image
Login / Sign Up
Image

Ujang Komarudin

Direktur Eksekutif Indonesia Political Review (IPR) & Dosen FISIP Universitas Al-Azhar Indonesia (UAI) Jakarta

Merdeka atau Mati

Image

Petugas mengibarkan spanduk pada gladi resik upacara pengibaran bendera merah putih dalam akuarium Sea World, Taman Impian Jaya Ancol, Jakarta, Senin (12/8/2019). Pengibaran bendera merupakan gladi resik upacara menyambut Hari Ulang Tahun (HUT) RI ke-74 yang jatuh pada 17 Agustus mendatang. Acara itu turut dimeriahkan oleh penyanyi dan anak Adji Massaid, Aaliyah Massaid. | AKURAT.CO/Endra Prakoso

AKURAT.CO, Dua hari lagi, kita akan memperingati 74 tahun kemerdekaan RI. Kemerdekaan, yang harus disyukuri dan dinikmati. Sudahkah kita merdeka. Ataukah kita justru mati, tak berkutik karena kesenjangan, kemiskinan, dan kebodohan. 

Kemerdekaan, jangan sampai ditandai oleh nurani yang mati. Akal budi mati. Moral mati. Kebajikan mati. Kesadaran mati. Kejujuran mati. Dan jangan juga, yang merdeka itu kemunafikan, kedzoliman, keangkuhan, dan keserakahan.

Merdeka sejatinya, bukan hanya merdeka, secara the facto dan the jure, bahwa negara ini memang sudah merdeka. Namun kemerdekaan yang sesungguhnya, adalah merdeka secara jasmani dan rohani. Lahir dan batin.

Pidato Bung Karno, tentang Dasar Negara di depan sidang BPUPKI, Jakarta, 1 Juni 1945, dengan tegas mengatakan bahwa “Kemerdekaan hanyalah diperdapat dan dimiliki oleh bangsa yang jiwanya berkobar-kobar dengan tekad merdeka --- merdeka atau mati!”.

Kemerdekaan, tak akan didapat bagi mereka yang malas-malasan, tak kreatif, dan banyak mengeluh.

Kita memang sudah hidup di alam kemerdekaan. Dimana kebebasan pers sangat terbuka, kebebasan berserikat dan menyatakan pendapat di muka umum dijamin, dan bebas melakukan apapun, asal tidak bertentangan dengan norma dan aturan undang-undang.

Namun kita masih belum merdeka, dalam arti yang sesungguhnya. Belum merdeka dari impor. Belum merdeka dari utang. Belum merdeka dari korupsi. Belum merdeka dari narkoba. Dan belum merdeka dari kebobrokan moral.

Kita juga belum merdeka, dari kemiskinan dan kebodohan. Selama masih banyak rakyat yang miskin. Bangsa ini masih belum merdeka. Dan selama masih tinggi angka kebodohan. Disitu pula kita belum merdeka.

Kita belum merdeka, jika belum bebas dari kemiskinan dan kebodohan. Dan kita belum merdeka, jika kita belum sejahtera.

Kemerdekaan menuntut kesejahteraan. Jika suatu bangsa masih terjajah, secara ekonomi oleh negara lain. Tersandera oleh hutang ke negara luar. Terbelenggu oleh tekanan asing. Tak punya uang untuk membangun, maka sesungguhnya bangsa itu belum merdeka.

Apanya yang merdeka, jika kekayaan alam, ada di tangan segelintir orang kaya. Apanya yang merdeka, jika masih sulit mencari kerja. Apanya yang merdeka, jika korupsi masih merajalela. Dan apanya yang merdeka, jika hidup rakyat, masih merana dan menderita.

Sekali merdeka tetap merdeka, sepertinya harus tetap digelorakan. Merdeka akal dan pikiran. Merdeka jasmani dan rohani. Merdeka lahir dan batin. Merdeka dalam berkarya. Merdeka dalam berinovasi, berprestasi, dan berkreasi.   

baca juga:

Karena pilihan kita hanya dua. Merdeka atau mati. Jika tidak merdeka, maka kita akan mati. Tidak ada pilihan lain. Dimanakah posisi kita. Apakah kita sudah menjadi orang merdeka. Ataukah kita mati, tenggelam dan tergilas dalam arus perubahan dunia yang begitu cepat.

Tujuh puluh empat tahun, usia kemerdekaan RI akan diperingati. Sebuah usia yang cukup matang, bagi sebuah bangsa untuk mensejahterakan warganya.

Jangan sampai, hari kemerdekaan setiap tahun diperingati. Upacara bendera tidak pernah absen. Hormat kepada sang saka merah putih pun kita lakukan. Namun kita lupa dengan esensi kemerdekaan, yaitu kesejahteraan dan kebahagiaan.

Jangan sampai kemerdekaan RI, hanya dilakukan dengan seremonial semata. Tapi kita melupakan substansi. Cangkang kita perhatikan. Namun isi kita lupakan. Seremonial peringatan agustusan kita laksanakan. Namun kita melupakan kemakmuran.

Yang hebat adalah, kita memperingati kemerdekaan RI, yang ke-74 dengan riang-gembira, bahagia, dan penuh canda-tawa.

Buat apa merdeka, jika kita tidak bahagia. Buat apa kita merdeka, jika kita tidak sejahtera. Mari kita buat diri kita bahagia dan sejahtera. Bangsa yang merdeka, bisa membuat warganya bahagia dan sejahtera.

Jika suatu bangsa, warga negaranya tidak bahagia dan tidak sejahtera, maka patut dipertanyakan kemerdekaan, yang sudah dan sedang dirayakannya. Jika suatu negara, masih berpihak kepada orang kaya, dan mengabaikan rakyat biasa, maka semulah kemerdekaannya itu.

Merdeka bukan hanya merdeka, bebas dari penjajahan fisik bangsa lain. Namun merdeka, dari segala bentuk kedzoliman, penindasan, dan ketidakadilan juga penting. Bahkan sangat penting.

Merdeka dari bangsa lain. Bukan berarti kita merdeka, dari keserakahan anak bangsa sendiri. Anak bangsa yang menindas, dan bertindak sewenang-wenang, terhadap warganya, lebih berbahaya dari penjajahan bangsa lain.

Kemerdekaan RI yang ke-74, haruslah diisi dengan membangun karakter optimisme. Bangsa ini harus tetap bergerak. Republik ini harus tetap on the track. Dan negara ini harus tetap gagah perkasa.

Sementara ini, lupakan kesengsaraan, lupakan kesedihan, lupakan kepiluan, lupakan duka dan lara di hati. Lupakan, jika pemerintah masih belum bisa bertindak adil. Lupakan, jika negara masih belum bisa mensejahterakan.

Mari kita sambut kemerdekaan RI ke-74, dengan riang gembira dan kebahagiaan. Rakyat yang hebat adalah, rakyat yang memberikan pikiran dan tenaganya, demi Indonesia jaya. Bukan berpangku tangan menunggu bantuan negara. Memberi kepada negara. Bukan menerima.

Kalau kita tidak merdeka. Berarti kita akan mati. Agar kita masih tetap merdeka. Dan tidak mati, mka kita harus berpikir dan bertindak, dalam mengisi kemerdekaan, dengan hal-hal yang positif dan konstruktif. 

Merdeka atau mati itu soal pilihan. Itu terserah pilihan kita. Apakah kita, betul-betul ingin menjadi orang yang merdeka, lahir dan batin. Ataukah kita memilih mati, tak berdaya di tengah-tengah kehidupan, yang tak ramah kepada rakyat jelata.

Ada kalimat yang menginspirasi, yang dikemukakan Bung Tomo, dalam siaran radio menyongsong serangan sekutu ke Surabaya, “Kita tunjukkan bahwa kita adalah benar-benar orang yang ingin merdeka. Lebih baik kita hancur lebur daripada tidak merdeka”.

Semangat Bung Tomo itulah, harusnya menjiwai hari kemerdekaan RI ke-74 ini. Semangat itu pula, yang harus menginspirasi kita semua, agar kita selalu optimis dalam menjaga dan mengisi kemerdekaan. Merdeka atau mati. Silahkan Anda pilih yang mana. Dirgahayu RI ke-74.  Jayalah bangsaku. []

Editor: Ainurrahman

berita terkait

Image

News

Gigitan Terakhir KPK

Image

Olahraga

Uji Coba Internasional

Tanpa Sejumlah Bintang Utama, Chile, Uruguay, dan Kolombia Gagal Petik Hasil Sempurna

Image

News

Nasarudin Dinilai Berpeluang Menang di Pilkada Pelalawan

Image

Hiburan

Lucunya Aksi Nenek-nenek Semarakkan Gerak Jalan HUT RI Ke-74

Image

News

5 Kisah Konyol Dunia yang Pernah Ada, Wanita Terjebak Teralis karena Mata-matai Tetangga

Image

News

Aksi Sumpah Pakai Al-Quran, Pengamat: Airlangga Terlalu Berlebihan dan Lebai

Image

News

FOTO Potret Eks Pasukan Revolusi Kolombia di Kamp Reintegrasi

Image

News

Supaya Bisa Punya Wagub, Anies Disarankan Lakukan Hal Ini

Image

News

Peringati HUT RI ke-74, Kemendagri Gelar Gowes

komentar

Image

0 komentar

terkini

Image
News

Marak Anak di Bawah Umur Jadi Korban Perkosaan, Rakyat Pakistan Gelar Demo di Pengadilan

Peristiwa ini terjadi di Kasur, Punjab

Image
News

Pakar Hukum Tata Negara: Revisi UU untuk Penguatan KPK

Ini membantu tugas pemerintah dalam penegakan hukum, UU KPK dibuat dalam studi banding di beberapa negara.

Image
News

Tanahnya Dipakai Jadi Ibu Kota Baru Indonesia, Ini 5 Rekam Jejak Sukanto Tanoto

Seperti apa sosok Sukanto Tanoto?

Image
News

Bamsoet Minta Pemerintah Sikapi Kasus Bocornya Data Penumpang Lion Air

Pemerintah harus menyikapi kasus ini dengan serius.

Image
News

Dinilai Cacat Formil, Revisi UU KPK akan Digugat ke MK

Kami akan uji di MK. Apakah mereka betul-betul sudah melanggar hukum yang ditentukan Undang-Undang atau tidak.

Image
News

Mirip Drakor, Kasus Pembunuhan Berantai Paling Misterius di Korsel Akhirnya Terpecahkan

Lebih dari 2 juta petugas polisi dikerahkan untuk mengusut pembunuhan berantai tersebut

Image
News

Gara-gara Kabut, Nelayan Malaysia Salah Mendarat di Indonesia

Mereka akhirnya diselamatkan oleh Badan Penegakan Maritim Malaysia

Image
News

Margarito Kamis Sambut Baik Usulan Judicial Review UU KPK

Cara lain agar tidak ada tirani mayoritas.

Image
News

Pangdam XVIII/Kasuari: Saya Tidak Butuh Rekomendasi

"Saya butuh anak ini. Dia datang, dia siap jadi tentara"

Image
News

Krematorium Diminati Warga Surabaya karena Harganya Murah

Untuk yang paling mahal, peti dengan ketebalan 6 sentimeter dikenakan retribusi Rp3 juta.

Banner Mandiri

trending topics

terpopuler

  1. 5 Potret Nikita Willy Liburan ke Namibia, Bersuka Ria dengan Anak-anak Suku Himba

  2. Tak Diusung PDIP, Gerindra Nyatakan Siap Antarkan Gibran Rakabuming Maju Pilwalkot Solo

  3. Penyakit Ini Intai Kamu yang Kebiasaan Makan Berlebihan

  4. Kekayaan Pengusaha AS Ini Bertambah Rp28,2 Triliun Tiap Hari Karena Kisruh Minyak

  5. Pernah Jadi Artis dengan Bayaran Tertinggi hingga Meninggal Penuh Misteri, Ini 5 Fakta Sridevi

  6. Dapur Menyatu dengan Toilet! Gambaran Kesenjangan Ekonomi di Hong Kong

  7. 10 Potret Harmonis Afdhal Yusman dan Keluarga yang Jarang Terekspos

  8. Jarang Tersorot, 10 Potret Mesra Mumuk Gomez dan Kekasih yang Bikin Gemas

  9. UU KPK Hasil Revisi, Pimpinan KPK bukan Lagi Penyidik dan Penuntut Umum

  10. Tayang 19 September 2019, 5 Fakta Tentang Film 'Hayya: The Power of Love 2'

fokus

Abortus
BJ Habibie Tutup Usia
Lindungi Perempuan

kolom

Image
Damai Mendrofa

Menangani Penyu, Sampai Tak Ada yang Ganggu

Image
Achmad Fachrudin

Dinamika Politik Jakarta Paska Pemindahan Ibukota

Image
Abdul Aziz SR

Perempuan dan Jabatan Publik

Image
Mujamin Jassin

Bamsoet dan Agenda Modernisasi Golkar

Wawancara

Image
Hiburan

Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan

Jadikan JILF Sebagai Pemantik Imajinasi

Image
Ekonomi

Eksklusif Mochamad Soebakir: Sebagai 'Jembatan' Konsultan Pajak Fungsinya Vital

Image
Olahraga

Bianca Andreescu

"Memenangi AS Terbuka Sebenarnya Terasa Aneh"

Sosok

Image
News

Tanahnya Dipakai Jadi Ibu Kota Baru Indonesia, Ini 5 Rekam Jejak Sukanto Tanoto

Image
Ekonomi

Mengenal Sukanto Tanoto, Sang Penguasa Lahan HTI Ibu Kota Baru

Image
News

Wilayahnya Diserbu Asap Malah ke Kanada, Ini 4 Fakta Wali Kota Pekanbaru Firdaus