image
Login / Sign Up

Slogan Perangi Narkotika Sudah Tidak Efektif

Maidian Reviani

Problematika Narkotika

Image

Sejumlah petugas perwakilan dari Kamboja memperlihatkan obat-obatan terlarang untuk pembakaran di Phnom Penh, Kamboja, 26 Juni 2019. Kegiatan ini bertujuan memperingati Hari Anti Narkoba Internasional. Pemerintah setempat memusnahkan semua narkoba hasil peredaran gelap di Kamboja. | REUTERS/Samrang Pring

AKURAT.CO * Menurut Asmin kalau pemerintah merasa gagal memerangi narkoba, lebih baik mengakui saja dan kemudian membuat kebijakan baru yang benar-benar bertujuan untuk kepentingan masyarakat. 
* Kalau penanganan persoalan tidak dievaluasi, disusun secara seksama, terbuka mencari alternatif, jangan heran sampai kapan pun tidak bakal kelar.
* Tidak ada satu pun negara yang imun terhadap persoalan narkotika, baik negatif ataupun positif. 

***

Indonesia dapat berkaca pada apa yang dilakukan oleh banyak negara yang telah memulai reformasi kebijakan penanganan narkotika dengan riset dan obyektif, berdasarkan ilmu pengetahuan serta bertujuan mengurangi dampak kesehatan dan bukan semata-mata menghukum.

baca juga:

Pengajar Hak Asasi Manusia Fakultas Hukum Universitas Katolik Atma Jaya, Asmin Fransiska, mengatakan kebijakan penanganan kasus narkotika harus secara rutin dievaluasi dan dikembangkan demi kepentingan banyak pihak, terutama mereka yang terdampak dari peredaran narkotika.

“Bukan hanya pendekatan politik, tidak hanya pendekatan terhadap kepentingan instansi tertentu, tapi harus berbasis data dan juga ilmiah,” kata Asmin..

Kedua, memiliki tujuan. Contohnya dalam UU tentang Narkotika Nomor 35 Tahun 2009, yang memiliki tujuan dari A sampai F, dan dari A sampai D itu tujuannya untuk kesejahteraan masyarakat, keadilan bagi masyarakat, kesehatan, dan mengembangkan ilmu pengetahuan.

Namun, pada kenyataannya yang terjadi selama ini bukan itu. Dalam menangani kasus narkotika, pemerintah mengedepankan pendekatan hukum ketimbang pendekatan ilmu pengetahuan, misalnya tidak mengembangkan zat-zat atau tanaman untuk kepentingan medis.

Dosen Univ Katolik Atma Jaya, Asmin Fransiska. AKURAT.CO/Maidian Reviani

Ketiga, pemerintah harus berani menempuh jalur alternatif dalam menangani permasalahan narkotika. Slogan perangi narkotika dinilai sudah tidak bisa dipakai sebagai slogan satu-satunya.

Narasi slogan itu dinilai tidak efektif. Salah satu indikatornya, karena pendekatan penanganannya kurang tepat, akibatnya rumah tahanan dan lembaga pemasyarakat mengalami over capacity. Kondisi demikian ternyata berdampak serius.

“Bagaimana ternyata katanya yang paling aman adalah penjara, tidak akan mungkin orang akan kapok mengedarkan dan juga pasti menggunakan. Ternyata adalah tempat yang paling subur terhadap peredaran narkotika. Nah, hal-hal kaya gini ternyata gak bisa diselesaikan,” ujar Asmin.

Menurut Asmin kalau pemerintah merasa gagal memerangi narkoba, lebih baik mengakui saja dan kemudian membuat kebijakan baru yang benar-benar bertujuan untuk kepentingan masyarakat.

“Ya akui saja memang perang terhadap narkotika nggak perlu dipakai lagi sebagai slogan satu-satunya, monolog. Itu lagi setiap bicara soal mau menghukum orang mati pakai lagi perang narkotika. Mau memberikan hukum kepada orang seumur hidup, pakai lagi slogannya. Mau ngomongin soal orang asing membawa narkotika, pakai lagi narasi perangi narkotika.”

Asmin menekankan kalau penanganan persoalan tidak dievaluasi, disusun secara seksama, terbuka mencari alternatif, jangan heran sampai kapan pun tidak bakal kelar.

“Over capacity, industry market yang tidak terkendali, kesehatan masyarakat juga tidak bisa terkontrol, dan angka temuan penangkapan yang jumlahnya makin besar,” kata Asmin.

“Tujuan lima dan enam barulah mengontrol peredaran drug atau obat-obatan secara gelap. Artinya, dari enam tujuan pembuatan UU di tahun 2009 itu, empat di antaranya adalah publik health, tujuannya adalah membuat hukum yang adil.”

***

Asmin mengingatkan pemerintah maupun pemangku kebijakan tidak perlu secara berlebihan menganggap masalah narkotika merupakan segala-galanya dibandingkan masalah lainnya yang terjadi di negeri ini.

Tidak ada satu pun negara yang kata dia imun terhadap persoalan narkotika, baik negatif ataupun positif.

“Artinya, kita tidak perlu terlalu geer menganggap bahwa narkotika ini adalah segala-galanya, sehingga semua infrastrukur kebijakan hukum dan penegak hukum lari ke sana. Karena ini bagian kecil dari persoalan-persoalan hukum,” kata Asmin.

“Tapi bukan berarti saya mengkecilkan efek dari kebijakan yang tidak melihat persoalan ini adalah persoalan yang sangat asasi, prinsipil,” Asmin menambahkan.
Narkotika merebak ke berbagai negara di dunia lantaran produsen dan distribusiinya melibatkan jaringan internasional.

Narkoba. ANTARA FOTO

“Misalnya diproduksi di Cina, transitnya di Thailand, lalu dikonsumsinya di Indonesia. Atau sebaliknya diproduksi di Indonesia, ditransfer ke Malaysia dan lari ke Myanmar, atau bahkan sampai tingkatan Afganistan. Jadi sangat internasional,” kata Asmin.

Itu sebabnya, perang terhadap peredaran narkotika tidak dapat dilakukan sendirian, tetapi harus bermitra dengan banyak negara.

“Mau gak mau kita harus melihat bahwa ini kita tidak bisa menyelesaikan masalah ini sendiri,” ujarnya.

Asmin menyoroti penegakan hukum di Indonesia terhadap kasus narkotika porsinya terlalu kalau dibandingkan dengan perlindungan hukum. Padahal, kata dia, tujuan hukum tidak hanya untuk menghukum orang yang berbuat salah, tapi juga membuat orang menjadi aman sebagai warga negara.

“Pemikiran negara dan pemerintah di banyak negara, akan dan harus mengembangkan kebijakan narkotika yang seiring dengan perubahan-perubahan yang ada. Kita harus dinamislah ya, nggak bisa oh dari mulai dulu kita harus percaya kita harus perangi narkotika, sampai sekarang ternyata nggak efektif juga. Jadi harus memang disesuaikan dengan kebutuhan karakter, dinamika pasar, dinamika user, serta sosial politik di negara tersebut,” kata dia.

Kalau pemerintah sudah melihat kebijakan narkotika merupakan kebijakan yang dinamis dan berimplikasi kepada kebijakan global, mau tidak mau kebijakan narkotika perlu ada kebijakan multidisplin.

Multidisplin yang dimaksud Asmin yakni kebijakan yang juga memandang masalah narkotika dari perspektif kesehatan, hak asasi manusia, antropologi, dan juga sosiologi.

“Di tingkatkan global misalnya pasca tahun 1990-an, masyarakat global melihat bahwa permasalahan HIV/AIDS tidak hanya mengenai penularan penyakit dari seseorang ke seseorang yang lain, tapi ternyata ada persoalan lain.”

Menurut Asmin, masyarakat global pada akhirnya sepakat bahwa persoalan lain yang mengakar dari kebijakan narkotika yaitu penularan penyakit yang tidak terkontrol dan tidak dapat dibatasi dengan negara.

“Nah ini muncullah ide-ide tentang HAM reduction, dan itu sudah diakui sebagai salah satu program yang harus dijalankan ketika bicara soal kebijakan narkotika,” kata dia.

Asmin menekankan hukum memiliki andil besar terhadap peningkatan kesehatan dan perlindungan publik. Tetapi pada kenyataannya, kebijakan yang diambil masih menekankan tindakan represif. []

Baca juga:

Tulisan 1: Mantan Napi Narkotika Beberkan Bagaimana Dia Diperas Berkali-kali

Tulisan 2: Penjara Bukan Tempat Tepat Rehabilitasi Pengguna Narkotika

Tulisan 3: Penanganan Narkotika Harusnya Belajar dari Kasus Raffi Ahmad dan Fidelis

Tulisan 5: Tangani Narkotika Selalu Pakai Pendekatan Pidana, Apa Dampaknya?

Tulisan 6: Sudah Jadi Pengetahuan Umum, Kasus Narkotika Jadi Sistem ATM

Tulisan 7: BNN: Manusia Makin Cerdas Bisa Bikin Macam-macam, Itu Kami Takutkan

Editor: Siswanto

berita terkait

Image

News

Problematika Narkotika

BNN: Manusia Makin Cerdas Bisa Bikin Macam-macam, Itu Kami Takutkan

Image

News

Problematika Narkotika

Sudah Jadi Pengetahuan Umum, Kasus Narkotika Jadi Sistem ATM

Image

News

Problematika Narkotika

Tangani Narkotika Selalu Pakai Pendekatan Pidana Ketimbang Medis, Apa Dampaknya?

Image

News

Problematika Narkotika

Penanganan Narkotika Harusnya Belajar dari Kasus Raffi Ahmad dan Fidelis

Image

News

Problematika Narkotika

Penjara Bukan Tempat Tepat Rehabilitasi Pengguna Narkotika

Image

News

Problematika Narkotika

Mantan Napi Narkotika Beberkan Bagaimana Dia Diperas Berkali-kali

komentar

Image

1 komentar

Image
Achmad Fauzi

apakah masyarakat sudah tidak peduli lagi dengan kehidupan yang akan mendatang/

terkini

Image
News

Jokowi Awali Pagi di Pekanbaru dengan Salat Minta Hujan

Pemerintah akan menitikberatkan untuk mengaktifkan aparat dan perangkat di daerah untuk mencegah Karhutla.

Image
News

Rustam: Mengapa Jokowi Pilih Pertama Tinjau Kabut Asap di Pekanbaru, Mungkin karena Kalah di Riau

Kunjungan ke Kalimantan Barat dan Kalimantan Tengah kemungkinan masih bisa menunggu.

Image
News

Tingkatkan Minat Baca, Pemkot Depok Gelar Donasi Buku

Donasi buku ini kita adakan karena antusiasme membaca yang cukup tinggi dari masyarakat

Image
News

Sirajuddin: Ricky Rachmadi hanya Hibur Diri dan Pepesan Kosong

Imbauan umum yang sifatnya baik bagi semua kader dan masa depan partai.

Image
News

Berita Populer Perdebatan Cover Majalah Tempo hingga Mahfud MD Sebut Revisi UU KPK Sudah Bagus

Berita populer lainnya tentang 10 Potret Syarif Muhammad Fitriansyah.

Image
News

Kebakaran Landa Gunung Ile Mandiri di Flores Timur dari Kemarin sampai Hari Ini

Kepolisian setempat telah menangkap seorang warga berinisal DW yang menjadi tersangka kejadian tersebut.

Image
News

Revisi UU KPK, Din: Jika Terjadi, Sungguh Khianati Amanat Reformasi

"KPK dapat bekerja dengan sungguh-sungguh secara benar, konsisten dan imparsial serta independen."

Image
News

Penjaringan Calon Rektor UI Mengerucut Menjadi 7 Orang

Tujuh nama tersebut telah melalui proses asesmen serta aspek kompetensi

Image
News

Ruhut: Kalau Benar Sampulnya Gambar Pak Jokowi dengan Hidung Pinokio, Aku Menyesalkan, Tolong Dicabut

"Cover majalah Tempo ini artistik. Yang hidungnya panjang kayak Pinokio adalah bayangan Jokowi, bukan gambar Jokowinya."

Image
News

Kapolda: dari 66 Kasus Kebakaran Hutan dan Lahan, 15 Kasus di Antaranya Dilakukan Korporasi

"Tahap satu kasusnya sudah kami kirim ke jaksa."

Banner Mandiri

trending topics

terpopuler

  1. Gagal Kalahkan Fiorentina, Dybala Kirim Sebuah Sindiran Pedas untuk Sarri

  2. Hasto Mulai Geregetan: Saya Dapat Info Ada Media yang Secara Kurang Etis Tampilkan Karikatur Gambar Jokowi dan Pinokio

  3. Perdebatan Cover Majalah Tempo: yang Hidungnya Panjang Kayak Pinokio Itu Bayangan, Bukan Gambar Jokowinya

  4. 10 Potret Syarif Muhammad Fitriansyah, Asisten Ajudan Jokowi yang Curi Perhatian

  5. Lenglet: Jangan Sampai Ansu Fati Terjerat Star Syndrome

  6. Kondisi Terkini Tiga Setia Gara Usai Dihubungi KJRI Chicago

  7. Pengakuan Usai Gugurkan Janin: Setelah Aborsi, Berhari-hari Saya Mengurung Diri, Menyesal dan Malu

  8. Pengangguran di Singapura Melonjak, Kok Bisa?

  9. Kritik Penanganan Kebakaran, Paranormal: Haruskah Saya Keluarkan Keris Kiai Cupet Ini?

  10. Mantan Ketua MK Mahfud MD Sebut Revisi UU KPK Sudah Bagus, Masalah Terletak di Prosedurnya

fokus

Abortus
BJ Habibie Tutup Usia
Lindungi Perempuan

kolom

Image
Damai Mendrofa

Menangani Penyu, Sampai Tak Ada yang Ganggu

Image
Achmad Fachrudin

Dinamika Politik Jakarta Paska Pemindahan Ibukota

Image
Abdul Aziz SR

Perempuan dan Jabatan Publik

Image
Mujamin Jassin

Bamsoet dan Agenda Modernisasi Golkar

Wawancara

Image
Hiburan

Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan

Jadikan JILF Sebagai Pemantik Imajinasi

Image
Ekonomi

Eksklusif Mochamad Soebakir: Sebagai 'Jembatan' Konsultan Pajak Fungsinya Vital

Image
Olahraga

Bianca Andreescu

"Memenangi AS Terbuka Sebenarnya Terasa Aneh"

Sosok

Image
News

Bak Pasangan Muda, 8 Potret Romantis Gubernur Riau Syamsuar Bersama Istri

Image
News

10 Potret Syarif Muhammad Fitriansyah, Asisten Ajudan Jokowi yang Curi Perhatian

Image
News

10 Potret Regina Nadya Suwono, Anggota Legislatif Muda yang Memesona