image
Login / Sign Up

Tengku Zulkarnain: Omong Kosong Aja, Separuh Kawan Saya SD Itu Kawin Semua, Nggak Ada Tuh yang Mati

Herry Supriyatna

Nikah Cepat

Image

Ustaz Tengku Zulkarnain | Twitter @ustadtengkuzul

AKURAT.CO * Menurut pandangan Tengku ketentuan batas minimal usia anak perempuan menikah dalam UU Perkawinan yang lama sudah pas dan mempertimbangkan aspek keagamaan.
* Menurut Tengku ketimbang mengurusi soal ketentuan usia perkawinan, pemerintah mestinya memperbaiki moral anak bangsa agar terhindar dari perilaku yang menyimpang, termasuk zina.
* Tengku menyebut argumentasi kalangan yang mengkorelasikan pernikahan dini dengan tingkat pendidikan sebagai mengada-ada.

***

Dengan nada menggebu-gebu, Sekretaris Jenderal Majelis Ulama Indonesia Tengku Zulkarnain menantang siapapun untuk membuktikan ada anak menjadi rusak karena pernikahan dini.

baca juga:

Menurut dia tidak ada anak menjadi rusak karena pasal 7 ayat 1 Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1971 tentang Perkawinan sebelum direvisi MK.

Sebelum memenuhi judicial review terhadap pasal 7 ayat 1 yang diajukan kelompok masyarakat, ketentuan batas minimal usia perkawinan laki-laki yaitu 19 tahun, sedangkan perempuan yakni 16 tahun. Kelompok masyarakat menginginkan usia perempuan dinaikkan menjadi 19 tahun seperti laki-laki agar tidak terjadi diskriminasi gender dan efek turunan yang terjadi setelah pernikahan dini yaitu kesehatan reproduksi, ancaman kematian pada ibu hamil, dan anak serta gizi anak.

"Saran saya beginilah, Indonesia sudah merdeka 74 tahun ternyata yang nikah selama UU yang lama berlaku itu kan nggak ada yang rusak. Mana coba tunjukkan, berikanlah contoh kasusnya. Jadi kenapa UU harus direvisi, kecuali UU yang lama itu bikin rusak orang," kata Tengku ketika saya wawancara melalui telepon.

Menurut pandangan Tengku ketentuan batas minimal usia anak perempuan menikah dalam UU Perkawinan yang lama sudah pas dan sudah mempertimbangkan aspek keagamaan.

"Ya kalau secara pribadi saya, yang lama sudah bagus, 16 untuk perempuan, 19 tahun untuk laki-laki Sedangkan dengan 16 tahun saja sudah berapa banyak remaja kita yang melakukan perzinahan. Keberatannya dimana 16 tahun menikah?" kata Tengku.

Menurut Tengku kalau batas usia minimal anak perempuan dinaikkan, misalnya menjadi 21 tahun atau 22 tahun, justru terlalu tua.

Menurut Tengku juga, ketimbang mengurusi soal ketentuan usia perkawinan, pemerintah mestinya memperbaiki moral anak bangsa agar terhindar dari perilaku yang menyimpang, termasuk zina.

Ilustrasi - Hubungan Seksual. AKURAT.CO/Ryan

"Kalau sikap kami sih aturan yang lama sudah cukuplah usianya, nggak usah keras-keraslah menentukan itu (usia perkawinan). Sekarang ini yang penting bukan menaikkan usia perkawinan tetapi mencegah anak-anak remaja kita agar tidak melakukan zina. Itu yang paling penting supaya untuk memberikan pendidikan seksual dan upaya untuk menguatkan moral agar mereka tidak berzina," kata dia.

MUI, kata Tengku, tidak diajak mendiskusikan revisi UU Perkawinan usai keputusan MK.

Kendati menganggap revisi UU Perkawinan bukan prioritas, Tengku tetap memberikan penghormatan kepada langkah pemerintah selama moral anak bangsa juga menjadi perhatian.

"Nggak, dulu udah pernah itu kita didatangi kalau gak salah, UU yang lama itu suduh bagus. Kita gak menolak bagaimana baiknya saja lah. Kalau 19 tahun dianggap baik silakan saja yang penting demi kebaikan rakyat. Tapi yang paling penting moral anak-anak kita ini lah yang dijaga, jangan hanya sekadar menaikan usia kawin tapi moral anak-anak gak dijaga. Kalau gak salah sikap MUI seperti itu," kata Tengku.

Tetapi Tengku tidak percaya dengan argumentasi yang menyebutkan pernikahan dini membahayakan aspek kesehatan anak perempuan. Dia menyontohkan sejumlah teman sekolahnya dulu yang menikah muda, tetapi hingga sekarang masih hidup.

"Omong kosong aja, separuh kawan saya SD itu kawin semua. Yang lanjut SMP itu paling ada 7 orang perempuan, gak ada tuh yang mati, sampai sekarang masih hidup," ujar dia.

Banyak temuan yang menunjukkan makin muda usia ketika kawin, semakin rendah pendidikan yang dicapainya. Perkawinan anak juga sering membuat anak putus sekolah karena hamil atau karena punya tanggungjawab keluarga.

Tetapi menurut Tengku, rendahnya tingkat Pendidikan bisa diatasi dengan cara lain. Misalnya, anak mengikuti kejar paket A bagi yang tidak lulus SD, ikut paket B bagi yang tidak lulus SMP, dan kejar paket C bagi anak yang tidak lulus SMA.

Menurut dia pernikahan dini tidak berkorelasi dengan masalah pendidikan.

Ilustrasi  AKURAT.CO/Ryan

"Anak sekarang ini tamat SD tamat SMP sudah hebat kan, sudah pintar-pintar, bisa belajar lewat internet. Ada juga Universitas Terbuka, kan ada paket A, B, dan C juga. Jadi walaupun sudah menikah tapi pendidikan masih terbuka, kan ada paket c. Misalnya SMA kelas dua kawin muda, kan ada paket C, ikut terus lulus SMA juga, setelah itu bisa kuliah juga," kata dia.

Tengku menyebut argumentasi kalangan yang mengkorelasikan pernikahan dini dengan tingkat pendidikan sebagai mengada-ada.

"Di mana urusannya? Apa urusannya? Mengada-ada saja ini. Memang aneh saja saya lihat. Kawan saya begitu kok, saat sekolah kawin terus dia lulus kuliah juga kok, gak ada urusan. kalau saat SMA kawin gak tamat ya ikut paket C, abis ikut paket C kuliah juga dia. Jadi alasan itu alasan yang terlalu dibuat-buat saja, jadi gak matchinglah, gak masuk akal," Tengku menambahkan.

***

Ketua MUI bidang Hubungan Luar Negeri dan Kerjasama Internasional Muhyiddin Djunaidi mengatakan sah-sah saja revisi UU tentang Perkawinan.

Dalam ajaran Islam, kata Muhyiddin, anak yang sudah aqil baligh boleh dinikahkan. Tetapi, Muhyiddin menekankan hal itu tidak bisa dilakukan secara semena-mena, Indonesia merupakan negara yang berpedoman pada ketentuan perundang-undangan.

"Kalau dalam Islam itu selama dia sudah mencapai aqil baligh boleh dinikahkan, dalam teologi Islam syariah. Tapi kan kita hidup di sebuah negara yang punya UU dan aturan sehingga kita harus mengikuti aturan tersebut. Kalau dari aspek syar'inya boleh saja, seperti pernikahan Nabi Muhammad SAW dengan Siti Aisyah. Namun itu kan nggak bisa dilakukan di dunia modern seperti sekarang, dimana umur sekian anak itu baru SD, SMP," kata Muhyiddin ketika saya wawancarai melalui telepon.

Muhyiddin menambahkan MUI sudah berdiri sejak 1975. Lembaga ini memiliki komisi khusus urusan wanita dan pemberdayaan wanita di DPR. Dalam proses revisi UU Perkawinan, tentu MUI selalu dilibatkan.

MUI, katanya, selalu berpegang teguh pada aturan syariah, namun dalam waktu bersamaan juga harus patuh terhadap perundang-undangan yang berlaku.

Berbeda dengan sikap Tengku, Muhyiddin setuju bahwa pernikahan dini menimbulkan dampak pada berbagai aspek.

"Nah, pernikahan dini di bawah umur itu banyak menimbulkan masalah. Belum matangnya seorang untuk menjadi kepala rumah tangga itu menimbulkan sering terjadi perceraian. Jadi seseorang bisa saja dari sisi umur, 20 tahun, tapi perilakunya seperti anak-anak,” katanya.

Indonesia negara ke-7 di dunia dan ke-2 di Asean p. Dok: KPPPA

Dia menekankan pentingnya pendidikan akhlak dan pra nikah agar benar-benar siap mengarungi bahtera rumah tangga.

Terkait dengan tingkat perceraian, Muhyiddin membandingkan dengan warga Amerika Serikat yang umumnya menikah pada usia yang ideal atau cukup umur. Tetapi, di sana tingkat perceraiannya juga tinggi.

"Amerika justru tinggkat perceraian begitu tinggi, padahal mereka usia pernikahan juga sudah berumur. Jadi gak bisa diambil sebuah keputusan. Kadang orang yang sudah umur juga rentan akan masalah perceraian dalam keluarga. Jadi kembali lagi nanti faktor yang bisa menghindari terjadinya perceraian itu adalah iman dan akhlak. Oleh karena itu tidak hanya kita melihat dari satu sisi dan satu aspek, tapi berbagai dimensi," kata dia.

Muhyiddin sependapat dengan hasil penelitian yang menyebutkan pernikahan dini dapat meningkatkan resiko kesehatan, terutama pada anak perempuan. Sebab, organ reproduksi anak perempuan belum benar-benar matang, kalau terjadi kehamilan kebanyakan anak yang dihasilkan kurang asupan gizi, hingga dapat meningkatkan resiko kematian pada bayi maupun ibu.

"Ya kami memahami itu, alat reproduksi belum siap pada umur sekian, betul. Di daerah-daerah ada plus minusnya. Minusnya mungkin pengalaman kurang, harusnya kan sudah tamat SMA. Tapi kembali lagi kita harus lihat juga dari sisi yang lainnya," ujar Muhyiddin.

Dalam proses revisi UU tentang Perkawinan, kata Muhyiddin, posisi MUI akan cenderung akomodatif. Tetapi kalau batas minimal usia pernikahan ditambah menjadi terlalu tua atau terlalu mengikuti budaya barat, MUI akan menolak agar tak menimbulkan masalah sosial.

"Oleh karena itu kita berada di tengah-tengah, tidak terlalu tua dan tidak terlalu muda," kata Muhyiddin.

"Kalau dulu kan batasannya 20 dan 18, kan sekarang pemerintah ingin menaikkan kalau nggak salah 20-21 tahun dengan berbagai macam alasan. Alasan timbulnya masalah secara keluarga itu konon katanya disebabkan oleh umurnya yang belum dewasa. Sebetulnya itu relatif ya, sehingga tidak bisa mengambil sebuah kesimpulan. Kadang anak yang baru berumur 12-15 tahun karena faktor keluarga dia lebih dewasa daripada yang usia 20," kata Muhyiddin. []

Baca juga:

Tulisan 1: Kisah-kisah Perempuan Kawin Muda: Gugurkan Kandungan hingga Ditipu Lelaki Beristri

Tulisan 2: Berkali-kali Kawin dan Kandas Semua: Angka Nikah Dini di Berbagai Daerah yang Mencengangkan

Tulisan 3: Indonesia Juara Perkawinan Anak Setelah Kamboja: Tiap Hari, 39 Ribu Anak Perempuan di Dunia Dikawinkan

Tulisan 4: Kebanyakan Usia Perkawinan Anak Cuma Seumur Jagung

Tulisan 5: Kawin karena Hamil Duluan, Sekolah Nyaris Berantakan: Cerita Komunitas Muda Kampanye Cegah Pernikahan Dini

Tulisan 7: Revisi UU Perkawinan Mandeg di DPR, Eva: Mungkin karena Isu Perempuan atau Anak Kali Ya, Nggak Dianggap Penting

Tulisan 8: Interview Khusus Tsamara Amany: Kalau UU Perkawinan Nggak Segera Direvisi, Sangat Bahaya!

Editor: Siswanto

berita terkait

Image

News

Nikah Cepat

Interview Khusus Tsamara Amany: Kalau UU Perkawinan Nggak Segera Direvisi, Sangat Bahaya!

Image

News

Nikah Cepat

Revisi UU Perkawinan Mandeg di DPR, Eva: Mungkin karena Isu Perempuan atau Anak Kali Ya, Nggak Dianggap Penting

Image

News

Nikah Cepat

Kawin karena Hamil Duluan, Sekolah Nyaris Berantakan: Cerita Komunitas Muda Kampanye Cegah Pernikahan Dini

Image

News

Nikah Cepat

Kebanyakan Usia Perkawinan Anak Cuma Seumur Jagung

Image

News

Nikah Cepat

Indonesia Juara Perkawinan Anak Setelah Kamboja: Tiap Hari, 39 Ribu Anak Perempuan di Dunia Dikawinkan

Image

News

Nikah Cepat

Berkali-kali Kawin dan Kandas Semua: Angka Nikah Dini di Berbagai Daerah yang Mencengangkan

Image

News

Nikah Cepat

Kisah-kisah Perempuan Kawin Muda: Gugurkan Kandungan hingga Ditipu Lelaki Beristri

komentar

Image

0 komentar

terkini

Image
News

OHCHR Diminta Tidak Intervensi Kasus Veronica Koman

Jika ingin berikan saran akan ditampung.

Image
News

Lemahnya Pengawasan Restorasi Ekosistem Gambut Penyebab Terjadinya Karhutla

Potret krisis kemanusiaan akibat kerusakan lingkungan hidup yang disampaikan Jokowi sudah terbukti."

Image
News

Maskapai India Minta Kru Kabinnya Jalani Diet Rendah Lemak

Air India mengatakan akan menyediakan menu rendah lemak khusus untuk seluruh kru yang terbang

Image
News
Pilkada 2020

Gibran Rakabuming Temui Rudy di Rumah Dinas Loji Gandrung, Ada Apa?

Saat ditanya apakah keduanya membahas tentang politik, suami Selvi Ananda itu membantah.

Image
News

5 Jajanan Manis Tradisional Khas Yogyakarta yang Bikin Lidah Bergoyang

Sudah pernah coba yang mana?

Image
News

Dikecam Netizen, Berikut 5 Kontroversi Pernyataan Abu Janda

Netizen gemakan akun Abu Janda diblokir.

Image
News

Pesawat Rimbun Air Pengangkut Beras Bulog Dikabarkan Hilang Kontak di Papua

Dalam pesawat tersebut, terdapat beberapa orang dengan membawa cargo beras seberat 1700 kilogram.

Image
News

Politisi PPP Kritisi Kebijakan Bima Arya Soal Penggunaan Batik

Kebijakan ini terkesan aneh lantaran PNS harus membeli secara masing-masing batik tersebut seharga Rp225.000 per dua meter

Image
News

Analis: Narasi 'Taliban KPK' di Medsos Sangat Efektif Membentuk Opini Masyarakat

Yang pro revisi UU KPK sangat mendominasi.

Image
News

Protes Menteri Koruptor, Politisi Korsel Kompak Gunduli Kepala

Protes dikarenakan penunjukkan Cho Kuk sebagai Menteri Kehakiman

Banner Mandiri

trending topics

terpopuler

  1. Asap Pekat di Kalimantan dan Sumatra, AA Gym: Allah Sedang Memberikan Ujian ke Kita, juga Teguran

  2. Mengejutkan! Rambo dan 4 Artis Hollywood Ini Pernah Cicipi Industri Porno

  3. Sekarang KPK Wajib Menyerahkan Perkara Korupsi ke Penegak Hukum Lain, Jika....

  4. Sebut Masyarakat Indonesia Goblok, Warganet Yakin Tiga Setia Gara Idap Bipolar

  5. Sempat Dijauhi Masyarakat, Berikut 4 Kisah Sunny Leone Pasca Pensiun dari Industri Porno

  6. Ketika Quartararo Tahu Marquez Hanya 0,02 Detik di Belakangnya

  7. 7 Spanduk Nyeleneh saat Laga Persija vs PSIS, Obat Kuat sampai Pecel Lele

  8. Tahun Ini, 6 Zodiak Ini Bakal Beruntung dan Miliki Harta Berlimpah

  9. 5 Negara dengan Sistem Transportasi Terbaik di Dunia, Indonesia Peringkat Berapa?

  10. Diduga Settingan, Ini Fakta Video Viral Ibu-ibu Ribut Antre di Prasmanan Kondangan

fokus

Abortus
BJ Habibie Tutup Usia
Lindungi Perempuan

kolom

Image
Damai Mendrofa

Menangani Penyu, Sampai Tak Ada yang Ganggu

Image
Achmad Fachrudin

Dinamika Politik Jakarta Paska Pemindahan Ibukota

Image
Abdul Aziz SR

Perempuan dan Jabatan Publik

Image
Mujamin Jassin

Bamsoet dan Agenda Modernisasi Golkar

Wawancara

Image
Hiburan

Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan

Jadikan JILF Sebagai Pemantik Imajinasi

Image
Ekonomi

Eksklusif Mochamad Soebakir: Sebagai 'Jembatan' Konsultan Pajak Fungsinya Vital

Image
Olahraga

Bianca Andreescu

"Memenangi AS Terbuka Sebenarnya Terasa Aneh"

Sosok

Image
News

10 Pesona Muhammad Rafid, Cucu Keponakan BJ Habibie yang Geluti Sepak Bola

Image
Ekonomi

Mela Gunawan, Srikandi di Pusat Industri Kebugaran Indonesia

Image
Ekonomi

6 Fakta Menarik Andrew Darwis, Pendiri Kaskus yang Terseret Kasus Pemalsuan Dokumen