Unggah Foto Mesra Bersama Hana Hanifah

fokus

Lebaran di Tengah Pandemi
Pulih dengan Terapi Musik
Wabah Corona

kolom

Image
Afriadi, S.Fil.I., M.IKom

Asmara, Maut dan Kehendak

Image
Dr. Tantan Hermansah

Kemiskinan di Indonesia dan Peran PTAI

Image
Achsanul Qosasi

Sense of Crisis

Image
Egy Massadiah

Petuah Bangkit dari 'Sunrise of Java'

Wawancara

Image
Ekonomi

Eksklusif Restrukturisasi, Babak Baru Pertamina Melangkah ke Kancah Dunia

Image
News

DPR RI

Interview Ketua Komisi X Soal Kisruh PPDB: Kemendikbud dan Dinas Pendidikan Provinsi Kurang Sosialisasi

Image
Olahraga

Shin Tae-Yong

Ini Petikan Lengkap Wawancara Shin Tae-Yong yang Dipersoalkan PSSI

Sosok

Image
News

Ketua DPRD hingga Jadi Pengasuh Pondok Pesantren, 4 Fakta Penting Gus Kamil

Image
News

Gagah! 5 Momen Menhan Prabowo Jajal Rantis Bernama 'Maung'

Image
Ekonomi

Bermental Baja Walau Jadi Korban Bullying, Begini Perjalanan Karier Kekeyi