Akurat.co - Cepat Tepat Benar
Login / Sign Up
Image

Ujang Komarudin

Direktur Eksekutif Indonesia Political Review (IPR) & Dosen FISIP Universitas Al-Azhar Indonesia (UAI) Jakarta

Dirgahayu RI ke 74 dari Oligarkis ke Demokratis

Kolom

Image

Pasukan paskibraka melebarkan bendera merah putih dalam jalannya Upacara Peringatan Detik-Detik Proklamasi Kemerdekaan Indonesia ke-74 Tahun 2019 di Istana Merdeka, Jakarta, Sabtu (17/8/2019). Presiden Joko Widodo dan sejumlah tokoh mengenakan pakaian adat dari berbagai daerah saat menghadiri upacara peringatan ke-74 Kemerdekaan RI. | AKURAT.CO/Sopian

AKURAT.CO, Enam hari yang lalu, kita telah memperingati 74 tahun kemerdekaan RI. Kita tentu harus bangga, dengan kemerdekaan yang kita nikmati. Bangga menjadi bagian dari NKRI. Dan bangga menjadi WNI.

74 tahun kemerdekaan RI harus disyukuri. Jangan diributi. Kasus kerusuhan Papua kemarin, jangan membuat bangsa ini, saling caci-maki dan menyalahkan. Jangan saling menyakiti. Dan harus saling menghormati.

Usia 74 tahun, sejatinya merupakan usia yang cukup, bagi bangsa ini untuk banyak berubah di segala bidang. Namun semakin bertambah usia republik ini, semakin bertambah pula utang negara. Semakin bertambah pula masalah dan tantangannya.

baca juga:

Indonesia makin liberal dan kapitalistik. Makin pragmatis dan transaksional. Dan makin tak beradab. Politik yang masih menjadi panglima di negeri ini. Diakali oleh kelompok tertentu, agar bisa terus berkuasa dan bertahta.  

Apakah sistem politik di negeri ini, akan semakin baik, semakin demokratis, atau bahkan semakin oligarkis seperti saat ini.

Hari kemerdekaan RI ke-74, jangan hanya sekeder teriak merdeka. Ikut upacara bendera, lalu selesai semua urusan. Momentum Dirgahayu ke-74 kemerdekaan RI, haruslah menjadi momentum perubahan dari sistem oligarkis ke demokrastis. Dari liberal dan kapitalistik ke Pancasila.

Saat ini, kita belum sampai pada apa yang disebut, sebagai negara demokratis. Kita masih dipersimpangan jalan. Masih dalam proses transisi, menjadi negara demokratis. Masih dalam konsolidasi demokrasi.

Jika proses transisi demokrasi berjalan dengan baik, maka Indonesia akan menjadi salah satu negara demokrasi terbesar di dunia. Namun jika proses konsolidasi demokrasinya gagal, maka kita akan kembali ke negara otoriter.

Atau bisa saja, saat ini kita sedang ada dalam demokrasi kemunafikan. Seolah-olah demokratis. Namun sesungguhnya tidak demokratis. Pura-pura demokratis. Namun sesungguhnya sedang menancapkan dan melanggengkan oligarki.

Partai politik, yang menjadi ujung tombak perubahan bagi bangsa ini, justru sedang melanggengkan oligarki politik. Partai-partai politik tak mau berubah. Dari mulai persoalan korupsi, mengamankan bisnis, hingga memburu jabatan, dilakukan demi kuasa dan wibawa mereka.

Hampir seluruh partai yang ada di negara ini, bersifat tertutup dan oligarkis. Dimana partai politik, dikuasai oleh orang-orang tertentu, dalam waktu lama, bahkan tak terbatas waktu. Yang berkuasa itu-itu saja. Yang menikmati kekuasaan kelompok itu juga. Sedangkan kelompok lain yang tidak sepaham, akan disingkirkan.

Mambangun bangsa ini, harus dimulai dengan membereskan dan menata, partai politik dan sistem kepartaian. Jika partai politiknya bersifat oligarkis. Dan hanya menancapkan dan melanggengkan kekuasaan semata, maka tak akan ada perubahan untuk memparbaiki bangsa ini.

Begitu juga dengan bangsa ini. Bangsa yang sudah merdeka 74 tahun ini. Jika dikelola secara oligarkis, maka yang berkuasa itu-itu saja. Kelompok-kelompok itu saja. Dan partai-partai itu saja.

Bahaya, jika bangsa ini dikelola dengan design oligarkis. Bukan hanya bertentangan dengan design republik ini, yang ingin menjadi negara demokratis. Tetapi juga negara ini, tak akan dikelola dengan baik. Jika sistemnya oligarki.

Gerombolan orang yang berkuasa secara oligarkis, kekuasaannya hanya akan menguntungkan kelompoknya. Bukan dan tak akan menguntungkan rakyat, bangsa, dan negara.

Kita lihat dan saksikan, bagaimana otonomi daerah, bukan menghasilkan daerah yang makin sejahtera. Namun kepala daerah yang menjadi raja. Kepala daerah membangun politik dinasti. Dan kepala daerah menancapkan oligarki politik, di masing-masing daerahnya.

Begitu juga dengan kekuasaan di pusat. Kekuasaan hanya dipegang dan dikendalikan, oleh orang-orang tertentu, dengan tujuan tertentu. Ini yang menjadi rusak. Sistem politik menjadi rusak. Sirkulasi elite tidak terjadi. Dan hanya mereka-mereka saja, yang berkuasa. Karena mereka punya uang dan kekuasaan.

Kita tentu tidak mau, jika Indonesia hanya terlihat seolah-olah menjadi negara demokrasi. Namun sebenarnya oligarki. Kita juga tidak mau, jika demokrasi berjalan hanya sekedar prosedur. Tanpa roh dan substansi.

Pilkada dilaksanakan. Namun karena demokrasinya hanya sekedar prosedur. Pilkadanya jalan. Namun money politics juga merebak. Pilpres juga diselenggarakan. Namun karena demokrasinya, masih berdasarkan prosedur. Pilpresnya jalan. Tapi dibayang-bayangi tuduhan kecurangan.

Sistem politik kita memang liberal. Bahkan sangat liberal. Juga sangat kapitalistik. Semua diukur dengan uang. Pilkada diukur dengan uang. Pileg diukur dengan uang. Pilpres diukur dengan uang. Naik jabatan diukur dengan uang. Mencari pekerjaan diukur dengan uang. Semua telah diukur dengan uang.  

Jika semuanya diukur dengan uang. Percayalah. Bangsa ini tak akan maju. Tak akan hebat. Dan tak akan jaya.

Bangsa ini harus diukur dengan prestasi, kompetensi, keahlian, inovasi, karya, kreatifitas. Dan harus diukur dengan nilai-nilai kebajikan. Bukan sebaliknya.

Momentum 74 tahun kemerdekaan RI. Haruslah memberi rasa optimisme, bagi seluruh rakyat Indonesia. Optimisme agar republik ini bisa lebih demokratis. Dengan sistem demokrasi yang dijaga, maka akan memberikan kesempatan kepada siapapun anak bangsa, untuk bisa berperan dalam memperbaiki bangsa ini.

Namun, jika sistem yang dibangun adalah sistem oligarkis, maka hanya orang-orang itu saja yang akan berkuasa. Hanya kelompok-kelompok itu saja yang akan memiliki jabatan. Dan hanya mereka-mereka itu saja yang akan berperan. Stop oligarkis. Dan tumbuhkan demokrasi.

Membangun sistem bernegara, yang demokratis merupakan tugas kita semua. Jangan biarkan, negara ini bersifat oligarkis. Yang kekuasaannya, dikuasai hanya oleh kelompok tertentu dan untuk kepentingan tertentu.

Membangun sistem yang demokratis merupakan keniscayaan. Namun semuanya kembali ke kita semua. Apakah kita memilih sistem demokrasi sebagai pilihan. Ataukah kita ini sedang melanggengkan oligarki politik.

Sistem oligarki, hanya akan membawa bangsa ini pada kebobrokan dan kehancuran. Sedangkan demokrasi, akan membawa kepada keterbukaan dan kemajuan. Semua pilihan ada pada Anda semua. Pilih demokrasi. Atau kita tetap pada sistem oligarki, yang tak berkesudahan.

Editor: Sunardi Panjaitan

berita terkait

Image

News

Komunisme dan Kearifan

Image

News

Demokratisasi di Tengah Badai Pandemi

Image

News

Mengukuhkan Persaudaraan Sosial

Image

News

Menjual Tubuh

Image

News

Organisasi Penggerak Pendidikan

Image

News

Tapak Ir. H. Joko Widodo dan Tuan Syèkh Ibrahim Sitompul

Image

News

Penentu Sukses Pilkada di Masa Pandemi

Image

News

Kolom

Rebranding Pilkada Serentak 2020

Image

News

Kolom

Kontroversi RUU HIP

komentar

Image

0 komentar

terkini

Image
News

Relawan Indonesia Bersatu Bagikan Bantuan ke Warga Kepulauan Seribu

Total 100 paket sembako diberikan langsung oleh Ketua Rumah Sandiaga Uno Indonesia

Image
News

Hari Kesaktian Pancasila, Begini Harapan Partai Demokrat

AHY berharap masyarakat merawat nilai-nilai Pancasila.

Image
News

Kegiatan RJIT Ditjen PSP Mengairi 50 Ha Lahan di Lore Selatan Poso

Kementerian Pertanian selalu berkomitmen untuk mendukung peningkatan produksi pertanian

Image
News

Bikin Kisruh Debat Capres AS, Twitter Hapus Ratusan Akun dari Iran

"Kami mengidentifikasi akun-akun ini dengan cepat, menghapusnya dari Twitter."

Image
News

Rumah Pasien Covid-19 yang Isolasi Mandiri Bakal Dipasangi Stiker

Pemerintah Provinsi DKI bakal memasang stiker pada rumah pasien yang melakukan isolasi mandiri gara-gara terpapar Covid-19.

Image
News

Ssst...Ada Deklarator KAMI Bakal Gabung Partai Ummat Bentukan Amien Rais

Sejumlah ormas, pendiri Koalisi Aksi Menyelamatkan Indonesia (KAMI) dan elemen masyarakat siap gabung.

Image
News

Permintaan Warganet Saat Kang Emil Ngantor di Depok, Nomor 10 Bikin Ngakak

Warganet minta Kang Emil selesaikan Covid-19 di Kota Depok agar menjadi zona hijau kembali.

Image
News

Dijuluki 'Twitter Killer', Pria Jepang Akui Bunuh 9 Orang hingga Simpan Potongan Tubuh di Kulkas

Polisi menemukan banyak potongan tubuh tersimpan di lemari pendingin kediaman Takahiro Shiraishi.

Image
News

Wagub Riza: Mohon Maaf Warga yang Rumahnya Kecil Tidak Bisa Isolasi Mandiri

Riza berharap masyarakat tidak bingung dengan kebijakan yang berubah-ubah.

Image
News
MPR RI

Bamsoet: DPD Perlu Aktif Berperan Pada Fungsi Pengawasan dan Anggaran

DPD RI perlu aktif mengambil peran tidak saja dalam bidang legislasi, melainkan juga fungsi pengawasan dan anggaran.

terpopuler

  1. Saat Joe Biden dan Istri Pelukan Usai Debat, Donald Trump Justru Lakukan ini

  2. Duh! Wanita Berbibir Terbesar Dunia Melawan Dokter

  3. Kalah Saing dengan YouTube, Denny Siregar: Banyak Acara TV Cuma Cari Sensasi!

  4. 5 Potret Diego Michiels Momong Putri Kecilnya, Papa Idaman

  5. Putri Delina Punya Permintaan Khusus ke Nathalie Holscher, Calon Istri Sule

  6. 7 Potret Kenangan Pahlawan Revolusi yang Gugur dalam Peristiwa G30S/PKI

  7. Di Acara Mata Najwa, Gibran Tidak Mewajibkan Masyarakat Solo untuk Memilih Dirinya

  8. 7 Potret Kece Loren, Produser Musik yang Jadi Pasangan Lisa Blackpink di Video Lovesick Girls

  9. Kisah Cinta Tragis Pierre Tendean dan Rukmini, Bikin Mewek

  10. Said Didu: Smelter China Gunakan Sistem Penalti Biar Harga Beli Turun dan Rugikan Negara

tokopedia

fokus

Webinar Akurat: Peran Strategis IJK
Akurat Solusi : Roadmap IHT
Webinar Akurat: Resesi Ekonomi

kolom

Image
Achsanul Qosasi

Komunisme dan Kearifan

Image
Dr. Abd. Muid N., MA.

Pandemi dan Pohon Khuldi

Image
UJANG KOMARUDIN

Pilkada yang Tak Ditunda

Image
Arif Hidayat

3 Cara untuk Anda Bisa Menjadi Karyawan Terbaik

Wawancara

Image
Iptek

Saat Dominasi Kontraktor Besar Masih Kejam

Image
Video

Akurat Talk

VIDEO Fahri Hamzah: Saya Dari Kecil Jualan Kopi | Akurat Talk (2/2)

Image
Video

Akurat Talk

VIDEO Ngomongin Hobi Sampai Harga Outfit Fahri Hamzah | Akurat Talk (1/2)

Sosok

Image
News

5 Potret Iriana Tatap Mesra Presiden Jokowi Ini Bikin Melting Parah

Image
News

5 Fakta Penting Sarwo Edhie Wibowo, Kakek AHY yang Ikut Tumpas G30S PKI

Image
News

5 Momen Menteri Kelautan dan Perikanan Edhy Prabowo Tangkap Hasil Laut, Seru Banget!