image
Login / Sign Up

Kisah Petani Jadi Kuli Bangunan hingga Salat Minta Hujan: Cobaan Apalagi yang Ingin Diuji kepada Kita

Dafi Yusuf

Kemarau Dahsyat

Image

Dampak kekeringan di Jawa Tengah | AKURAT.CO/Dafi Yusuf

AKURAT.CO, Tulisan edisi pekan ini mengangkat topik musim kemarau dan dampaknya bagi kehidupan. Dampaknya sudah terasa di berbagai daerah. Mulai dari sawah mengering, gagal panen, sumber air berkurang, kebakaran hutan dan lahan, hingga cuaca sangat panas.

Tulisan pertama menceritakan nasib petani di daerah, khususnya Pulau Jawa. Di antara mereka ada yang beralih pekerjaan sambil berharap-harap hujan segera datang. Bahkan di salah satu daerah di Jawa Barat, saking parahnya dampak kemarau yang dirasakan, warga salat berjamaah untuk meminta Tuhan mendatangkan hujan.

Tulisan berikutnya hasil kajian otoritas terkait tentang fenomena elnino, serta data-data sebaran dampak kemarau, juga titik-titik hotspot. DIlanjutkan dengan apa yang dilakukan pemerintah pusat dan daerah dalam menangani kekeringan yang makin menambah penderitaan rakyat.

baca juga:

Pakar lingkungan akan menyoroti langkah yang telah dilakukan pemerintah sudah tepat atau belum.

Untuk mendapatkan informasi lebih lengkap, silakan membaca bagian-bagian tulisan dari pertama hingga terakhir.

***

* Darsono beralih jadi tukang bangunan sambil berharap-harap kemarau tahun ini segera berganti musim hujan tanpa terlambat datang.
* BPBD Provinsi Jawa Barat menyatakan sebanyak 20 kabupaten dan kota hingga 5 Agustus 2019 terdampak kekeringan. Luasan daerah yang mengalami kekeringan bertambah hanya dalam waktu sebulan. Hingga 17 Juli lalu baru 13 kabupaten dan kota.
* Jumat 9 Agustus lalu, masyarakat Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, melaksanakan salat istisqa untuk minta hujan.

***

Setiap pagi hari, Darsono, pergi ke proyek bangunan yang ada di sekitar Dusun Dombo, Desa Sukorejo, Kecamatan Suruh, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah.

Selebihnya, dia mengerjakan aktivitas lain yang sekiranya bisa menghasilkan uang untuk mencukupi kebutuhan keluarga.

Siang hari itu kebetulan dia sedang berada di rumah. Ketika bincang-bincang dengan saya, sesekali, matanya menatap ke arah hamparan sawah yang tanahnya kering kerontang.

Kekeringan di Jawa Tengah. AKURAT.CO/Dafi Yusuf

Kekeringan memaksa petani berusia 57 tahun itu menjadi tukang bangunan. Dia membiarkan sawahnya meranggas karena memang dia sudah tak punya cara lagi untuk mengairi.

Darsono untuk semntara beralih jadi tukang bangunan sambil berharap-harap kemarau tahun ini segera berganti musim hujan, tanpa terlambat datang.

Penghasilan jadi tukang bangunan tidaklah seberapa. Sehari bayarannya hanya Rp50 ribu.

Tapi dia harus melakukannya. Dia harus tetap mencari nafkah untuk menghidupi istri serta kedua anak. Anak pertama bernama Safa Astuti kini duduk di bangku sekolah menegah atas dan Andi Sulistyo masih sekolah tingkat dasar.

“Ya walau penghasilan tidak banyak, mau tak mau harus dicukupkan. Mau bagaimana lagi, hanya ini upaya yang dapat saya lakukan untuk menafkahi keluarga saya,” kata Darsono yang hanya lulusan sekolah dasar.

“Saya berharap, anak-anak saya ini dapat mengangkat martabat keluarga agar tidak sama seperti orangtuanya,” Darsono menambahkan.

Bagi Darsono menjadi petani bagai bermain dadu, kadangkala untung, kadangkala buntung. Ya seperti sekarang ini, gagal panen. Menjadi petani, kata dia, tergantung pada kebaikan alam.

Dengan wajah sendu, Darsono menunjukkan berkarung-karung pupuk padi yang ditempatkan di pekarangan rumah. Pupuk itu dulu dia niatkan untuk dipakai pada musim tanam sekarang ini. Tapi apa daya, semua di luar dugaan. Kemarau datang berlama-lama sehingga tanah sawah merekah semua.

Kekeringan di Jawa Tengah. AKURAT.CO/Dafi Yusuf

“Jadi ini merupakan pupuk yang rencananya akan digunakan untuk musim ini. Namun alam berkehendak lain. Akhirnya sekarang saya biarkan mangkrak di pekarangan rumah,” kata Darsono sembari menghitung karung pupuk.

Puluhan karung pupuk masih tersusun. Beberapa sudut karung terlihat sudah sobek dan berwarna kecoklat-coklatan akibat cuaca.

Kekeringan tak hanya terjadi di Dusun Dombo, menurut data laporan yang saya dapatkan dari Desa Sukorejo, petani Dusun Krajan, Ciplen Kalitulang, Glagahombo, Kirang, dan Randurancang juga bernasib sama. Di Kawasan itu, sebagian sawah hanya mengandalkan air hujan, sebagian lagi semi irigasi.

Di tengah bincang-bincang, sekitar jam 02.00 WIB, Darsono pamit untuk menunaikan salat zuhur.

Sambil menunggu Darsono selesai salat, saya melihat-lihat lingkungan sekitar.

Di belakang rumah Darsono terdapat sebuah sumur tua. Sumur itu masih penuh air, kontras dengan kondisi sawah yang tanahnya retak dan tumbuh-tumbuhannya mati.

Tak lama kemudian, Darsono terdengar ke luar dari dalam rumah. Dia datang dengan menenteng wadah berisi tempe mendoan yang sudah digoreng dan wedang. Sembari menikmati makanan itu, Darsono menanggapi keingintahuan saya tentang sumur tua.

Salah satu sumur milik warga di Jawa Tengah. AKURAT.CO/Dafi Yusuf

“Sebenarnya, kalau hanya untuk kebutuhan sehari-hari air dari sumur cukup. Namun untuk ladang yang ditanami padi kan membutuhkan air yang tak sedikit,” kata dia.

Pada musim kemarau, biasanya petani mengandalkan air sungai yang disedot dengan mesin pompa, lalu dialirkan ke sawah.

Selain itu, pertanian seluas sekitar 40 hektar di sana biasanya juga diairi dari bendungan Kali Serang. Tapi pada musim kemarau panjang kali ini, kedua sumber air tak bisa diandalkan lagi.

“Kalau misal air dari bendungan ada, kekeringan akan dapat dicegah,” kata Darsono.

“Jadi kita tidak bisa mengandalkan bendungan tersebut. Kalau bisa mungkin itu bisa menjadi salah satu solusi bagi para petani yang ada di sekitar sini,” Darsono menambahkan.

Darsono dan petani-petani lainnya sekarang ini hanya bisa berdoa semoga musim hujan segera tiba.

“Semoga kemarau panjang ini dapat cepat terlewati agar saya bisa bertani kembali,” katanya.

***

Kondisi yang sama juga dirasakan Sri Astuti dan suaminya, Tanto. Mereka tidak bersemangat kalau ingat gagal panen yang baru saja dialami. Mereka rugi sampai jutaan rupiah, bahkan meninggalkan utang untuk membeli pupuk.

“Jelas sangat sedih, seolah-olah apa yang kita upayakan ini sia-sia. Kita tak tau lagi harus bagaimana. Rasanya kaget dan hanya bisa menangis saat itu,” kata Tanto. Matanya berkaca-kaca.

Keluarga petani ini ketika itu nekat menanam padi karena hanya dari hasil bumi mereka bisa mencukupi kebutuhan hidup.

Kekeringan di Jawa Tengah. AKURAT.CO/Dafi Yusuf

Tapi, beban penderitaan mereka sebenarnya tak begitu berat karena kedua anak sudah berkeluarga. Seandainya anak-anak belum mandiri, Sri dan Tanto tak tahu lagi harus bagaimana menghadapi.

“Mungkin akan cari pinjaman ke yang lain. Itupun saya masih ragu karena tidak tahu-tahu kapan melunasinya,” kata dia.

Tanto terdiam sejenak. Lalu dia melanjutkan kalimat yang nadanya lebih tinggi.

“Cobaan apalagi yang ingin diuji kepada kita,” kata dia.

Melihat suami istri itu begitu emosional, saya tak melanjutkan pertanyaan soal dampak kemarau bagi kehidupan mereka. Obrolan saya alihkan ke topik-topik lainnya sebelum pamitan.

***

Kekeringan tak hanya terjadi pada lahan pertanian di Jawa Tengah. Di Provinsi Banten juga begitu memprihatinkan keadaannya.

Di Kabupaten Lebak saja, menurut data Seksi Perlindungan Tanaman Dinas Pertanian dan Perkebunan Kabupaten Lebak sampai awal Agustus, tercatat seluas 2.760 hektar tanaman padi kehabisan air. Berdasarkan data Posko Mitigasi Kekeringan yang dilaporkan Antara, 1.984 hektar kekeringan kategori ringan, 441 hektar kategori sedang, dan seluas 335 hektar kategori berat.

"Kami yakin jika dua pekan tidak turun hujan, banyak tanaman padi mati dan gagal panen," kata Kepala Seksi Perlindungan Tanaman Dinas Pertanian dan Perkebunan Kabupaten Lebak Itan Octarianto.

Kekeringan yang menimpa ribuan hektar tanaman padi tentu saja berdampak terhadap produksi pangan.

Angka tanam hingga awal Agustus 2019 di 28 kecamatan mencapai 35.913 hektar, namun dilaporkan seluas 323 hektar di Kecamatan Wanasalam mengalami gagal panen.

"Kami memastikan kekeringan itu meluas dan jumlah areal persawahan terus meningkat," kata Itan.

Petugas Organisme Pengganggu Tanaman Kecamatan Cipanas, Kabupaten Lebak, Muhyidin, menambahkan kekeringan yang menimpa tanaman padi di wilayahnya hingga kini menembus 80 hektar dan tidak tertutup kemungkinan meluas.

Kekeringan di Jawa Tengah. AKURAT.CO/Dafi Yusuf

Saat ini, angka tanam di wilayahnya mencapai 600 hektar dan bakal gagal panen jika tidak hujan dalam dua pekan ke depan.

"Kami hanya melakukan penanganan dengan pompa air pada areal persawahan yang memiliki potensi air permukaan," ujarnya.

Hal serupa juga dirasakan petani di sebagian besar Provinsi Jawa Barat.

BPBD provinsi itu menyatakan sebanyak 20 kabupaten dan kota hingga 5 Agustus 2019 sudah terdampak.

Luasan daerah yang mengalami kekeringan bertambah hanya dalam waktu sebulan. Dalam pernyataan tertulis kepada jurnalis, Kepala Seksi Rehabilitasi dan Rekonstruksi BPBD Provinsi Jawa Barat Budi Budiman Wahyu mengatakan hingga 17 Juli 2019 hanya ada 13 kabupaten dan kota yang terdampak kekeringan.

Kedua puluh daerah yang terdampak kekeringan tersebar di Kabupaten Bekasi, Kabupaten Bogor, Kota Bogor, Kabupaten Karawang, Kabupaten Bandung Barat, Kabupaten Sumedang, Kota Tasikmalaya, Kabupaten Bandung, Kabupaten Sukabumi, Kabupaten Purwakarta, Kabupaten Subang, Kota Cirebon, Kabupaten Kuningan, Kabupaten Indramayu, Kabupaten Cianjur, Kabupaten Tasikmalaya, Kabupaten Cirebon, Kabupaten Ciamis, Kabupaten Majalengka, dan Kabupaten Garut.

Ada 20.621 hektar lahan pertanian meranggas dan 166.957 kepala keluarga kekurangan air bersih akibat kemarau sekarang ini.

***

Apa solusi pemerintah atas persoalan itu? Sejak awal musim kemarau, Pemerintah Provinsi Jawa Tengah sudah mengerahkan Badan Penanggulangan Bencana Daerah dan dinas terkait untuk memetakan daerah-daerah yang rawan mengalami kekeringan selama musim kemarau tahun ini dan menyiapkan upaya untuk mengantisipasi dampaknya.

"Petakan daerah terdampak kekeringan, daerah yang kekurangan air, petakan gangguan kesehatan, dan petakan potensi kebakaran hutan selama musim kemarau sehingga kita semua bisa mengantisipasi dalam melakukan sosialisasi kepada masyarakat," kata Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo di Semarang ketika itu.

Usai membuka dan memberi pengarahan dalam Rapat Koordinasi Penanganan dan Antisipasi Dampak Kekeringan di Provinsi Jawa Tengah, Ganjar mengatakan hasil identifikasi tercatat 1.319 desa di 287 kecamatan yang ada di 31 kabupaten dan kota di Jawa Tengah rawan mengalami kekeringan.

Saat musim kemarau mencapai puncaknya pada Agustus hingga November 2019, dia mengatakan 2.056.287 warga di 287 kecamatan di 31 kabupaten dan kota tersebut beresiko menghadapi dampak kekeringan, seperti kesulitan mendapat air bersih.

"Petanya sudah jelas karena setiap tahun terjadi sebenarnya, tinggal pola antisipasi sehingga tidak menjadi hal baru, tapi kita peringatkan, kira-kira puncak kemaraunya Agustus, ada yang Oktober dan November," ujarnya.

Kekeringan di Jawa Tengah. AKURAT.CO/Dafi Yusuf

Dalam upaya mengantisipasi dampak kekeringan pada puncak musim kemarau, Pemerintah Provinsi Jawa Tengah sudah meminta jajaran petugas BPBD menyiapkan 1.000 tangki air bersih untuk memenuhi kebutuhan warga di daerah yang kena dampak kekeringan.

"BPBD saya minta untuk memimpin ini dengan didukung dinas-dinas terkait seperti Dinas Pertanian, Dinas Kesehatan, PMI, Tagana, BUMN-BUMD, dan TNI-Polri," katanya.

Langkah hampir serupa juga dilakukan pemerintah Banten. Itan mengatakan pemerintah daerah mengoptimalkan penyaluran bantuan pompa air untuk areal persawahan yang memiliki potensi sumber air permukaan.

Pengoperasian pompa air dapat menyedot air permukaan ke areal persawahan, sehingga bisa diselamatkan tanaman padi tersebut.

"Kami mengapresiasi respon Bupati Iti Octavia yang serius menangani kekeringan dengan mengalokasikan dana biaya tak terduga untuk pembelian selang dan bahan bakar minyak," katanya.

"Kami juga telah menyalurkan bantuan air bersih sebanyak 1.799.100 liter untuk warga yang kekurangan air bersih," Itan menambahkan.

Dari Jawa Barat, Gubernur Ridwan Kamil segera melakukan pengkajian terkait rencana penetapan status siaga kekeringan seperti yang diusulkan oleh BPBD.

"Saya masih mengkaji karena solusi-solusi sudah dilakukan. Dengan para bupati wali kota sudah menggilir (irigasi). Hitungannya harian. Sehari dikelompok tani ini, sehari di itu," katanya beberapa waktu lalu.

Selain itu, kata dia, PDAM juga sudah bergerak untuk membawa truk-truk air untuk menyuplai air bersih kepada warga terdampak kekeringan.

"Dan ketiga kita juga mengkaji dengan BMKG untuk rekayasa cuaca. Jadi ini sedang kita kerjakan. Jadi tiba-tiba langsung ke status itu bukan tidak mungkin, tapi sedang ikhtiar dulu," kata Ridwan Kamil.

***

Jumat 9 Agustus lalu, masyarakat Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, melaksanakan salat istisqa untuk menyikapi musim kemarau berkepanjangan yang mengakibatkan kekeringan di sebagian besar wilayah mereka.

Salat istisqa dilaksanakan setelah pemerintah setempat mengeluarkan surat imbauan untuk melakukan salat secara serentak.

"Saya mengimbau warga Cianjur untuk melakukan sholat istisqa secara serentak pada Jumat (9/8), melalui surat imbauan yang diberikan pada kepala desa dan camat se-Cianjur, dengan harapan Sang Pencipta segera menurunkan hujan," kata pelaksana tugas Bupati Cianjur Herman Suherman.

Herman mengatakan memasuki bulan keempat musim kemarau sebagian besar padi terancam gagal panen, selain itu sama seperti daerah lain terjadi kesulitan air bersih untuk kebutuhan hidup.

Kekeringan di Jawa Tengah. AKURAT.CO/Dafi Yusuf

Tapi berdasarkan data BPBD Cianjur, ribuan hektar lahan pertanian di 13 kecamatan sudah mengalami gagal panen atau puso.

Untuk mengatasi dampak kekeringan, dia memerintahkan dinas terkait dan Perumdam Cianjur memberikan bantuan kepada masyarakat.

"Sejumlah lokasi sudah diberikan bantuan seperti pasokan air bersih, sumur buatan dan tempat penampungan air serta dilakukan penyuluhan ke sejumlah kelompok petani dalam menanggulangi dampak kekeringan," katanya.

Dia juga mengingatkan jajarannya untuk selalu siap siaga tidak hanya soal pasokan air bersih, tetapi juga kemungkinan terjadinya kebakaran.

Tapi yang jadi pertanyaan publik, apakah penanganan yang dilakukan pemerintah sudah menyelesaikan masalah? Rasanya belum kalau mendengar langsung dari petani di lapangan. []

Baca juga:

Tulisan 1: Kisah Petani Jadi Kuli Bangunan hingga Salat Minta Hujan: Cobaan Apalagi yang Ingin Diuji kepada Kita

Tulisan 2: Kemarau 2019 Lebih Dahsyat Ketimbang 2018: Ada yang Untung, Ada yang Buntung

Tulisan 3: Rekayasa Cuaca Datangkan Air dari Langit: Kalau Musim Kemarau Kita Nggak Bisa Panen Hujan

Tulisan 4: Reaksi Jokowi Begitu Tahu Penderitaan Masyarakat Akibat Kemarau Panjang

Tulisan 5: Masukan Buat Pemerintah Agar Tak Asal-asalan Tangani Kekeringan

Tulisan 6: Peristiwa-peristiwa Besar yang Terjadi pada Kemarau Panjang Masa Lalu: Interview Periset Sejarah

Editor: Siswanto

berita terkait

Image

News

Kemarau Dahsyat

Peristiwa-peristiwa Besar yang Terjadi pada Kemarau Panjang Masa Lalu: Interview Periset Sejarah

Image

News

Kemarau Dahsyat

Masukan Buat Pemerintah Agar Tak Asal-asalan Tangani Kekeringan

Image

News

Kemarau Dahsyat

Reaksi Jokowi Begitu Tahu Penderitaan Masyarakat Akibat Kemarau Panjang

Image

News

Kemarau Dahsyat

Rekayasa Cuaca Datangkan Air dari Langit: Kalau Musim Kemarau Kita Nggak Bisa Panen Hujan

Image

News

Kemarau Dahsyat

Kemarau 2019 Lebih Dahsyat Ketimbang 2018: Ada yang Untung, Ada yang Buntung

komentar

Image

0 komentar

terkini

Image
News

PSBB Transisi Diperpanjang, Anies Tiadakan CFD dan Kegiatan 17 Agustusan

"Seluruh aktivitas sosial bersama yang menyebabkan kerumunan itu akan ditunda," kata Anies.

Image
News

Wacana Sekolah Dibuka Berdasar Zonasi Penyebaran, Awas Riskan!

Protokol kesehatan harus diterapkan.

Image
News

Gara-gara Kecup Bagian Perut Anak Gadis,  BA Diamankan Polisi

BA bermain ke rumah temannya.

Image
News

Polres Barelang Enggan Berpolemik Terkait Dugaan Tahanan Narkoba Tewas

Dugaan dianiaya polisi.

Image
News

Ahli Asuransi Sebut Direksi Punya Hak Diskresi Ubah Strategi Investasi Perusahaan

Langkah ini dapat dilakukan guna menyelamatkan perusahaan agar tidak semakin terpuruk.

Image
News

Duh! Penggali Makam Covid-19 Jakarta Kehilangan Semangat

Penggali makam jenazah Covid-19 menantikan dana insentifnya.

Image
News

Masyarakat Mabar Dukung Pemerintah Percepat Pembangunan di Labuan Bajo

10 sikap masyarakat Manggarai Barat dalam mendukung pemerintah, diantaranya mendukung pembangunan sarana-prasarana penunjang pariwisata

Image
News

Libur Panjang HUT RI ke-75, Puncak Arus Mudik Dimulai Jumat

Polantas siap antisipasi.

Image
News

Garuda Indonesia Beri Penjelasan Terkait Insiden Antar Penumpang di Penerbangan GA 643

Peristiwa itu dipicu oleh salah satu penumpang di kelas bisnis yang kedapatan menggunakan handphone ketika pesawat tengah boarding

Image
News

Polri dan TNI Puncak Jaya Bagikan Bendera Merah Putih ke Warga

Selain membagikan bendera, mereka juga menggelar patroli dialogis dan razia senjata tajam guna memastikan keamanan jelang HUT RI ke -75

terpopuler

  1. Viral Muslim Bantu Prosesi Pemakaman Tetangga Beda Agama, Warganet: Ini Indonesia

  2. Politikus PKS Beri Kritikan 'Pedas' ke Anies Baswedan

  3. Efek Dahsyat Berbakti Kepada Orang Tua

  4. Video Jerinx di Tahanan Viral, Kenakan Celana Pendek dan Tangan Terborgol

  5. Ahli Waris Gugat Dik Doank Rp5,5 Miliar Atas Kepemilikan 'Kandank Jurank Doank'

  6. Anggaran Pilkada Rp20 T, Rizal Ramli: Sebaiknya Dibelikan 30 Juta HP untuk Anak-anak Kurang Mampu

  7. Mengenal Pulau Kundur, Penghasil Durian Kelas Wahid yang Ditetapkan Zona Merah COVID-19

  8. Gaduh Beasiswa Veronica Koman, Stafsus Sri Mulyani: Penuhi Saja, Tanpa Perlu Playing Victim

  9. Hamil Barengan, 5 Potret Kompak Kakak Beradik Citra Kirana dan Erica Putri

  10. Pernah Jadi Tempat Nginap Barack Obama, Hotel Shangri-La Jakarta Mau Disegel Ada Apa?

Akurat Solusi-1

fokus

Tokopedia Dorong Digitalisasi UMKM dan Inklusi Keuangan
UMKM Pahlawan Ekonomi
Strategi UMKM Berjaya di New Normal

kolom

Image
Dr. Abd. Muid N., MA

Tarian Sufistik Mengalun di Antara Agama

Image
Dr. Made Saihu

Dakwah sebagai Jalan Hidup

Image
DR. ABDUL MUID N., MA

Menimbang Qiraa’ah Mubadalah untuk Kesetaraan Gender

Image
Achsanul Qosasi

Gerakan ABCD untuk Pemulihan Ekonomi

Wawancara

Image
Ekonomi

Eksklusif Bos Garuda Garuda PHK Karyawan Besar-besaran Karena Bisnis Limbung?

Image
Ekonomi

Eksklusif Bos Garuda Protokol Kesehatan Mutlak di Garuda Demi Keselamatan Penumpang

Image
Ekonomi

Eksklusif Bos Garuda Bukan Orang Airlines, Ternyata Begini Perasaan Irfan Setiaputra Selama Memimpin Garuda

Sosok

Image
Iptek

Lebih Dekat dengan Addison Rae Easterling, Dancer TikTok Paling Tajir Sejagad

Image
News

Usaha tak Khianati Hasil, Kisah Fredy Napitupulu, Pengusaha Muda Sukses Pemilik Stanbrain

Image
Ekonomi

6 Fakta Menarik Sumber Kekayaan Jerinx SID, Bisnis Clothing hingga Brand Ambassador Berbagai Produk