image
Login / Sign Up

Kisah Mahasiswa UIN Alauddin Ditangkap Polisi Usai Demo

Muh. Aidil

Image

Ilustrasi - Demonstrasi | AKURAT.CO/Ryan

AKURAT.CO  Kasus penangkapan mahasiswa Universitas Islam Negeri Alauddin, Makassar, bernama Awal Juli atau Wawan (22) masih menjadi buah bibir di kalangan mahasiswa Kampus Peradaban. Mahasiswa jurusan Aqidah Filsafat tersebut kini menjadi tahanan di Markas Kepolisian Resor Kota Besar Makassar.

Wawan ditangkap Sabtu (6/4), malam, dalam kasus dugaan pemukulan terhadap Kepala Unit Provost Kepolisian Sektor Tamalate Inspektur Dua Polisi Darwis di tengah unjuk rasa.

Mahasiswa mempertanyakan penahanan Awal Juli. Mereka menganggap Wawan hanya bereaksi atas tindakan Polisi.

baca juga:

"Sangat disayangkan sikap kepolisian yang menahan sodara Wawan ini, padahal pada awalnya pihak kepolisian dari Polsek Tamalate sendiri yang awalnya melakukan tindakan refresif kepada massa aksi sampai-sampai baju sodara Wawan robek dan beberapa massa aksi yang lain mendapatkan tendangan dan pukulan di wajah," kata penanggungjawab aksi Ahmad Fandy kepada AKURAT.CO, Selasa (16/4/2019).

"Dari insiden pemukulan Wawan kepada pihak kepolisian itu sangat perlu untuk kita adakan klarifikasi, dari beberapa video kejadian di lapangan yang telah kita rangkum ternyata dari awal massa aksi telah mendapatkan perlakuan tidak baik dari pihak kepolisian," dia menambahkan.

Sebelum Awal Juli ditangkap, kata Ahmad Fandy, mahasiswa yang unjuk rasa mengirim sepucuk surat kepada Polrestabes Makassar pada Kamis (4/4/2019). Isi surat untuk meminta pengawalan pengamanan aksi.

Unjuk rasa awalnya akan dilakukan di depan kantor PT. Gojek Indonesia, Jalan Sultan Alauddin, Jumat (5/4/2019), siang. Namun karena di sana ada ada sejumlah driver ojek yang menghalau pengunjuk rasa, akhirnya mereka pindah lokasi demo.

Jumlah ojek online yang menghalau mahasiswa diperkirakan mencapai 200 orang. Mereka memblokir akses jalan menuju Gojek Indonesia.

"Berlaku anarkis terhadap perserta aksi seperti memukul-mukul, naik, dan menginjak kaca, sampai mencabut kabel sound system yang berada di atas mobil komando yang dibawa peserta aksi," katanya.

Ahmad Fandy menilai ada kelalaian aparat dalam mengawal pengunjuk rasa.

Dia juga menyebut ada oknum yang ingin membenturkan sesama driver ojek online waktu itu. 

Karena jalur diblokir, demonstran bergeser ke Jalan Andi Pangeran Pettarani dan Sultan Alauddin Kota Makassar untuk menyampaikan aspirasi.

Baru sekitar 10 menit orasi, aparat Kepolisian Sektor Tamalate meredam aksi.  Kala itu, Awal Juli yang ikut demo, memprotes aparat.

"Kenapa Polisi cepat berada di sini dan memberikan intervensi kepada kami, kemana bapak-bapak kepolisian sewaktu kami dihalau oleh oknum ojol? Kami mau aksi di sana pak, kenapa di sana cuma ada 3 aparat kepolisian, kami akan bubar di tempat ini. Tapi tolong bapak amankan tempat dimana seharusnya kami melakukan aksi," kata Awal Juli yang ditirukan Ahmad Fandy.

Aksi kemudian ricuh. Demonstran dan aparat terlibat saling dorong-dorongan.  Air galon yang dibawa Polisi direbut massa karena tak ingin ban yang dibakar dipadamkan begitu saja.

"Aksi merebut air galon terjadi kurang lebih 30 menit sebelum terjadi aksi saling pukul," kata dia.

Kemudian terjadilah tarik-tarikan, bahkan pemukulan, setelah air galon direbut mahasiswa.

"Beberapa orang massa aksi tersobek-sobek bajunya dan beberapa massa aksi lebih memilih membuka baju kausnya karena khawatir dirobek oleh pihak kepolisian," kata dia.

Yang membuat pengunjuk rasa makin panas, katanya, setelah melihat senjata yang dibawa aparat.  "Seorang Polisi diketahui membawa senjata tajam dalam bentuk badik yang disimpan dirimbacknya (tas kecil berbentuk selempang) yang memicu amarah peserta aksi," kata dia.

Setelah 90 menit ricuh, pengunjuk rasa memilih untuk membubarkan diri. Peristiwa itu rupanya berbuntut panjang, terutama setelah video peristiwa viral di media sosial.

"Video yang viral di sosial media dengan tema atau judul yang beragam namun inti dari pada viralnya video tersebut adalah "mahasiswa memukul Polisi" seolah-olah ingin menggiring opini publik untuk menyalahkan mahasiswa secara sepihak dan menciderai nama baik instansi kepolisian," kata dia.

Ahmad Fandy mengatakan baru mengetahui video pemukulan itu pukul 16.00 WITA, setelah massa membubarkan diri dari lokasi kejadian.

Khawatir dengan nasib Awal Juli yang menjadi obyek video, mahasiswa mencari keberadaannya. 

"Kami mencoba mencari tahu posisi Wawan, namun beberapa orang yang kami hubungi tidak mengetahui keberadaannya," kata dia.

Menurut Ahmad Fandy dari sejumlah berita yang beredar terkait video itu tidak memberikan keterangan yang berimbang. "Berita yang beredar dan keterangan yang didapatkan setelah mengecek penyebaran video informasi dalam sosial media tidak berimbang dan tidak dijelaskan secara terperinci oleh pihak yang terkait," kata dia.

"Kami khawatir karena sebelumnya kami ketahui dari teman Wawan atau Awal bahwa Wawan mendapat teror dari orang yang tidak dikenal, dengan bahasa-bahasa yang mengancam," dia menambahkan.

Proses pencarian Awal Juli dihentikan pukul 20.30 WITA, tanpa membuahkan hasil. Untuk menenangkan diri, rekan-rekan Awal Juli berusaha berpikir positif.

"Menenangkan dengan anggapan "capek sepertinya Wawan baru pergi tidur terus lowbet hpnya. Besok lah dilihat dan dicari tau keadaannya semoga tidak kenapa-kenapa," kata dia.

Mahasiswa yang hari itu sangat lelah mencari Awal Juli, kata Ahmad Fandy, sekretariat didatangi Polisi pukul 21.30 WITA. Polisi menyita handphone milik mahasiswa.

"Secara tiba-tiba kami didatangi orang-orang yang mengaku dari Jatanras Polda dan Jatanras Polrestabes selebihnya mengaku sebagai utusan Resmob Polda yang tiba-tiba menyuruh kami masuk di Sekret dan menyita ponsel kami," kata dia.

"Dan mereka membawa kami mencari Wawan di rumahnya tetapi Wawan tidak ditemukan, lalu kami pun dibawa ke Polrestabes Makassar untuk dimintai keterangan," Ahmad Fandy menambahkan.

Proses berita acara pemeriksaan dilakukan secara marathon, dan baru selesai Subuh. Para mahasiswa yang diperiksa meminta keringanan berupa izin pulang, tetapi ditolak.

"Barulah sore harinya kami diperbolehkan pulang, tidak lama kemudian kami mendapat informasi bahwa Wiwin (adik wawan) dibawa oleh pihak kepolisian yang mengaku sebagai Resmob. Ada enam orang yang diperiksa," kata dia.

Belakangan, mereka mendengar kabar Awal Juli telah ditangkap Polisi di kos, Kabupaten Gowa.

Setelah menjalani penahanan di Markas Kepolisian Resor Kota Besar Makassar selama delapan hari, Awal Juli dipindahkan ke rumah tahanan Kota Makassar.

"Dia dipindahkan sejak hari minggu 14 April 2019. Belum ada, karena sesuai aturan rutan nanti setelah dia sudah 6 hari di dalam rutan baru bisa di adakan penjengukan," katanya.

Kepala Satuan Reserse Kriminal Kepolisian Resor Kota Besar Makassar Ajun Komisaris Besar Indraatmoko tak menampik adanya pemindahan tahanan. Pemindahan dilakukan agar Awal Juli dapat berpartisipasi dalam pemilihan umum 2019.

"Masih dilengkapi berkasnya, dia dititip di rutan untuk pilpres. Yang ada TPS khusus tahanan di rutan," kata dia. []

Editor: Siswanto

berita terkait

Image

News

Ferdian Paleka Bebas, Ketua Forum Komunikasi Waria Indonesia Kecewa

Image

News

Wanita 46 Tahun Tidak Jujur Soal Status Corona Bikin Heboh Korban Kebakaran Tanjung Priok

Image

News

Samsat Jakbar Perketat Pelayanan Pajak Kendaraan

Image

News

Salinan Kepgub Perpanjangan PSBB Bocor, Penerapan New Normal Batal?

Image

News

Jika New Normal Diterapkan, DPRD Minta Anies Tak Buka Tempat Hiburan Malam dan Panti Pijat

Image

News

Seorang Pedagang di Pasar Serdang, Kemayoran Positif Corona

Image

News

Jelang Penerapan New Normal, Ratusan Warga Warakas Jalani Rapid Tes

Image

News

Pengamat Kebijakan Publik: New Normal Belum Tepat Diterapkan di Jakarta

Image

News

Pengemudi Mobil Tabrak Pedagang Bakso di Casablanka

komentar

Image

0 komentar

terkini

Image
News
Satgas Pamtas

Berpatroli Malam Hari, Yonif 713 Jamin Keamanan Masyarakat di Perbatasan RI-PNG

"Kita juga mencegah terjadinya kegiatan-kegiatan ilegal yang sering terjadi di perbatasan"

Image
News

Jam Belajar Sekolah Era New Normal di DIY Diusulkan 3,5 Jam Saja

Soal kapan penerapan SOP protokol pendidikan di era kenormalan baru, Pemda DIY enggan tergesa-gesa

Image
News

Ditemui Tenaga Medis Sembuh dari COVID-19, Ganjar Berkelakar: Sekarang Mohon Maaf Ya Kalau Bertamunya Kelamaan Tak Usir, Berdasarkan Rekomenasi Dokter

Semua yang hadir dalam pertemuan menerapkan protokol kesehatan, seperti memakai masker dan jaga jarak satu sama lainnya.

Image
News
DPR RI

DPR Bakal Panggil Kejagung dan Polri Terkait Kasus Impor Tekstil Ilegal

"Impor ilegal tekstil ini jelas merugikan Indonesia. Pertama, negara tidak mendapatkan bea masuk dari produk tekstil ini"

Image
News

Ossy Dermawan Bandingkan Kasus Ruslan Buton Dengan Remaja yang Ancam Tembak Jokowi

Jangan ada tebang pilih kasus.

Image
News

Kota Semarang Pakai Jalan Tengah Antara yang Setuju dan yang Menolak PSBB

“Orang jadi fokus pada lebaran, mal penuh, pusat perbelanjaan ramai, pasar ramai,” ujarnya.

Image
News

Jurus Azwar Anas Perangi COVID-19 di Banyuwangi: Kebiasaan Anyar

"Masker itu wajib. Kalau mereka tidak memakai masker tidak akan mendapat pelayanan."

Image
News

Siklus Penyebaran Corona di Jakarta, Meletus di Pertengahan April, Landai di Awal Juni 2020

Pertimbangan Gubernur Anies Baswedan melonggarkan aturan ini, salah satunya dengan melihat angka penularan Covid-19

Image
News

Kena Batunya, Puluhan Warga Disuruh Push Up dan Nyanyi Lagu Pancasila karena Tak Pakai Masker

Puluhan warga itu tertangkap basah melanggar aturan ketika petugas patroli di depan Masjid Kauman dan depan SDN Maria.

Image
News

Wali Kota Jakbar Pantau Pasar Kopro Tanjung Duren

Peninjauan pasar ini bertujuan untuk melihat pedagang pasar Tradisonal apakah mematuhi protokol kesehatan atau tidak

terpopuler

  1. Demo Kematian George Floyd Rusuh, Sarah Azhari Kabarkan Kondisinya di Los Angeles

  2. Ungkap Kesedihan, Kekasih George Floyd: Ia Tak Akan Pernah Melihat Putrinya Tumbuh Dewasa

  3. AHY Bangga dan Memujinya karena Berani Lockdown, Wali Kota Tegal: Saya Lawan Virus Corona dengan Virus Psikologi

  4. Ade Armando Kembali Posting Pernyataan Kontroversial, Kali Ini Singgung PA 212

  5. Remaja Jepang Tertangkap Basah Ajak Polwan Jadi Bintang Film Porno

  6. Tanggapan PKS Soal New Normal di Panti Pijat: Bagaimana Bisa Pelayanannya kan Harus Bersentuhan

  7. Perpanjangan PSBB Jakarta Dinilai Bikin Orang Makin Stres, Anggota DPRD: Tapi Stresnya Sakit Jiwa, Bisa Juga Tingkatkan Kriminalitas

  8. Ternyata Ini Lho Alasan Mengapa Indonesia Jadi Negara Tujuan Investasi

  9. Gedung Putih Gelap Gulita, Warganet: Donald Trump Lupa Isi Token

  10. 5 Amalan Ringan Ini Bisa Menghapus Dosa, Walaupun Sebanyak Buih di Lautan

fokus

Lebaran di Tengah Pandemi
Pulih dengan Terapi Musik
Wabah Corona

kolom

Image
Dewi Kartika

Inspirasi dan Legacy Prof Sediono Tjondronegoro untuk Petani

Image
Achmad Fachrudin

Jebakan Kampanye Virtual di Pilkada 2020

Image
Imam Shamsi Ali

Rasisme Itu Dosa Asal Amerika

Image
Muhammad Adlan Nawawi

Pendidikan di Era New Normal

Wawancara

Image
News

Interview Siti Fadilah, dari Keadaannya di Penjara yang Mengharukan, Blak-blakan Covid-19 sampai Fitnah yang Menyerangnya

Image
News

Interview Rizal Ramli: Indonesia Diberi Berkah Luar Biasa oleh Tuhan, Cuma Kita Harus Punya Visi Mau Ngapain ke Depan

Image
News

Interview Leony Si Driver Ojol Lulus Cum Laude Sampai Raih Beasiswa Ilmu Hukum

Sosok

Image
News

Bikin Bangga, Mantan Stafsus Presiden Jokowi Terpilih Menjadi Alumni Terbaik Harvard University

Image
News

Kisah Raeni, Anak Tukang Becak yang Kini Sukses dari Unnes hingga Raih Beasiswa S3 di Inggris

Image
News

Ngopi di Teras hingga Main Bareng Cucu, 6 Potret Santai Bamsoet saat di Rumah