image
Login / Sign Up
Image

Achmad Fachrudin

Peneliti Senior Jaringan Demokrasi Indonesia DKI, Dosen Institut PTIQ Jakarta

Spirit Ramadhan di Tengah Krisis Demokrasi

Image

Petugas Komisi Pemilihan Umum Daerah (KPUD) melakukan proses rekapitulasi surat suara di tingkat kecamatan di GOR Kembangan, Jakarta Barat, Sabtu (20/4/2019). Rekapitulasi surat suara kecamatan Kembangan mulai dihitung kembali dari TPS yang ada di enam wilayah kelurahan yang telah selesai pencoblosan pada 17 April 2019 yang lalu. Adapun enam wilayah yaitu Kembangan Utara, Kembangan Selatan, Meruya, Joglo, Srengseng, Meruya Utara dan Meruya Selatan. | AKURAT.CO/Sopian

AKURAT.CO, Bukan suatu kebetulan jika tahapan kegiatan rekapitulasi penghitungan suara hasil Pemilu di tingkat Kabupaten/Kota, Provinsi digelar di bulan Ramadhan dan puncaknya di tingkat nasional dilaksanakan pada 22 Mei 2019 atau bertepatan dengan 17 Ramadhan 1440 H. Salah satu rasionalitasnya—barangkali—agar spirit dan nilai-nilai ibadah Ramadhan 1440 H/2019 M menafasi para pemangku kepentingan dalam berdemokrasi pada umumnya dan berpemilu pada khususnya secara sungguh-sungguh, nyata dan bertanggung jawab.

Dalam kalender Islam, bulan Ramadhan menempati posisi khusus dan dipandang sebagai penghulu bulan-bulan lainnya (sayyidus syuhur). Letak kekhususannya tersebut terutama karena ayat-ayat pertama Al-Qur’an diturunkan di bulan Ramadhan. Bagi umat Islam, Al-Qur’an bukan sekadar kitabullah dan kalamullah yang diturunkan kepada umat Islam melalui Nabi Muhammad SAW, melainkan dan terlebih sebagai pedoman dan cara/jalan hidup (way of life) dalam mengarungi hidup dan kehidupan.

Pada makna generiknya, ‘ramadhan’ dapat diartikan dengan ‘membakar’ atau "Ramadiyu" yang berarti ‘hujan’. Dalam pengertian membakar maksudnya membakar segala dosa. Dalam pengertian ‘hujan’, maksudnya bulan Ramadhan instrument untuk membersihkan segala penyakit non pisik, khususnya penyakit hati. Penyakit hati sangat banyak di antaranya sikap takabur (sombong), riya (pamer), hasad (dengki), israf (serakah), ghill (dendam), ananiyah (mau menang sendiri), ghadab (marah), khiyanat (ketidakjujuran), kizb (bohong)  dan lain sebagainya.

baca juga:

Selain penyakit hati, berpuasa dapat menyembuhkan penyakit fisik. Oleh karena itu, sebagaimana ditegaskan Nabi Muhammad SAW dan dibenarkan melalui penelitian medis, berpuasa menyehatkan otak dan fisik. Menurut pakar neorosis Prof. Taruna Ikrar, terdapat paling kurang 60 fakta kesehatan mutakhir yang diperoleh dari puasa. Melalui puasa, kata Taruna yang juga bekerja sebagai peneliti dan staf pada Fakultas Kedokteran Universitas California, Amerika Serikat, plastisitas, neurogenesis, dan fungsional kompensasi, jaringan otak diperbarui. Yang berarti terbentuk manusia baru secara biologis, psikologis dan fungsional.

Kawah Candradimuka

Semua jenis penyakit manusia, baik fisik dan terus non fisik, dicuci bersih di bulan Ramadhan. Ibarat kendaraan, bulan Ramadhan saat tepat dilakukan turun mesin. Selama sekitar sebulan penuh umat Islam ditempa dalam kawah candradimuka atau madrasah Ramadhan. Out put atau produk dari bulan Ramadhan adalah lahirnya manusia-manusia bersih (clear atau fitri) secara fisik dan non fisik, saleh ritual juga saleh secara sosial.  Dan Idul Fitri merupakan simbol kemenangan bagi umat Islam yang melaksanakan ibadah puasa dengan penuh ketakwaan.

Orang berpuasa menurut Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di melatih dirinya untuk mendekatkan diri kepada Allah, dengan menjauhi hal-hal yang disukai oleh nafsunya. Padahal, sebetulnya ia mampu untuk makan, minum atau berjima tanpa diketahui orang, namun ia meninggalkannya karena sadar bahwa Allah mengawasinya. Akibatnya, segala bentuk maksiat dapat dikurangi. Dalam kontek ini, ibadah puasa mengajarkan pentingnya kejujuran dan pengendalian diri secara intrinsik atau dari dalam diri sendiri. Bukan semata karena ada aturan larangan dan sanksi hukum jika melanggar.

Ultimate goal atau tujuan akhir dari ibadah Ramadhan adalah mewujudkan manusia muslim yang bertakwa kepada Allah SWT (Al-Qur’an Surat Al-Baqarah ayat 183). Menurut intelektual muslim almarhum Nurcholish Madjid, takwa adalah tujuan dari seluruh ajaran Al-Qur'an. Takwa itu ialah pola hidup atau gaya hidup kita menempuh hidup, yang disertai dengan kesadaran yang mendalam bahwa Allah itu hadir. Bahwa Allah itu beserta kita. (QS 9:40). Bagi Cak Nur, demikian Nurcholish Madjib biasa disapa, kesadaran bahwa Allah beserta kita mempunyai efek atau pengaruh yang besar sekali dalam hidup kita dalam banyak aspek kehidupan.

Pertama, kesadaran itu memberikan kemantapan dalam hidup. Kita tidak pernah sendirian. Kita selalu bersama Tuhan.  Oleh karena itu, kita tidak akan takut menempuh hidup ini dan kita bersandar kepada-Nya. Maka sikap bersandar kepada Allah itu disebut tawakal.

Kedua, dengan kesadaran hadirnya Allah dalam hidup kita, maka kita akan dibimbing ke arah budi pekerti luhur, ke arah al-akhl?q al-kar?mah. Mengapa? Karena kalau kita menyadari bahwa Tuhan selalu hadir dalam hidup kita, maka tentunya kita tidak akan melakukan sesuatu yang sekiranya tidak mendapat perkenan dari Dia, tidak mendapat rida dari Dia (Allah).

Manakala spirit dan nilai-nilai Ramadhan mewarnai prilaku pemangku kepentingan Pemilu 2019, logika sehatnya tidak perlu terjadi konflik sedemikian tajam di kalangan elit politik dalam mensikapi hasil penghitungan suara Pemilu 2019 yang berdampak pada terjadinya polarisasi atau pembilahan masyarakat yang dapat mengancam disintegrasi bangsa. Kalaupun terjadi perbedaan pendapat, para pihak dapat menyelesaikannya secara musyawarah atau melalui jalur hukum yang tersedia dalam semangat ukhuwwah Islamiyah, ukhuwwah basyariah dan ukhuwwah wathoniyah.

Dugaan Kecurangan Pemilu

Spirit dan pesan Ramadhan sangat relevan untuk mencegah masih maraknya berbagai problem, pelanggaran, serta dugaan kejahatan dan kecurangan Pemilu. Kejahatan Pemilu yang masih marak hingga saat ini adalah berupa politik uang selama masa kampanye Pemilu khususnya di masa tenang menjelang tiga hari kegiatan pemungutan suara. Sehingga sanksinya menurut UU No. 7 tahun 2017 tentang Pemilu bukan hanya ancaman pidana, melainkan juga sanksi diskualifikasi atau pencoretan pelakunya (calon legislatif) dari Daftar Calon Tetap (DCT) Pemilu.

Sedangkan kecurangan Pemilu (fraud election), merefer pada pandangan Fabrice Lehoucq (2003) bisa dilakukan dengan cara untuk memanipulasi suara, mulai dari pelanggaran prosedural sampai kepada tekanan dan paksaan atau pencurian kotak suara pada saat hari pencoblosan. Dijelaskannya, penyebab terjadinya tindakan kecurangan Pemilu berkorelasi dengan upaya melindungi kepentingan ekonomi; tingginya tingkat persaingan politik; lemahnya tradisi warga terlibat dalam aktivitas kolektif, lemahnya civil society organizations, dan sebagainya.

Pakar Pemilu Ramlan Surbakti mencermati, kecurangan Pemilu didorong oleh godaan untuk memenangkan kursi sebanyak-banyaknya dengan cara yang curang dan bertentangan dengan hukum sangatlah tinggi karena yang dipertaruhkan sangat tinggi.  Sementara Sarah Birch, seorang profesor ilmu politik dari King’s College London University of London, dengan menggunakan terminologi malpraktik Pemilu menyebut, kejahatan dan kecurangan Pemilu sebagai pelanggaran terhadap norma yang ditaati secara luas. Selain itu, malapraktik Pemilu merupakan tindakan yang melanggar konsensus internasional mengenai nilai-nilai Pemilu demokratis.

Dalam pandangan Mantan Ketua MK Mahfud MD, Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) dan Pemilu tidak ada yang lepas dari kecurangan, baik politik uang, pemalsuan suara dan kekerasan. Kecurangan itu juga terlihat dari jumlah suara di suatu daerah. Akan tetapi, sayangnya  kecurangan ini sudah dianggap lumrah dan tidak signifikan. Bahkan mantan Komisioner KPU Chusnul Mariyah menengarai sejumlah potensi kecurangan yang bisa terjadi pada Pemilu 2019. Diantaranya, saat penghitungan suara.

Belakangan kejahatan dan kecurangan Pemilu ini berkembang dalam bentuk wacana atau narasi provokasi, ujaran kebencian, penyebaran hoaks dan sebagainya, terutama yang terjadi dan viral di media sosial. Tidak jarang ditingkahi dengan berbagai aksi dan tindakan yang mengarah kepada destruktif, anarkis dan bahkan ditengarai sudah masuk dalam ranah makar. Terlepas dari siapa dan kelompok mana pelakunya, wacana dan aksi kekerasan politik harus dikutuk karena tidak sesuai dengan peradaban demokrasi yang hendak ditegakkan di Indonesia.

Meskipun demikian, Indonesia tidak perlu berkecil hati dan merasa sendirian. Sebab, pelanggaran dan kecurangan Pemilu dan krisis multi dimensional yang diakibatkan oleh Pemilumerupakan fenomena global. Di Amerika Serikat misalnya, jajak pendapat Washington Post-ABC News September 2016 menemukan 46 persen pemilih terdaftar percaya bahwa election fraudsering terjadi.  Pemilu di Rusia pada 2018, juga tidak lepas dari isu kecurangan. Dalam kasus Venezuela, hasil Pemilu pada 20 Mei 2018, yang mengantarkan  Nicolas Maduro menimbulkan krisis politik berkepanjangan hingga saat ini.

Pelanggaran dan kecurangan Pemilu juga menghinggapi sembilan negara ASEAN dengan jumlah penduduk sekitar 650 juta orang. Bahkan Freedom House dan The Economist, yang rutin mengeluarkan indek demokrasi  beberapa negara, menempatkan Asia Tenggara sebagai wilayah dengan demokrasi terancam. Dari 10 negara, hanya Indonesia, Filipina, Malaysia dan Singapura yang digolongkan sebagai penerap demokrasi. Itupun demokrasi terancam. Sementara enam negara ASEAN lainnya digolongkan tidak demokratis. Padahal rangkaian Pemilu terus berlangsung di negara ASEAN. Setelah Myanmar, Laos dan Filipina pada 2016, menyusul Malaysia dan Kamboja pada 2018. Sementara pada 2019, Pemilu digelar di Indonesia, Filipina dan Thailand.

Split Personality

Melihat perkembangan politik terakhir yang membuat miris banyak kalangan, timbul pertanyaan kritis dan menggelitik:  kenapa makna dan spirit Ramadhan sepertinya tidak berdampak signifikan terhadap peningkatan kualitas Pemilu? Jika pertanyaan ini diajukan kepada pemikir muslim Azyumardi Azra, jawabannya: distorsi semacam ini tidak mengherankannya.  Dengan merujuk pada contoh kasus korupsi di Indonesia yang tetap marak, Azyumardi berpendapat, tingkat kesalehan dalam agama tidak berkorelasi dengan perilaku antikorupsi sebab terjadi split personality dalam keberagamaan masyarakat. Bahkan ia menyebutnya, terlalu naif kita berharap dengan meningkatnya kesalehan, korupsi bisa berkurang. Tidak ada hubungan antara peningkatan kesalehan personal dan sosial.

Pandangan Azyumardi ini mengafirmasi hasil survei Lembaga Survei Indonesia (LSI) yang menunjukkan bahwa kesalehan masyarakat bukan faktor yang menentukan perilaku korupsi.  Survei LSI yang dirilis pada Rabu, 15 November 2017 menyebutkan, makna agama dan perilaku ritual yang dijalani hanya berhubungan signifikan dengan sikap responden terhadap korupsi, tetapi tidak berkorelasi dengan perilaku korupsi. Semakin religius hanya semakin bersikap antikorupsi. Perilaku korup tetap berjalan dan tidak ada hubungannya dengan masalah agama.

Responden muslim dalam survei ini yakni sebanyak 89 persen dari 1.540 responden LSI yang berasal dari 34 provinsi di Indonesia. Dari jumlah itu, tercatat sebanyak 74,9 persen responden  beragama Islam mengaku sangat atau cukup saleh. Sebanyak 82,9 persen dari responden itu menyatakan sering atau cukup sering mempertimbangkan agama ketika membuat keputusan penting. LSI menelisik tingkat kesalehan ini melalui pertanyaan ihwal praktik ritual yang dilakukan responden. Survei mencatat, sebanyak 55,9 persen responden beragama Islam menyatakan rutin melakukan salat wajib lima waktu. Adapun sebanyak 67,5 persen responden mengaku rutin puasa Ramadhan dan 14,4 persen selalu menjalankan salat sunah.

Dari kaca mata sejumlah Indonesianis asing seperti Herbert Feit (1982), kegagalan demokrasi di Indonesia pada era 1950-an disebabkan karena lemahnya atau tidak ada administrator yang kompeten. Bahkan Harry J. Benda mempunyai pandangan, bahwa akar dari kegagalan dari demokratisasi di Indonesia karena budaya politik di Indonesia tidak sejalan dengan demokrasi. Sementara Robert W Hefner, Douglas E Ramage, Elie Kedourie, sekalipun berpandangan positif dan optimisme bahwa Islam di Indonesia cocok (compatible) dengan demokrasi, tetapi dalam pelaksanaanya masih banyak menimbulkan distorsi.

Kapan dan Siapa Lagi?

Sebagai bangsa yang sudah makan asam garam mengalami pasang surut dan pergolakan dan krisis politik dan demokrasi dari mulai zaman Orde Lama, Orde Baru hingga Orde Reformasi, kita meyakini bahwa pada akhirnya bangsa Indonesia akan mampu menyelesaikan problem internalnya, termasuk problem yang ditimbulkan sebagai ekses Pemilu Serentak 2019. Pemilu Serentak 2019 bukan hanya sangat kompleks dari sisi penyelenggaraan dan pengaturannya, melainkan juga banyak menimbulkan masalah. Bahkan menimbulkan korban Penyelenggara Pemilu di level bawah demikian besar. Tidak kurang 500 orang meninggal dunia, dan ribuannya sakit atau dirawat di rumah sakit.

Di sisi lain, Indonesia kini dihadapkan pada tantangan obyektif terkait dengan pertumbuhan ekonomi yang masih stagnan di angka 5 persen. Dengan pertumbuhan ekonomi seperti ini, dampak posiotif  terhadap pergerakan sektor ril, pembukaan lapangan kerja, pemerataan hasil-hasil pembangunan serta kesejahteraan masyarakat tidak terlalu bisa diharapkan terwujud dalam waktu dekat ini. Jika krisis demokrasi paska Pemilu bertautan dengan krisis ekonomi berkepanjangan, bangsa ini berpeluang akan terpuruk dan mengalami krisis multi dimensional.

Di tengah ancaman yang mengkhawatirkan semacam ini, seyogianya menyadarkan kepada kita semua, khususnya elit politik untuk segera mampu keluar dari krisis demokrasi. Caranya dengan menyelesaikan problem Pemilu, khususnya soal rekapitulasi penghitungan suara di tingkat nasional sesuai dengan mekanisme dan peraturan perundangan serta keadaban politik. Seraya memanfaatkan semaksimal mungkin spirit dan nilai-nilai luhur yang terkandung pada ibadah ramadhan. Jika tidak sekarang, kapan lagi. Jika bukan elit muslim, siapa lagi? Wallahu a’lam bissawab.[]

Editor: Arief Munandar

berita terkait

Image

News

Gunung Merapi Keluarkan Awan Panas Capai 1.500 Meter, Status Waspada

Image

News

FOTO Claudia Lopez Terpilih Jadi Wali Kota Perempuan Pertama Bogota, Kolombia

Image

News

Putri Tidur Dunia Nyata, Gadis Kolombia Bisa Tidur Selama Dua Bulan

Image

News

Syarat Calon Wali Kota Medan Independen Harus Harus Didukung 104.954 Orang

Image

News

Beberapa Persoalan Seputar Pengangkatan Wakil Menteri oleh Presiden Jokowi

Image

News

Dari Minum Sperma hingga Bercinta dengan Keledai, ini 5 Ritual Seks Teraneh di Dunia

Image

Olahraga

Alexis Sanchez

Usai Operasi, Alexis Sanchez Diperkirakan Absen Hingga Akhir Tahun

Image

Gaya Hidup

FOTO Cosplay Unik di Acara Leisure and Fantasy Lounge SOFA, Kolombia

Image

Olahraga

Kolombia 0-0 Chile

Pelatih Chile: Sanchez Kemungkinan Absen Selama 3 Bulan

komentar

Image

0 komentar

terkini

Image
News

Tak Laporkan Tempo Soal Karikatur Anies, Ini Penjelasan Fahira Idris

Alasannya masuk akal.

Image
News

Demonstrasi Hong Kong: Polisi Tembakkan Gas Air Mata ke Area Kampus

Carrie Lam mengatakan pengunjuk rasa yang mencoba melumpuhkan kota itu sangat egois dan berharap universitas mendesak siswa tidak ikut demo.

Image
News

Perppu KPK dan Putusan MK Tidak Berkorelasi, Bivitri: Saya Rasa Pak Menko Paham

Dirinya bersama para tokoh akan terus mendorong Presiden mengeluarkan Perppu.

Image
News

Hasil Verifikasi AJI Medan: Maratua dan Maraden bukan Kekerasan terhadap Jurnalis

Maratua P Siregar alias Sanjai dan Maraden Sianipar tidak berprofesi sebagai jurnalis.

Image
News
Pilkada 2020

Mulyadi, Cagub Sumbar Pertama yang Mendaftar ke Gerindra

Bukti bahwa Gerindra menjadi acuan dan harapan masyarakat untuk membangun Sumbar yang lebih baik.

Image
News

Hidupnya Terancam Usai Mengundurkan Diri, Evo Morales Terima Tawaran Suaka dari Meksiko

Ia berhasil memberantas kemiskinan dan meningkatkan ekonomi Bolivia namun berupaya mengubah konstitusi agar bisa meneruskan masa jabatannya.

Image
News

Foto Dugemnya Diekspos ke Publik, Begini Respons Menohok Menteri Syed Saddiq

Dalam foto tersebut, tampak Saddiq berada di sebuah klub bersama beberapa temannya, 2 pria dan 2 wanita.

Image
News

Kursi Presiden Kosong, Pemerintahan Bolivia Terancam Kacau

Nama Jeanine Anez pun mencuat di tengah gonjang-ganjing ini. Ia adalah senator oposisi yang saat ini menjabat sebagai wakil ketua Senat.

Image
News

Wamenag Minta Semua Pihak Hentikan Perdebatan Soal Imbauan MUI Jatim

Dikhawatirkan dapat menimbulkan kesalahpahaman dan mengganggu harmoni kehidupan umat beragama.

Image
News

Bamsoet: Pelaksanaan Sosialisasi Empat Pilar Harus Memiliki Resonansi ke Seluruh Penjuru Tanah Air

Pancasila sebagai sistem nilai bukan sekadar bahan untuk dihafal saja.

trending topics

terpopuler

  1. Pengakuan Pembunuh Perempuan di Cakung: Korban Sempat Nangis dan Minta Maaf, Tetap Saya Habisi

  2. Akhirnya Jenazah Ignatius Freddy Dimakamkan Secara Muslim

  3. Gantikan Jokowi Resmikan Patung Jenderal Sudirman, Prabowo: Kalau Kita Lemah, Pasti Akan Diganggu

  4. Larangan Pejabat Ucap Salam Semua Agama, Bamsoet: Saya Tidak Masalah, yang Penting Tak Pengaruhi Keyakinan

  5. Mourinho: Hanya Ada Satu Cara Gagalkan Liverpool Jadi Juara

  6. Soal Foto Tak Pakai Bra, Begini Tanggapan Marshanda

  7. Idham Azis Tarik Dua Perwira dari Polda Papua Barat

  8. Ceritakan Kesan Rapat Pertama bareng Jokowi, Prabowo Ungkap Perintah Pertama Presiden yang Disukainya

  9. PKS Khawatir Misionaris di Papua Disusupi Agenda Lain, Arie Kriting: Manusia Papua Itu Terbaik

  10. Bos Wulling yang Tenggelam Ditemukan Nelayan, Sayembara Rp750 Juta Masih Berlaku?

fokus

Nasib Sumber Air
Tantangan Pendidikan
Pejuang Kanker Payudara

kolom

Image
Abdul Aziz SR

Pentingnya Tenaga Ahli DPRD

Image
Hasan Aoni

Secuil Kabar dari Amerika tentang Sri

Image
UJANG KOMARUDIN

Inspirasi Hari Pahlawan

Image
Rozi Kurnia

Polemik Sinema atau Bukan Sinema ala Martin Scorsese

Wawancara

Image
News

Pemidanaan Korporasi Atas Karhutla Di Mata Praktisi Hukum

Image
Olahraga

Wawancara Seto Nurdiantoro (Bag 2 - selesai)

'Pertandingan Paling Berkesan Adalah Menang'

Image
Olahraga

Wawancara Seto Nurdiantoro (Bag-1)

'Suatu Hari Nanti Saya Ingin Melatih Timnas'

Sosok

Image
News

Nggak Gengsian, ini 5 Potret Memesona Utari si Penjual Cilok di Boyolali yang Viral

Image
News

6 Potret Seru Susi Pudjiastuti saat Liburan, Sambil Momong Cucu

Image
News

Mundur dari PNS, ini 5 Fakta Pencalonan Siti Nur Azizah di Pilwalkot Tangsel