breaking news: Trio Ikan Asin Jalani Sidang dengan Agenda Putusan Sela

image
Login / Sign Up
Image

Ujang Komarudin

Direktur Eksekutif Indonesia Political Review (IPR) & Pengamat Politik Universitas Al-Azhar Indonesia

Sikap Abu-abu Partai Demokrat

Deni Muhtarudin

Image

Ketua Umum Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono (tengah) didampingi anggota pengurus partai Demokrat saat memberikan keterangan dalam rapat tertutup terkait revisi UU Ormas di DPP Partai Demokrat, Jalan Proklamasi, Jakarta, Senin (30/10). Dewan Pengurus Pusat Partai Demokrat bersama anggota Fraksi Demokrat di DPR membahas mengenai Undang-undang Organisasi Kemasyarakatan (Ormas) yang telah disahkan oleh DPR beberapa waktu lalu, Partai Demokrat bersikap menerima UU Ormas tersebut tetapi dengan beberapa catatan atau revisi yang akan diberikan kepada pemerintah dan DPR melalui fraksi Demokrat. Namun, dia mendukung pemberian sanksi kepada ormas yang bertentangan dengan Pancasila dan UUD 1945. | AKURAT.CO/Sopian

AKURAT.CO, Pidato refleksi akhir tahun Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) tadi malam layak untuk dicermati. Karena dalam pidato SBY tersebut, terkandung sikap Partai Demokrat (PD) saat ini hingga ke depan. PD yang pernah menjadi bayi ajaib dalam perpolitikan nasional dan pernah berkuasa selama satu dasawarsa, kini sedang dalam dilema.

Kita harus hargai sikap PD yang ingin berada di luar pemerintahan Jokowi-Ma’ruf. Namun di saat yang sama ingin mengkritik pemerintah secara konstruktif. Apapun sikap PD, itu pilihan pimpinan dan kadernya. Dan apapun pilihan PD tentu akan berdampak pada PD sekarang dan akan datang.

Pilihan menjadi penyeimbang, main di tengah, tidak ke pemerintah dan tidak juga menjadi oposisi merupakan pilihan partai yang sedang galau. PD saat ini masih diliputi dilema dan kegalauan itu.

baca juga:

Pasca Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) tidak jadi menteri di pemerintahan Jokowi-Ma’ruf. Sesungguhnya langkah politik PD sudah bisa terbaca dan dibaca. Karena tak ada kadernya di kabinet, maka pilihan rasional PD berada di luar pemerintahan.

Tak aneh dan tak heran, jika sikap politik PD tadi malam mencerminkan sikap politik cari aman, abu-abu, tak ke kanan juga tak ke kiri, tak ke atas juga tak ke bawah. Sesuai dengan namanya “Demokrat”, ingin memposisikan diri di tengah.

Di tengah persaingan partai politik yang makin hari makin ketat. Sikap PD yang ingin menjadi penyeimbang adalah pilihan keterpaksaan. Terpaksa karena AHY batal jadi menteri. Karena batal, maka laju PD berkoalisi dengan Jokowi terhenti.

Keterpaksaan berikutnya adalah soal PD yang tak mau jadi oposisi. Memaksa PD bermain di putaran tengah. PD sangat tahu, jika PD jadi oposisi, maka akan sering dikerjai pemerintah. Dan pilihan menjadi penyeimbang adalah pilihan pragmatis kebutuhan partai saat ini dan yang akan datang.

Keterpaksaan menjadi penyeimbang itu karena PD sedang bimbang. Ke pemerintah tak diterima. Menjadi oposisi, takut dikerjai. Cari aman dan main di tengah memang menjadi solusi sementara PD, sambil menyiapkan langkah strategis partai ke depan.

Kebutuhan bangsa saat ini adalah adanya kekuatan oposisi yang kuat dan matang. Tak sehat dan tak baik, jika semua partai ingin berkuasa dan ada dalam pemerintahan Jokowi-Ma’ruf. Kebutuhan akan oposisi menjadi sebuah keniscayaan.

Tidak sesederhana yang kita bayangkan ketika partai politik memilih menjadi oposisi. Disitu terletak konsekuensi. Kenapa partai-partai politik, termasuk PD tak mau menjadi oposisi. Karena menjadi oposisi memang menderita. Harus bersuara lantang dan vokal, tak ada jabatan dan kekuasaan, dan bahkan diincar dan dicari-cari kasus hukumnya.

Namun sejarah Indonesia telah membuktikan. Megawati dengan PDIP-nya, memilih menjadi oposisi selama pemerintahan SBY tahun 2004-2014. PDIP bergerak dalam diam. Kadernya di bawah tahan banting dan intimidasi. Ditekan tak punya kekuatan untuk melawan. Dikerjai dibalas dengan ketabahan.

Selama sepuluh tahun PDIP puasa dari kekuasaan. Namun disaat itulah, PDIP melakukan kritikan-kritikan keras terhadap pemerintahan SBY. Melakukan pengkaderan untuk persiapan pengambilalihan kekuasaan ke depan.

Dan pada saat yang sama, PD di penghujung menjelang Pemilu 2014 banyak kadernya yang tersangkut kasus korupsi, yang membuat perolehan suaranya terjun bebas. Sedang PDIP yang menjadi oposisi mendapatkan berkah kenaikan suara dan menjadi pemenang Pemilu 2014.

Jadi, jika menjadi oposisi itu ditelateni dan ditekuni tentu harus dijalani dengan penuh keberanian, maka ketika partai penguasanya (PD) jatuh, maka yang naik adalah partai oposisi (PDIP).

Tak usah takut untuk menjadi oposisi. Karena ruang untuk beroposisi sangat terbuka. Namun persoalannya jarang atau sedikit partai yang ingin menjadi partai oposisi. PDIP yang dulu jadi oposisi, kini menjadi partai pemenang Pemilu dua kali berturut-turut, tahun 2014 dan 2019.

Menjadi oposisi itu mulia. Bukan sikap yang hina. Bukan pula sikap pengecut dan penakut. Menjadi oposisi sama mulianya dengan berkoalisi dengan pemerintah. Bahkan menjadi oposisi akan lebih mulia. Karena bisa mengingatkan pemerintah ketika pemerintah salah jalan.

Sikap abu-abu PD sesungguhnya tidak menguntungkan bagi dirinya. Sikap di tengah adalah sikap cari aman dan sikap ingin bersahabat dengan pemerintah. Namun di saat yang sama tidak ingin menjadi pihak yang berhadap-hadapan dan bertentangan dengan pemerintah.

Rugi karena sikapnya yang tak jelas, akan membawa PD pada persimpangan jalan. PD tak terlalu diminati oleh pemilih. Oleh karena itu, dari pemilu ke pemilu suara PD merosot. PD harus memiliki sikap yang jelas, agar menjadi partai yang konsisten dalam menyuarakan aspirasi rakyat.

PD mesti merevolusi diri. Di saat partai-partai lain sudah ready untuk persiapan Pemilu 2024. PD mengkritik partai-partai tersebut untuk tidak terlalu berpikir untuk 2024. Mungkin PD ketinggalan langkah oleh partai-partai lain, sehingga melakukan persiapan untuk Pemilu 2024 pun dipermasalahkan.

Hak PD untuk bermain di wilayah abu-abu. Hak PD juga untuk berada di luar pemerintahan. Sambil mengkritik pemerintah dengan caranya sendiri. Itu hak dan pilihan PD. Namun hak dan pilihan PD tersebut tak ada yang baru. Karena PD selama ini bermain cari aman dan cari selamat.

Jika PD selalu bermain di tengah, bermain sebagai penyeimbang, maka rakyat tak bisa banyak berharap ke PD. Karena rakyat butuh partai yang keras dan lantang dalam menyuarakan hak-hak rakyat. Dan partai yang keras mengkritik, biasanya datang dari partai yang berjiwa oposan.[]

Editor: Ainurrahman

berita terkait

Image

News

KPK: PDIP Lapor ke Dewas Itu Haknya

Image

News

Harun Masiku Dikabarkan di Goa, Ketua KPK: Penyidik akan Menindaklanjuti

Image

News

Kemlu: Lima Awak Kapal WNI Diculik Abu Sayyaf di Perairan Malaysia

Image

News

4 Pendapat Para Ahli Tafsir tentang Ayat Alif Lam Mim dan Sejenisnya

Image

News

Pilpres 2024, Fadli Zon: Sandi Punya Modal Politik Cukup Tinggi

Image

News

Pimpinan KPK Dinilai Takut dalam Mengembangkan Kasus Komisioner KPU

Image

Ekonomi

Kinerja Investasi RI 5 Tahun Terakhir, Faisal Basri: Tidak Buruk-Buruk Amat

Image

News

Panca: Pak SBY Difitnah dalam Kasus Jiwasraya, Kami Tantang Bentuk Pansus, Berani Gak?

Image

News

Warga Pinggir Bengawan dan Juru Parkir Dukung Purnomo-Teguh di Pilkada Kota Solo

komentar

Image

0 komentar

terkini

Image
News

Tiga Roket Katyusha Hantam Green Zone Baghdad, Mendarat Dekat Kedubes AS

AS menuduh kelompok paramiliter yang didukung Iran sebagai pelaku beberapa serangan di Green Zone.

Image
News

Susul AS dan Uni Eropa, Honduras Deklarasikan Hezbollah Sebagai Organisasi Teroris

Negara lain yang telah menyatakan Hezbollah sebagai organisasi teroris adalah Kanada, Australia, Selandia Baru, dan Uni Eropa.

Image
News

Mendagri Ingin Pemda Lakukan Aksi Nyata Lindungi Anak dan Perempuan dari Kekerasan

Anak dan perempuan kelompok paling rentan.

Image
News

Virus Pneumonia Misterius China Bisa Menyebar Antarmanusia, WHO Gelar Rapat Darurat

Zhong Nanshan dari Komisi Kesehatan Nasional China menyebut para pasien bisa jadi terkena virus baru tanpa mengunjungi kota sumber wabah.

Image
News

Pimpinan KPK Dinilai Mencla-mencle Usut Suap Harun Masiku

Berhadapan dengan PDIP, KPK tak bernyali.

Image
News

Divonis 2 Tahun, PPP: Rommy Tidak Dihukum Kasus Suap dan Korupsi

Rommy dihukum karena gratifikasi.

Image
News

Isdianto-Rudi Akrab di Acara Batam Bersepeda, Sinyal Koalisi Semakin Kuat

Isdianto akan berpasangan dengan istri Wali Kota Batam.

Image
News

ICW Desak UU Tipikor Direvisi untuk Perkuat UU KPK

"Problematika UU Pemberantasan Tipikor masih menjadi pekerjaan rumah pemerintah dan DPR"

Image
News

Hakim Ungkap Alasan Rommy hanya Divonis 2 Tahun Penjara

Lebih ringan dari tuntutan jaksa.

Image
News

Pengadilan Tipikor Periksa 20 Orang Terkait Korupsi Bappeda Mimika

Perkara korupsi kegiatan monev pada Bappeda Mimika tahun anggaran 2016 itu melibatkan tiga orang terdakwa yaitu SM, MNM dan Ye.

terpopuler

  1. Gagal Bersinar, 5 Artis Bollywood ini Justru Terjerumus Dunia Prostitusi

  2. 5 Fakta Menarik Fany Kurniawaty, Pramugari yang Disebut Calon Istri Sule

  3. Pelajar Bunuh Begal, Ferdinand Ingatkan Kejaksaan "Jangan Konyol Ah!"

  4. Tengku Marah: Manusia Ini Telah Memfitnah Isteri Saya yang Masih Sehat Dikatakan Sudah Mati

  5. 10 Potret Manis Nadia, Anak Ekki Soekarno yang Eksis jadi Reporter

  6. Istri Terima Beasiswa di Australia, Para Suami Asal Indonesia Rela Jadi Loper Koran

  7. Ada yang Bergelar Raden Ajeng, 5 Artis Tanah Air Ini Ternyata Masih Keluarga Keraton

  8. Pelajar Bunuh Begal, Hotman: Si Laki-laki Muda Itu Membunuh karena Membela Kehormatan Pacar yang Hendak Diperkosa

  9. Warga Binaan Masuk Islam: Setiap Lihat Rekan-rekan Sesama Usai Salat, Mereka Terlihat Tenang

  10. Ditanya Keberadaan Harun Masiku, Puan Maharani: Tanya ke Partai, Bukan ke Ketua DPR

fokus

Toleransi vs intoleransi
Problematika Kota
Masa Depan Buruh

kolom

Image
Ujang Komarudin

Dicari Pimpinan KPK Bernyali Tinggi

Image
Pangi Syarwi Chaniago

Politik Dinasti Jokowi dalam Pilkada 2020

Image
Harmaini Sitorus

Menimbang Tes DNA dalam Penetapan Hak Waris

Image
Abdul Aziz SR

Kerusakan Moral dalam Politik

Wawancara

Image
Video

VIDEO Jejak Sepotong Roti Jakarta

Image
Sea Games

Milos Sakovic

"Polo Air Indonesia Butuh Liga dan Banyak Turnamen"

Image
Gaya Hidup

Pertama Kali Akting Bareng, Giorgino Abraham Langsung Nyaman dengan Sophia Latjuba

Sosok

Image
News

5 Watak Sejati Manusia menurut Meng Zi, Filsuf Aliran Konfusianisme

Image
News

Tutup Usia, 5 Fakta Penting Pendiri MER-C Dokter Joserizal Jurnalis

Image
News

Liburan hingga Nongkrong Bareng, 10 Potret Hangat Helmy Yahya bersama Keluarga