image
Login / Sign Up

Jurnalis Yogya Dipukul Saat Liput PSIM Vs Persis Solo, Perusahaan Media Jangan Diam

Siswanto

Image

Demonstrasi jurnalis | Antara Foto

AKURAT.CO, Guntur Aga Putra, pewarta foto Harian Radar Jogja, menjadi korban kekerasan ketika meliput laga PSIM melawan Persis Solo yang berlangsung di Stadion Mandala Krida, Yogyakarta, Senin kemarin. Seperti diwartakan harianjogja.com, Guntur terkena pukulan di bagian tengkuk.

Ketika itu, dia memotret dari sisi utara stadion, lantas beringsut ke sisi barat lapangan setelah melihat penonton turun dari tribune. Guntur sempat berada di belakang barisan polisi lantas bergerak memilih mendekat mobil pemadam. Kondisi mulai chaos, ketika gas air mata mulai ditembakkan.

Guntur juga mengatakan menerima intimidasi. “Ada yang mencekik dari belakang, dan saya dipukuli. Saya sempat diminta hapus foto, tetapi tidak saya hapus,” katanya. Namun, Guntur tak ingin membawa kasusnya ke ranah hukum, kendati dirinya amat menyayangkan kejadian yang menimpanya itu. Padahal, kata Guntur, ia bekerja berdasar prinsip jurnalistik dan ada kode etik, serta dilindungi hukum.

baca juga:

Selain Guntur, intimidasi juga menimpa jurnalis foto dari Goal Indonesia bernama Budi Cahyono. Ia mengalami intimidasi ketika mengambil gambar saat peristiwa ricuh antara pemain PSIM dan Persis Solo terjadi di lapangan.

Salah satu pemain dari PSIM bernama Achmad Hisyam Tolle langsung menghampiri dan meminta foto-foto dirinya segera dihapus. Intimidasi pun dilakukan di pinggir lapangan terhadap sang jurnalis.

“Kamera memang sempat diambil sama Tolle, namun saya bilang ke dia, jangan di sini (pinggir lapangan) hapus fotonya karena biar lebih aman lantaran kondisi sudah rusuh di dalam lapangan. Lalu, saya diajak Arga untuk ke ruang ganti sambil dia menenangkan Tolle bersama Aldaier,” kata Budi Cahyono seperti yang diwartakan Goal Indonesia.

Intimidasi kemudian masih berlanjut di ruang ganti pemain. Pemain bernama Tolle kembali meminta semua foto yang ada dirinya untuk dihapus.

Dikutip dari laman resmi AJI Yogyakarta, Ketua AJI Yogyakarta Tommy Apriando menilai tindakan kekerasan terhadap jurnalis telah menghalangi hak publik untuk memperoleh berita akurat dan benar karena jurnalis tidak bisa bekerja dengan leluasa di lapangan.

“Jurnalis itu bekerja untuk kepentingan publik,” kata Tommy dalam laman resmi AJI Yogyakarta. Selain itu, bagi Tommy, tindakan para suporter ini menunjukkan betapa tidak pahamnya mereka terhadap aturan hukum.

Kekerasan para suporter terhadap Guntur ini jelas melanggar Undang-Undang Pers Nomor 40 tahun 1999. Dalam undang-undang tersebut, dijelaskan bahwa kekerasan terhadap jurnalis adalah perbuatan melawan hukum dan mengancam kebebasan pers. Selain itu, juga dijelaskan bahwa kegiatan jurnalistik meliputi mencari bahan berita, memperoleh, memiliki, menyimpan, mengolah hingga menyampaikan informasi yang didapat kepada publik. Pasal 8 UU Pers juga jelas menyatakan bahwa dalam melaksanakan profesinya, jurnalis dilindungi hukum.

Pers memiliki fungsi sebagai media informasi, pendidikan, dan kontrol sosial. Maka, ancaman bagi pelanggarnya pun tak main-main, hukuman dua tahun penjara atau denda Rp500 juta.

Para pelaku pemukulan ini mestinya tak main hakim sendiri dan belajar lagi soal hukum yang melindungi kerja jurnalis. Semestinya tidak boleh ada upaya menghalangi kerja-kerja jurnalis. Apabila terjadi kesalahan pemberitaan, ada mekanisme aduan jurnalis ke media tempatnya bernaung atau pun melaporkan ke Dewan Pers. AJI Yogyakarta juga mendesak polisi agar mengusut tuntas pelaku kekerasan.

Walau kerja jurnalis dilindungi dan dijamin undang-undang, AJI Yogyakarta mengimbau setiap jurnalis menaati kode etik jurnalistik dan bekerja secara profesional.

Selain itu, pemimpin redaksi dan perusahaan media seharusnya memperhatikan keselamatan dan keamanan jurnalisnya, terutama ketika meliput ke daerah berpotensi konflik dan mengancam kerja jurnalistik serta mengancam reporternya.

AJI Yogyakarta mendorong agar perusahaan media tempat Guntur bekerja mendampingi pelaporan ke pihak kepolisian. Tren kekerasan terhadap jurnalis terus meningkat, namun sedikit yang diselesaikan secara hukum.

Kekerasan terhadap jurnalis oleh suporter sepakbola di Yogyakarta sebelumnya pernah terjadi dan tidak tuntas ditangani melalui proses hukum. Buruknya penanganan kasus kekerasan terhadap jurnalis oleh suporter sepakbola menjadi preseden buruk. []

Editor: Siswanto

berita terkait

Image

News

Trusted Media Summit 2018 Juga Gelar Pelatihan Tangkal Hoaks

Image

News

Pilkada Serentak 2018

Jelang Pemilu, Trusted Media Summit 2018 Jadi Upaya Kolaboratif Melawan Hoaks

komentar

Image

0 komentar

terkini

Image
News

DPRD DKI Rekomendasikan Anggaran TGUPP dicoret Dari KUA-PPAS 2020

"Iya kami rekomendasikan pada Badan Anggaran untuk dipindahkan ke situ (dana operasional gubernur),"

Image
News

Anies: Trotoar dan Waduk Prioritas

"Bahkan tadi pagi secara khusus kita tunjukkan apa yang kita kerjakan di Waduk Pluit misalnya,"

Image
News

Rangkap Jabatan, Airlangga Disarankan Melepas Posisi Ketum Golkar

"Ya itu kan harus dipilih. Biar dia yang memilih. Jadi ketua atau jadi menteri,"

Image
News

Soal Cadar dan Celana Cingkrang, Dema UIN: Pemerintah Harus Akomodatif

"Pemerintah harus menerapkan sikap akomodatif bagi semua kelompok,"

Image
News

Anies Beberkan Kriteria Wagub Pengganti Sandiaga Uno

"Kalau menurut saya, nomor satu, dia ikut pada visi gubernur,"

Image
News

Surya Paloh: Saya Ingin Peluk Erat Jokowi

"Ingin saya peluk lebih erat, tapi tidak bisa,"

Image
News

PDIP Sebut Revitalisasi Trotoar Bikin Macet, Anies: Yang Bikin Macet Itu Mobil dan Motor

"Setahu saya yang bikin macet itu mobil dan motor ya, bukan trotoar ya,"

Image
News

Prodia Serahkan Hasil Donasi HFF ke 2 Yayasan Ini

"Penyerahan donasi ini merupakan bentuk dukungan dan perhatian kami"

Image
News

Kasad: Wisuda Purnawira Penghormatan Kesempurnaan Pengabdian Pati TNI AD

"Momen yang baik ini nantinya akan menjadi kenangan yang istimewa bagi para Perwira Tinggi Angkatan Darat yang diwisuda"

Image
News

Surya Paloh Bantah Dukung Anies Baswedan di Pilpres 2024

"Kalau ini berpihak pada Bung Anies, ah salah itu,"

trending topics

terpopuler

  1. Pengakuan Pembunuh Perempuan di Cakung: Korban Sempat Nangis dan Minta Maaf, Tetap Saya Habisi

  2. Gantikan Jokowi Resmikan Patung Jenderal Sudirman, Prabowo: Kalau Kita Lemah, Pasti Akan Diganggu

  3. Larangan Pejabat Ucap Salam Semua Agama, Bamsoet: Saya Tidak Masalah, yang Penting Tak Pengaruhi Keyakinan

  4. Mourinho: Hanya Ada Satu Cara Gagalkan Liverpool Jadi Juara

  5. Ceritakan Kesan Rapat Pertama bareng Jokowi, Prabowo Ungkap Perintah Pertama Presiden yang Disukainya

  6. Putra Jokowi Ngebet Jadi Wali Kota Solo, Pendiri PAN: Sebaiknya Mas Gibran Sabar Sampai Ayahnya Selesai Periode Kedua

  7. Kemenkeu Terbitkan 3 Peraturan Baru Soal BPJS Kesehatan, Ini Isinya

  8. Bos Wulling yang Tenggelam Ditemukan Nelayan, Sayembara Rp750 Juta Masih Berlaku?

  9. Polisi Gagalkan Aksi Penjarahan Alfamart, 3 Perampok Diikat Pakai Rantai

  10. Soal Foto Tak Pakai Bra, Begini Tanggapan Marshanda

fokus

Nasib Sumber Air
Tantangan Pendidikan
Pejuang Kanker Payudara

kolom

Image
Abdul Aziz SR

Pentingnya Tenaga Ahli DPRD

Image
Hasan Aoni

Secuil Kabar dari Amerika tentang Sri

Image
UJANG KOMARUDIN

Inspirasi Hari Pahlawan

Image
Rozi Kurnia

Polemik Sinema atau Bukan Sinema ala Martin Scorsese

Wawancara

Image
News

Pemidanaan Korporasi Atas Karhutla Di Mata Praktisi Hukum

Image
Olahraga

Wawancara Seto Nurdiantoro (Bag 2 - selesai)

'Pertandingan Paling Berkesan Adalah Menang'

Image
Olahraga

Wawancara Seto Nurdiantoro (Bag-1)

'Suatu Hari Nanti Saya Ingin Melatih Timnas'

Sosok

Image
News

Nggak Gengsian, ini 5 Potret Memesona Utari si Penjual Cilok di Boyolali yang Viral

Image
News

6 Potret Seru Susi Pudjiastuti saat Liburan, Sambil Momong Cucu

Image
News

Mundur dari PNS, ini 5 Fakta Pencalonan Siti Nur Azizah di Pilwalkot Tangsel