Akurat.co - Cepat Tepat Benar
Login / Sign Up
Image

Abdul Aziz SR

Dosen Ilmu Politik FISIP Universitas Brawijaya dan Senior Researcher pada Center for Election and Political Party (CEPP) FISIP UI

Benarkah Bersistem Presidensial?

Kolom

Image

Presiden Joko Widodo (Jokowi) bersama Wakil Presiden Maruf Amin saat memimpin jalanya sidang kabinet paripurna perdana yang dihadiri suluruh menteri dan pejabat setingkat menteri di Istana Merdeka, Jakarta Pusat, Kamis (24/10/2019). Dalam sidang kabinet Indonesia Maju ini, Presiden Jokowi berpesan agar para menteri untuk menjalankan visi misi presiden dan wakil presiden. Menurutnya, tidak ada visi misi menteri, melainkan hanya visi misi presiden dan wakil presiden. | AKURAT.CO/Sopian

AKURAT.CO, Ketika menerima para pemimpin Majelis Permusyawaratan Rakyat bersilaturrahim ke kantornya, Ketua Umum Partai Nasdem Suryo Paloh menegaskan perlunya amandemen menyeluruh terhadap UUD 1945. Selain itu, Paloh juga menghendaki untuk mempertegas dan memperkuat sistem presidensial dalam kekuasaan.

Menarik dipersoalkan apakah Indonesia menganut sistem presidensial? Ataukah semi-presidensial? Jika ya, bagaimana praktik yang berlangsung selama ini? Jika tidak, lalu sistem apa yang dianut Indoensia?

Sistem presidensial sering dikontraskan dengan sistem parlementer. Tapi sistem ini jelas tidak dianut Indonesia. Jika sistem parlementer sering mengacu ke gaya Wesminster di Inggris, sementara sistem presidensial umumnya mengacu ke gaya Amerika Serikat.

baca juga:

Presidensial dan Semi-Presidensial

Sistem presidensial memiliki sejumlah karekteristik, di antaranya: [1] kepala pemerintahan adalah juga kepala negara; [2] presiden merupakan eksekutif tunggal; [3] anggota parlemen tidak boleh menduduki jabatan di pemerintahan dan begitu juga sebaliknya; [4] tidak ada peleburan bagian eksekutif dan legislatif seperti dalam sebuah parlemen; [5] presiden tidak dapat membubarkan atau memaksa parlemen; [6] eksekutif bertanggungjawab langsung kepada para pemilih; [7] tidak ada fokus kekuasaan dalam sistem politik.

Di samping itu, dikenal pula sistem semi-presidensial. Sistem ini terkadang disebut sistem persilangan. Prancis dan Finlandia, msalnya, sedang menerapkan sistem ini dalam pemerintahan mereka. Pada dekade-dekade terakhir ini juga banyak diadopsi oleh negara-negara bekas komunis dengan praktik yang relatif beragam

Menurut Heywood (2011), di dalam sistem semi-presidensial terdapat sebuah “eksekutif ganda” di mana seorang presiden yang dipilih secara terpisah bekerja bersama dengan seorang perdana menteri dan kabinet yang diambil dari – dan bertanggung jawab kepada – Majelis Nasional.

Sistem semi-presidensial dapat berjalan bergantung pada sebuah keseimbangan yang sulit antara otoritas dan popularitas personal dari sang presiden, di satu sisi, dan kerumitan politik dari Majelis Nasional, di sisi lain.

Bagaimana dengan Indonesia?

Sistem pemerintahan macam apa yang diterapkan di Indonesia? Sistem presidensial (murni) jelas tidak. Semi-presidensial juga tidak. Sistem parlementer jelas bukan.

Menarik, studi dari ahli sejarah konstitusi Universitas Indonesia Ananda Kusuma (2011). Menurutnya, sebelum amandemen UUD 1945, sistem pemerintahan merupakan hasil konstruksi pemikiran yang mendalam oleh para perintis kemerdekaan di BPUPK (Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan) dan PPKI (Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia).

Mereka menyusun dan mengajukan apa yang disebut “Sistem Sendiri” untuk sistem pemerintahan Indonesia. Ia dipandang sebagai sistem yang demokratis dan diharapkan dapat menghilangkan kelemahan baik dalam sistem presidensial (model Amerika Serikat) maupun pada kelemahan model Westminster di Inggris.

Istilah “Sistem Sendiri” digunakan para pendiri negara, ketika itu, karena “sistem campuran” (mixed system atau hybrid system),  “sistem semi-presidensial”, dan “sistem semi-parlementer” belum terlalu dikenal atau mungkin belum muncul. Setelah amandemen UUD 1945, “sistem sendiri” diganti dengan “sistem presidensial versi Indonesia”, walau kemudian tak terlalu jelas sosoknya.

Menurut Kusuma, para penyusun UUD 1945 (framers of the Constitution) dengan sadar menyusun UUD yang khas Indonesia, tanpa trias politika. Asas yang dipakai adalah “pembagian kekuasaan yang tidak ketat” (partial separation of powers) bukan pure separation of powers seperti di Amerika Serikat.

Lalu, asas fusion of powers (penggabungan/peleburan kekuasaan) juga tidak digunakan. Bagi penyusun UUD 1945 bahwa baik sistem presidensial (murni) maupun parlementer dipandang kurang relevan diterapkan di Indonesia.

Begitulah. Sangat menarik, ternyata para tokoh penyusun UUD 1945 ketika itu mengajukan apa yang mereka sebut “sistem sendiri”. Sungguh sebuah hasil kreasi dan perenungan yang mendalam. Tidak terjebak pada “pakem” presidensial maupun parlementer. Bukan pula dari sekadar hasil meniru dan membeo.

Kalau saat ini diklaim bahwa desain dan praktik pemerintahan kita bersistem  “presidensial versi Indonensia”, tetapi sesungguhnya mengisyaratkan sesuatu yang tidak jelas. UUD 1945 hasil amandemen lebih berkehendak ke presidensial, namun praktik kekuasaan justru tidak ada ketegasan soal presidensial itu.

Banyak hal yang seharusnya menjadi kewenangan presiden –atau eksekutif saja– tetapi parlemen ikut terlibat di dalamnya. Seringkali pula ada tarik-menarik kepentingan antara presiden dan parlemen. Salah satu contohnya adalah dalam kasus promosi Budi Gunawan menjadi (calon) Kapolri beberapa tahun lalu. Banyak hal sangat membingungkan dalam konteks ini.

MPR hasil Pemilu 2019 perlu memperjelas soal sosok sistem pemerintahan kita agar tidak mengambang dan terkesan banci seperti saat ini. Untuk itu, MPR perlu melakukan amandemen kembali terhadap UUD 1945 – bisa terbatas bisa pula menyeluruh. Namun, mesti melibatkan berbagai bidang keahlian denga para pakar yang benar-benar kompeten dan mumpuni. Wallahu ‘alam. []

               

Editor: Sunardi Panjaitan

berita terkait

Image

News

Komunisme dan Kearifan

Image

News

Demokratisasi di Tengah Badai Pandemi

Image

News

Mengukuhkan Persaudaraan Sosial

Image

News

Menjual Tubuh

Image

News

Organisasi Penggerak Pendidikan

Image

News

Tapak Ir. H. Joko Widodo dan Tuan Syèkh Ibrahim Sitompul

Image

News

Penentu Sukses Pilkada di Masa Pandemi

Image

News

Kolom

Rebranding Pilkada Serentak 2020

Image

News

Kolom

Kontroversi RUU HIP

komentar

Image

0 komentar

terkini

Image
News

Dapat Keluhan Anak Susah Makan, Dokter Berikan Resep Tak Terduga

Banyak orang tua yang mengeluhkan anaknya susah makan dan datang ke dokter. Padahal, seharusnya orang tuanya yang lebih tahu.

Image
News

Kisah Penimbun 'Harta Karun' Terbesar di Inggris, Nilainya Capai Rp76 Miliar

Shukla yang tinggal sendirian telah mengumpulkan begitu banyak koleksi barang acak, diduga untuk mendanai biaya pensiunnya sendiri.

Image
News

Anggota Brimob dan Mantan Prajurit TNI Jual Senjata Serbu ke KKB Intan Jaya

Bripka JH yang diduga terlibat jual beli senjata api sudah ditahan.

Image
News

Sandiaga Uno Ungkap Bisnis yang Akan Tren ke Depan

Sandiaga Salahudin Uno mengatakan bahwa orang yang ingin memulai usaha harus melihat tren dalam menjalankan bisnisnya.

Image
News

Masuk Daftar DPO, Tim Intelijen Kejati Sumut Tangkap Boy Tampubolon

Boy adalah terpidana kasus korupsi di Dinas Pertanian dan Kelautan Kota Medan.

Image
News
Lawan Covid-19

Warga Aceh Sembuh dari Covid Capai 5.090 Orang

Pasien sembuh terus bertambah.

Image
News

Kejanggalan Kasus Kebakaran Gedung Kejagung yang Disimpulkan Tidak Disengaja

Bareskrim tetapkan 8 orang tersangka.

Image
News

Jatuh Cinta dengan Ayah Sahabatnya, Wanita AS ini Ceraikan Sang Suami

Awalnya kunjungan itu berlangsung singkat

Image
News

Puluhan Rumah di Bekasi Rusak Disapu Angin Puting Beliung

Beruntung tidak ada korban jiwa dalam musibah tersebut.

Image
News

Trending, Penyebab Kebakaran Kejagung Jadi Bahan Olok-olok Netizen

Tulisan "Merokok" pun menjadi trending topic malam ini.

terpopuler

  1. Wakapolri Lantik Peserta Sespimti, Kombes Hengki Haryadi Jadi Lulusan Terbaik

  2. Dinikahi Sule 15 November, Nathalie Holscher: Aku Beruntung

  3. Dulu Hanya Dibayar Rp5 Juta, Kini Iko Uwais Bisa Dapat Rp14 Miliar dalam Satu Main Film

  4. Begini Pesan Rasulullah Agar Tidak Mudah Sakit Hati

  5. Gronya Somerville Foto di Kamar Mandi, Netizen Indonesia: Fokus Kaca

  6. Kisah Tunawisma Yaman yang Jasadnya Ditemani Anjing-anjing Telantar

  7. Keputusan Honda Pindahkan Alex Marquez ke LCR Mulai Dipertanyakan

  8. Praktisi Hukum Nilai Tuntutan Penjara Seumur Hidup Atas Benny Tjokro Sudah Proporsional

  9. Ria Ricis Alami Insiden Memalukan, Jilbabnya Ditarik Orang dari Belakang

  10. Pergantian Nama Stadion Lukas Enembe Dipersoalkan karena Hak Ulayat

tokopedia

fokus

Lawan Covid-19
Webinar Akurat: Peran Strategis IJK
Akurat Solusi : Roadmap IHT

kolom

Image
Achsanul Qosasi

Membatalkan Kompetisi Liga 1

Image
Azhar Ilyas

Albert RRQ, ‘Baby Alien’ yang Bersinar di MPL ID Season 6

Image
UJANG KOMARUDIN

Mengawal Omnibus Law

Image
ABDUL MUKTI RO'UF

Tiga Nalar Pendidikan Islam

Wawancara

Image
Iptek

Saat Dominasi Kontraktor Besar Masih Kejam

Image
Video

Akurat Talk

VIDEO Fahri Hamzah: Saya Dari Kecil Jualan Kopi | Akurat Talk (2/2)

Image
Video

Akurat Talk

VIDEO Ngomongin Hobi Sampai Harga Outfit Fahri Hamzah | Akurat Talk (1/2)

Sosok

Image
Ekonomi

Kekayaan 5 Biliuner China ini Terus Melesat Meski Pandemi, Ada yang Capai Rp700 Triliun!

Image
Ekonomi

Dirut Pertamina Nicke Widyawati Masuk Jajaran Wanita Paling Berpengaruh di Dunia

Image
News

5 Fakta Menarik Rocky Gerung, Pernah Jadi Dosen Pembimbing Skripsi Dian Sastro