Akurat.co - Cepat Tepat Benar
Login / Sign Up

"Selain Presiden, Kini Hanya Atlet yang Bisa Mengibarkan Merah Putih"

Agung Nugroho

Hari Pahlawan (2)

"Selain Presiden, Kini Hanya Atlet yang Bisa Mengibarkan Merah Putih"

Peraih medali perak panahan Olimpiade Seoul 1988, Nurfitriyana Saiman, menganggap perkembangan panahan kini kian pesat. | AKURAT.CO/Sopian

AKURAT.CO, Bagi mantan pemanah yang mempersembahkan medali perak Olimpiade Seoul 1988 yang merupakan medali pertama Indonesia di Olimpiade, Nurfitriyana Saiman, menjadi pahlawan tidak selalu harus populer seperti atlet.

Menurutnya, setiap individu yang berjuang dalam posisinya masing-masing adalah pahlawan. Namun, bagi anak muda yang memilih jalan sebagai atlet, bermimpi menjadi pahlawan di bidang olahraga adalah hal yang baik.

Reporter AKURAT.CO, Agung Nugroho, berkesempatan mewawancarai Nurfitriyana di Kompleks Gelora Bung Karno, Jakarta, Rabu (9/10). Nurfitriyana berbicara tentang makna hari pahlawan, perkembangan fasilitas panahan di Indonesia, dan kendala untuk menjadi pemanah berprestasi. Berikut petikannya:

baca juga:

Bagaimana pendapat Anda tentang minimnya generasi muda yang tidak ingin bercita-cita menjadi atlet panahan? Alasannya karena peran orang tua (mantan atlet ataupun non atlet), faktor ekonomi (biaya pembinaan dan jaminan hari tua). Sebab, aspek penghargaan ekonomi – bonus – bisa mendorong generasi muda mau menjadi atlet.

Tapi ini mungkin Anda belum melihat perkembangan panahan kali ya kan. Ok. Kalau sekarang enggak. Jadi sekarang mereka senang, itu satu. Karena apa? Kalau dulu mungkin peralatan agak sulit, sekarang mudah. (Peralatannya) ada yang ringan, dan bisa disewakan di klub itu. Akhirnya mereka suka, barulah ke orangtuanya, beli-in seperti itu.

Sekarang juga banyak event, banyak kejuaraan-kejuaraan kecil. Dan sekarang dibuat seperti apa? Di samping mereka memiliki piagam, medali atau piala, itu mereka mendapatkan Rupiah, yang paling tidak untuk bisa menunjang sekolahnya mungkin. Mungkin dia beli peralatan sekolah, sekarang seperti itu. Jadi, yang sekarang itu sudah banyak. Jadi sekarang memang sudah banyak.

Atlet panahan junior saat mengikuti turnamen Sipas Solo Open 2017 di Benteng Vastenburg, Solo, 20 Oktober silam. (Foto: ANTARA/Mohammad Ayudha).

Hampir setiap minggu mungkin ada antar klub gitu antara anak-anak kecil banyak. Minggu depan itu ada kejuaraan di Taman Mini apa gitu, terus di Pulomas juga ada yang latihan, dan itu menarik kejuaraannya. Memang enggak besar hadiahnya, tapi lumayanlah buat anak-anak. Pasti orang tuanya juga akan senang.

Bagaimana pandangan Anda mengenai "pentingnya mengokohkan semangat menjadi olahragawan di Hari Pahlawan"? Pasalnya, kecintaaan masyarakat Indonesia terhadap olahraga merupakan salah satu pilar pembentukan karakter bangsa.

Yang saya tahu kan setiap tahun kan ada tuh Hari Pahlawan. Nah, mungkin itu lebih sering lagi seperti kan ada ahli olahraga, seperti itu. Hari pahlawan itu untuk mengumpulkan para pahlawan di bidang macam-macam. Sekolah ada, olahraga ada. Indonesia ini sebenarnya sudah kaya dengan pahlawan. Kalau masih ada pahlawan tahun 45, kumpulkan semua.

Hari pahlawan nasional dirayakan oleh negara itu bagus saya rasa, seperti hari olahraga kan pernah itu diadakan. Biar nanti mungkin ke depan yang para junior itu ‘ah saya ingin menjadi pahlawan, saya ingin diundang pada Hari Pahlawan, kan besar jadinya. Betul enggakEnggak simple, semua kan ada, seperti tanggal 17 Agustus dirayakan.

Intinya setiap pahlawan olahraga harus dikumpulkan di Hari Pahlawan untuk mengokohkan semangat olahragawan sebagai salah satu pilar pembentukan karakter bangsa?

Iya, kaya kemarin di mana gitu, di Solo apa di Surabaya merayakan Hari Olahraga, saya lupa. Itu baru terasa. Pastinya kan nanti aku diekspos, ya kan. Hari Pahlawan. Tahun kemerdekaan 45 mungkin masih ada. Kan bangga loh. Sekarang mengibarkan Merah Putih di suatu event kan ada pelajar juga ada. Anak kecil itu apa? Itu pahlawan juga kan karena membela nama bangsa. Matematika, banyak loh. Mungkin ada juga kesenian. Di bidang macam-macam pasti akan dilihat. Mereka akan semangat akan menjadi pahlawan.

Dalam rangka mengokohkan semangat menjadi olahragawan tersebut, apakah kampanye kepahlawan olahraga masih kurang dirasakan masyarakat Indonesia?

Belum terlihat. Belum booming. Dikumpulin, ya namanya pahlawan kan ada seperti tadi, ada bagian kesenian. Syukur-syukur masih ada pahlawan revolusi. Semua pejuang ada di situ. Kan yang namanya pahlawan itu kan bukan hanya yang keras saja, yang membela tanah air, yang membela keluarganya, membela untuk sekolahnya, itu kan pahlawan, yang benar-benar hero di bidangnya. Tetapi dia belum mengibarkan bendera Merah Putih, itu saja. Jadi kalau namanya pahlawan itu kan yang kelihatan itu yang sudah mengibarkan Merah Putih, yang membela Bangsa dan Tanah Air.

Seberapa pentingnya mengibarkan Merah Putih di kancah internasional? Pasalnya Anda mengatakan atlet tidak bisa disebut pahlawan, kalau dia belum mengibarkan Merah Putih.

Perjuangannya. Kita jangan melihat ngibarin-nya. Perjuangannya. Perjuangannya dia dalam tugasnya dia. Jadi di dalam masing-masing atlet itu mempunyai jiwa tidak ingin terkalahkan, tapi sportivitas tinggi. Apa namanya? Daya juang. Sekarang siapa yang bisa mengibarkan Merah Putih? Selain Presiden yang bisa mengibarkan, ya atlet, enggak ada lagi.

Atlet panahan putri Diananda Choirunnisa, sukses mengibarkan bendera Indonesia dengan merebut medali emas SEA Games 2017. (Foto: ANTARA/Wahyu Putro A).

Perjuangan itu proses, enggak kita bertanding langsung menang, enggak. Proses itu yang kita mesti lawan pertama-tama. Selesai itu proses, kita bertanding, baru kita bertemu dengan kemenangan. Di situ pengorbanan waktunya habis, main habis, waktu kongkow-kongkow habis setiap hari.

Kemenpora sempat ingin mengubah persepsi bahwa "menjadi atlet itu keren". Lalu, bagaimana pendapat Anda?

Saya pernah dengar sih kata-katanya. Pokoknya namanya atlet, ini belum atlet yang menyumbang – prestasi di kancah internasional – yah, persiapan doang yah, itu enggak boleh susah. Semua fasilitasnya mesti nyaman, itu saja dulu nomor satu, fasilitas. Lalu gaji dia bulanan.

Apabila dia berhasil mengambil medali, terlebih lagi emas, ya Anda lihat sendiri perkembangannya begitu. Cukuplah saya rasa, yang penting bisa maintenance itu atletnya yang sudah berhasil. Dan mungkin (bantuan pemerintah) minim seperti itu lebih baik, (untuk) lebih berkembang lagi. Kita sudah jauh ketinggalan sama luar negeri, (terkait) fasilitas.

Sejauh mana ketertinggalan atlet panahan Indonesia dengan luar negeri?

Sebenarnya gini, di luar negeri, tarolah Korea yah, itu dia Asian Games saja, dia sudah mempunyai jaminan, seperti dia sudah mempunyai rumah tinggal. Olimpic itu dia sudah punya rumah tinggal, lalu tunjangan seumur hidup, itu sudah ada semuanya.

Jadi ada levelnya. Level Asia apa yang dia dapatkan. Jadi kalau atlet itu mau ‘ah enggak ah saya mau jaminan seumur hidup’, ya cari medali Olimpic, dapat mereka. Itu ada levelnya. Memang mungkin kita belum sampai ke sana, tapi pemerintah sudah mau, akan, seperti itu. Jadi memang sudah jauh perkembangannya. Sekarang kalau jadi atlet masa depannya (tidak terjamin), enggak – itu salah. Yang penting anak ini benar-benar mau, berhasil, otomatis.

Jadi atlet sudah tidak mempunyai pikiran yang buruk-buruk untuk menjadi atlet panahan?

Betul. (Tapi) Memang semua ada pengorbanannya, seperti dia mesti memilih antara sekolah atau prestasi. Kalau masih bisa ada waktu sambil jalan, sekolah lalu membuat prestasi di bidangnya masing-masing, bagus masa depannya. Yang jelas mereka harus kumpul di tim, berarti kan enggak di rumah, meninggalkan orang tua, keluarga. Yang namanya Pelatnas itu banyak pengorbanannya.

Untuk mengembangkan atlet panahan, apakah pemerintah dalam hal ini Kemenpora perlu membuat program pelatihan di setiap RT, RW, Kelurahan, dan seterusnya?

Itu sudah berjalan. Untuk kepelatihan sudah berjalan. Lalu pemerintah juga kalau setiap ada event besar, seperti di daerah mengadakan kejuaraan, atau kejuaraan antar klub, kan ada klub, di Jakarta ada klub. Nah itu akan dibantu apabila memang jelas pertandingannya. Akan dibantu dengan Menteri, dengan pemerintah, dan itu untuk semua cabor. Tinggal atlet-atletnya saja, siapa nih yang benar-benar melakukan prestasi ke jenjang internasional.

Presiden Joko Widodo berpartisipasi dalam kejuaraan panahan di Bogor,  Jawa Barat, Januari silam. (Foto: REPUBLIKA).

Apa kesulitan atlet untuk berprestasi?

Ya (harus) ulet saja, disiplin, satu. Kedua (jangan) cepat puas. Dia baru ikut kejuaraan, dia sudah juara, habis itu kemakan dengan dia seorang juara pada saat itu. Apalagi masing-masing cabor itu lain – hambatannya. Ada (atlet) yang bisa jadi acuan, ada yang kalau dia kemakan dengan diri dia sendiri, ada yang jatuh. Itu tuh masing-masing cabang. Jadi ada cabang keras, ada cabang rasa. Maksudnya melatih perasaan ‘dia kuat atau tidak, (begitu juga dengan) daya tahan fisik’. Kan masing cabang lain-lain.

Kalau kesulitan atlet di panahan sendiri?

Kalau di panahan, ya itu yang saya bilang ‘makan rasa’. Jadi kalau kita sudah berhasil di satu klub atau daerah, tidak boleh mempunyai kepuasan yang berlebihan. Dengan kepuasan yang berlebihan itu dia akan hilang kontrolnya. Sedangkan panahan itu berkali-kali dia harus melakukan hal yang sama sampai dia mempunyai feeling sendiri. Jadi enggak bisa panahan seperti cabang lain yang (menggunakan) emosi. Kalau di panahan emosi disimpan. Jadi memang olahrasa ya kalau panahan. Di samping itu juga fisiknya memang harus kuat. Kita latihan fisik juga sama seperti cabang olahraga lain. Namun bukan untuk melawan orang lain, tapi melawan diri sendiri.[]

Bersambung...

Editor: Hervin Saputra

berita terkait

Image

News

Banser Banyumas Bentangkan Bendera Merah Putih 1000 Meter, ini Maknanya

Image

News

Sandi: Pahlawan Masa Kini adalah Mereka yang Hadirkan Solusi Masalah Bangsa

Image

Gaya Hidup

Yuk, Memperingati Hari Pahlawan dengan Donor Darah

Image

News

Hari Pahlawan, Dorong Semangat PT POS untuk Kembali Mendistribusikan BST

Image

Hiburan

Wow, Ternyata 6 Artis Ini Keturunan Pahlawan

Image

News

5 Fakta Penting Pemberian Bintang Mahaputera Gatot Nurmantyo

Image

News

DPR RI

Ketua DPR: Para Pembawa Perubahan Berbagai Sektor Layak Diberi Gelar Pahlawan

Image

News

MPR RI

HNW: Hari Pahlawan Buah dari Resolusi Jihad

Image

News

Mardani: Dokter, Perawat, Apoteker, Relawan Medis adalah Pahlawan Masa Kini

komentar

Image

0 komentar

terkini

Image
Gaya Hidup

Punya Makna Psikologis, 3 Warna Keberuntungan yang Bisa Kamu Temukan di Lipstick

Masih banyak orang yang masih takut gunakan lipstick warna ungu.

Image
Gaya Hidup
Resep Masakan

Resep Dawet Ireng Khas Purworejo, Segarnya Juara!

Seperti namanya, minuman ini merupakan dawet berwarna hitam yang disajikan dengan santan dan sirup gula merah.

Image
Gaya Hidup

Pakar : Es Krim Boleh Dikonsumsi Anak sejak Berusia Satu Tahun

Orangtua harus memperhatikan kandungan gizi dari setiap makanan

Image
Gaya Hidup
Resep Masakan

Resep Ayam Gepuk ala Pak Gembus, Pedasnya Nampol!

Ayam gepuk merupakan salah satu kuliner yang banyak disukai oleh berbagai kalangan

Image
Gaya Hidup

Kenali Ciri Alergi dan Cara Merawat Kulit Anak

Biasakan anak untuk berjemur mendapatkan vitamin D dari sinar matahari tiga kali sepekan lima sampai 30 menit

Image
Gaya Hidup

Hore! Anak 1 Tahun Sudah Boleh Konsumsi Es Krim

Asal, anak tak punya alergi

Image
Gaya Hidup

Penderita Anemia Perlu Gizi Seimbang

Lebih dari seperempat anak Indonesia usia 12 bulan - 12 tahun menderita anemia

Image
Gaya Hidup
Literasi

Perpusnas Bantu Buku untuk Literasi dari Desa

Literasi harus dimulai dari desa

Image
Gaya Hidup

Ramalan Zodiak tentang Asmara Hari Sabtu, 23 Januari 2021: Saatnya Bergerak Jomblo Capricorn!

Aquarius, kamu akan tahu bahwa kekasihmu sangat menyayangimu hari ini.

Image
Gaya Hidup

Seks Bisa Longgarkan Vagina, Masa Sih?

Perempuan yang memiliki vagina lebar tak perlu khawatir

terpopuler

  1. 7 Potret Pernikahan Uta Syahputra, Adik Olga yang Dulu Viral karena Jadi Tukang Parkir

  2. Gilbert: Hanya Anies Baswedan yang Melepas Tanggung Jawab Daerah ke Pusat

  3. Jangan Sampai Tidak Tahu, ini 4 Zikir Paling Allah Sukai

  4. Jika Ada Keluarga Isolasi Mandiri, Jangan Pakai Toilet yang Sama

  5. Bencana Tak Pandang Bulu, Banjir Kalsel Rendam Barang Milik Negara

  6. Takut Warga Tak Bisa Makan Malam, Wagub DKI Dukung Pemerintah Pusat Perpanjang Operasional Mal

  7. Brigjen Rusdi Hartono Akui Rekomendasi Komnas HAM Tidak Diserahkan ke Polri

  8. Tanpa Ampun, Facebook Blokir Permanen Akun Donald Trump

  9. Shalawat Syifa; Dibaca Agar Dijauhkan dari Penyakit Seperti Covid-19

  10. Polri: Banjir di Kalsel Akibat Curah Hujan Tinggi, Bukan Pengerukan Pertambangan

fokus

Kaleidoskop 2020
Akurat Solusi: Kenaikan Cukai Tembakau
Lawan Covid-19

kolom

Image
Abdul Hamid

Ilusi Dilema Demokrasi dan Integrasi

Image
UJANG KOMARUDIN

Menanti Gebrakan Kapolri Baru Pilihan Jokowi

Image
Kementrian Luar Negeri Republik Azerbaijan

Tragedi Black January

Image
UJANG KOMARUDIN

Kapolri Baru

Wawancara

Image
Video

Bukan Mistis, Gangguan Jiwa Adalah Gangguan Medis | Akurat Talk (3/3)

Image
Video

Akurat Talk

VIDEO Dokter Vivi Ajak Kenali Mental Sehat di Dalam Diri | Akurat Talk (1/3)

Image
News

Covid-19 Tembus 3.500 Kasus Per Hari, DKI Gagal Terapkan Program 3T?

Sosok

Image
News

5 Fakta Menarik Maya Nabila, Mahasiswa S3 ITB yang Baru Berusia 21 Tahun

Image
News

5 Fakta Penting Habib Muhammad bin Ahmad Al-Attas, Tunaikan Haji Lebih dari 29 Kali

Image
News

4 Fakta Penting Deva Rachman, Istri Kedua Syekh Ali Jaber yang Jarang Tersorot