image
Login / Sign Up
Image

UJANG KOMARUDIN

Direktur Eksekutif Indonesia Political Review (IPR) & Pengamat Politik Universitas Al-Azhar Indonesia (UAI) Jakarta.

Memerangi Radikalisme

Image

Polisi berjaga pascabom bunuh diri di Mapolrestabes Medan, Sumut, Rabu (13/11/2019). Pelaku diduga berjumlah dua orang dengan mengenakan atribut ojek online. | ANTARA FOTO/Irsan Mulyadi

AKURAT.CO, Tak ada seorang pun yang ingin menjadi radikal. Jika ia terpaksa menjadi radikal, pasti ada sebabnya. Nah sebab inilah yang harus dicari akarnya. Karena ideologikah. Karena diajakkah. Karena faktor ekonomikah. Karena faktor kekecewaan terhadap pemerintahkah. Atau karena faktor lain.

Paham radikal memang berbahaya jika digunakan untuk mengubah ideologi negara. Paham radikal dilarang jika digunakan untuk melukai dan membunuh sesama. Paham radikal dibendung karena mengancam keamanan dan keutuhan bangsa.

Kita tentu kaget, dengan adanya bom bunuh diri di Polrestabes Medan. Kita tak boleh berasumsi bahwa pelaku terpapar ajaran radikal. Atau berkesimpulan bahwa pelaku merupakan jaringan kelompok radikal tertentu. Biar polisi yang mengungkap kasus tersebut dengan tuntas.

baca juga:

Namun yang kita perlu cermati adalah mengapa mereka menjadi radikal dan mengapa mereka berani melakukan tindakan bom bunuh diri. Menuduh mereka pelaku bom bunuh diri radikal tak menyelesaikan persoalan. Dan mencaci pelaku bom bunuh diri teroris juga tak akan menyelesaikan masalah.

Bisa jadi mereka berani mati. Dan bisa jadi mereka karena faktor kekecewaan dan ketidak adilan. Atau bisa juga karena rasa frustasi dan beban hidup yang berat, mereka berani melakukan tindakan diluar akal sehat.

Saya bukan ahli dan pakar terorisme. Bukan pula ilmuwan yang menggeluti persoalan radikalisme. Namun saya melihat bahwa paham radikalisme ada dua. Ada yang memang mereka radikal karena ingin merubah ideologi negara dan ada juga mereka yang radikal karena kecewa kepada pemerintah.

Dalam sejarah Indonesia, ada beberapa gerakan-gerakan yang dilakukan oleh orang atau kelompok orang yang dituduh pemberontak. Namun sesungguhnya mereka kecewa pada negara. Karena dianggap tidak adil pada mereka.

Lihat saja pemeberontakan PRRI/Permesta. Mereka memberontak. Mereka ingin memisahkan diri. Mereka melawan pemerintah. Karena mereka kecewa. Karena mereka tak mendapatkan keadilan politik dan ekonomi. 

Begitu juga GAM (Gerakan Aceh Merdeka). Mereka dulu ingin merdeka. Ingin memisahkan diri dari Indonesia tercinta. Mereka punya senjata dan tentara, punya menteri, punya perdana menteri, dan punya pimpinan tertinggi. Yang mereka tidak punya adalah negara dan pengakuan dunia internasional.

Mereka para eks pimpinan dan anggota GAM hanya kecewa terhadap Jakarta. Kecewa terhadap pemerintah pusat. Kecewa terhadap ketidakadilan yang terjadi. Kecewa terhadap penyelenggara negara yang sangat sentralistis. 

Namun ketika ketidakadilan itu dihilangkan. Otonomi diberikan. Hak asasi masyarakat Aceh dijamin. Kekerasan aparat dihentikan melalui penjanjian Helsinki. Kini tak ada lagi istilah eks GAM. 

Kini mereka sudah mendapatkan apa yang diinginkan. Karena para petinggi GAM dimasa lalu. Kini banyak yang menjadi kepala daerah. Baik para level provinsi maupun kabupaten/kota.

Kini para eks petinggi GAM yang dulunya memegang senjata di hutan untuk memerangi tentara dan bangsa Indonesia. Kini menikmati jabatan-jabatan di pemerintahan. Baik di eksekutif maupun legislatif.

Dari contoh dua kasus di atas saja kita bisa melihat, bahwa sesungguhnya orang menjadi radikal, ingin memberontak, atau ingin melakukan bunuh diri, pada mulanya adalah kekecewaan dan ketidakadilan yang diterima. 

Jika bangsa ini adil. Jika republik ini meperlakukan setiap warga negara dengan baik. Jika negara ini tidak sombong dan tidak mengecewakan rakyatnya, maka paham radikalisme itu atau orang yang radikal itu akan bisa diminimalisir.

Karena orang menjadi radikal itu bukan karena agama. Agama tak pernah mengajarkan kekerasan. Agama tak pernah membiarkan pembunuhan. Agama tak membolehkan bunuh diri. Dan agama tak mengajarkan untuk menjadi teroris atau pemberontak.

Jika ada pemeluk suatu agama yang megajarkan paham radikal, maka jangan salahkan agamanya. Yang harus kita salahkan adalah pemahaman yang salah terhadap ajaran agama yang dianut. Yang lebih salah lagi jika radikalisme dituduhkan pada pemeluk agama Islam. Ini sangat salah dan keliru.

Jika Menteri agama Fachrul Razi, yang berlatar belakang militer menuduh orang yang pakai cadar atau celana cingkrang adalah radikal, itu semua keliru. Orang radikal itu tidak identik dengan simbol pakaian yang digunakan. Atau atribut yang dikenakan. 

Orang menjadi radikal itu soal kekecewaan, ketidakadilan, dan pemahaman yang salah terhadap penafsiran agamanya. 

Narasi besar radikalisme janganlah dituduhkan pada umat Islam. Itu salah alamat. Karena umat Islam itu berjiwa moderat dan berkepribadian rahmatan lil alalmin. Umat Islam itu cinta damai. Dan menghormati kepada sesama. 

Jika pemerintah ingin memerangi radikalisme. Penyusunan dan formasi kabinet juga diarahkan untuk membendung radikalisme, itu hak pemerintah. Namun jika pemerintah membuat stigma negatif dan menuduh umat Islam radikal. Ini yang harus kita tolak. 

Jadilah pemerintah yang baik. Kelola negara dengan baik. Urus rakyat dengan baik. Jangan menuduh-nuduh rakyat yang tidak radikal agar distigmatik negatif menjadi seorang radikal. Dan jangan orang-orang yang kritis terhadap pemerintah. Lalu dituduh radikal. 

Radikalisme memang persoalan serius. Jika seseorang, kelompok orang, atau institusi dianggap radikal dan ingin merubah ideologi Pancasila. Ini yang harus dibasmi. Ini yang harus berhadapan tentara dan negara.

Namun, jika tuduhan radikal itu berlaku pada umat agama tertentu. Khususnya umat Islam. Ini yang perlu dilawan. Islam tak mengajarkan radikalisme. Islam hanya mengajarkan kedamaian. 

Umat Islam yang baik tak akan menjadi radikal. Umat Islam yang taat tak ingin dan tak akan mengganti ideologi bangsa. Karena bagaimanapun Pancasila adalah final. Pancasila harga mati. Jadi jika ada kelompok yang menuduh umat Islam anti Pancasila. Sesungguhnya merekalah yang tak paham dan tak tahu sejarah bangsa.[]

Editor: Melly Kartika Adelia

berita terkait

Image

News

Cegah Radikalisme, Polda Jambi Minta Umat Tak Terpancing Isu Provokatif

Image

News

DPR: UU Anti Terorisme Berjalan Sesuai Fungsi, Proses Deradikalisasi di Indonesia Berjalan Baik

Image

News

Program Kontra Radikalisme, Polda Sultra Datangi Ponpes Tertua di Kendari

Image

News

Rencanakan Serangan Teror, Pemuda Australia Ditangkap

Image

News

PAUD Terpapar Radikalisme, GENERASI Minta Wapres Berhati-hati

Image

News

Wapres Ma'ruf Amin Ingin Da'i Diberikan Sertifikat

Image

News

SKB 11 Menteri Berpotensi Hapuskan Kebebasan Warga Negara

Image

News

Pemerintah Dinilai Tak Perlu Terbitkan SKB 11 Menteri untuk Cegah Radikalisme ASN

Image

News

Pelaporan ASN yang Terpapar Paham Radikalisme Melalui Verifikasi dan Validasi Ketat

komentar

Image

0 komentar

terkini

Image
News

Kejati Sultra Ajak Masyarakat Bersinergi Lawan Korupsi

Kejati Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra) mengajak semua pihak memerangi korupsi seiring memperingati Hari Antikorupsi Sedunia yang jatuh

Image
News

Bayi Meninggal Tersedak Pisang Begini Kronologis Menurut Polisi

Ajun Komisaris Polisi Erick Sitepu, menjelaskan kronologi AH, bayi meninggal akibat tersedak pisang, setelah memeriksa ibunya Yuni Sari

Image
News

Tidak Harus 'Sempurna', Ini 7 Tokoh Difabel Paling Sukses di Dunia, Ada Penari Berkaki Satu

Siapa saja?

Image
News

DPR RI: Jika Konteks Politik Tak Dibenahi, KPK akan Kesulitan Hilangkan Korupsi

seberapa kuatnya KPK jika sistem halu pemerintahan dalam konteks politik dan demokrasi itu tidak dibenahi korupsi akan sulit dihapus.

Image
News

Polri Bakal Susuri Tol Trans-Jawa Cek Persiapan Jelang Natal

Kakorlantas Polri Irjen Pol Istiono beserta rombongan mengecek jalur Tol Trans-Jawa untuk melihat kesiapan pengamanan di tol

Image
News

Polda Sulsel Keluarkan SPDP Sikapi Kasus Kekerasan Terhadap Jurnalis di Makassar

Polda Sulsel mengeluarkan SPDP terkait pelaporan atas oknum polisi kekerasan terhadap jurnalis di Makassar

Image
News

Pemprov DKI Jakarta Akan Evaluasi TIM TGUPP yang Punya Jabatan Ganda

Sekda DKI Jakarta Saefullah menjamin Pemprov DKI Jakarta melakukan evaluasi anggota Tim Gubernur untuk Percepatan Pembangunan (TGUPP) DKI

Image
News

Kendalikan Perubahan Iklim Bisa Dimulai Melalui Ajaran Agama Merawat Bumi

Perubahan iklim tidak hanya melulu menyangkut perubahan temperatur, naiknya permukaan air laut. Perubahan sistem kepercayaan, sikap sosial

Image
News

Menristek Ingatkan Jangan Sampai Ada Peneliti yang Masuk Bui

Bambang Brodjonegoro mengingatkan jangan sampai ada inovator atau peneliti yang masuk penjara karena minimnya pemahaman terkait aspek hukum.

Image
News

Intervensi Menko Luhut di Munas Partai Golkar untuk Jaga Stabilitas Politik Nasional

meski tidak dilakukan secara langsung ada intervensi dalam Munas Partai Golkar

trending topics

jamkrindo umkm

terpopuler

  1. Jokowi: Mau Masuk Perguruan Tinggi, Mentang-mentang Bapaknya Pejabat, Nggak Pakai Aturan Main Langsung Diterima, Itu Nggak Boleh

  2. Tinjau Latihan Pomal hingga Dampingi Menhan Prabowo, 10 Potret Gagah KSAL Laksamana Siwi Sukma Adji saat Jalankan Tugas

  3. Rocky Gerung Diancam Dipolisikan, Rachland Nashidik: Saya Ingatkan Pada Kawan-kawan PDIP, Roda Berputar

  4. Erick Thohir jadi Tukang Bakso, ini 10 Potret Seru Menteri Jokowi Main Drama #PrestasiTanpaKorupsi

  5. 10 Adu Gaya Seleb saat Hadiri Pernikahan Rezky Adhitya dan Citra Kirana, Hits Abis!

  6. Anggota DPRD DKI Sepakat Laporkan Anthony ke BK, Uki: Hapus Aja Fungsi Budgeting Sekalian

  7. Saat Masih Menikah, Angel Lelga Sebut Vicky Prasetyo Pernah ke Panti Pijat Plus-plus

  8. Mengaku sebagai Lesbian di Ajang Miss Universe, 5 Fakta Menarik Miss Myanmar Swe Zin Htet

  9. Hadiri Pernikahan Citra Kirana, Andi Arsyl Malah Ditagih Hal Ini oleh Warganet

  10. Digilas Filipina, Timnas Basket Putra Indonesia Gagal Raih Emas

fokus

Stop Pelecehan Seksual
Kursus Calon Pengantin
Puasa Plastik

kolom

Image
Achmad Fachrudin

Relasi Pemilu dengan Kinerja Elit Politik

Image
Muhtar S. Syihabuddin

Menimbang Pencapresan Airlangga

Image
Siswanto Rusdi

Arah Bisnis Pelayaran Nasional

Image
Achsanul Qosasi

Beban Berat BUMN Perbankan

Wawancara

Image
Sea Games

Milos Sakovic

"Polo Air Indonesia Butuh Liga dan Banyak Turnamen"

Image
Gaya Hidup

Pertama Kali Akting Bareng, Giorgino Abraham Langsung Nyaman dengan Sophia Latjuba

Image
Video

Joshua Rahmat, CEO Muda yang Menggawangi Mytours

Sosok

Image
News

Harta Kekayaan Mencapai Rp78 Miliar, 5 Fakta Menarik Royke Tumilaar Bos Baru Bank Mandiri

Image
News

Tinjau Latihan Pomal hingga Dampingi Menhan Prabowo, 10 Potret Gagah KSAL Laksamana Siwi Sukma Adji saat Jalankan Tugas

Image
News

Bukti Cinta Indonesia, ini Potret Anggun 7 Istri Menteri Pakai Kebaya