image
Login / Sign Up
Image

Abdul Aziz SR

Dosen Ilmu Politik FISIP Universitas Brawijaya dan Senior Researcher pada Center for Election and Political Party (CEPP) FISIP UI

Partai Politik Tuna Ideologi

Kolom

Image

Presiden Joko Widodo melakukan pertemuan dengan Ketua Umum Gerindra Prabowo Subianto di ruang Jepara, Istana Merdeka, Jakarta Pusat, Jumat (11/10/2019). Pertemuan ini merupakan undangan Presiden Jokowi kepada Prabowo Subianto agar bertemu di Istana kepresidenan. Pertemuan ini membicarkan berbagai isu baik isu politik maupun ekonomi, serta membicarakan peluang Gerindra masuk ke dalam koalisi. AKURAT.CO/Sopian | AKURAT.CO/Sopian

AKURAT.CO, Melihat persaingan yang begitu keras antara kubu Prabowo Subianto-Sandiaga Uno dan kubu Joko Widodo-Ma’ruf Amin pada Pemilihan Presiden 2019, rasanya sulit dimengerti jika antara Prabowo dan Jokowi kemudian bertemu untuk berkoalisi tak lama setelah musim pilpres berlalu. Dalam banyak hal keduanya sangat berbeda. Seolah membentang antara putih dan hitam, antara dua titik esktrem.

Tapi, itulah politik. Ia memiliki logika tersendiri. Dunia serba mungkin. The art of possible. Koalisi Prabowo-Jokowi untuk periode pemerintahan 2019-2024 sangat mungkin terjadi. Sebaliknya, mungkin juga untuk tidak terjadi, jika kepentingan keduanya tak bertemu dan tawar-menawarnya tidak mencapai kesepakatan. Jadi, serba berkemungkinan. Itu sesungguhnya gejala biasa saja dalam praktik politik.

Inkonsistensi

baca juga:

Namun demikian, tentu banyak yang kecewa dengan sikap politik Prabowo pascapilpres. Para pendukungnya di Pilpres 2019 mungkin sulit mengerti mengapa bekas Danjen Kopassus itu mengambil sikap dan jalan politik yang sangat kompromistis. Mengapa dia berubah bahkan berbalik 180 derajat?

Para pemilih mendukung Prabowo pada Pilpres 2019 bukan semata-mata karena Prabowo dinilai lebih baik dari Jokowi, melainkan juga karena selama periode pertama pemerintahannya Presiden Jokowi memiliki sederet kelemahan mendasar. Kebijakan-kebijakannya di berbagai bidang cenderung panas-panas tahi ayam. Seolah-olah ada gebrakan, perbaikan, dan pembaruan. Nyatanya hanya sebatas wacana dan lemparan isu yang tidak berisi.

Sebutlah seperti perekonomian tidak kunjung membaik bahkan pertumbuhan yang dijanjikan 7 persen nyatanya tetap berkutat di angka 5 persen. BUMN terus merugi dan dilumuri utang. Utang luar negeri pun kian menggunung. Tenaga kerja asing termasuk yang ilegal, terutama dari China, terus membanjir. Lapangan kerja nyaris tidak bertambah. Pendidikan kian berwajah administrasi dan menunjukkan kekacauan-kekacauan. Layanan kesehatan yang buruk. Kerusakan lingkungan semakin menjadi-jadi. Hal yang paling parah adalah bahwa sebagian besar janji politik pada 2014 tidak konsisten diwujudkan.

Para pemilih mendukung Prabowo juga karena dalam lima tahun pemerintahan Presiden Jokowi justru semakin menguat oligarki ekonomi dan politik. Ekonomi mengental-memusat pada segelintir pemilik modal, termasuk konglomerat “hitam”. Kesenjangan kian menganga lebar dan ketidakadilan pun memuncak. Segelintir pemilik modal itu juga sangat berpengaruh terhadap warna kebijakan Presiden Jokowi. Sementara, politik cenderung otoriter dan anti kritik. Kalangan yang berbeda –katakanlah dari kelompok-kelompok Islam– dikriminalisasi dan diberi label-label negatif.

Satu hal mendasar yang sangat sulit diterima pendukung Prabowo adalah soal kecurangan pilpres. Jika bergabung ke barisan Jokowi, maka Prabowo ikut mengesahkan kecurangan pilpres yang justru pernah digugatnya hingga ke Mahkamah Konstitusi bahkan berencana ke Mahkamah Internasioal. Ini berarti Prabowo juga dengan sadar menjadi bagian dari rezim curang. Rezim yang diragukan legitimasinya. Jika benar-benar terjadi, maka Prabowo dipandang para pendukungnya sebagai sosok tokoh yang lemah, rapuh, serta tidak memiliki konsistensi dalam berpikir dan bersikap. 

Uang dan Kekuasaan

Andai saja koalisi Prabowo-Jokowi menjadi kenyataan, itu berarti Partai Gerindra yang dipimpin Prabowo serta partai-partai lainnya yang sejak awal berada di barisan Koalisi Indonesia Kerja (KIK) sama-sama menjadi partai pemerintah. Partai Gerindra –yang tadinya berseberangan dengan partai politik di KIK– harus mengubah seluruh pandangan, kritik, opini, dan sikapnya terhadap partai-partai tersebut. Mengubah posisi dari “lawan” menjadi “kawan” dalam tempo singkat.   

Jika sebelumnya Partai Gerindra mungkin banyak mengkritik bahkan mungkin “sinis” terhadap rezim Presiden Jokowi dan partai-partai yang berada di KIK, maka kini harus “melebur” di dalamnya berikut menyetujui rencana-rencana besar yang telah didesain sebelumnya. Partai Gerindra tidak punya pilihan lain kecuali harus patuh dan patuh. Itu konsekuensi koalisi sekaligus konsekuensi sebagai penumpang baru yang berubah pikiran. Yang baru saja “tobat” (dalam istilah milenial).  

Pertanyaannya, apa sesungguhnya yang dicari Partai Gerindra (dan Prabowo) sehingga memilih merapat ke Jokowi (dan KIK)? Mengapa begitu mudah berpindah dari satu titik ekstrem ke titik ekstrem lainnya.

Dalam tradisi praktik politik yang terjadi selama ini, yang dicari tidak lain adalah uang dan kekuasaan. Dua variabel yang bertali-temali. Semua partai politik kita –termasuk Partai Gerindra– tidak memiliki sumber pembiayaan yang jelas, pasti, dan permanen. Partai politik tidak memiliki badan-badan usaha, iuran anggota tidak jalan, dan negara tidak ikut menyiapkan anggatan untuk partai politik.

Lalu, dari mana partai sumber pembiayaan partai politik? Dari para pengurusnya yang menjadi pejabat negara (menteri, anggota parlemen, kepala daerah) dan pengusaha yang bergabung di dalamnya.

Yang pejabat negara bisa saja menyisihkan sekian persen gaji dan tunjangannya untuk disetor ke kas partai. Bisa juga dengan “mencangkul” dari proyek-proyek pemerintah dengan bermain fee, suap-menyuap, dan lain-lain. Mereka yang pengusaha bisa saja rutin menyumbang ke kas partai. Namun, tidak mustahil uang sumbangannya itu dari hasil kongkalikong dalam mengerjakan proyek-proyek pemerintah.

Partai Gerindra tidak mustahil tertarik dengan pola-pola pembiayaan (tak lazim) tersebut. Dua kali ikut bertarung dalam pilpres (2014 dan 2019) dan kalah, tentu membuat Partai Gerindra menanggung ongkos yang sangat besar secara finansial.

Karena itu, bisa jadi Partai Gerindra saat ini sedang dalam kesulitan keuangan yang serius. Dengan bergabung ke pemerintah dan mendapatkan posisi penting maka ada harapan mendapatkan sumber pembiayaan baru untuk menghidupi partai. Mungkin juga bisnis Prabowo dan keluarga menjadi lebih lancar dan tak terganggu ketika diri dan partainya bergabung ke pemerintah. Di sinilah terjadi tautan antara uang dan kekuasaan.

Tuna Ideologi

Begitu mudahnya Partai Gerindra –sekali lagi jika benar-benar terjadi– berpindah ke KIK dan terlihat tanpa beban apa-apa menunjukkan satu hal mendasar, yakni ketidakjelasan ideologi partai politik. Kenyataan ini tidak hanya terjadi pada Partai Gerindra. Semua partai politik lain juga demikian. Tak satu pun partai politik kita saat ini yang memiliki kejelasan dan ketegasan ideologi. 

Ketidakjelasan ideologi membuat partai politik relatif tidak memiliki perbedaan yag signifikan antara yang satu dan yang lainnya. Tubuh dan roh partai politik seperti flat (datar) saja.

Jika ideologi itu dipahami sebagai serangkaian gagasan dan cita-cita politik yang beroreintasi tindakan kemudian diorganisasikan menjadi sistem yang teratur, sesungguhnya tidak melekat dengan baik dan tegas pada partai politik kita. Dimensi-dimensi ideologi seperti deskripsi, analisis, preskripsi moral, preskripsi teknis, dan rejection (penolakan) sungguh tidak lengkap, tidak sistematis, tidak ada konsistensi penjelasan dalam dokumen-dokumen partai politik kita.

Singkat kata, partai politik kita pada dasarnya tuna ideologi. Sikap, gaya, orientasi, perilaku, dan program, tergantung situasi waktu itu. Mereka bergerak sesuai kecenderungan yang tengah mengedepan. Nyaris tidak ada patokan doktrin dan nilai yang menuntunnya. Kepentingan pragmatis dan jangka pendek lebih menjadi pertimbangan utama dalam mengambil keputusan.

Dalam konteks demikian, mudah dimengerti jika patai-partai politik gampang sekali melompat dan berpindah haluan, karena memang tidak memiliki beban ideologi apa pun kecuali kepentingan saat itu.

Jadi, jika kini Partai Gerindra pindah “rumah” ke KIK bagi mereka hal itu biasa saja. Partai Golkar dan Partai Amanat Nasional beberapa kali juga begitu. Mereka melakukannya dengan santai. Kalaupun ada kritik kiri-kanan mereka tidak hirau. Mengapa? Tidak ada halangan ideologis untuk itu, dan kepentingan pragmatis saat ini (uang dan kekuasaan) jauh lebih menarik.

Begitulah. Partai politik kita sedang genit-genitnya dengan dirinya sendiri. Kondisi tuna ideologi membuat kegenitan mereka menjadi “ideologi” itu sendiri. Wallahu‘alam. []            

Editor: Sunardi Panjaitan

berita terkait

Image

News

Kolom

Pentingnya Tenaga Ahli DPRD

Image

News

Kolom

Kabinet Pertaruhan Kepemimpinan Jokowi

Image

News

Kolom

Gejala Otoritarianisme

Image

Ekonomi

Kolom

Urgensi Admiralty Court

Image

News

Kolom

Menteri-menteri Jokowi

Image

News

Kolom

Berharap Kepada Parlemen Daerah

Image

News

Kolom

Rontoknya Kekuatan Oposisi

Image

News

Kolom

Memperbaiki Marwah DPD 2019-2024

Image

News

Kolom

Perpu KPK Berpotensi Inkonstitusional

komentar

Image

1 komentar

Image
Resta Apriatami

seperti labih, tidak konsisten, pindah terlalu cepat. lalu apa arti pengorbanan dan pembelaan yg dilakukan sebelumnya? kenapa pindah dengan begitu mudahnya? jika bisa pindah dengan mudahnya, pasti ada suatu hal yg sangat-sangat krusial

terkini

Image
News

Cegah Pelanggaran Lintas Batas, Satgas Yonif R 300 Intensifkan Pemeriksaan

Dikhususkan untuk mencegah peredaran minuman keras dan ganja

Image
News

Depinas Minta Airlangga Jangan Pecah Belah SOKSI

SOKSI juga lah yang mendorong pertama kali Airlangga Hartarto sebagai Ketua Umum pada Munaslub tahun 2017 lalu

Image
News

Kisah Langka 5 Penumpang Titanic, Ada yang Batal Naik karena Dapat Firasat Aneh

Bikin merinding

Image
News

Dalam Kurun 30 Menit, Jailolo Diguncang Tiga Kali Gempa

Gempa itu tak berpotensi tsunami

Image
News

TNI AD Tuan Rumah ASEAN Armies Rifle Meet 29/2019

mengikutsertakan Angkatan Darat 10 Negara ASEAN

Image
News

Gempa Susulan Kembali Guncang Halmahera Barat, Magnitudo 5,3

pada Jumat (15/11/2019) pukul 05.42 WIB

Image
News

Memprihatinkan, Mahasiswa Korban Pembacokan Orang Tak Dikenal di Jogja Butuh Uluran Tangan

Harus menjalani operasi usai menderita sejumlah luka di beberapa bagian tubuhnya.

Image
News

Gempa Magnitudo 5,2 Guncang Halmahera Barat

Jumat (15/11/2019) dini hari, pukul 05.15 WIB

Image
News

Lagi, Gempa Susulan Berkekuatan Magnitudo 5,3 Guncang Malut

pukul 04.37 WIB

Image
News

BMKG Catat Sebanyak 28 Kali Terjadi Gempa Susulan Pascagempa Magnitudo 7,1

terkecil Magnitudo 3,2 dan Magnitudo terbesar adalah 5,9

trending topics

terpopuler

  1. Ria Ricis Pamer Saldo Atm Miliaran di YouTube, Oki Setiana Dewi: Saya Akan Tegur Dia

  2. Said Didu Berceloteh Soal Ahok, Profesor USU: Kau Punya Pengaruh Apa?

  3. Ruhut: Ahok Memang Super Star, Lawan Politiknya Ketakutan Melihatnya Jadi Bos BUMN

  4. Ditertawakan di Indonesian Idol hingga jadi Bintang di Malaysia, ini 5 Fakta Mengejutkan Karier Gabe “Wely"

  5. Kata Sandiaga Uno Soal Ahok yang Santer Dikabarkan jadi Bos BUMN

  6. MUI Sumut Sebut Pelaku Bom Bunuh Diri Medan Tak Beragama, Sosiolog: Emang Lu Siapa?

  7. Sandiaga: Setelah Ahok Resmi Pimpin BUMN, Kita Wajib Dukung

  8. Dijadikan Perisai Manusia oleh Ayahnya, Bayi 11 Bulan Kritis Kena Tembakan Beruntun

  9. 5 Zodiak Ini Paling Suka Simpan Dendam, Luka Lama Tak Mudah Lupa!

  10. Hafiz Sebut Melawan Praveen/Melati Bakal Lebih Sulit

fokus

Nasib Sumber Air
Tantangan Pendidikan
Pejuang Kanker Payudara

kolom

Image
UJANG KOMARUDIN

Memerangi Radikalisme

Image
Abdul Aziz SR

Pentingnya Tenaga Ahli DPRD

Image
Hasan Aoni

Secuil Kabar dari Amerika tentang Sri

Image
UJANG KOMARUDIN

Inspirasi Hari Pahlawan

Wawancara

Image
News

Pemidanaan Korporasi Atas Karhutla Di Mata Praktisi Hukum

Image
Olahraga

Wawancara Seto Nurdiantoro (Bag 2 - selesai)

'Pertandingan Paling Berkesan Adalah Menang'

Image
Olahraga

Wawancara Seto Nurdiantoro (Bag-1)

'Suatu Hari Nanti Saya Ingin Melatih Timnas'

Sosok

Image
News

Tengah Hamil Tua, 7 Potret Gista Putri yang Tetap Memesona

Image
Gaya Hidup

Sofie Staygold Pok, Barber Wanita dengan Penghasilan Belasan Juta per Hari

Image
Ekonomi

Ahok, Bakal Bos BUMN yang Terkenal Saat Memimpin Jakarta