image
Login / Sign Up
Image

Danis T.S Wahidin

Dosen Ilmu Politik UPN Veteran Jakarta dan Direktur Eksekutif Indodata

Memperkuat Partai Politik di Era Disrupsi

Image

Presiden Joko Widodo bersama sembilan koalisi pimpinan partai bergandengan tangan usai mendeklarasikan pencalonannya sebagai Presiden RI dan calon wakil presiden Kh Maruf Amin pada pilpres 2019 mendatang di Kawasan Menteng, Jakarta, Kamis (9/8/2018). Putusan itu didukung oleh sembilan parpol koalisi pendukung Jokowi, yaitu Partai Nasdem, Partai Hanura, Partai Golkar, PKB, PPP, PDIP, PSI, Perindo, dan PKPI. | AKURAT.CO/Dharma Wijayanto

AKURAT.CO, Pernyataan Menkopolhukam  Mahfud MD pada mukernas PPP ke-V di Jakarta mengenai citra  partai politik sebagai perusak kehidupan bernegara merupakan kritikan dan tamparan yang keras terhadap eksistensi partai politik. Berbagai ulasan mengenai partai politik sejak awal era reformasi hingga saat ini,  tidak pernah lepas dari kritik terhadap kinerja kader partai politik yang dekat dengan korupsi, pelanggaran hukum dan kinerja parlemen yang tidak memuaskan publik. Pada sisi yang lain, keberadaan partai politik dalam era Demokrasi  menjadi suatu keharusan dalam membangun logika perwakilan politik melalui kontestasi Pemilu, penyalur aspirasi dan penyedia kebijakan pembangunan masyarakat serta  penyedia calon pemimpin dalam menjalankan estafet kebangsaan.      

Logika kekuasaan elite politik dan publik seakan terputus, menyebar dan dan tidak bertemu pada satu titik yang sama. Elite politik berpikir tentang pemanfaatan kekuasaan partikular sedangkan publik berpikir tentang relasi kekuasaan terhadap kemakmuran dan kesejahteraan. Lemahnya relasi antara partai politik dan masyarakat sudah sejak lama digambarkan Pridham (1990), Rose dan Mishler (1998) dan Morlino (1998) sebagai sebuah institusi yang lemah dalam memenuhi tuntutan masyarakat. Menurut Anthony Mughan dan Richard Gunther (2001) sinisme terhadap partai politik dan politik partisan banyak diakibatkan oleh perilaku politikus yang tidak merakyat. Tentu saja, tidak semua elite partai politik memiliki habitus politik yang buruk,  namun kegagalan salah satu elit politik di mata publik  berdampak sistemik terhadap citra partai politik di mata publik.

Partai Politik dan Transformasi pemilih

baca juga:

Pergerakan partisipasi pemilih Indonesia pada Pemilu legislatif 1999 hingga 2019  memperlihatka pola transformasi dari tradisional menuju rasional, serta perubahannya dari apatis menuju kritis. Sejarah Pemilu legislatif 2014 dan 2019  mencatat peningkatan partisipasi dari 71.31% menjadi 81,69%, peningkatan ini berbanding terbalik denganpenurunan partisipasi pemilih yang  konsisten terjadi rata-rata 10% pada Pemilu legislatif  1999-2009.Peningkatan partisipasi pada Pemilu legislatif 2014 juga diikuti oleh penurunan perolehan suara beberapa partai politik pemerintah (the rulling party) dan peningkatan suara partai oposisi. Partai Demokrat mengalami penurunan 11,0% , dan  PKS   mengalami penurunan 1,0% dari suara nasional, namun PDIP mengalami peningkatan suara dari 14.03% menjadi 18.95%.

Kekecewaan publik terhadap partai politik pada Pemilu 1999-2009 diluapkan dengan apatisme dan golput sedangkan kekecewaan publik terhadap partai politik pada Pemilu 2014-2019 diluapkan dengan partisipasi politik dan pilihan politik terhadap partai lainnya yang dianggap memberikan harapan. Keadaan ini mengkonfirmasi tentang adanya kesadaran publik akan sulitnya melakukan perbaikan partai politik dari korupsi, pelanggaran hukum dan kinerja buruk di parlemen selain memberikan hukuman pada partai politik melalui Pemilu. Sirkulasi kemenangan partai politik di dalam Pemilu dianggap mampu membangun semangat kompetisi dalam melakukan akselerasi perubahan partai politik menjadi lebih bersih, peduli, dan merakyat.

Kuatnya rasionalitas pemilih ini didorong oleh digitalisasi informasi politik melalui  media sosial dan media-media online, sehingga publik secara cepat menerima informasi dan menjadikannya referensi dalam memahami isu-isu politik kepartaian. Isu-isu politik itu bahkan meluas hingga isu-isu identitas keagamaan dan kedaerahan. Pada konteks inilah perilaku rasional pemilih menyatu dengan perilaku sosiologis dan psikologis  sesuai kebutuhan dan daya kritis pemilih.

Survival Partai Politik Berbasis Pemilih

Relasi perilaku pemilih  dan partai politik di era Disrupsi semakin menguat dan bertemu dalam pola retrospektif,  jejak rekam partai politik baik pemerintah maaupun non pemerintah dicatat dalam nalar publik sebagai bahan penilaian, jika kinerja partai politik memuaskan maka suaranya akan meningkat dan jika tidak memuaskan maka suaranya akan menurun pada Pemilu berikutnya.

Survival partai politik sangat ditentukan oleh kecepatannya dalam melakukan adaptasi politik  melalui proses pembacaan dan pemahaman  trend penilaain publik. Transparansi  partai politik dan transformasi karakter elit yang lebih terkoneksi dengan publik  merupakan kunci utama dari survival partai politik di era Disrupsi. Ketiganya dapat dikelola melalu sebuah proses digitalisasi informasi yang intensif. Digitalisasi informasi menjadikan publik mampu mengukur secara akurat tentang konsistensi dan arah kinerja partai politik, sehingga perbaikan citra partai politik dapat dilakukan dengan cepat. 

Tranformasi karakter elit juga dapat dilakukan melalui perbaikan pola rekruitmen kader inti yang berjenjang, dan persiapan calon legislatif serta calon pengurus daerah melalui sertifikasi ilmiah yang melibatkan perguruan tinggi dan diklat politik serta reorientasi partai politik pada misi keadilan sosial, kemanusiaan dan ketuhanan.   

Era Disrupsi menjadikan publik semakin cerdas, mereka semakin memahami bahwa partai politik tidak lebih dari sekumpulan manusia yang dekat dengan kekuasaan. Para elit politik bisa sering kali hilap, namun publik mengontrol kesalahan pada saat Pemilu. Publiklah yang berperan penting dalam mewujudkan transformasi partai politik perusak kehidupan bernegara menjadi pembela negara. Semoga!!!

Editor: Sunardi Panjaitan

berita terkait

Image

News

Kolom

Rebranding Pilkada Serentak 2020

Image

News

Kolom

Kontroversi RUU HIP

Image

News

Kolom

New Normal dan Mengerucutnya Oligarki

Image

News

Kolom

Rasisme Tertolak di Dunia yang Beradab!

Image

News

Kolom

Ancaman Gangguan Kejiwaan di Pilkada 2020

Image

News

Kolom

Milenial Reform

Image

News

Kolom

Jebakan Kampanye Virtual di Pilkada 2020

Image

News

Kolom

Rasisme Itu Dosa Asal Amerika

Image

News

Kolom

Salah Urus dan Salah Pengurus

komentar

Image

0 komentar

terkini

Image
News

Miris Banyak yang Tak Percaya Corona, Ridwan Kamil: Saya Kehilangan 3 Sahabat karena COVID-19

Masih banyak di antara kita yang tak percaya keberadaan virus ini

Image
News
Wabah Corona

Pasien Negatif Corona di Secapa AD Bertambah 67 Orang

“Hasil Lab PCR dari swab ke-2 sampai dengan pagi ini, ada 67 pasien lagi yang dinyatakan negatif“

Image
News

Menag: Program ‘Kita Cinta Papua’ Membangun Jembatan Kesetiakawanan Aceh-Papua

Pelaksanaan program ini akan menggunakan anggaran Kementerian Agama.

Image
News
Wabah Corona

Selama PSBB Transisi, Pemprov DKI Temukan Kasus Corona Terbanyak di Pasar

Pasar tradisional masih menjadi tempat pertama yang paling rawan terjadi penularan.

Image
News

Pemerintah akan Bentuk Tim Pemburu Koruptor, Bagaimana dengan KPK?

KPK itu adalah lembaga tersendiri.

Image
News

Jumat Ini, PDIP Umumkan Dukungan Pilkada Gelombang Kedua via Telekonferensi

Pengumuman secara terbatas melalui teleconference akan dilakukan pada hari Jumat, 17 Juli 2020.

Image
News

ODP hingga PDP Tak Lagi Dipakai, Ini 8 Penjelasan Istilah Baru Pasien COVID-19 Sesuai Kepmenkes RI

Istilah-istilah yang sudah akrab seperti ODP, PDP, hingga OTG tak lagi dipakai

Image
News

Hagia Sophia Diubah Jadi Masjid, Paus Fransiskus Mengaku Sangat Sedih

"Saya memikirkan Hagia Sophia dan saya sangat sedih," kata Paus

Image
News

Anjing Pelacak Diturunkan Endus Jejak Pembunuh Editor Metro TV

Pelaku sempet mampir di sebuah warung.

Image
News

Jokowi Minta Perwira Remaja TNI-Polri Kuasai Teknologi

Yang jelas dunia berubah dengan begitu cepatnya, disrupsi terjadi di semua sektor kehidupan dan Revolusi Industri jilid ke-4

terpopuler

  1. Diduga Artis HH yang Terlibat Prostitusi, Ini Unggahan Terakhir Hana Hanifah

  2. 7 Potret Cantik Hana Hanifah, Sosok yang Sedang Jadi Perbincangan Warganet

  3. Natalius Pigai: Hagia Sophia dari Gereja ke Masjid, Itu Dirampas!

  4. Anies Ditantang Alihkan Anggaran Ormas Rp2,8 Triliun untuk Penanganan Covid-19

  5. Terungkap! Segini Tarif Kencan Artis Diduga Hana Hanifah, yang Masih Makan Mie Pakai Nasi Minggir Dulu

  6. Kasus Corona Jakarta Meroket, Anggota DPRD DKI: Anies Terlalu Banyak Cengengesan

  7. Bukan Pengusaha, Ternyata Karyawan Swasta yang Diduga Pesan Hana Hanifah Sampai Puluhan Juta

  8. Keuangan Makmur! 6 Zodiak Ini Lagi Mujur Banget di Bulan Juli 2020

  9. Tatap Sedih Jenazah Ayahanda, Ivan Gunawan: Dad, We Love You

  10. Heboh Penangkapan Artis HH, Kriss Hatta Unggah Foto Mesra Bersama Hana Hanifah

fokus

Lebaran di Tengah Pandemi
Pulih dengan Terapi Musik
Wabah Corona

kolom

Image
Afriadi, S.Fil.I., M.IKom

Asmara, Maut dan Kehendak

Image
Dr. Tantan Hermansah

Kemiskinan di Indonesia dan Peran PTAI

Image
Achsanul Qosasi

Sense of Crisis

Image
Egy Massadiah

Petuah Bangkit dari 'Sunrise of Java'

Wawancara

Image
Ekonomi

Eksklusif Restrukturisasi, Babak Baru Pertamina Melangkah ke Kancah Dunia

Image
News

DPR RI

Interview Ketua Komisi X Soal Kisruh PPDB: Kemendikbud dan Dinas Pendidikan Provinsi Kurang Sosialisasi

Image
Olahraga

Shin Tae-Yong

Ini Petikan Lengkap Wawancara Shin Tae-Yong yang Dipersoalkan PSSI

Sosok

Image
News

Ketua DPRD hingga Jadi Pengasuh Pondok Pesantren, 4 Fakta Penting Gus Kamil

Image
News

Gagah! 5 Momen Menhan Prabowo Jajal Rantis Bernama 'Maung'

Image
Ekonomi

Bermental Baja Walau Jadi Korban Bullying, Begini Perjalanan Karier Kekeyi