image
Login / Sign Up
Image

M Chozin Amirullah

Jelang Hari Raya, Taubat Naik Lion Air

Mudik 2019

Image

Pesawat maskapai Lion Air bersiap mendarat di kawasan terminal 3 yang juga dalam pengerjaan proyek runway dan taxiway, Bandara Soekarno Hatta, Tangerang, Banten, Kamis (21/6). Pembangunan runway ketiga ini membutuhkan tanah seluas 216 hektare di mana seluas 49 hektare sudah dimiliki PT Angkasa Pura II selaku operator Bandara Soekarno-Hatta. Runway ketiga memiliki dimensi 3.000 x 60 m2 dan membutuhkan investasi sekitar Rp 1,7 triliun khusus untuk konstruksi. Adanya runway ketiga ini akan membuat pergerakan pesawat di Bandara Soekarno-Hatta bisa mendukung mencapai sekitar 120 pergerakan per jam, dari saat ini 81 pergerakan. | AKURAT.CO/Sopian

AKURAT.CO, Alkisah, hari ini (2 Juni 2019) saya berencana Mudik ke Bangka, kampung halaman istri tercinta. Tiket sudah saya beli jauh-ujuah hari.  Dijadwalkan berangkat dari Bandara Soekarno-Hatta Jakarta pukul 10.05 dan mendarat di Pangkal Pinang pukul 11.30 WIB.

Hari ini saya datang ke bandara di terminal 1B jauh lebih awal untuk keperluan cek-in. Datang lebih awal karena sadar, menjelang lebaran pasti antrian panjang. Singkat cerita, setelah panjang mengantri, sekitar 09.20 WIB saya sudah berhasil di counter check-in, tepatnya di counter no. 26 dengan pertugas bernama M Fazri A.

Alangkah terkejutnya saya, saat data saya diinput, petugas mengatakan bahwa saya tidak bisa chek-in karena kursi sudah terisi penuh. Petugas menanyakan kepada saya, “Bapak tidak check-in online ya?”. Saya pun nanya balik, “memang ada aturan baru harus check-in online ya? Setahu saya check-in online hanya salah satu opsi saja.

baca juga:

Selain online khan bisa check-in langsung di counter asal waktunya masih cukup. Dan waktu saya masih sangat cukup. Tetapi petugas tersebut memberikan penjelasan bahwa dirinya sudah tidak bisa diinput karena kursi sudah terisi.

Sampai di sini, dalam hati saya berguman: “Wah... koq kursinya sudah penuh? Kayak naik bus antarkota kota aja, neh. Berarti kursi saya diisi dengan orang lain dunk? Gimana cara orang itu mengisi kursi saya? Dengan membeli? Kalau dengan cara membeli, berarti Lion Air ngejual dunk, ngejual kursi saya? Wah,.. wah,... Lebaran gini pasti panjang daftar waiting list, dengan gampan jual kursi dengan harga tinggi.” [Eits.... ini bukan tuduhan, loh ya. ini baru imajinasi saya aja].

Merasa ‘dikibulin’ saya pun komplain. “Loh... waktunya masih cukup kenapa tidak bisa check-in”, kata saya dengan meninggikan suara (ups..! tetapi dengan tetap berusaha mengendalikan emosi koq). Mendengar serbuan pertanyaan, sang petugas tidak bisa jawab; pun tidak juga bisa input data saya ke komputer untuk check-in. Akhirnya saya diarahkan untuk ke counter Customer Service. Saya menolak! Saya sampaikan, “Mas, lihat! Counter customer service antriannya panjang begitu. Kalau saya ke sana sekarang, saya harus melalui antrian panjang lagi.  Begitu sampai dapat giliran di counter pasti mereka akan bilang kalau saya terlambat dan sekarang pesawat sudah boarding. Bolehkah saya diantar untuk bisa langsung bertemu manajemennya tanpa harus antri dulu?

Dia bilang tidak bisa. Saya bertahan . Saya sampaikan bahwa saya akan ke customer service dengan catatan diantar langsung untuk ketemu dengan manajemen. Dia tetap tidak bisa, dengan alasan harus melayani antrian berikutnya yang masih panjang. Ya, tentu ini alasan yang mudah dan paling masuk akal. Kalau dia tinggalkan, akan semakin banyak calon penumpang yang tak terlayani. Korban akan makin banyak.

Kemudian, saya katakan: “Mas bisa panggil petugas lain khan? Panggil...! SEKARANG..!!! (Dengan hentakan nada makin kuat. Lumayan, masih ada sisa-sisa jiwa demonstran waktu mahasiswa dulu). Akhirnya dia panggil petugas. Tapi yang dia panggil petugas security. “Yaaah,.... (dalam hatiku), ini tak akan menyelesaikan masalah.”

Dan benar, petugas itu antarkan saya ke customer service. Tapi memang tak ada gunanya. Dia hanya antarkan aku ke counter, tidak boleh masuk untuk ketemu manajer atau supervisor langsung. Ujunganya sama, harus ngantri juga dan membutuhkan waktu lama. Dalam hati saya marah, tetapi berusaha tetap dingin.

Hanya saja, petugas security kewalahan menjawab cecaran pertanyaan saya. Sejak kapan ada aturan harus check-in maksimal sebelum 2 jam sebelumnya? Sejak kapan ada aturan harus chek-in online? Tolong tunjukkan ke saya. Jujur, saya saya juga enggak tega dengan petugas-petugas itu. Mereka memang bukan yang punya otoritas, mereka hanya petugas bawah yang tak bisa ambil kebijakan apapun. Mereka adalah ‘tumbal-tumbal’ manajemen yang harus berhadapan langsung dengan kemarahan pelanggan.

Setelah lama ngantri, saya bertemu dengan petugas customer service bernama Riska Devianty. Saya tahu nama dia setelah saya berhasil memintanya menunjukkan name tag. Name tag itu saya lihat sedikit disembunyikan. Saya paham betapa beratnya petugas seperti dia, harus menghadapi bertubi pelanggan-pelanggan Lion Air yang komplain. Saya berjanji, sekesal apapun hati saya pada manajemen Lion Air, saya tidak akan memarahi dia. Saya janji!

Begitu dia mempersilahkan membuka pembicaraan, saya langsung mengawali laporan dengan kata pendahuluan sebagai berikut:

“Begini Mbak, saya tahu terhadap permasalahan saya ini Mbak pasti akan bilang jika saya sudah terlambat boarding sehingga tidak bisa dibantu. Saya tahu, Mbak bukan pengambil kebijakan dan saya tahu sekarang pesawat sudah boarding sehingga mbak tidak akan bisa membantu saya.”

“Tapi baiklah, saya akan tetap ceritakan permasalahan saya”. Lalu saya ceritakan permasalahan di counter 26 tadi secara runtut, sebagaimana di atas

Dan.... benar. Mbak-nya menjawab persis dengan yang saya duga: tidak bisa membantu, tiket saya hangus, tidak ada alternatif pengganti penerbangan, dengan alasan saya terlambat boarding.

Desssss,..... jadi benar dugaanku. Di counter 26 ditolak dengan alasan tidak melalui web check-in, di customer service ditolak dengan alasan (baca: tuduhan) terlambat check-in.

Btw, ada statemen yang tidak  konsisten dipakai oleh satu counter dengan counter lainnya: di counter 26 ditolak dengan alasan kursinya sudah penuh diisi orang lain, sementra di counter customer service dikatakan kursinya masih kosong (tetapi karena terlambat check-in jadi tidak bisa masuk). Duh....!

Saya konfrontir ketidakkonsistenan jawaban ini kepadanya. Dia tidak bisa menjawab lagi. Terpojok. Akhirnya saya diarahkan untuk ke counter 15. Saya tanya, “siapa di sana?” Jawabanny, itu adalah supervisornya. “Oke saya ke sana, tetapi minta diantar, saya tidak mau dipingpong lagi”. Dia antar saya. Di counter 15 ketemu dengan petugas bernama Aji Seti Wibowo. Jawabannya sama: tidak bisa dibantu, tiket hangus dengan alasan (baca: tuduhan) Bapak terlambat. Asssss***...!!!!!

Meski di dada ini sebenarnya bergemuruh dentuman-dentuman magma kekesalan yang sudah sampai pada level puncak, tetapi saya tidak tumpahkan itu. Terhadap kedua petugas saya sayang, saya  tidak marah-marahi. Karena saya tahu kemarahanku takkan mengubah apa-apa. Saya hanya minta statemen terakhir dari mereka jika mereka sudah mentok dan tak bisa berbuat apa-apa lagi.

Lalu kemarahan ini untuk siapa? Layaknya adalah untuk menajemen Lion Air yang ‘tega’ menjual kursi saya (jika asumsi pada pernyataan petugas di counter 26 itu benar) atau menghanguskan tiket yang telah saya beli (dengan harga lebaran loh) dengan alasan yang tidak bisa saya terima.

Saya sudah tidak berharap tiket saya diganti atau uang saya kembali. bahwa soal keburukan manajemen Lion Air, saya sudah dengan sejak lama. Kejadian hari ini hanya mengkonfirmasi persepsi publik itu, bahwa ternyata saya juga mengalaminya. Mungkin ada puluhan, ratusan atau ribuan pelanggan lain mengalami hal serupa (semoga tidak) tetapi tidak pernah bercerita. Semoga tidak.

Anyway busway, saya menuliskan ini sebagai katarsis saja, supaya meredakan dentuman emosi jiwa yang membuncah di dalam dada. Jikapun tulisan ini tak didengar gaungnya, saya masih percaya pada karma: bahwa apa yang diperbuat pasti ada balasannya di masa yang lain atau pada masa kehidupan berikutnya.

Lion Air salah? Yang kuasa tak pernah salah bukan? Yang salah saya, kenapa masih mau terbang dengan Lion Air. Semoga saya bisa segera bertaubat, dan menempuh jalan penerbangan yang diridhoi Tuhan. Selesai.[]

Editor: Dedi Ermansyah

berita terkait

Image

News

DPR RI

DPR RI: Penerapan New Normal di Sektor Pendidikan Masih Perlu Dikaji, Salah Satunya Aspek Keamanan

Image

News

Animo Masyarakat ke Lokasi Wisata Tinggi, Kakorlantas Polri: Tetap Kami Batasi

Image

News

H+7 Lebaran, Kakorlantas Polri: Penurunan Arus Balik 2020 Capai 70 Persen

Image

News

Puluhan Pengunjung Danau Sunter Ditindak Petugas Satpol PP

Image

News

Camat Kalideres Belum Tahu Teknis Pelaksanaan New Normal

Image

News

Arus Balik Lebaran, 361 Ribu Kendaraan Masuk Jakarta

Image

News

Ini sejumlah Jalur-jalur Tikus di Jabodetabek yang Dilalui Perantau untuk Hindari Pemeriksaan

Image

News

Wabah Corona

Polisi Perketat Penyekatan Kendaraan di Pelabuhan Merak

Image

Ekonomi

Kemenhub Perpanjang Masa Larangan Publik dan Balik Hingga 7 Juni Mendatang

komentar

Image

0 komentar

terkini

Image
News
Wabah Corona

Anies Bakal Terapkan Pembatasan Sosial Berskala Lokal Tingkat RW

Ada 62 RW yang bakal menerapkan PSBL karena tingkat penularan corona di Jakarta disebutnya masih tinggi.

Image
News

Pilkada 9 Desember, Wakil Ketua DPD RI Ingatkan KPU Potensi Gelombang Kedua Covid-19

Dan hingga hari ini, wabah ini belum dinyatakan selesai. Sebab, kurvanya relatif meninggi di beberapa daerah.

Image
News

Tagar #MendikbudDicariMahasiswa Trending, Ini 5 Bentuk Protes Warganet pada Nadiem Makarim

Selain soal UKT, mahasiswa juga menyerukan suara bagi guru honorer.

Image
News

Politikus PDIP Minta Anies Beri Himbauan Protokol Kesehatan Melalui Pengeras Suara

Jhonny meminta Anies rutin memberikan himbauan melalui pengeras suara atau toa banjir yang pernah dibeli Pemprov DKI

Image
News

Ade Armando Sebut Din 'Si Dungu', Politikus PKS: Ini Kalimat yang Menyebabkan Ahmad Dhani Dipenjara

“Tidak boleh ada hina-menghina, perbedaan pendapat wajar," kata Mardani.

Image
News

Politisi Golkar Apresiasi Kaum Milenial dalam Mengamalkan Pancasila

Pancasila merupakan landasan kita saat ingin melangkah dan melakukan tindakan

Image
News

Selain Proklamasikan RI, Bung Karno Juga Punya Rekam Jejak Karya Arsitektur

"Jadi kesempatan baik itu menjadikan Bung Karno percaya diri mendirikan biro arsitek di tahun 1926"

Image
News

Guru Besar UII Angkat Bicara, Tegaskan Tak Ada Unsur Makar di Diskusi Pemecatan Presiden

"Kalau lembaga akademik sebaiknya nggak diteror karena hal-hal yang tidak ada pretensi politik di dalamnya."

Image
News

BNPB Catat Ada 123 Karhutla saat Pandemi Covid-19

BNPB telah meminta BPBD untuk terus melakukan peringatan dini dan kesiapsiagaan menghadapi ancaman bahaya karhutla.

Image
News

Setelah KPK Ringkus Nurhadi, HNW Tunggu Kabar Penangkapan Harun Masiku dan Sjamsul Nurhalim

Penangkapan Nurhadi bisa dijadikan semangat bagi KPK untuk menangkap buronan kasus korupsi lainnya.

terpopuler

  1. Heboh Slip Gaji Guru Honorer Hanya Rp35 Ribu per Bulan, Warganet: Nangis Liatnya

  2. Viral Foto Diduga Warga Bogor Camping di Tengah Pandemi, Warganet: Senja, Kopi, dan COVID-19

  3. Ucapan Ahok, Khofifah dan Edy Rahmayadi Sambut Hari Lahir Pancasila

  4. Tantenya Meninggal Dunia, Maia Estianty Ingatkan Warga Jangan Remehkan COVID-19

  5. Din Syamsudin: Menurut Teori Islam, Pemakzulan Seorang Pemimpian Bisa Dilakukan

  6. Nenek 100 Tahun Asal Surabaya Sembuh dari COVID-19, Ini Kunci Keberhasilannya

  7. Zita Anjani: Anak-anak Sudah Stres, Pemerintah Harus Segera Membuka Kegiatan Belajar-Mengajar

  8. Dandim 0315: Sejak Beberapa Hari Lalu Ada Orang Ngaku Sebagai Saya, Lalu Minta Uang Anggota dan Bekas Anggota Saya

  9. Jokowi: Situasi Sulit Pandemi COVID-19 Memerlukan Kerja Keras Kita Bersama untuk Melewatinya

  10. 5 Potret Cantik Tatyana Demyanova, Atlet Voli Putri Asal Kazakhstan yang Bikin Warganet Jatuh Hati

Jamkrindo Lebaran

fokus

Lebaran di Tengah Pandemi
Pulih dengan Terapi Musik
Wabah Corona

kolom

Image
Dr. Abd. Muid N., MA.

Kota di Masa Pandemi

Image
Abdul Aziz SR

Salah Urus dan Salah Pengurus

Image
IMAM SHAMSI ALI

Anarkis Itu Suara yang Tak Terdengarkan

Image
Siti Nur Fauziah

Covid-19, Bagaimana dengan Indonesiaku Hari Ini?

Wawancara

Image
News

Interview Siti Fadilah, dari Keadaannya di Penjara yang Mengharukan, Blak-blakan Covid-19 sampai Fitnah yang Menyerangnya

Image
News

Interview Rizal Ramli: Indonesia Diberi Berkah Luar Biasa oleh Tuhan, Cuma Kita Harus Punya Visi Mau Ngapain ke Depan

Image
News

Interview Leony Si Driver Ojol Lulus Cum Laude Sampai Raih Beasiswa Ilmu Hukum

Sosok

Image
News

Jualan Donat hingga Ciptakan Aplikasi Bersatu Lawan COVID-19, Ini 5 Fakta Menarik Ahmad Alghozi Ramadhan

Image
Ekonomi

Kiat Agar Bisnis Moncer Ala Bob Sadino

Image
News

Ikut Tren Gunakan FaceApp, Ridwan Kamil: Di Era New Normal Wajah Tak Perlu Dirawat, Cukup Diedit