Akurat.co - Cepat Tepat Benar
Login / Sign Up

Perempuan 13 Kali Lebih Rentan Dilecehkan Ketimbang Lelaki: Ada 19 Bentuk Pelecehan Seksual di Transportasi Publik

Maidian Reviani

Stop Pelecehan Seksual

Perempuan 13 Kali Lebih Rentan Dilecehkan Ketimbang Lelaki: Ada 19 Bentuk Pelecehan Seksual di Transportasi Publik

Sejumlah penumpang KRL saat berada di Stasiun Manggarai, Jakarta, Rabu (9/10/2019). Kementerian Perhubungan akan mengalihkan kereta jarak jauh dari Stasiun Gambir ke Stasiun Manggarai. Rencananya pengalihan itu akan dimulai pada 2021 nanti. Namun menurut Menteri ESDM Ignasius Jonan selaku mantan Menteri Perhubungan menilai pengalihan tersebut tidak tepat. Ia berharap Gambir tetap menjadi stasiun bagi kereta jarak jauh. | AKURAT.CO/Endra Prakoso

AKURAT.CO, * Barangkali publik selama ini hanya mengetahui bentuk pelecehan seksual, seperti bagian tubuhnya diraba-raba atau digesek-gesek dengan alat kelamin.
* Dalam jajak pendapat yang dilakukan Koalisi Ruang Publik Aman ternyata bentuk pelecehannya lebih banyak lagi. Ada 19 jenis pelecehan seksual yang pernah dialami responden!.
* Koalisi Ruang Publik Aman ingin membalikkan mitos-mitos di masyarakat. Harapannya, ketika terjadi pelecehan seksual, semakin banyak saksi berinisiatif membela dan menolong korban, bukan malah sebaliknya, menyalahkan pakaian korban.

***

Diana, perempuan pengguna kereta rel listrik di Jakarta dan Tangerang, sama sekali tak bisa melupakan kejadian malam itu.

baca juga:

Sepulang dari tempat kerja, Diana naik commuterline. Setelah pindah kereta di Stasiun Duri, kondisinya berdesak-desakan.

Di tengah perjalanan, tak disangka sama sekali, tiba-tiba seorang lelaki berbadan tinggi dengan jaket kumal serta menutupi mukanya dengan masker dan topi meraba bokong Diana.

“Woi anjing, lu ngapain megang pantat gue,” Diana berkata kepada lelaki kumal itu.

Commuterline. AKURAT.CO/Endra Prakoso

Sayangnya, tak ada satu pun penumpang yang memiliki keberanian untuk menolong Diana. Mereka hanya memandang. Sementara predator seksual segera berjalan cepat meninggalkan lokasi.

Diana hanyalah satu dari sekian banyak pengguna transportasi publik yang jadi korban predator seksual.

***

Tiga dari lima perempuan di Indonesia pernah menjadi korban pelecehan seksual di ruang publik selama 2018, menurut survei terbaru yang dilakukan Koalisi Ruang Publik Aman. Survei ini diinisiasi oleh Hollaback Jakarta, Lentera Sintas Indonesia, Perempuan, Jakarta Feminist Discussion Group, dan difasilitasi oleh Change.org.

Data tersebut mengungkap fakta bahwa perempuan 13 kali lebih rentan mengalami pelecehan di ruang publik ketimbang lelaki.

Jajak pendapat melibatkan 62.224 responden yang terdiri dari 64 persen perempuan, 11 persen laki-laki, dan 69 persen gender lainnya dari 34 provinsi dan berbagai latar belakang serta usia (dari belasan tahun sampai di atas 75 tahun).

Pelecehan seksual di ruang publik paling banyak terjadi di jalanan, yaitu 28,22 persen, kemudian di transportasi umum 15,77 persen.

Kasus pelecehan seksual yang terjadi di transportasi publik, paling banyak terjadi di dalam bus (35,80 persen).

Transportasi Jakarta Masuk Tiga Besar Terbaik. AKURAT.CO/Abdul Aziz Prastowo

Urutan terbanyak berikutnya di angkutan kota (29,49 persen), kereta rel listrik (18,14 persen), ojek online (4,79 persen), dan ojek konvensional (4,27 persen).

Perempuan yang pernah menjadi korban predator seksual di dalam bus (35,45 persen), angkot (30,01 persen), KRL (17,79 persen), ojek online (4,88 persen), dan ojek pangkalan (4,35 persen).

Survei ini juga mengungkap bukan hanya perempuan yang pernah jadi korban pelecehan seksual, satu dari 10 lelaki ternyata juga pernah mengalaminya.

Lelaki yang pernah mengalami pelecehan seksual di dalam bus (42,89 persen), KRL (24,86 persen), angkot (19,65 persen), ojek online (3,15 persen), dan ojek pangkalan (2,39 persen).

Sementara gender lainnya, dalam jajak pendapat menemukan pelecehan yang terjadi di dalam angkot (27,27 persen), bus (21,21 persen), KRL (18,18 persen), ojek pangkalan (15,15 persen), dan ojek online (3,03 persen).

Peneliti dari Koalisi Ruang Publik Aman, Rastra, mengatakan selain terjadi di jalan umum dan transportasi umum, aksi predator seksual juga sering terjadi di pemukiman, sekolah, dan tempat kerja.

“Jadi banyak sekali (pelecehan), tapi mungkin demografi kita belum sampai ke orang yang misal bekerja di pabrik. Jadi dari data kita, kita hanya menyimpulkan pertama adalah jalanan umum, kedua transportasi umum, ketiga pemukiman, keempat sekolah,” ujar Rastra.

Peneliti di KRPA, Rastra. AKURAT.CO/Maidian Reviani

Menurutnya, barangkali publik selama ini hanya mengetahui bentuk pelecehan seksual, seperti bagian tubuhnya diraba-raba atau digesek-gesek dengan alat kelamin.

Dalam jajak pendapat yang dilakukan Koalisi Ruang Publik Aman ternyata bentuk pelecehannya lebih banyak lagi. Ada 19 jenis pelecehan seksual yang pernah dialami responden!

1. Siulan atau suitan (5.392 kasus)
2. Komentar atas tubuh (3.628 kasus)
3. Main mata (3.325 kasus)
4. Disentuh (3.200 kasus)
5. Komentar seksis (2.515 kasus)
6. Didekati dengan agresif dan terus-menerus (1.445 kasus)
7. Komentar rasis (1.753 kasus)
8. Diraba atau dicekam (1.826 kasus)
9. Komentar seksual yang gamblang (1.986 kasus)
10. Diklakson (2.140 kasus)
11. Digesek dengan alat kelamin (1.411 kasus)
12. Diikuti atau dikuntit (1.215 kasus)
13. Gestur vulgar (1.209 kasus)
14. Suara kecupan (1.001 kasus)
15. Dipertontonkan masturbasi publik (964 kasus)
16. Diintip (tujuh kasus)
17. Diperlihatkan alat kelamin (35 kasus)
18. Difoto secara diam-diam (11 kasus)
19. Dihadang (tujuh kasus).

“Ini jika kita ngomongin transportasi publik, termasuk juga ketika mereka (korban) dalam perjalanan, di haltenya, juga di toilet, atau bus stop di transportasi umum itu,” kata Rastra.

Dari 19 bentuk pelecehan yang ditemukan, korban difoto secara diam-diam memang persentasenya sedikit, tetapi menurut Rastra bisa sangat berbahaya. Pasalnya, pelaku bisa saja kemudian memviralkan foto tersebut ke media sosial dan bisa menimbulkan pelecehan atau kekerasan baru lainnya terhadap korban.

Bentuk pelecehan seksual tersebut, kata Rastra, perlu diketahui publik agar dapat mengenali jika terjadi kasus dan (saksi) dapat mengintervensi atau (korban) dapat menghindar.

***

Temuan penting dalam survei yaitu reaksi saksi ketika melihat pelecehan terjadi di ruang publik. Banyak saksi (40,50 persen) yang cuek.

Bahkan, sebagian saksi (14,80 persen) justru memperparah keadaan ketika terjadi pelecehan di sekitarnya.

“Misalnya, ketika mereka (saksi) melihat, tapi malah menertawai atau menyalahkan korban,” kata Rastra.

Namun, banyak pula saksi yang menolong dan membela korban (36,50 persen).

Ilustrasi transportasi publik. AKURAT.CO/Dharma Wijayanto

Mereka menolong dengan cara menegur pelaku secara langsung atau direct (22,90 persen), mengalihkan perhatian atau distract (25 persen), memastikan korban baik-baik saja atau delay (33,90 persen), dan mencari bantuan (13,40 persen).

Terungkap pula dalam jajak pendapat bagaimana reaksi korban ketika dilecehkan dan hal ini patut menjadi contoh. Sebanyak 56 persen korban berani melawan pelaku.

Temuan penting lainnya yaitu reaksi pelaku ketika mendapatkan perlawanan dari korban, 38 persen pelaku pura-pura bodoh dan 36 persen malah mengolok atau mengumpat.

Berkat pertolongan orang lain, 92 persen korban pelecehan seksual merasa terbantu.

Kenapa saksi tidak melakukan intervensi ketika melihat terjadi pelecehan seksual. Alasan mereka macam-macam. Misalnya, merasa takut, tidak tahu harus melakukan apa, merasa hal itu bukan urusan mereka, atau menunggu orang lain akan menolong.

“Sesekali koalisi kami menerima (masukan) bahwa kenapa nggak korbannya saja yang menyetop atau mengintervensi dan lain sebagainya, jawabnya karena takut,” kata Rastra.

Padahal, kata Rastra, ketika terjadi pelecehan seksual di ruang publik hal itu menjadi tanggung jawab saksi atau orang sekitarnya untuk menolong.

“Makanya kami penginnya lebih banyak teman-teman yang bisa melakukan intervensi saat melihat pelecehan terjadi karena seperti survei bilang 92 persen korban sangat terbantu saat ada orang yang mengintervensi. Karena saya yakin ini kerjaan kita semua, bukan hanya tanggung jawab penyedia transportasi,” periset Koalisi Ruang Publik Aman sekaligus Co-director Hollaback Jakarta Anindya Restuviani di Jakarta.

***

Banyaknya kasus pelecehan seksual di ruang publik terjadi karena stigma adanya dominasi gender.

Ruang publik masih dianggap milik kaum Adam, sedangkan ruang private milik kaum Hawa, demikian dikatakan Vivi – panggilan Anindya Restuviani.

“Jadi disaat perempuan berupaya ada di publik space, laki-laki menyerang perempuan, dengan tujuan bahwa kamu harusnya tidak ada di sini (di jalan), kamu harusnya ada di ruang private, ruang kamu adalah di rumah, ruang kamu di dapur, ruang kamu di kasur, yang hal-hal seperti itu. Jadi itu sebetulnya kekerasan yang terjadi di ruang publik itu ingin mengembalikan perempuan ke ranah yang sebetulnya dianggap natural dari konsep patriarki terhadap perempuan,” kata Vivi – panggilan Anindya.

Anindya Restuviani. AKURAT.CO/Maidian Reviani

Kendati demikian tidak ada kecenderungan lebih banyak mana kasus yang terjadi di ruang publik atau ruang private.

"Karena ya namanya orang jahat, ya tetap saja jahat mau dimanapun dia berada," tutur Vivi.

Jajak pendapat dilakukan untuk alasan menunjukkan data konkret bahwa maraknya kasus pelecehan seksual di ruang publik bukan mengada-ada seperti anggapan sebagian anggota masyarakat selama ini.

“Kadang malah banyak orang-orang yang menyalahkan korbannya dan malah melakukan victim blaming terhadap korban,” kata Vivi.

“Kami juga ingin feeling the gap data, karena yang memang melakukan pelaporan ke Komnas Perempuan itu adalah kekerasan yang ada di ruang private, sedangkan kekerasan di ruang publik, di transportasi umum, kantor, sekolah, yang seringkali diremehkan itu jarang sekali dilaporkan ke Komnas Perempuan,” Vivi menegaskan.

Selama ini banyak anggota masyarakat yang tidak paham tentang bentuk-bentuk pelecehan seksual. Bahkan, menurut Rastra, terkadang korban sendiri juga tidak menyadarinya sedang dilecehkan.

“Jadi itu adalah salah satu alasan kita mengapa kita melakukan survei ini, karena sebetulnya memang isu-isu seperti ini itu yang menjadi dasar budaya RIP culture,” ujar Rastra.

Koalisi Ruang Publik Aman ingin membalikkan mitos-mitos di masyarakat. Harapannya, ketika terjadi pelecehan seksual, semakin banyak saksi berinisiatif membela dan menolong korban, bukan malah sebaliknya, menyalahkan pakaian korban. []

Baca juga:

Tulisan 1: Dilecehkan Lelaki Brengsek di Transportasi Publik: Gue Panik, Kesal, Nangis, Sampai Nggak Bisa Jalan

Tulisan 3: Ribuan Perempuan Jadi Korban Pelecehan Seksual di Transportasi Publik: Satu Korban Saja Terlalu Banyak

Tulisan 4: Damai, Bukan Jalan Keluar Berantas Predator Seksual Gentayangan di Transportasi Publik

Tulisan 5: Semua Penyedia Transportasi Publik Punya Cara Cegah Pelecehan Seksual, Sudah Cukupkah?

Editor: Siswanto

berita terkait

Image

News

Stop Pelecehan Seksual

Semua Penyedia Transportasi Publik Punya Cara Cegah Pelecehan Seksual, Sudah Cukupkah?

Image

News

Stop Pelecehan Seksual

Damai, Bukan Jalan Keluar Berantas Predator Seksual Gentayangan di Transportasi Publik

Image

News

Stop Pelecehan Seksual

Ribuan Perempuan Jadi Korban Pelecehan Seksual di Transportasi Publik: Satu Korban Saja Terlalu Banyak

Image

News

Stop Pelecehan Seksual

Dilecehkan Lelaki Brengsek di Transportasi Publik: Gue Panik, Kesal, Nangis, Sampai Nggak Bisa Jalan

komentar

Image

0 komentar

terkini

Image
News

Langgar PSBB, Tim Satgas Covid-19 Amankan 10 Pasangan Mesum di Pinang Ranti

Petugas menyegel Kafe Ocean karena melanggar PSBB.

Image
News

Petugas Transjakarta Tangkap Pencuri Botol Hand Sanitizer

Petugas keamanan Transjakarta tangkap terduga pelaku pencurian botol hand sanitizer.

Image
News

11 Guru Terpapar Covid-19 di Tarakan Jalani Isolasi Mandiri

Sebanyak 11 orang guru SMPN 1 Tarakan Provinsi Kalimantan Utara yang terpapar Covid-19 jalani isolasi mandiri.

Image
News

Pesan Lestari Moerdijat ke Pendidik: Jangan Abai Nilai-nilai Kebangsan

Lestari menyikapi adanya kewajiban berkerudung bagi siswi nonmuslim di SMK Negeri, Padang, Sumatera Barat (Sumbar)

Image
News

Banjarmasin Perpanjang Masa PPKM

Saat ini setiap hari masih ditemukan rata-rata 120 kasus positif baru COVID-19 di Banjarmasin

Image
News

TNI AD Bangun RS Darurat untuk Korban Gempa Sulbar

TNI Angkatan Darat (AD) membangun Rumah Sakit (RS) darurat di Mamuju.

Image
News
Lawan Covid-19

Airlangga: Kebijakan Perpanjang PPKM Sudah Diperhitungkan dan Dipertimbangkan Seksama

Kebijakan pemerintah memperpanjang pembatasan aktivitas masyarakat di Pulau Jawa-Bali telah dipertimbangkan secara matang.

Image
News

Antisipasi Banjir di Sungai Bengaris, Pemkab Barito Utara Pasang Pompa Air

Dinas PUPR mulai melakukan pekerjaan pemasangan pompa air di aliran Sungai Bengaris yang merupakan anak Sungai Barito di Muara Teweh

Image
News

Sebanyak 11 Guru SMPN 1 Tarakan Terpapar COVID-19

Kini semuanya menjalani isolasi mandiri di rumah masing-masing

Image
News

Kasus Positif COVID-19 di Kalimantan Timur Bertambah 432 Orang

Balikpapan masih menjadi penyumbang terbesar kasus aktif dengan adanya tambahan sebanyak 102 kasus

terpopuler

  1. Ditengah Lamaran Kalina - Vicky Prasetyo, Azka Ungkap Dirinya Hanya Putra Deddy Corbuzier

  2. Kocak! Humor Ketika Gus Dur Lupa Tanggal Lahir

  3. Bertindak Kebablasan pada Pacar Sewaan, Pria Taiwan Dipenjara

  4. Mainkan Nomor Lotre yang Sama Selama 20 Tahun, Wanita Kanada ini Akhirnya Dapat Jackpot

  5. Nekat Buka Sampai Larut Malam, Tempat Karoke Masterpiece Tanjung Duren Disegel Petugas

  6. Anies Dinilai Tak Transparan Soal Pembelian Lahan Makam Covid-19 Senilai Rp185 M

  7. Dolar AS Melompat Seiring Melebarnya Infeksi COVID-19

  8. Typo di Kaleng Kemasan, Perusahaan Bir Jepang Tetap Lanjutkan Penjualan

  9. Satres Narkoba Polres Metro Jakbar Tangkap Kurir Sabu yang Sedang Tunggu Pembeli

  10. Citilink Imbau Penumpang Validasi Surat Hasil Tes COVID-19 Melalui eHAC

fokus

Kaleidoskop 2020
Akurat Solusi: Kenaikan Cukai Tembakau
Lawan Covid-19

kolom

Image
Abdul Hamid

Ilusi Dilema Demokrasi dan Integrasi

Image
UJANG KOMARUDIN

Menanti Gebrakan Kapolri Baru Pilihan Jokowi

Image
Kementrian Luar Negeri Republik Azerbaijan

Tragedi Black January

Image
UJANG KOMARUDIN

Kapolri Baru

Wawancara

Image
Video

Akurat Talk

VIDEO Gesits Buktikan Kendaraan Listrik Ramah Perawatan | Akurat Talk (2/2)

Image
Video

VIDEO Gesits, Cita-cita Bangsa Ciptakan Kendaraan Listrik | Akurat Talk (1/2)

Image
Video

Bukan Mistis, Gangguan Jiwa Adalah Gangguan Medis | Akurat Talk (3/3)

Sosok

Image
News

5 Fakta Menarik Maya Nabila, Mahasiswa S3 ITB yang Baru Berusia 21 Tahun

Image
News

5 Fakta Penting Habib Muhammad bin Ahmad Al-Attas, Tunaikan Haji Lebih dari 29 Kali

Image
News

4 Fakta Penting Deva Rachman, Istri Kedua Syekh Ali Jaber yang Jarang Tersorot