image
Login / Sign Up
Image

Ujang Komarudin

Direktur Eksekutif Indonesia Political Review (IPR) & Pengamat Politik Universitas Al-Azhar Indonesia (UAI) Jakarta

Rontoknya Kekuatan Oposisi

Kolom

Image

Presiden Joko Widodo melakukan pertemuan dengan Ketua Umum Gerindra Prabowo Subianto di ruang Jepara, Istana Merdeka, Jakarta Pusat, Jumat (11/10/2019). Pertemuan ini merupakan undangan Presiden Jokowi kepada Prabowo Subianto agar bertemu di Istana kepresidenan. Pertemuan ini membicarkan berbagai isu baik isu politik maupun ekonomi, serta membicarakan peluang Gerindra masuk ke dalam koalisi. AKURAT.CO/Sopian | AKURAT.CO/Sopian

AKURAT.CO, Menjelang pelantikan dan deadline penyusunan kabinet Jokowi jilid II. Tokoh-tokoh partai bermanuver untuk merapat ke istana. Apa yang dicari. Tentu kekuasaan. Kursi menteri Jokowi menjadi incaran. Incaran bagi partai koalisi Jokowi maupun oposisi yang merapat ke Jokowi.

Jokowi tentu senang jika banyak partai yang ketika Pilpres bersebrangan. Namun pasca Pilpres merapat. Dulu oposisi kini berkoalisi dengan Jokowi. Dulu lawan kini jadi kawan. Dulu berseteru kini bersekutu. Dan dulu bersebrangan kini rangkul-rangkulan.

Bangsa ini butuh pemerintah yang kuat. Namun disaat yang sama juga butuh oposisi yang tangguh dan kuat. Jika konstruksi koalisi Jokowi gemuk dan tambun, maka bisa memperlemah koalisi.

baca juga:

Koalisi Jokowi sudah gendut, sesak, dan rentan pecah. Apalagi koalisi akan mendapat tambahan dari Demokrat, Gerindra, dan PAN. PAN masih harus menunggu restu Amien Rais ketika ingin berkoalisi dengan Jokowi.

Masuknya Demokrat dengan Gerindra ke koalisi Jokowi merupakan hak mereka. Itu soal pilihan politik. Soal kepentingan partai dan persiapan Pemilu 2024. Semua ingin berkuasa. Semua ingin mengincar kursi menteri. Semua ingin mencari logistik dan semua ingin aman.

Bagi Demokrat dan Gerindra pilihan merapat ke Jokowi merupakan pilihan rasional, pragmatis, taktis, dan strategis. Namun disaat yang sama, akan melemehkan dan merontokan kekuatan oposisi.

Jika partai kalah Pemilu dan Pilres berbondong-bondong ingin berkoalisi masuk pemerintahan Jokowi, maka tak akan ada lagi kekuatan oposisi yang tangguh. Oposisi jika pun ada, maka akan seperti macan ompong. Tak bergigi dan tak bertaji.

Jika PDIP, Golkar, Nasdem, PKB, PPP, Perindo, PSI, Hanura, dan PKPI yang sejak awal mengawal kemenangan Jokowi-Ma’ruf, sudah menyumbang lebih dari 60 % kekuatan di Parlemen. Jika ditambah PBB masuk ditengah jalan. Lalu digenapkan dengan merapatnya Demokrat dan Gerindra, maka koalisi pemerintah akan menjadi kekuatan mayoritas dan akan dominan.

Disaat yang sama, hanya meninggalkan PKS yang sudah siap beroposisi. Jika oposisi hanya diisi oleh PKS, maka tak akan pernah akan mampu menghalau dan menghalangi kebijakan-kebijakan pemerintah yang tak pro rakyat. Tak bisa membendung jika pemerintah salah arah dan salah jalan.

Jika oposisi hanya meninggalkan PKS. Sungguh bangsa ini telah kehilangan sentuhan karakter tangguh untuk siap tidak berkuasa. Menjadi oposisi memang harus siap menderita. Harus siap tak punya logistik. Harus siap dikerjai pemerintah.

Namun sebagai negara demokrasi. Republik ini butuh oposisi. Butuh partai yang bertugas di luar pemerintahan yang kerjanya mengkritik pemerintah. Kerjanya mengingatkan pemerintah. Dan kerjanya “menghantui” pemerintah, agar pemerintah bekerja untuk rakyat, bangsa, dan negara.

Jika kekuatan oposisi melemah dan rontok, maka yang senang tentu pemerintah. Yang gembira tentu partai koalisi Jokowi. Rakyatlah yang akan menderita. Selama ini rakyat aspirasi banyak tak didengar oleh pemerintah dan DPR. Rakyat tak ada yang memperjuangkan kehidupannya, jika partai oposisinya lemah.

Lihat bagaimana revisi UU KPK menjadi contoh keangkuhan DPR dan pemerintah yang memaksakan diri untuk melemahkan dan membunuh KPK. Rakyat yang menolak dengan demonstrasi besar-besaran dan memakan meninggalnya dua mahasiswa pun tak di dengar. Rakyat minta dikeluarkan Perppu KPK pun tak digubris. Ini mencerminkan pemerintahan yang merasa kuat cenderung tak mengindahkan dan tak memperhatikan rakyat.

Rontoknya oposisi karena soal kepentingan. Soal jabatan. Dan soal persiapan menuju 2024. Dan rontoknya oposisi karena partai-partai tak siap menderita. Tak siap untuk bersama-sama rakyat, untuk mengawal jalannya pemerintahan dari luar.

Koalisi yang dibangun oleh partai-partai koalisi Jokowi pun bukan koalisi berdasarkan ideologi. Koalisi yang dibangun lebih pada koalisi kepentingan untuk mendapatkan kekuasaan dan jabatan. Untuk mendapatkan kuasa dan wibawa. Juga untuk mengamankan kepentingan masing-masing.

Oposisi dalam negara demokrasi merupakan suatu keniscayaan. Bukan hanya agar terjadi checks dan balances dalam jalannya pemerintahan. Tetapi juga agar demokrasi menjadi hidup. Demokrasi harus diisi dan diwarnai dengan kuatnya partai oposisi. Jika tak ada oposisi, maka demokrasi bisa dikebiri dan bisa mati.

Kita harus ingat dengan tesisnya Lord Acton, dia mengatakan bahwa “power tends to corrupt. But absolute power corrupt absolutely”. Kekuasaan itu akan cenderung disalah gunakan (korup). Dan kekuasaan yang absolut, maka penyalah gunaannya pun akan besar pula.

Jika koalisi pemerintah gemuk, mayoritas, dan dominan. Disaat yang sama hanya meninggalkan kekuatan oposisi yang lemah dan tak berdaya, maka akan memberi ruang dan membuat celah, pemerintah bisa salah jalan dan salah arah. Pemerintah bisa saja akan menjadi sombong dan pongah, sehingga akan sulit diingatkan.

Oposisi rontok dan berguguran jangan salahkan pada pemerintah semata. Karena bagaimapun pemerintah memang ingin menjinakan dan menaklukan oposisi dengan cara mengajak ke koalisinya. Namun yang salah adalah partai-partai oposisi yang tak kuat menahan godaan jabatan dan kepentingan sesaat.

Pada dasarnya menjadi oposisi itu mulia. Sama sekali bukan hina. Sama mulianya dengan menjadi partai koalisi pemerintah. Bahkan menjadi oposisi bisa lebih mulia, bisa lebih terhormat, dan bisa lebih gagah, karena bisa memperjuangkan aspirasi dan nasib rakyat. Rakyat butuh partai oposisi. Negara butuh oposisi. Dan kita semua butuh oposisi. Jangan biarkan pemerintah terlalu kuat, sehingga bisa saja seenaknya membuat kebijakan yang menyusahkan rakyat.

Jangan sampai ketika oposisi rontok. Rakyat dibiarkan sendirian. Rakyat dibiarkan menderita. Rakyat dibiarkan menelan ludah kesengsaraan. Rontoknya oposisi jangan sampai mengembalikan republik ini ke zaman Orde Baru.[]

 

 

 

Editor: Sunardi Panjaitan

berita terkait

Image

News

Kolom

Pentingnya Tenaga Ahli DPRD

Image

News

Kolom

Kabinet Pertaruhan Kepemimpinan Jokowi

Image

News

Kolom

Gejala Otoritarianisme

Image

Ekonomi

Kolom

Urgensi Admiralty Court

Image

News

Kolom

Menteri-menteri Jokowi

Image

News

Kolom

Berharap Kepada Parlemen Daerah

Image

News

Kolom

Memperbaiki Marwah DPD 2019-2024

Image

News

Kolom

Partai Politik Tuna Ideologi

Image

News

Kolom

Perpu KPK Berpotensi Inkonstitusional

komentar

Image

0 komentar

terkini

Image
News

Cegah Pelanggaran Lintas Batas, Satgas Yonif R 300 Intensifkan Pemeriksaan

Dikhususkan untuk mencegah peredaran minuman keras dan ganja

Image
News

Depinas Minta Airlangga Jangan Pecah Belah SOKSI

SOKSI juga lah yang mendorong pertama kali Airlangga Hartarto sebagai Ketua Umum pada Munaslub tahun 2017 lalu

Image
News

Kisah Langka 5 Penumpang Titanic, Ada yang Batal Naik karena Dapat Firasat Aneh

Bikin merinding

Image
News

Dalam Kurun 30 Menit, Jailolo Diguncang Tiga Kali Gempa

Gempa itu tak berpotensi tsunami

Image
News

TNI AD Tuan Rumah ASEAN Armies Rifle Meet 29/2019

mengikutsertakan Angkatan Darat 10 Negara ASEAN

Image
News

Gempa Susulan Kembali Guncang Halmahera Barat, Magnitudo 5,3

pada Jumat (15/11/2019) pukul 05.42 WIB

Image
News

Memprihatinkan, Mahasiswa Korban Pembacokan Orang Tak Dikenal di Jogja Butuh Uluran Tangan

Harus menjalani operasi usai menderita sejumlah luka di beberapa bagian tubuhnya.

Image
News

Gempa Magnitudo 5,2 Guncang Halmahera Barat

Jumat (15/11/2019) dini hari, pukul 05.15 WIB

Image
News

Lagi, Gempa Susulan Berkekuatan Magnitudo 5,3 Guncang Malut

pukul 04.37 WIB

Image
News

BMKG Catat Sebanyak 28 Kali Terjadi Gempa Susulan Pascagempa Magnitudo 7,1

terkecil Magnitudo 3,2 dan Magnitudo terbesar adalah 5,9

trending topics

terpopuler

  1. Ria Ricis Pamer Saldo Atm Miliaran di YouTube, Oki Setiana Dewi: Saya Akan Tegur Dia

  2. Said Didu Berceloteh Soal Ahok, Profesor USU: Kau Punya Pengaruh Apa?

  3. Ruhut: Ahok Memang Super Star, Lawan Politiknya Ketakutan Melihatnya Jadi Bos BUMN

  4. Ditertawakan di Indonesian Idol hingga jadi Bintang di Malaysia, ini 5 Fakta Mengejutkan Karier Gabe “Wely"

  5. Kata Sandiaga Uno Soal Ahok yang Santer Dikabarkan jadi Bos BUMN

  6. MUI Sumut Sebut Pelaku Bom Bunuh Diri Medan Tak Beragama, Sosiolog: Emang Lu Siapa?

  7. Sandiaga: Setelah Ahok Resmi Pimpin BUMN, Kita Wajib Dukung

  8. Dijadikan Perisai Manusia oleh Ayahnya, Bayi 11 Bulan Kritis Kena Tembakan Beruntun

  9. 5 Zodiak Ini Paling Suka Simpan Dendam, Luka Lama Tak Mudah Lupa!

  10. Hafiz Sebut Melawan Praveen/Melati Bakal Lebih Sulit

fokus

Nasib Sumber Air
Tantangan Pendidikan
Pejuang Kanker Payudara

kolom

Image
UJANG KOMARUDIN

Memerangi Radikalisme

Image
Abdul Aziz SR

Pentingnya Tenaga Ahli DPRD

Image
Hasan Aoni

Secuil Kabar dari Amerika tentang Sri

Image
UJANG KOMARUDIN

Inspirasi Hari Pahlawan

Wawancara

Image
News

Pemidanaan Korporasi Atas Karhutla Di Mata Praktisi Hukum

Image
Olahraga

Wawancara Seto Nurdiantoro (Bag 2 - selesai)

'Pertandingan Paling Berkesan Adalah Menang'

Image
Olahraga

Wawancara Seto Nurdiantoro (Bag-1)

'Suatu Hari Nanti Saya Ingin Melatih Timnas'

Sosok

Image
News

Tengah Hamil Tua, 7 Potret Gista Putri yang Tetap Memesona

Image
Gaya Hidup

Sofie Staygold Pok, Barber Wanita dengan Penghasilan Belasan Juta per Hari

Image
Ekonomi

Ahok, Bakal Bos BUMN yang Terkenal Saat Memimpin Jakarta