image
Login / Sign Up

Interview Khusus Tsamara Amany: Kalau UU Perkawinan Nggak Segera Direvisi, Sangat Bahaya!

Maidian Reviani

Nikah Cepat

Image

Maju sebagai calon anggota legislatif DPR RI, Tsamara Amany blusukan ke sudut-sudut Jakarta | Instagram/tsamaradki

AKURAT.CO Remaja sekarang kelak menjadi penduduk usia produktif dan menjadi subyek pembangunan. Itu sebabnya, mereka mesti disiapkan dari hari ini agar kelak menjadi sumber daya manusia yang mumpuni.

Pernikahan dini yang marak terjadi di negeri yang baru merayakan hari kemerdekaan ke 74 merupakan salah satu faktor penghambat persiapan itu.

Sebagaimana temuan-temuan kasus yang telah dipaparkan pada tulisan-tulisan sebelumnya, pernikahan dini menempatkan remaja putri pada tingkat risiko yang tinggi, terutama kesehatan, dan pupusnya masa depan yang cemerlang.

baca juga:

Dalam pernyataan tertulis kepada jurnalis beberapa waktu yang lalu, Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional Hasto Wardoyo mengingatkan bila tren pernikahan dini terus berlanjut, 142 juta remaja putri akan melakukan pernikahan sebelum mereka berusia 18 tahun, sebelum tahun 2020.

Artinya 14,2 juta remaja putri melakukan pernikahan setiap tahun atau 39 ribu setiap hari.

Penelitian menunjukkan sebagian remaja sekarang berhadapan dengan kondisi yang kompleks, seks sebelum nikah, narkotika, dan pernikahan dini.

Berbagai upaya sedang dilakukan oleh para pegiat perlindungan anak dan perempuan. Salah satunya yang paling bersejarah adalah membuat Mahkamah Konstitusi mengabulkan revisi terhadap UU tentang Perkawinan, terutama pasal yang berkaitan dengan ketentuan usia minimum menikah.

Tetapi, perjuangan masih panjang. Dari budaya di tengah masyarakat, bahkan DPR sebagai pembuat UU saja sampai sekarang belum juga merevisinya.

Saya mewawancarai politikus muda perempuan dari Partai Solidaritas Indonesia Tsamara Amany Alatas untuk mendapatkan perspektif tentang perkawinan anak serta upaya mengubah ketentuan batas usia yang hingga sekarang belum selesai.

“Kalau ini nggak segera direvisi ini sangat berbahaya,” kata Tsamara.

Tsamara bicara beberapa aspek. Untuk lebih lengkapnya, berikut hasil interview dengan alumnus Universitas Paramadina, Jakarta:

Tsamara Amany Potret. Instagram/tsamaradki

Apa tanggapan anda terkait pernikahan anak?

Terkait itu sih pertama Mahkamah Konstitusi sudah naikin batas usia, dimana dalam putusan MK bahwa batas usia pernikahan perempuan tuh dari 16 tahun jadi 18 tahun, nah yang terjadi pada praktiknya dan masih belum direvisi oleh DPR RI adalah untuk pernikahan anak, ketika perempuan berusia 16 tahun tuh bisa menikah.

Kalau ini nggak segera direvisi ini sangat berbahaya. Pertama, ketika seseorang masih dikatakan anak dan dia belum mengalami proses pendewasaan dan dia belum paham bagaimana cara mendidik seorang anak, jika anak memiliki anak maka yang akan bermasalah itu dia tidak akan memiliki pemahaman terkait kesehatan atau edukasi kesehatan yang baik bagi anaknya.

Misal kita contoh kita ke kampung-kampung yang ada di Jakarta, kita lihat banyak sekali ibu-ibu yang memberikan makan anaknya indomie. Apa karena persoalan indomie itu murah?

Padahal kan banyak sekali bahan-bahan lain yang murah selain tahu dan tempe yang lain-lainnya juga murah dan kaya akan nutrisi dan gizi. Tapi kenapa mereka kasih mie? Karena bagi mereka simple dan mudah.

Dan mereka belum mendapatkan edukasi terkait pemahaman kesehatan yang baik bagi mereka, bagiamana melengkapi gizi anak untuk pertumbuhan anak dan lain sebagainya.

Yang kedua, ketika pernikahan anak ini tidak berhasil yang akan berbahaya adalah ini akan menjadi akar kemiskinan baru. Karena satu sisi mereka belum mendapat jenjang pendidikan yang lebih baik karena mereka berhenti sekolah dan lain sebagainya, nggak paham apa-apa, kita akan menimbulkan akar kemiskinan baru, karena akan ada keluarga yang sangat hanya dependen terhadap satu orang.

Dan yang lebih parah lagi kalau dilihat dari fenomena misalnya baru sama-sama lulus SMK menikah, jadi mereka sudah harus punya tanggung jawab yang besar ketika mereka belum memiliki pendapatan yang cukup untuk diri mereka sendiri.

Dan yang terakhir yang paling bahaya kalau terjadi perceraian atau apapun, itu juga berbahaya dong buat mental seseorang yang masih anak-anak, yang belum siap untuk dinikahkan karena belum dewasa, tetapi dia sudah mengalami perceraian. Ini betul-betul harus dilihat secara serius dan harus dianggap sebuah urgensi oleh DPR, oleh pemerintah.

Menurut anda, apa yang menyebabkan DPR lama merevisi Undang-undang Perkawinan?

Ya saya sebenarnya nggak tahu apa alasannya yang terjadi di dalam DPR, tapi itu saya kira DPR tidak melihat masalah ini sebagai urgensi. Yang kedua, memang pada dasarnya banyak sekali prakitik-praktik nikah anak yang terjadi. Mungkin mereka khawatir, mereka takut dan apalagi kita harus pahami bahwa praktik nikah anak ini juga sering dibaluti dan dibumbu-bumbu keagamaan. Sehingga itu juga yang mungkin membuat di sisi lain khawatir dengan reaksi kelompok agama, di sisi lain mungkin meihat ini bukan urgensi.

Padahal yang harus kita pahami di sini, tidak ada kaitannya dengan agama. Jika kita punya seorang anak, anak kita belum pada usia yang cukup untuk betul-betul dewasa, betul-betul mengandung, betul-betul memiliki anak dan mendidik seorang anak, maka apa itu layak? Kita baru dapat KTP saja 17 tahun dan dianggap negara baru dewasa kalau 17 tahun. Nggak bisa negara berpersepsi kita dapat KTP kalau sudah menikah berapapun usianya.

Usia itu adalah sebuah proses, nggak ada orang tiba-tiba dewasa karena ilmu terus menikah. Orang yang sudah menikah adalah orang yang sudah betul-betul melewati suatu proses pendewasaan itu.

Setahu anda, seberapa tinggi kasus perkawinan anak di Indonesia? Dan apa anda tahu lokasinya dimana saja?

Saya nggak begitu tahu ya soal lokasi terbanyak ada dimana. Tapi saya kira cukup banyak dan yang jadi persoalan mungkin selama ini tidak disebut itu anak, karena kan negara memperbolehkan usia 16 tahun untuk perempuan menikah.

Tapi bagi kami yang usai 16 tahun itu adalah nikah anak. Bagi saya itu nikah anak. Sebagian mereka mengaku kalau negara itu memperbolehkan ko. Ya pasca putusan MK itu saya kira banyak sekali praktik-prakitk seperti itu di daerah. Di Jakarta pun ada. Saya kira tuh praktik yang sangat sering terjadi di Indonesia.

Menurut anda, apa yang melatari orangtua menikahkan anaknya yang belum cukup umur?

Saya kira itu turun menurun ya soal pemahaman kenapa perempuan menikah. Anggapannya menikah muda, tapi ada dua hal yang berbeda antara menikah muda dengan menikah anak. Orang yang sudah lewat dari 17 tahun mungkin kita bisa kategorikan menikah muda. Tapi kalau orang lain sebut juga itu menikah anak.

Jadi mungkin bagi orangtua pada umumnya, apalagi perempuan memang secara turun temurun adalah sebuah warisan menikah dalam usai anak itu, mereka tidak akan melihat ada persoalan.

Ketika usia anak mereka masih 15 tahun misalnya, karena bagi mereka perempuan itu disiapkan untuk jadi ibu rumah tangga. Jadi persepsi pemahaman dan edukasi ya harus dibenahi sampai sekarang, kalau tidak dibenahi, ke depan akan turun temurun pemahaman seperti itu.

Di Indonesia, ada kepercayaan kalau perempuan kelamaan nikah akan jadi perawan tua. Bagaimana anda menyikapi budaya ini?

Saya pikir semua manusia itu punya waktunya masing-masing, setiap manusia itu berhak punya waktu yang mereka anggap layak untuk menikah. Jadi saya fikir nggak penting orang itu mau menikah usia berapa. Yang penting dia menemukan sosok yang tepat, punya kesiapan yang baik dari segi finansial, mental, untuk menikah.

Jadi menurut saya sangat tidak relevan budaya perawan tua dan lain sebagainya, terserah mau menikah umur berapa yang penting orang itu siap. Asalkan jangan menikah di usia yang tidak seharusnya seperti yang tadi saya bilang.

Juga ada keyakinan lebih baik cepat menikah ketimbang zina, bagaimana anda menyikapi persoalan yang ikut meningkatkan perkawinan anak itu?

Ya itulah salah satu persoalan, saya kira dunia itu tidak se-simple itu dan tidak sejelek itu juga si menurut saya. Tapi kalau punya anak berikan edukasi yang bagus, biarkan mereka meraih edukasi setinggi mungkin, pastikan mendapat pekerjaan yang baik, terus dia juga aktif dalam bekerja, dia pintar dan lain sebagainya, saya kira itu tidak ada kaitannya dengan zina.

Kalau dia nanti merasa mau nikah, dia merasa memang waktunya tepat ya silahkan. Jadi nggak ada kaitan sama sekali tuh kayak tidak ada berkolerasi sama sekali, tidak ada kaitannya.

Salah satu penyebab nikah dini adalah hamil duluan. Hamil duluan biasanya karena pergaulan anak yang kurang pengawasan orang tua. Apakah ada kaitan kurang komunikasi antara anak dan orangtua dengan pernikahan dini?

Itu tidak bisa se-simple itu kita mengambil kesimpulan. Saya kira nggak ada kaitannya dengan perhatian orangtua. Cuma ya, memang sebagai orangtua harus mengontrol. Karena tetap ada juga orang tua yang peduli.

Jangan sampai anak itu takut menceritakan apa isi hatinya kepada orangtua. Orangtua harus menjadi teman bagi anak, itu menurut saya yang paling penting. Ketika anak tidak berteman dengan orangtuanya, ada jarak, maka dia tidak akan terbuka dan tidak akan menceritakan apa-apa kepada orangtua. Sehingga nantinya orangtua juga susah untuk memberikan nasihat dan didikan yang tepat untuk dia.

Banyak dari mereka yang menikah di usia anak akhirnya putus sekolah. Bagaimana anda menanggapi masalah ini?

Itu juga berbahaya, saya kira persoalan karena mereka menganggap menikah itu adalah tujuan akhir. Sementara pemahaman soal pendidikan itu adalah hal penting, menjadi bekal ketika kita ingin menitik karir dan lain sebagainya.

Karena seorang anak yang baik itu harus dididik oleh ibu yang baik. Mau seorang mau jadi ibu rumah tangga, itu sebuah hal tetap, wajib menjadi seorang yang berilmu, seorang yang paham terhadap masalah keluarga dan lain sebagianya. Dan itu nggak bisa kalau seseorang tidak memiliki pendidikan.

Apa anda setuju pernikahan anak dapat memicu kekerasan dalam rumah tangga? Misalnya suami tak terpuaskan oleh pelayanan istri atau si istri juga belum bisa masak.

Saya pikir itu juga ada dua hal persoalan di situ. Pertama, tidak terpuaskan itu adalah salah satu cara pandang patriarkal, apa yang dimaksud tidak terpuaskan? Kalau misal istri bilang nggak puas sama suami gimana? Itu patriarkal.

Yang kedua, dalam konteks kekerasan menurut saya persoalannya bukan karena tidak puas, tapi adalah ketimpangan kuasa dalam berumah tangga.

Apa yang disebut ketimpangan kuasa? Ketika seorang istri independen terhadap suami, kenapa suami merasa memiliki istri dalam genggamannya, sehingga ada ketimpangan relasi kuasa di sana, sehingga dia bisa ngapain aja si istri, itu yang berbahaya menurut saya.

Apa anda setuju dampak pernikahan anak dapat meningkatkan angka kematian ibu dan bayi?

Saya pikir itu memang dalam usia anak itu bukan usia yang cukup mengandung, saya pikir itu bisa ditanyakan kepada orang yang ahli kesehatan.
Tapi menurut saya itu semua kan proses, semua manusia memiliki tubuh, mereka memiliki proses.

Tingginya angka pernikahan dini juga disebabkan faktor hukum yang tidak sama di UU Perkawinan dan UU Perlindungan Anak terkait batas umur. Apakah menurut anda ini kontraproduktif?

Makanya kan MK sudah memutuskan bahwa itu disamakan semua. Jadi sudah harus dilakukan, yang 16 tahun itu kan dianggap usia anak. Maka dari pada itu, DPR harus revisi undang-undang. Itu udah keputusan yang final, yang mengikat, bahwa pernikahan itu sebenarnya adalah pernikahan yang inkonstitusional.

Anda yakin DPR periode ini akan bisa segera merevisi UU tersebut?

Harus bisa, karena itu kewajiban mereka dan kita harus dorong dari luar, bahwa mereka harus selesaikan itu, mereka harus selesaikan rancangan undang-undang penghapusan kekerasan seksual juga.

Menurut anda, apa yang menjadi kesulitan dan tantangan dalam mensosialisasikan agar tak menikah dini?

Saya pikir kita satu harus banyak meningkatkan sosialisasi perempuan-perempuan untuk bisa S1, S2 dan bahkan S3, tingkatkan perempuan itu harus berpendidikan. Tapi memang harus ada tindakan yang kongkrit dari negara yaitu melarang pernikahan anak. Ketika negara melarang pernikahan anak, tidak akan ada lagi perikahan anak, dalam artian berbadan hukum yang berbentuk dokumen gitu kan.

Jadi itu penting sekali tindakan seperti itu, baru setelah itu kita baru bisa edukasi lewat komunitas. Menurut saya Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Anak juga penting melakukan sosialisasi bahwa nikah anak ini nggak bisa dilakukan dan tidak selayaknya dilakukan.

Apa ada yang anda mau sampaikan kepada milienial agar tidak menikah sebelum benar-benar matang?

Saya pikir yang paling penting untuk kawan muda adalah yaudah lah kejar apa yang kita mau dulu, kejar karir, pendidikan dan lain sebagainya. Kalau kita ketemu sama orang yang cocok dan merasa waktunya tepat, kita yakin sudah punya kesiapan mental, kita yakin punya untuk benar-benar menikah ya silakan.

Tapi kalau misalkan nggak, jangan paksakan diri kita, apalagi terpaksa karena konstruksi sosial, artinya norma-norma di masyarakat, apa kata tetangga, apa kata keluarga besar, nggak usah mikirin itu semua. Karena di atas lebih penting adalah yang menjalankan pernikahan adalah kita. Kenapa kita harus pusing dengan kata-kata orang-orang?

Jadi jangan tertekan, jangan kasih pressure (tekanan) yang nggak penting pada diri kita, kasih pressure yang lebih baik pada diri kita. Karena setiap orang punya waktu masing-masing, punya time zone masing-masing, jadi kita nggak perlu khawatir soal pernikahan sebenarnya. []

Baca juga:

Tulisan 1: Kisah-kisah Perempuan Kawin Muda: Gugurkan Kandungan hingga Ditipu Lelaki Beristri

Tulisan 2: Berkali-kali Kawin dan Kandas Semua: Angka Nikah Dini di Berbagai Daerah yang Mencengangkan

Tulisan 3: Indonesia Juara Perkawinan Anak Setelah Kamboja: Tiap Hari, 39 Ribu Anak Perempuan di Dunia Dikawinkan

Tulisan 4: Kebanyakan Usia Perkawinan Anak Cuma Seumur Jagung

Tulisan 5: Kawin karena Hamil Duluan, Sekolah Nyaris Berantakan: Cerita Komunitas Muda Kampanye Cegah Pernikahan Dini

Tulisan 6: Tengku Zulkarnain: Omong Kosong Aja, Separuh Kawan Saya SD Itu Kawin Semua, Nggak Ada Tuh yang Mati

Tulisan 7: Revisi UU Perkawinan Mandeg di DPR, Eva: Mungkin karena Isu Perempuan atau Anak Kali Ya, Nggak Dianggap Penting

Editor: Siswanto

berita terkait

Image

News

Nikah Cepat

Revisi UU Perkawinan Mandeg di DPR, Eva: Mungkin karena Isu Perempuan atau Anak Kali Ya, Nggak Dianggap Penting

Image

News

Nikah Cepat

Tengku Zulkarnain: Omong Kosong Aja, Separuh Kawan Saya SD Itu Kawin Semua, Nggak Ada Tuh yang Mati

Image

News

Nikah Cepat

Kawin karena Hamil Duluan, Sekolah Nyaris Berantakan: Cerita Komunitas Muda Kampanye Cegah Pernikahan Dini

Image

News

Nikah Cepat

Kebanyakan Usia Perkawinan Anak Cuma Seumur Jagung

Image

News

Nikah Cepat

Indonesia Juara Perkawinan Anak Setelah Kamboja: Tiap Hari, 39 Ribu Anak Perempuan di Dunia Dikawinkan

Image

News

Nikah Cepat

Berkali-kali Kawin dan Kandas Semua: Angka Nikah Dini di Berbagai Daerah yang Mencengangkan

Image

News

Nikah Cepat

Kisah-kisah Perempuan Kawin Muda: Gugurkan Kandungan hingga Ditipu Lelaki Beristri

komentar

Image

0 komentar

terkini

Image
News

ACT Sumatera Utara Kirim Tim Relawan Darurat Asap ke Riau

Selain mengirimkan 10 relawan darurat asap, Aksi Cepat Tanggap juga akan mengirimkan truk kemanusiaan.

Image
News

Polisi Dalami Indikasi Keterkaitan Aksi di Kampus Uncen dengan Demo Anarkis di Wamena

Massa yang melakukan demo di depan Auditorium Uncen Abepura menuntut pendirian posko untuk mahasiswa Papua yang pulang dari belajar.

Image
News

Gibran Ingin Daftar Calon Wali Kota Solo Lewat PDIP, Rudy: Woo, Sudah Tutup

Buat Gibran, dia berpesan jika memang serius ingin maju nanti saja pada pilkada 2024.

Image
News

Mahasiswa Makassar Bakar Ban, Besok aksi Lebih Besar Lagi

Juru bicara mahasiswa Mira mengatakan aksi hari ini sekaligus untuk menolak rencana pengesahan RUU KUHP.

Image
News

Belasan Kedutaan di Australia Abaikan Denda Parkir, Total Tunggakan Rp574 Juta

Utusan luar negeri yang gemar mangkir bayar parkir, seperti Rusia, Slovakia, Afghanistan, Romania, Ghana, Nepal, Tonga, Samoa, Yordania.

Image
News

Warga Aceh Sebaiknya Jangan Terlalu Banyak di Luar Rumah Dulu

Hal lain yang bisa dilakukan dikatakan Aminullah, yakni dengan menutup pintu atau jendela rumah jika tak digunakan.

Image
News

DPRD: Bila Ahmad Syaikhu Mundur, Pemilihan Wagub DKI Bakal Molor Lagi

"Ketentuannya harus dua (calon), enggak bolah hanya ada satu saja," ujar Syarif

Image
News

Penundaan RKUHP, Arsul Sani: Kita Sikapi Usai Rapat Konsultasi dengan Presiden

Tidak dibatalkan, hanya ditunda.

Image
News

Ketagihan Judi Online, Mahasiswa Makassar Nekat Gelapkan 77 Mobil Rental

"Modusnya rental, dari rental digadaikan ke beberapa masyarakat," kata dia.

Image
News

Tangkap Anak-anak yang Tantrum, Polisi Florida Dihukum

"Sebagai kakek dari tiga anak di bawah 11 tahun, ini sangat memprihatinkan bagi saya."

trending topics

terpopuler

  1. Lebih Cepat dari Barbie Kumalasari, Arief Muhammad Ngaku Bisa ke Amerika Hanya dalam 3 Jam

  2. Jokowi Akan Diberi Gelar Putera Reformasi, Teddy: Tidak Perlu, Dia Sudah Punya Gelar Tertinggi

  3. Ternyata Baim Wong Pernah Dekati Citra Kirana dan Sophia Latjuba

  4. Jokowi Posting Video Jalan-Jalan Bersama Jan Ethes, Warganet: Punya Hati Nggak?

  5. Adakan Pertemuan Keluarga, Rezky Aditya-Citra Kirana Segera Menikah?

  6. Filipina Susah Payah Tundukkan Brunei Darussalam

  7. Situs Kemendagri Diretas Hacker, Tampilkan Gambar RIP KPK

  8. Rich Moisturizer Pada Skincare Luar Negeri Tak Cocok dengan Kulit orang Indonesia

  9. Ikuti Saran Barbie Kumalasari, Boy William Gunakan Pesawat Kelas Bisnis ke Eropa Agar Sampai Lebih Cepat

  10. Bima Sakti Bongkar Kelemahan Timnas U-16 Setelah Gagal Tundukkan China

fokus

Bencana Lingkungan
Abortus
BJ Habibie Tutup Usia

kolom

Image
Abdul Aziz SR

DPR dan Parlemen Modern

Image
Alfarisi Thalib

Era Airlangga, Golkar Cenderung Feodal dan Oligarkis

Image
Ujang Komarudin

Gigitan Terakhir KPK

Image
Damai Mendrofa

Menangani Penyu, Sampai Tak Ada yang Ganggu

Wawancara

Image
Hiburan

Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan

Jadikan JILF Sebagai Pemantik Imajinasi

Image
Ekonomi

Eksklusif Mochamad Soebakir: Sebagai 'Jembatan' Konsultan Pajak Fungsinya Vital

Image
Olahraga

Bianca Andreescu

"Memenangi AS Terbuka Sebenarnya Terasa Aneh"

Sosok

Image
News

8 Potret Hangat Menteri Tenaga Kerja Hanif Dhakiri bersama Keluarga, Ayah Idaman!

Image
News

Jadi Plt Menpora Gantikan Imam Nahrawi, Ini 5 Fakta Sepak Terjang Karier Hanif Dhakiri

Image
News

Siap Uji Materi UU KPK yang Baru, Ini 5 Fakta Sepak Terjang Karier Ketua MK Anwar Usman