image jamkrindo umkm
Login / Sign Up
Image

Ubaid Matraji

Koordinator Nasional Jaringan Pemantau Pendidikan Indonesia (JPPI)

Sekolah Masih Jadi 'Zona Berbahaya' Bagi Anak

Deni Muhtarudin

Image

Anak-anak saat mendukung peserta lomba di acara 'Fit Olympic Madurasa' yang diselenggarakan di Taman Mini Indonesia Indah, Jakarta, Sabtu (2/3/2019). Sejumlah permainan tradisional, seperti gobak sodor, balap karung, serta bola gebok digelar oleh Air Mancur Grup. Tujuan acara ini agar para peserta lomba yang berasal dari seluruh Sekolah Dasar (SD) se-Jakarta Timur tersebut bisa melestarikan permainan tradisional yang kini mulai sepi peminat di kalangan anak-anak Ibu Kota. | AKURAT.CO/Endra Prakoso

AKURAT.CO, Suasana yang nyaman, aman dan ramah Anak adalah prasyarat yang mesti dipenuhi dalam proses pembelajaran di Sekolah. Sayangnya, ini tidak terjadi di Indonesia. Sebab, Anak-Anak yang berada di Sekolah justru terpapar Kekerasan dan berada di zona bahaya.

Berdasarkan penelitian Right to Education Index (RTEI) pada Desember 2018, indikator kualitas Pendidikan Indonesia yang paling jeblok adalah soal safety learning environment, artinya Sekolah masih menjadi tempat yang tidak aman bagi Anak. Memang ternyata benar adanya, hal ini setidaknya tercermin dari banyaknya peristiwa yang mencerminkan Sekolah sebagai 'zona berbahaya' bagi Anak selama Januari-Mei 2019 ini.

1. Kekerasan dan pelecehan seksual di Sekolah.

baca juga:

Mengawali tahun 2019, masyarakat Indonsia masih dikejutkan dengan lanjutan drama kasus Baiq Nuril yang mencoreng muka Pendidikan Indonesia. Korban pelecehan seksual di Sekolah ternyata tidak hanya Anak, tapi juga guru. Kalau guru saja tidak berdaya di Sekolah, apalagi Anak-Anak peserta didik.

Hingga kini, kasus Kekerasan di Sekolah masih terus bermunculan dan merata terjadi di seluruh wilayah Indonesia. Kasus terakhir yang diributkan publik adalah penganiayaan Audrey. Bahkan hingga hari ini, Kekerasan di Sekolah masih menghiasi berita-berita di media massa. Hal ini diperparah lagi dengan tidak ada sistem atau mekanisme perlindungan Anak di Sekolah. Ironisnya, pelapor Kekerasan malah dikecam banyak pihak, karena dianggap mencemarkan nama baik Sekolah.

2. Bersemainya sikap intoleransi dan paham radikalisme.

Kasus beredarnya buku ajar di Sekolah yang bermuatan konten intoleransi dan radikalisme beberapa kali terjadi dan terus terulang. Di tahun ini konten intoleransi ini juga masuk dalam soal Ujian Sekolah Berstandar Nasional (USBN) di Sekolah. Mengerikan sekali, nama ujiannya saja berstandar nasional, tapi soalnya tidak mendidik dan sungguh tidak sesuai standar.

Sayangnya, pihak pemerintah tidak menelusuri kasus ini dan menguak jaringan yang melingkupinya. Lagi-lagi, pemerintah cenderung membiarkan kasus-kasus intoleransi semacam ini, seperti tahun-tahun sebelumnya. Bahkan, tidak ada langkah konkrit yang dilakukan oleh pemerintah terhadap temuan penelitian belakangan ini yang menunjukkan bahwa enam dari sepuluh guru muslim memiliki opini intoleran terhadap pemeluk agama lain. Begitu hasil survei PPIM tahun 2018 terhadap 2.237 guru Muslim di 34 provinsi. Selain intoleransi, survei itu juga menilik tendensi radikalisme dan mendapati bahwa hampir setengah guru Muslim memiliki opini radikal.

3. Politisasi Sekolah dan penyebaran hoaks.

Kasus Pemilu 2019 ini menunjukkan fenomena ini. Banyak Sekolah yang terlibat dukung mendukung paslon. Bahkan, viral video guru mengajarkan Anak-anaknya bernyanyi dukung salah satu paslon yang berlaga di Pilpres 2019. Ada juga pemecatan guru dan perlakuan diskriminatif lainnya dikarenakan perbedaan pilihan saat Pilpres 2019.

Hal ini diperparah juga dengan banyaknya berita-berita hoaks yang bertebaran di medsos Sekolah dan juga whatsapp groups di kalangan orang tua murid dan guru. Mereka saling men-share berita-berita hoaks dan tidak mendidik. Ini sangat jauh dari tradisi akademis dan berfikir kritis yang harusnya dikembangkan di Sekolah. Ini terjadi sangat terkait dengan rendahnya minat baca dan budaya literasi di Sekolah.

4. Peredaran Narkoba di Sekolah.

Ini banyak dirasakan oleh berbagai pihak, tapi masih terkesan sumir untuk diungkap. Padahal ini adalah bahaya yang mengancam Anak-Anak di Sekolah. Bahkan, di awal 2019, kita dikejutkan dengan salah satu Sekolah di Jakarta Barat yang dijadikan gudang penyimpanan Narkoba. Juga sering kali ditemukan Narkoba jenis permen yang sudah beredar di Sekolah. Di beberapa kota besar, menurut BNN, tiap Sekolah mayoritas bisa dipastikan ditemukan Anak pecandu Narkoba. Ini tentu harus kita waspadai Bersama.

Untuk menghindari hal tersebut, JPPI merekomendasikan:

1. Pemerintah tidak cukup hanya membuat peraturan tentang Sekolah ramah Anak, tapi bagaimana Sekolah ramah Anak itu bisa diwujudkan. Peraturan tanpa ada 'will' dari semua stakeholder Pendidikan, tidak akan berkontribusi apapun terhadap perbaikan kualitas Sekolah.

2. Pemerintah harus memprioritaskan dan mengarusutamakan moderatisme beragama dan nilai-nilai multikulturalisme dalam pembelajaran di Sekolah. Ini untuk menangkal intoleransi dan radikalisme yang terus tumbuh dan terkesan dibiarkan. Harus ada evaluasi dan langkah intervensi yang sistematis terhadap guru-guru yang terpapar pemikiran dan sikap intoleran dan radikal.

3. Tindak tegas pelaku yang terlibat dalam 4 kasus 'zona berbahaya' di Sekolah. Penindakan juga harus diikuti dengan pengungkapan jejaring yang sangat dimungkinkan mereka tidak melakukannya secara individual, tapi sudah berkelompok dengan jejaring di luar Sekolah. Ini semua harus diungkap dan diberikan sangsi tegas sesuai peraturan.

4. Penguatan literasi di Sekolah. Adanya politisasi dan juga korban berita hoaks sangat terkait dengan budaya literasi di Sekolah yang rendah. Budaya literasi ini akan membuka cakrawala berfikir dan nalar kritis untuk memilih dan memilah mana berita yang layak dikonsumsi dan tidak.

5. Tingkatkan partisipasi komite Sekolah dan peran serta masyarakat dalam pengawasan Sekolah. Karena, tidak semua bisa dilakukan oleh guru dan internal Sekolah. Untuk itu, peran masyarakat dalam mewujudkan Sekolah sebagai zona aman bagi Anak sangat diperlukan.[]

Editor: Ainurrahman

berita terkait

Image

News

Soal Bayar SPP Pakai Gopay, Said Didu: Pak Nadiem yang Terhormat, Sekedar Mengingatkan Uang yang Bapak Kelola Saat Ini Uang Rakyat

Image

News

BNNP Banten Sita 50 Kilogram Ganja dari Bus AKAP asal Sumatera

Image

News

Petugas Gagalkan Penyelundupan Narkotika Jenis Sabu dan Ekstasi di Lapas Banceuy

Image

Hiburan

Polisi akan Autopsi Jenazah Anak Karen Idol

Image

News

Ganjar Dukung Wacana Perubahan Skripsi Sebagai Syarat Kelulusan Menjadi Pengabdian Desa

Image

News

BNN Banten Ringkus Kurir Ganja Saat Tunggu Tiba di Tangerang

Image

News

Polisi Masih Dalami Geng Motor yang Tawuran di Cempaka Putih Diduga Terpengaruh Narkoba dan Alkohol

Image

News

Terdakwa Pembunuhan Suami dan Anak Tiri Dikenal Emosional oleh Keluarga Korban

Image

News

Meski Dinyatakan Positif, Polisi Belum Pastikan Pemilik Ekstasi di TKP Penangkapan Lucinta

komentar

Image

0 komentar

terkini

Image
News

Amnesty dan Kontras: Pemerintah Sebaiknya Dukung Keputusan Komnas HAM terkait Paniai

Peristiwa Paniai terjadi pada 7-8 Desember 2014 di saat Presiden Joko Widodo memulai periode pertama masa pemerintahannya.

Image
News

Rumah Ketua PA 212 Dilempari Batu, Tengku: Ada Preman yang Keberatan Aksi Anti Korupsi atau Cukongnya yang Keberatan?

Tengku menambahkan sudah dua kali rumah Slamet Maarif dilempari batu. "Negeri aneh," katanya.

Image
News
Satgas Pamtas

Tingkatkan Literasi Pemuda Perbatasan, Prajurit Kostrad Dirikan Rumah Baca

"Dengan membaca, diharapkan akan menambah ilmu dan pengetahuan sebagai bekal saat ini maupun masa datang"

Image
News

Gerindra-PKS Kompak Bela Anies Terkait Survei Indo Barometer

Jauh lebih bagus yang sudah dilakukan Anies

Image
News

Anggota DPRD: Ini Tidak Dapat Dibiarkan, Ini Bentuk Pelecehan Institusi Legislatif

Berdasarkan pantauan Antara di ruang rapat paripurna DPRD Kepri, Selasa, jumlah kepala dinas yang hadir hanya tujuh orang.

Image
News

Soal Bayar SPP Pakai Gopay, Said Didu: Pak Nadiem yang Terhormat, Sekedar Mengingatkan Uang yang Bapak Kelola Saat Ini Uang Rakyat

Nadiem adalah pendiri Gojek Indonesia pada 2010.

Image
News

Menag Fachrul Razi Dorong Semua Pihak Kampanyekan Moderasi Beragama

Kami terus mengajak semua tokoh dan entitas semua agama untuk toleran menghormati semua agama

Image
News

Rusak Dimakan Rayap, Rumah Nenek Mariam Diperbaiki Kodim Malinau

"Kami sekeluarga tidak bisa membalas apa-apa, hanya doa yang bisa kami panjatkan, semoga kebaikan akan dibalas oleh Tuhan Yang Maha Esa"

Image
News

5 Kisah Pasien Virus Corona yang Berhasil Sembuh, Ada yang Pulih Tanpa Rawat Inap

Seorang warga Wuhan bermarga Huang diklaim sebagai orang pertama yang berhasil

Image
News

BNNP Banten Sita 50 Kilogram Ganja dari Bus AKAP asal Sumatera

Saat ini kami masih lakukan pengembangan lebih lanjut terkait hendak menuju kemana barang ini diedarkan.

terpopuler

  1. Kisah Ketika Mbah Maimoen Zubair Rembang dapat Melipat Waktu

  2. Tengah Hamil Muda, Ini 10 Potret Baby Bump Vanessa Angel yang Memesona

  3. Hanya Seorang Diri Bermodalkan Borgol, Brigadir Kepala Asep Somantri Berhasil Bekuk Pelaku Curanmor

  4. Washington jadi Kota Pertama yang Legalkan Pengomposan Manusia

  5. Beranjak Remaja, 10 Potret Cantik Asila Maisa Putri Ramzi yang Pandai Modeling

  6. 5 Fakta Menarik Simeone Inzaghi, Fanatik Pola 3-5-2 dan Kini Lebih Tenar dari Kakaknya Pippo Inzaghi

  7. Berada Ribuan Meter di Bawah Tanah, Ini 5 Fakta Unik Masjid Baabul Munawwar

  8. Arcandra Tahar: Cadangan Minyak RI Hanya Tersisa 0,2 Persen

  9. Bikin Melongo Kagum, Pria ini Bikin Tiruan Motor dari Sedotan!

  10. Hendrawan: Di Indonesia, Perak Olimpiade Dianggap Gagal

fokus

Hutan Kecil Terarium
Target SDGs
Catatan 100 hari Jokowi-Ma'ruf Amin

kolom

Image
Abdul Aziz SR

Menanti Kebangkitan PPP

Image
Achmad Fachrudin

Paska Penolakan Pemulangan Mantan ISIS

Image
Hasan Aoni

PETIR

Image
Ujang Komarudin

Formula E yang Jadi Rame

Wawancara

Image
Gaya Hidup

Bintangi Get Married Series, Prilly Latuconsina Ragu Tak Bisa Seperti Nirina Zubir

Image
Gaya Hidup

Literasi

Rakerpus Perpusnas: Penguatan Indeks Literasi untuk SDM Indonesia Unggul

Image
Video

VIDEO Jejak Sepotong Roti Jakarta

Sosok

Image
News

Ceritakan Kisah Perjalanan Psikologi di Mako Brimob, 5 Fakta Menarik Buku 'Panggil Saya BTP'

Image
News

20 Tahun Berkarier hingga Jadi Direktur Freeport, 5 Fakta Penting Claus Wamafma

Image
News

Angkat BTP Jadi Bos Pertamina hingga Pecat Dirut Garuda, 5 Kinerja Erick Thohir Ini Sukses Curi Perhatian