Akurat.co - Cepat Tepat Benar
Login / Sign Up

Rekayasa Cuaca Datangkan Air dari Langit: Kalau Musim Kemarau Kita Nggak Bisa Panen Hujan

Herry Supriyatna

Kemarau Dahsyat

Rekayasa Cuaca Datangkan Air dari Langit: Kalau Musim Kemarau Kita Nggak Bisa Panen Hujan

Rocket hujan buatan | ANTARA

AKURAT.CO, * Sebanyak 28 provinsi memiliki resiko sedang sampai tinggi mengalami kekeringan dengan luas wilayah 11.774.437 hektar. Warga yang terpapar efek kekeringan mencapai 48.491.666 jiwa.
* Sekarang ini, sebanyak 55 kepala daerah sudah menetapkan siaga darurat kekeringan lewat Surat Keputusan Bupati dan Wali Kota tentang Siaga Darurat Bencana Kekeringan.
* BPPT sesungguhnya sudah siap melaksanakan modifikasi cuaca. Tapi, kata Kepala Balai Besar Teknologi Modifikasi Cuaca BPPT Tri Handoko Seto, sejauh ini belum bisa dilakukan lantaran menunggu giliran menggunakan pesawat TNI AU.

***

Lebih dari 48 juta warga yang tinggal di 28 provinsi terdampak kekeringan tahun ini.

baca juga:

Deputi Bidang Koordinasi Kerawanan Sosial dan Dampak Bencana Kementerian Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Dody Usodo Hargo Suseno mengutip data Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika bahwa potensi dampak kekeringan tahun 2019 lebih parah jika dibandingkan 2018.

Sebanyak 28 provinsi memiliki resiko sedang sampai tinggi mengalami kekeringan dengan luas wilayah 11.774.437 hektar. Warga yang terpapar efek kekeringan mencapai 48.491.666 jiwa.

Dody Usodo mengatakan kemarau tahun ini dimulai sejak Juni dan akan bertahan hingga Oktober nanti. “Nanti puncak kekeringan terjadi di bulan Agustus ini dan kekeringan tahun ini akan melebihi kekeringan pada tahun 2018," kata Dody Usodo.

Menurut Dody Usodo memang fenomena ini merupakan risiko daerah tropis.

“Sekarang di Indonesia ini ada satu daerah yang masih kena banjir, ada satu daerah terdampak kebakaran hutan dan lahan. Tapi ada juga daerah yang kekeringan dan mengalami kekeringan," kata dia.

Sekarang ini, sebanyak 55 kepala daerah sudah menetapkan siaga darurat kekeringan lewat Surat Keputusan Bupati dan Wali Kota tentang Siaga Darurat Bencana Kekeringan, di antaranya Banten, Jawa Barat, Yogyakarta, Jawa Tengah, Jawa Timur, Nusa Tenggara Barat, dan Nusa Tenggara Timur.

Kekeringan di Jawa Tengah. AKURAT.CO/Dafi Yusuf

Ada empat upaya yang sekarang sudah dilakukan pemerintah untuk menanggapi darurat kekeringan di 28 provinsi. 

Pertama, mendistribusikan air bersih sebanyak 7.045.400 liter. Kedua, penambahan jumlah mobil tangki air dan hidran umum. Ketiga, memperbanyak pembuatan sumur bor. Keempat, lebih gencar melakukan kampanye kepada masyarakat agar hemat dalam menggunakan air.

"Tentunya potensi bencana kekeringan dan kebakaran hutan maupun lahan penting untuk diwaspadai," kata Dody Usodo.

Selain empat hal tersebut, upaya lain untuk menangani bencana kekeringan, kementerian berkoordinasi dengan Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi untuk melakukan modifikasi cuaca melalui hujan buatan.

Namun proses modifikasi cuaca sejauh ini terkendala pesawat yang akan mengangkut alat dan bahan untuk penyemaian awan. Pesawat yang digunakan milik Tentara Nasional Indonesia Angkatan Udara berjenis CN295.

"Jadi kendalanya masih menunggu pesawat. Kalau begitu pesawatnya siap digunakan, maka akan segera kita operasikan. Alat dan bahan semuanya sudah siap," kata Dody Usodo.

***

Wajah Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana Doni Monardo sore itu terlihat lelah. Tapi, dia tetap menyampaikan keterangan pers dengan penuh semangat.

Hingga Juli lalu, BNPB mendapatkan banyak permohonan hujan buatan dari kepala daerah untuk mengatasi dampak kekeringan.

Sesuai arahan Presiden Jokowi, BNPB sedang menyiapkan segala sesuatu yang berhubungan dengan bantuan hujan buatan.

“Oleh karenanya, BNPB tentu tidak bisa sendirian. Perlu kerjasama dengan beberapa lembaga khususnya BMKG, BPPT, dan markas besar TNI,” ujar Doni.

Doni Monardo . Sekretariat Kabinet

Doni mengatakan teknologi modifikasi cuaca tergantung dari keadaan awan. Apabila awannya masih tersedia, maka sangat mungkin hujan buatan masih bisa dilakukan.

Untuk jangka menengah dan panjang, Doni beberapa waktu yang lalu sudah melaporkan kepada Presiden Jokowi tentang pentingnya penyiapan bibit pohon agar masyarakat bisa menjaga lingkungan dan juga tersedianya sumber air.

Dari beberapa pengalaman yang ada, jenis pohon tertentu memiliki kemampuan menyimpan air, antara lain sukun.

“Jadi kalau tiap desa punya sukun yang cukup banyak, sangat mungkin akar sukun itu bisa mengikat air sehingga ketika musim kemarau panjang, sumber air di desa itu masih bisa terjaga. Termasuk juga pohon aren,” kata dia.

***

Rapat bersama BPPT, BNPB, BNPB, BMKG, dan lembaga terkait yang berlangsung beberapa waktu yang lalu menyepakati pembangunan dua posko teknologi modifikasi cuaca. Dua posko itu berada di Bandara Halim Perdana Kusuma (Jakarta Timur) dan di Kupang, Nusa Tenggara Timur).

BPPT sesungguhnya sudah siap melaksanakan modifikasi cuaca. Tapi, kata Kepala Balai Besar Teknologi Modifikasi Cuaca BPPT Tri Handoko Seto, sejauh ini belum bisa dilakukan lantaran menunggu giliran menggunakan pesawat TNI AU.

Tri Handoko Seto. AKURAT.CO/Herry Supriyatna

"Sampai saat ini semua masih dalam persiapan. Jadi kita belum melakukan operasi penyemaian, mudah-mudahan di akhir minggu ini. Selama-lamanya minggu depan akan kita mulai karena terus terang saja pesawatnya menggunakan pesawat TNI. Jadi pesawat CN295 baik di TNI sendiri penggunaan pesawatnya yang cukup padat sekali. Kita menunggu waktu yang tepat," kata Seto.

Seto mengatakan setelah CN295 siap, BPPT segera melakukan proses penyemaian awan untuk menciptakan hujan buatan.

"Dan jumlah air yang kita butuhkan untuk ukuran hutan misalnya, sekitar 1 juta M3. Jadi bisa membasahi lahan gambut yang ketebalannya 36 meter untuk Indonesia. Dengan demikian tidak akan menggoda orang untuk membakar lahan gambut dan tidak mudah terbakar juga gambutnya. Seperti itu," Seto menambahkan.

Seto menjelaskan teknologi modifikasi cuaca merupakan campur tangan manusia terhadap proses dalam atmosfer.

"Jadi kalau teman-teman biasa melihat mendung kadang-kadang tidak jadi hujan itu memang kemudian riset orang. Kalau di Indonesia itu hanya dinyanyikan saja. Kalau di negara-negara maju itu diriset mengapa mendung jadi hujan, mengapa mendung tidak jadi hujan," kata dia.

Seto mengungkapkan konsep teknologi ini, jika ada daerah yang tidak menginginkan turun hujan, maka teknologi mendung yang ada dibuat menjadi mendung yang berperilaku seperti mendung alam yang tidak menjadi hujan.

Kekeringan di Jawa Tengah. AKURAT.CO/Dafi Yusuf

Sebaliknya, kalau menginginkan turun hujan, mendungnya dibuat agar mempunyai karakteristik seperti awan yang akan jadi hujan. Caranya dengan memberikan bahan-bahan tertentu.

Teknologi modifikasi cuaca berhasil diterapkan pada perhelatan Sea Games di Jakabaring, Palembang, Sumatera Selatan. Ketika itu, Palembang diselimuti mendung. BPPT kemudian mengubah perilaku mendung menjadi cepat, menjadi hujan atau memperlambatnya.

"Intinya kita obatilah, kita terbang ke awan kemudian awannya kita beri bahan tertentu sehingga mendung itu bisa berperilaku seperti yang kita harapkan atau inginkan. Kalau ada mendung yang mau masuk ke Jakarta yang rawan banjir, mendungnya kita percepat supaya jadi hujan saat sebelum masuk ke Jakarta," ujar Seto.

Teknologi ini juga bisa diterapkan untuk mengurangi polusi udara seperti Jakarta. Caranya dengan membongkar sedikit lapisan atmosfer sehingga polutan yang mengendap di sana dapat berkurang.

"Bahkan kalau kemarin ramai-ramai polusi DKI Jakarta, kemudian kita bagaimana polutannya tidak mengendap di lapisan bawah atmosfer. Tetapi bagaimana lapisan yang stabil bisa kita bongkar supaya polutannya sedikit terdistribusi ke atas. Itu lah cara-cara TMC," kata dia.

Selain dengan menggunakan pesawat untuk membawa bahan-bahan, teknologi modifikasi cuaca juga bisa dilakukan dengan mendirikan menara atau menggunakan roket.

Untuk penggunaan roket, di Indonesia aturannya sangat ketat sehingga tidak mudah dilakukan. Salah satu alasanya, khawatir mengganggu penerbangan. Roket untuk membaha bahan-bahan modifikasi sudah diterapkan di Cina.

Kekeringan Melanda Kota Hujan Seminggu Terakhir. ANTARA FOTO/Yulius Satria Wijaya

"Di Cina menggunakan roket dan seterusnya. Kalau di Indonesia itu dilarang, padahal saya buat roketnya, sudah kita dicoba di hutan-hutan. Tetapi kalau mau dioperasikan tidak boleh karena mengganggu penerbangan. Kalau di Cina negaranya asalkan bilang boleh, ya boleh. Nah di Indonesia masih banyak menggunakan pesawat terbang dan modifikasi cuaca. Gambarannya seperti itulah," kata Seto. 

Seto optimistis dampak kemarau tahun 2015 tidak akan terulang pada tahun ini, walau tahun ini diprediksi lebih parah dari tahun 2018.

Menurut dia kekeringan parah pada 2015 disebabkan memanasnya suhu muka laut di Samudra Pasifik bagian tengah hingga timur

"Kalau 2015 itu ada elnino kuat. Elnino kuat berakibat pada keringnya. Bila Indonesia sekarang ini elninonya lemah, sehingga tidak sebesar itu potensi ancaman nyata. Tapi potensi ancaman tahun 2019 lebih besar dari pada 2018, namun lebih kecil daripada 2015. Oleh karena itu antisipasinya kita melaksanakan teknologi modifikasi cuaca," ujar Seto.

Teknologi hujan buatan sudah lebih dulu diterapkan untuk menangani kebakaran hutan dan lahan di Riau. Seto berharap teknologi ini juga bisa segera dilaksanakan di provinsi lain.

"Dalam rapat sudah merekomendasikan agar TMC bisa dilaksanakan di beberapa provinsi lainnya. Nanti kita juga akan koordinasikan ke BNPB, kemudian dilaksanakan. Kami dari BPPT hanya punya teknologinya, pembiayaannya pakai duit negara melalui BNPB. Jadi menunggu pengerjaan BNPB," katanya.

Menurut Seto sebenarnya waktu ideal mengantisipasi bencana kekeringan itu sebelum kemarau datang atau ketika curah hujan masih tinggi.

Kebakaran Lahan di Sumsel Meluas Hingga Ratusan He. ANTARA FOTO/Ahmad Rizki Prabu

“Kalau musim kemarau ya kita nggak bisa panen hujan, hujannya nggak ada," kata dia.

“Jadi lebih mudah ketika kita semua baik pusat maupun daerah dan juga masyarakat melakukannya sejak musim hujan. Di situ banyak kan bisa kita lakukan antara lain melakukan pemanenan hujan.”

Seto juga sejak lama sudah menyarankan mengacu pada pengalaman Thailand dalam mengantisipasi kekeringan.

Sebelum memasuki musim kemarau, negeri gajah putih itu memastikan semua waduk, embung, dan danau terisi penuh sehingga ketika datang kemarau, tidak kelimpungan sendiri.

"Tindakan seperti ini tentu harus ada sinergi antara pusat dan daerah. Sehingga begitu memasuki musim kemarau, cerita-cerita kekurangan air minum sampai puso itu sudah tidak ada lagi," kata Seto.

Seto berharap di tahun-tahun mendatang, negeri ini tidak lagi mengalami empat musim, cukup dua musim saja (kemarau dan hujan).

"Tidak ada musim kering, ya kering boleh, tapi jangan musim kekeringan. Musim itu cukup musim kemarau dan musim hujan saja. Tak ada lagi musim kekeringan, kebakaran, banjir dan seterusnya," kata Seto. []

Baca juga:

Tulisan 1: Kisah Petani Jadi Kuli Bangunan hingga Salat Minta Hujan: Cobaan Apalagi yang Ingin Diuji kepada Kita

Tulisan 2: Kemarau 2019 Lebih Dahsyat Ketimbang 2018: Ada yang Untung, Ada yang Buntung

Tulisan 4: Reaksi Jokowi Begitu Tahu Penderitaan Masyarakat Akibat Kemarau Panjang

Tulisan 5: Masukan Buat Pemerintah Agar Tak Asal-asalan Tangani Kekeringan

Tulisan 6: Peristiwa-peristiwa Besar yang Terjadi pada Kemarau Panjang Masa Lalu: Interview Periset Sejarah

Editor: Siswanto

berita terkait

Image

News

Kemarau Dahsyat

Peristiwa-peristiwa Besar yang Terjadi pada Kemarau Panjang Masa Lalu: Interview Periset Sejarah

Image

News

Kemarau Dahsyat

Masukan Buat Pemerintah Agar Tak Asal-asalan Tangani Kekeringan

Image

News

Kemarau Dahsyat

Reaksi Jokowi Begitu Tahu Penderitaan Masyarakat Akibat Kemarau Panjang

Image

News

Kemarau Dahsyat

Kemarau 2019 Lebih Dahsyat Ketimbang 2018: Ada yang Untung, Ada yang Buntung

Image

News

Kemarau Dahsyat

Kisah Petani Jadi Kuli Bangunan hingga Salat Minta Hujan: Cobaan Apalagi yang Ingin Diuji kepada Kita

komentar

Image

0 komentar

terkini

Image
News
DPR RI

Penyebab Kebakaran di Gedung DPR, Sekjen: Ada Tumpukan Kabel Terkena Percikan Las

Tumpukan kabel yang bersifat karet terkena percikan las hingga mengeluarkan asap.

Image
News

Anies Larang Warga Makan di Restoran saat PSBB, Pengusaha: Kami Mohon Kebijakan Tersebut Dicabut

Belum ditemukan klaster rumah makan dan restoran yang terpapar Covid-19 jadi alasan pengusaha minta kebijakan Anies dicabut

Image
News

Ketua DPD: Kami Dorong Pemerintah Terbitkan Perppu dan PP Otonomi Daerah

Moratorium DOB itu harusnya jadi tantangan bagi daerah untuk berinovasi mengembangkan potensi daerahnya.

Image
News
MPR RI

Bamsoet: DPD Perlu Jadi Penyeimbang dalam Pelaksanaan Tugas DPR dan Pemerintah

DPD memang perlu diperkuat kewenangannya bukan hanya dalam bidang legislasi melainkan juga fungsi pengawasan dan anggaran.

Image
News
DPR RI

Longsor di Tarakan, Ketua DPR: Bencana di Tengah Pandemi Covid-19 Perlu Diwaspadai

Saat ini DPR RI tengah membahas RUU Penanggulangan Bencana.

Image
News

DPD Dorong Terbitnya PP Pembentukan Desartada Sebagai Roadmap Penataan Daerah Otonom

Pemerintah pusat harus membantu dan bekerjasama dengan pemerintah daerah dalam upaya meningkatkan pendapatan asli daerah

Image
News

Fadli Zon Diledek Soal Pembubaran Deklarasi KAMI: Belum Ngopi ya Zon?

Deklarasi KAMI Jatim di Gedung Juang 45, Surabaya pada Senin (28/9/2020) batal.

Image
News

Muncul Amoeba Pemakan Otak, Texas Tetapkan Darurat Bencana

Pemerintah setempat menetapkan kasus darurat bencana sejak Minggu (27/9), terutama di wilayah Brazoria County, termasuk Lake Jackson

Image
News

Terjadi Gelombang Tinggi di Perairan Selatan Jabar-DIY, BMKG Imbau Nelayan Waspada

Tinggi gelombang lebih dari 1,25 meter dan kecepatan angin di atas 15 knot berbahaya bagi perahu nelayan.

Image
News

HUT DPD, LaNyalla: Sejak Berdiri Sampai Agustus, DPD Lahirkan 749 Keputusan

Dalam perjalanannya DPD RI telah memberikan penguatan sistem demokrasi, khususnya dalam hal menampung aspirasi masyarakat dari tiap daerah

terpopuler

  1. Doa Bagi Orang Tua, Agar Anak-anaknya Sukses Dunia Akhirat

  2. Ulang Tahun ke-73, 5 Potret Lawas Luhut Pandjaitan Tampak Gagah Sejak Muda

  3. Ardi Bakrie Selama Ini Biayai Hidup Keluarga Nia Ramadhani

  4. Ivan Gunawan Ngaku Sudah Lama Tak Komunikasi dengan Ayu Ting Ting

  5. Pengakuan Teddy Gusnaidi Pernah 'Hajar' Gatot Nurmantyo

  6. 5 Fakta Penting Silvany Austin Pasaribu, Diplomat Muda yang 'Lawan' Vanuatu di Sidang Umum PBB

  7. Perpanjang PSBB Ketat, Elektabilitas Anies Makin Anjlok

  8. Viral Anak Dibuang Orang Tua Disertai Surat dari Sang Ibu, Begini Faktanya

  9. Bicara Soal Perselingkuhan, Nia Ramadhani : Gak Bisa Nyalahin Salah Satunya

  10. Perantau dari Batam Salah Masuk RS di Jakarta, Biaya Pasien Covid-19 Dipatok Selangit

tokopedia

fokus

Webinar Akurat: Peran Strategis IJK
Akurat Solusi : Roadmap IHT
Webinar Akurat: Resesi Ekonomi

kolom

Image
Achsanul Qosasi

Komunisme dan Kearifan

Image
Dr. Abd. Muid N., MA.

Pandemi dan Pohon Khuldi

Image
UJANG KOMARUDIN

Pilkada yang Tak Ditunda

Image
Arif Hidayat

3 Cara untuk Anda Bisa Menjadi Karyawan Terbaik

Wawancara

Image
Iptek

Saat Dominasi Kontraktor Besar Masih Kejam

Image
Video

Akurat Talk

VIDEO Fahri Hamzah: Saya Dari Kecil Jualan Kopi | Akurat Talk (2/2)

Image
Video

Akurat Talk

VIDEO Ngomongin Hobi Sampai Harga Outfit Fahri Hamzah | Akurat Talk (1/2)

Sosok

Image
News

5 Gaya Presiden Jokowi Gowes Pagi, Tampil Keren dengan Sepeda Produk Lokal

Image
News

Cerita Cawagub Kaltara Undunsyah Raih Pendidikan, Tak Mampu Naik Pesawat Perahu pun Jadi

Image
News

Ulang Tahun ke-73, 5 Potret Lawas Luhut Pandjaitan Tampak Gagah Sejak Muda