image jamkrindo umkm
Login / Sign Up
Image

Ujang Komarudin

Direktur Eksekutif Indonesia Political Review (IPR) & Pengamat Politik Universitas Al-Azhar Indonesia (UAI) Jakarta

Ulama Terpecah, Umat Terbelah

Pemilu 2019

Image

Ratusan massa melakukan aksi Bela Kalimat Tauhid dengan membentangkan bendera kalimat Tauhid di depan Gedung Menkopolhukam, Jalan Medan Merdeka Barat, Jakarta Pusat, Jumat (26/10/2018). Dalam aksi ini mereka menuntut pemerintah mengusut oknum Gerakan Pemuda (GP) Ansor atau barisan serbaguna (Banser) Nahdlatul Ulama (NU) yang diduga menjadi pelaku pembakaran bendera bertuliskan kalimat tauhid beberapa waktu lalu. | AKURAT.CO/Sopian

AKURAT.CO, Pemilu 2019 bukan hanya membuat pilu. Tetapi juga banyak memakan korban. Ratusan penyelengara Pemilu dan aparat meninggal dunia. Bukan itu saja yang terjadi, elite, ulama, dan masyarakat pun terpolarisasi.

Pemilu 17 April 2019 yang berjalan dengan aman, damai, dan tertib menjadi kebanggaan tersendiri bangsa ini. Di tengah hiruk-pikuk Pilpres yang panas, saling serang, menjatuhkan, dan fitnah. Masyarakat berondong-bondong, melakukan people power, datang ke TPS untuk mencoblos siapa yang dikehendakinya.

Pilpres sejatinya jangan membuat stres. Pilpres, bukan untuk saling adu domba antar elite, ulama, dan masyarakat. Pilpres bukan arena caci maki dan mengumbar kebencian. Pilpres juga bukan untuk melanggengkan perpecahan.

baca juga:

Jika para elite terpecah, ulama tak bersatu, dan masyarakat terbelah. Hendak kemana republik ini melaju. Bangsa dengan mayoritas berpenduduk muslim terbesar di dunia ini, harus tetap dijaga.

Pilpres 2019 juga masih menyisakan luka-luka. Luka Pilpres tak akan beres, jika para ulama yang berbeda dukungan, masih menjadikan umat sebagai legitimasi politik.

Ulama yang mulia, sudah sepantasnya memberikan kesejukkan, kedamaian, persatuan, dan kesatuan di tengah-tengah masyarakat. Jangan sampai ulama, sebagai perekat umat terpecah. Jika ulamanya terpecah, maka umat pun akan terbelah.

Jika ulamanya tidak kompak, maka umat akan terkotak. Jika ulamanya gagal menciptakan kedamaian, maka umatnya akan ugal-ugalan.

Pilpres bukan untuk melanggengkan perpecahan. Bukan untuk menyemai kebencian. Bukan pula untuk saling menjatuhkan. Tetapi Pilpres harus jadi momentum terciptanya persaudaraan, persatuan, dan kesatuan.

Setajam apapun perbedaan pendapat. Sekeras apapun perbedaan argumen. Sekuat apapun pertentangan. Jangan pernah membuat kita, berada dalam persimpangan jalan. Dan jangan sampai membuat bangsa ini terkotak.

Perbedaan pilihan diantara ulama adalah biasa. Ada ulama yang mendukung kubu 01. Dan ada juga, yang mendukung 02, itu merupakan fitrah. Tak dilarang ulama berpolitik. Tak dilarang ulama dalam dukung mendukung. Yang dilarang adalah, jika ulama menjadi faktor perpecahan umat.

Namun dalam dukung mendukung dan berpolitik, ulama harus jadi panutan dan tuntunan. Ulama juga harus jadi referensi bagi umat. Dan menjadi penyebar kebaikan bagi umat, bangsa, dan negara.

Perbedaan pendapat diantara ulama adalah merupakan rahmat. Ya, menjadi rahmat. Karena kehadiran ulama dimasing-masing kubu, tentu akan bisa mewarnai politik moralitas di internal masing-masing kubu.

Namun akhir-akhir ini, benih-benih perpecahan ulama itu mulai terlihat. Masing-masing ulama di kedua kubu, melegitimasi kemenangan para capres dan cawapres masing-masing.

Munculnya Ijtima Ulama 3 yang salah satu rekomedasinya, mendesak Bawaslu dan KPU untuk memutuskan pembatalan/diskualifikasi paslon capres-cawapres 01, merupakan hal yang aneh. Karena pemenang capres dan cawapres belum diumumkan.

Kita tentu sepakat, jika ada kecurangan yang seperti dituduhkan, yaitu terjadi secara terstruktur, sistematis, dan masif. Silahkan ungkap. Silahkan buka ke publik. Silahkan dilaporkan ke yang berwenang. Dan lakukanlah melalui mekanisme hukum.

Baik ulama yang ada di kubu 01 atau pun 02, haruslah menjaga kerukunan, kedamaian, persaudaraan, persatuan, dan kesatuan. Menjadi ulama adalah anugerah. Selain karena kedalaman ilmu dan intelektualitasnya yang tinggi. Ulama juga memiliki banyak pengikut.

Tak aneh dan tak heran, jika ucapan dan perilaku ulama banyak diikuti oleh pendukung-pendukungnya. Nah disinilah, ulama harus menjadi alat perekat dan pemersatu di antara internal ulama dan masyarakat.

Karena jika ulamanya terpecah, maka rakyat pun bisa terbelah. Ulama harus juga mampu digugu dan ditiru. Menjadi tuntunan. Bukan hanya menjadi tontonan.

Kita berharap pada ulama-ulama, yang bergaris lurus dan ikhlas dalam berpolitik. Berpolitik baginya, bukan untuk mendapatkan jabatan dan dunia. Namun berpolitik untuk kebaikan umat, bangsa, dan negara.

Karena ada juga ulama suu’ (jelak), yang tak patut dan pantas untuk ditiru. Dan seperti kata Imam Al-Ghozali, ulama tersebut masuk kategori ulama dunia.

Yang pasti, jangan sampai antar sesama ulama, saling nyinyiran dan saling menjelekkan. Ini lah pangkal, kerusakan dan perpecahan. Jika ulamanya terpecah. Dukung mendukung di kedua kubu. Tanpa solusi dan rekonsiliasi, maka hendak kemana lagikah umat ini akan melangkah.

Umat dan bangsa ini butuh perbaikan disana-sini. Peran ulama akan sangat penting. Jadi, jika ulamanya bisa bersatu. Tidak terpecah-pecah, maka umat dan bangsa pun bisa maju.

Namun jika ulamanya saling menyalahkan, hanya ingin menang sendiri-sendiri, di kubunya masing-masing, maka tunggulah kerusakan umat dan bangsa ini.

Jangan sampai ulamanya terpecah, masyarakatnya terbelah, elitenya rusak, pejabatnya korup, dan republik ini pun kehilangan arah. Masih ada waktu untuk kembali bersatu. Rekonsiliasi adalah salah satu jalannya.

Pilpres bukan untuk melanggengkan perpecahan, diantara para ulama, umat, dan elite. Tetapi Pilpres harus menjadi sarana untuk memperbaiki nasib bangsa.

Kita tentu masih hormat dan patuh pada ulama. Namun pada ulama yang ikhlas. Ya, ulama yang ikhlas terjun ke politik, hanya untuk memperbaiki nasib umat, bangsa, dan negara. Bukan ulama yang berjuang untuk kepentingan politik sesaat.

Jika ulamanya rusak, maka akan rusak pula negara ini. Namun jika ulamanya baik, maka akan baik pula negara ini. Oleh karena itu, kita membutuhkan peran ulama, yang bisa mempersatukan, mempererat, dan merekatkan persatuan ulama dan umat.

Siapapun nanti yang diumumkan sebagai pemenang Pilpres. Semuanya harus legowo. Tidak boleh memaksakan kehendak. Ulama harus mempersatukan. Bukan memecah belah. Ulama harus mendamaikan. Bukan memperkeruh suasana.

Dan ulama harus cinta akan tanah airnya. Sehingga ketika nanti, terjadi bibit-bibit perpecahan muncul di masyarakat. Ulama lah yang akan pertama mendamaikan.[]

 

 

Editor: Sunardi Panjaitan

berita terkait

Image

News

Kolom

Banjir Jakarta: Menenggelamkan atau Menaikkan Popularitas Anies?

Image

News

Kolom

Membaca Hambatan Anies di 2024

Image

News

Kolom

Politik Dinasti, Oligarki dan Anomali Demokrasi

Image

News

Kolom

Menanti Kebangkitan PPP

Image

News

Kolom

Paska Penolakan Pemulangan Mantan ISIS

Image

News

Formula E yang Jadi Rame

Image

News

Kolom

Tantangan Internal PAN dan Kekacauan Politik Nasional

Image

Ekonomi

Kolom

Kambing Hitam Seretnya Pertumbuhan Ekonomi

Image

News

Kolom

Negara Sandiwara

komentar

Image

1 komentar

Image
demo satria

semoga tidak mengakibatkan perpecahan akibat dari pemilu 2019 ini

terkini

Image
News

Pemerintah Hormati Kebijakan Arab Saudi Tangguhkan Sementara Penerimaan Jemaah Umrah

Pemerintah menganggap, kebijakan itu diambil tentu dengan mempertimbangkan kepentingan umat yang lebih besar.

Image
News

Sri Puguh Lepas Jabatan Dirjen PAS, Yasonna: Sudah Ada Penggantinya

Kementerian Hukum dan HAM telah menyiapkan nama menggantikan posisi Direktur Jenderal Permasyarakatan (Dirjen PAS) Sri Puguh Utami.

Image
News

Menguak Keajaiban Besi Berdasarkan Al-Qur'an

Sebagai benda yang dapat memudahkan kebutuhan manusia, nyatanya besi bisa saja menjadi benda yang dapat mendekatkan diri kepada Allah.

Image
News

PGRI Apresiasi Perlakuan Polisi terhadap Tersangka Susur Sungai

PB PGRI mengapresiasi perlakuan aparat kepolisian terhadap ketiga tersangka kasus susur sungai.

Image
News

KKSB Egianus Kogoya Serang Pos TNI, Dua Orang Luka-luka Satu Tewas

Kelompok Egianus melakukan serangan pada saat masyarakat di sekitar pos sedang melakukan acara bakar batu

Image
News

Tak Terpapar Corona, Ma’ruf Amin Harap Jamaah Indonesia Tidak Terkena Embargo Umrah

Sedang diusahakan supaya yang menunggu dan yang sudah ada tetap (bisa umrah).

Image
News

Malam Ini, Penyidik KPK Sisir Mantan Sekretaris Nurhadi di Jakarta

Kami menindaklanjuti informasi keberadaannya ada di Jakarta sehingga malam ini teman-teman sedang bergerak ke lapangan

Image
News
Pilkada 2020

149 Pasangan Calon Perseorangan Ikuti Pilkada Serentak 2020

Seluruh bakal calon perorangan tingkat kabupaten-kota memasuki tahapan verifikasi administrasi mulai 27 Februari.

Image
News

Video Musiknya Dinilai Hina Makkah, Rapper Wanita Arab Saudi Ini Jadi Buronan

Videonya dianggap menghina tradisi masyarakat Makkah serta bertentangan dengan identitas dan tradisi penduduknya yang terhormat.

Image
News

Sekitar 84 Ribu Jemaah Asal Jatim Terancam Gagal Berangkat ke Tanah Suci

"Kami belum bertemu untuk menyikapi masalah ini. Semestinya nanti akan ada petunjuk melalui surat semacam edaran dari Kementerian Agama"

terpopuler

  1. Dapat Ikut Pilkada 2020, Mabes Polri Klaim Mantan Pati Polri Tak Dapat Intervensi Kepolisian Lagi

  2. Persiapkan Diri, Ini 7 Golongan Manusia yang Akan Selamat dari Siksa Kubur

  3. Tayang di Bioskop Trans TV, 5 Fakta Menarik Film Horor The Boy yang Bikin Merinding

  4. Wow! Deddy Corbuzier Sudah Tak Komsumsi Gula 5 Tahun Ini

  5. Amien Rais Minta Pemerintah Tidak Sahkan Kepengurusan PAN Periode 2020-2025

  6. Geram, Pelatih PSM Makassar Anggap AFC Tak Profesional

  7. Jadi Orang Tua Baru, 10 Potret Bahagia Keluarga Kecil Kimberly Ryder

  8. Polisi Selidiki Mayat Laki-Laki di Hotel Tokyo Banjarmasin

  9. Santap Menu Angkringan hingga Nikmati Es Teh Plastikan, 10 Aksi Gibran Rakabuming Kulineran di Pinggir Jalan

  10. Batu Alam di Monas Rusak karena Pengaspalan Formula E, Jakpro: Nanti Diperbaiki Lagi

fokus

Hutan Kecil Terarium
Target SDGs
Catatan 100 hari Jokowi-Ma'ruf Amin

kolom

Image
Ujang Komarudin

Banjir Jakarta: Menenggelamkan atau Menaikkan Popularitas Anies?

Image
Zainul A. Sukrin

Membaca Hambatan Anies di 2024

Image
Achsanul Qosasi

Memimpin Tanpa Menyalahkan

Image
Pangi Syarwi Chaniago

Banjir Jakarta Menghanyutkan Elektabilitas Anies Baswedan?

Wawancara

Image
Gaya Hidup

Literasi

Kala Buku, Akses dan Minat Baca Orang Indonesia Belum Sinkron

Image
Gaya Hidup

Literasi

Kepala Perpusnas: Budaya Baca Bangsa Indonesia Tidak Rendah

Image
Gaya Hidup

Literasi

Rakornas Perpusnas, Penguatan Budaya Literasi Wajib untuk SDM Indonesia Unggul

Sosok

Image
News

6 Potret Danpaspampres Maruli Simanjuntak Bareng Putrinya, Kompak di Berbagai Kesempatan

Image
News

Santap Menu Angkringan hingga Nikmati Es Teh Plastikan, 10 Aksi Gibran Rakabuming Kulineran di Pinggir Jalan

Image
News

5 Fakta Penting Maruli Simanjuntak, Komandan Paspampres Menantu Luhut Pandjaitan