image
Login / Sign Up

Ribuan Bakteri Tak Begitu Menakutkan Asal Pakaian Tetap Keren

Maidian Reviani

Gombal Impor

Image

Aktifitas jual beli pakaian bekas di kawasan pasar Senen, Jakarta, Kamis (7/3/2019). Pemerintah berusaha keras memerangi impor pakaian bekas sejak September 2015. Bisnis ini mematikan pengusaha garmen dalam negeri serta mengancam kesehatan konsumen lantaran ditemukan ribuan bakteri masih terbawa dari negara asalnya. Seharusnya, importasi baju bekas berhenti sama sekali. | AKURAT.CO/Dharma Wijayanto

AKURAT.CO Semenjak keluar beleid baru Peraturan Menteri Perdagangan Republik Indonesia Nomor 51/M-Dag/Per/7/2015 Tahun 2015 tentang Larangan Impor Pakaian Bekas, pemerintah bekerja keras melawan impor pakaian bekas dari luar negeri. Menurut pemerintah, baju-baju bekas itu sangat berbahaya. Berbahaya bagi kelangsungan bisnis pengusaha garmen Indonesia.

Selain itu, kata Direktur Jenderal Perlindungan Konsumen dan Tertib Niaga Kementerian Perdagangan Veri Anggriono Sutiarto berdasarkan studi, pakaian bekas pakai impor juga mengandung bakteri dan berbahaya bagi kesehatan konsumen. Studi ini dilakukan agar masyarakat tidak memperjualbelikan maupun memakai baju-baju bekas dan tetap menggunakan produk-produk dalam negeri.

Dari hasil pengujian yang dilakukan di laboratorium, terdapat ribuan bakteri yang menempel pada sampel pakaian bekas. Bakteri itu terbawa dari negara asal.

baca juga:

"Ini sudah membuktikan bahwa hasil tes kami mengandung bakteri-bakteri. Kami ambil contoh kurang lebih 25 jenis sampel," katanya.

"Kita uji semua hampir mengandung bakteri, dapat dibayangkan kalau itu menjadi dikonsumsi oleh masyarakat."

Veri menekankan secara kasat mata memang bakteri itu tidak nampak pada pakaian. Pakaian yang dijual di pasar sudah pasti terlihat bagus dan bersih, padahal sebenarnya tidak.

"Tapi di dalam pakaian bekas itu setelah kita lakukan pengujian di lab, kelihatan mengandung bakteri-bakteri ini yang mau dipakai oleh masyarakat kita."

Veri Anggriono Sutiarto. AKURAT.CO/Yudi Permana

"Nah ini yang kita lakukan pengawasan. Kalau kita lihat masalah pakaian bekas ini dari pengawasan secara kasat mata. Kemudian kalau kita lihat ini secara betul-betul, terlihat secara kasat mata ini tampak bersih-bersih aja. Kita sudah melakukan pengujian. Hasil pengujian kita ini banyak pakaian bekas ini yang mengandung bakteri," kata Veri ketika saya temui pertengahan pekan lalu.

Jenis bakteri yang menempel pada pakaian bekas, antara lain escherichia coli (e-coli), jamur kapang, khamir. Itulah sebabnya, kenapa pakaian bekas dianggap tidak layak untuk dipakai.

"Bisa dibayangkan ini membawa dampak bagi penyakit. Kita sudah melakukan pengujian- pengujian mikrobiologi. Hasilnya banyak sekali mengandung escherichia coli (e-coli), s. aureus, kapang, khamir, dan lain-lain. Ini sangat berbahaya bagi tubuh manusia."

Veri mengatakan sejumlah bakteri ketika bersentuhan dengan tubuh manusia akan menimbulkan gangguan kesehatan, misalnya gangguan pencernaan, diare, bisul, infeksi kulit, jerawat, dan gatal-gatal alergi.

"Ini yang harus kita sampaikan dan jelaskan kepada masyarakat agar lebih baik mengonsumsi produk dalam negeri."

Menurut Veri parahnya lagi dampak bakteri yang menempel pada pakaian belum banyak diketahui oleh konsumen. Makanya, konsumen umumnya tenang-tenang saja ketika membeli baju-baju bekas di pasar-pasar.

"Tingkat pemahaman terhadap suatu produk-produk ini (pakaian bekas) masih belum paham semua, baik itu efeknya seperti apa. Nah seperti inilah yang harus kita jelaskan kepada mereka (pedagang dan masyarakat), dan kita tidak henti-hentinya mensosialisasikan dampaknya."

"Kita boleh beli pakaian bekas murah, tapi kalau dampaknya membawa penyakit ini yang dapat merugikan konsumen kita."

Pakaian impor bekas di Pasar Senen. AKURAT.CO/Dharma Wijayanto

Itulah sebabnya, setiap kali penindakan, barang bukti baju-baju bekas yang disita dari kapal akan dimusnahkan.

"Kami bukan lagi peringatan, kalau kedapatan seperti beberapa waktu yang kami lakukan di sini. Kami imbau untuk dilakukan pemusnahan. Ini sangat membahayakan bagi tubuh manusia," ujarnya.

Seharusnya kalau melihat dampak dari segi kesehatan seperti yang dijabarkan Veri, penjual pakaian bekas level lapak pasar maupun konsumen takut. Namun pada kenyataannya, pakaian bekas terus menerus didatangkan dan permintaan dari konsumen tetap tinggi.

Pedagang Pasar Senen, seperti Jemmy, tidak setuju kalau baju-baju bekas dibilang berbahaya bagi kesehatan. Menurut dia ketika ballpress yang baru datang dari luar negeri dibuka, semua terlihat rapi.

“Untuk kesehatan itu mah kagak setuju saya ya. Kalau saya buka bal itu termasuk resik dan dirawat. Transit di Singapura itu, saya denger-denger orang-orang yang pack dari orang kita juga (Indonesia). Namanya sistem persaudaraan jadi mesti rapi. Jadi lebih steril gitu,”

Bahkan, Jemmy sudah menerapkan prinsip empat R dalam berdagang pakaian bekas. Ringkas, rawat, rajin, rapi. Dengan menjalankan prinsip tersebut, dia tidak pernah mendapatkan keluhan, seperti adanya gatal-gatal setelah membeli pakaian, dari pelanggan.

“Kalau aku ada empat R. Itu pedoman saya. Kita tuh sterilin. Itu pakaian kita uap juga. Saya belum pernah tuh saya dapat keluhan merasa ada gatal-gatal tuh gak ada, konsumen pun gak ada yang ngeluh. Karena di sana saudara-saudara kita juga yang pack-packnya,” kata dia.

Jemmy menjual baju-baju bekas dengan membagi-bagi menjadi tiga kategori kualitas. Kategori super, kelas satu, dan kelas dua. Pembagian ini bertujuan untuk membedakan harga.

“Pokoknya sebelum masuk udah dipastikan bersih. Sebelum jual kita dibagi tiga. Kualitas dibagi tiga, ada istilah super, kelas satu, kelas dua untuk beda-bedain harga. Terutama super masih cakep, kelihatan dari warna masih mengkilap,” kata dia.

Jemmy menunjukkan kepada saya contoh baju dengan kategori super. Baju warna hitam yang dia tunjukkan siang itu bertuliskan: Made in Vietnam.

“Nih ya, kalau produk lokal kita rendem tiga kali pasti langsung cepet lunturnya. Kalau dari impor gini kuat-kuat, lihat aja bahannya bagus tebel. Meskipun bekas, gak bekas banget. Karena dalemnya banyak yang baru,” kata dia.

Dengan bangga dia menyebut negara Singapura, Jepang, dan Korea sebagai asal pakaian bekas yang kualitasnya unggulan. “Barangnya cakep. Ori, beda pakaian asli kan. Dari bahan keliatan berkualitas.”

Pedagang bernama Nur yang saya temui di Plaza Metro Atom, Pasar Baru, Jakarta Pusat, pun bersikap sama dengan Jemmy.

“Katanya ada penyakit atau apa, itu malah nggak ada apa-apa baik-baik aja. Nggak pernah ada komplain juga dari konsumen alhamdulillah,” katanya.

Dia tidak setuju pakaian bekas dianggap berbahaya bagi kesehatan karena sebelum memajang di etalase toko, Nur selalu menerapkan beberapa tahapan yang dimulai sejak membuka ballpress.

“Bal kita buka, pertama kita pilih-pilihin dulu, maksudnya bagi-bagi ini nomor satu, dua, tiga, untuk tentukan harga.”

“Kedua, terus baju-baju tersebut kita laundry supaya bersih dan wangi. Tapi untuk baju yang harga Rp10 ribu kalau saya pribadi nggak dilaundry. Yang kita laundry baju mulai harga Rp25 ribu.”

“Jadi saya nggak setuju dengan peraturan tersebut, karena kita bersihin dulu. Bongkar nggak langsung kita jual. Tadi kita laundry.”

Pakaian impor bekas di Pasar Senen. AKURAT.CO/Dharma Wijayanto

Tapi konsumen bernama Aang Khalamullah yang saya temui di Pasar Senen mengaku sebenarnya punya kekhawatiran tersendiri tentang dampak bagi kesehatan ketika membeli baju bekas impor. Itu sebabnya, dia tak pernah membeli kaus atau kemeja. Dia hanya membeli pakaian jenis jaket.

“Setuju sih, (peraturan menteri) sebenarnya gua juga beli-beli yang bekasnya itu jaket bukan baju, kalau baju ya ngeri-ngeri. Dan gua juga gak sering sering beli bekas, sekalinya beli juga gak langsung pakai, cuci dulu sampai bersih dan wangi baru dipakai. Kalau jaket kan menurut gua masih ga nempel banget ama kulit jadi ya gitu, kalau udah bersih gak takut. Cuma kalau baju si kayaknya gua gak bakal beli bekas,” kata dia.

Pelanggan Pasar Senen bernama Mella dapat memahami pertimbangan pemerintah mengeluarkan peraturan larangan impor pakaian bekas, antara lain karena kekhawatiran bakteri yang terbawa dari negara asal mengganggu kesehatan konsumen. Tapi, dari penjelasan Mella menunjukkan bahwa konsumen dengan kantong pas-pasan tetap butuh karena kualitasnya bagus, keren, dan harganya terjangkau.

“Aku sih menentang dan setuju juga, menentang karena dengan adanya peraturan ini kemungkinan Senen bakal ditiadakan dan pedangan jadi sulit menjual dagangannya dan aku jadi gak bisa beli baju-baju yang murah tapi kece,” kata Mella. Dia tertawa.

“Setujunya karena pemerintah sebenarnya peduli pada rakyatnya dan memang kemungkinan penyakit menular itu ada di baju bekas yang dijual pedagang Senen, tapi kalau aku mencegahnya dengan merebus baju yang dibeli di Senen insyaallah hilang kuman-kuman.”

Sikap konsumen bernama Nadiah sama seperti Mella. Menurut dia semua orang tentu saja punya kekhawatiran ketika memakai pakaian bekas pakai. Tapi, pakaian bekas akan aman bagi kulit kalau sebelum memakainya dibersihkan terlebih dulu, kemudian dirawat dengan baik.

“Ya aku setuju sih sebenernya. Namanya pakaian bekas pasti semua orang takut. Ibu saya juga kadang khawatir kalau saya pakai baju bekas. Karena kulit ya efeknya, pasti agak sensitif. Tapi sebelum aku pakai, pasti aku cuci sebersih-bersihnya. Aku giling berkali-kali dan pakai Rinso yang banyak. Dan aku yakin sih abis itu pasti bersih,” kata dia.

“Lagian ini orang jualan pakaian bekas kan bisa bantu orang menengah ke bawah juga. Kasihanlah kalau sampai nggak ada. Tahu lah ya apa aja sekarang mahal,” Nadiah menekankan. [Maidian Reviani, Herry Supriyatna, Yudi Permana]

Baca juga:

Tulisan 1: Cerita dari Sebuah Pelabuhan hingga Pasar Pakaian Bekas

Tulisan 2: Gurihnya Bisnis Gombal Bekas Impor dari Mereka yang Ingin Kece

Tulisan 3: Genderang Perang Ditabuh Terus, Bisnis Gombal Bekas Impor Jalan Terus

Tulisan 5: Perang Hadapi Pengawal Kapal Gombal Bekas Impor

Tulisan 6: Rute Gombal Bekas Impor sampai Pelabuhan Tikus, Siapa Pemainnya?

Tulisan 7: Di Balik Kecanduan Pakaian Bekas Impor

Tulisan 8: Penyelundupan Gombal Bekas Impor, Polair: Mereka Sudah Tahu Posisi Petugas

Tulisan 9: Kisah Baju You Can See Ketika Pertama Kali Diimpor 

Editor: Siswanto

berita terkait

Image

News

Gombal Impor

Kisah Baju You Can See Ketika Pertama Kali Diimpor ke Indonesia

Image

News

Gombal Impor

Penyelundupan Gombal Bekas Impor, Polair: Mereka Sudah Tahu Posisi Petugas

Image

News

Gombal Impor

Di Balik Kecanduan Pakaian Bekas Impor

Image

News

Gombal Impor

Rute Gombal Bekas Impor sampai Pelabuhan Tikus, Siapa Pemainnya?

Image

News

Gombal Impor

Perang Hadapi Pengawal Kapal Gombal Bekas Impor di Tengah Laut

Image

News

Gombal Impor

Genderang Perang Ditabuh Terus, Bisnis Gombal Bekas Impor Jalan Terus

Image

News

Gombal Impor

Gurihnya Bisnis Gombal Bekas Impor dari Mereka yang Ingin Kece

Image

News

Gombal Impor

Cerita dari Sebuah Pelabuhan hingga Pasar Pakaian Bekas

komentar

Image

0 komentar

terkini

Image
News
Wabah Corona

DKI Jakarta Direstui Terapkan PSBB, Ombudsman: Kami Tunggu Aturan Teknis yang Dikeluarkan Anies

PSBB sebetulnya memberatkan karena anggaran ditanggung daerah bukan pusat.

Image
News
Wabah Corona

Habiburokhman: Wahai DKI Jakarta, Kapan Distribusi Sembako untuk Warga Miskin Bisa Dilaksanakan?

"Wahai @DKIJakarta kapan distribusi sembako untuk warga miskin bisa dilaksanakan?"

Image
News
Wabah Corona

Ingatkan Anggota Pakai Masker saat Bertugas, Wakapolda Kalsel: Jangan Sampai Abai Terhadap Kesehatan Sendiri

Patuhi prosedur pencegahan penyebaran virus corona.

Image
News
Wabah Corona

Dua Program Empahty Building Kapolres Jakbar Dapat Apresiasi Dari Staf Ahli Utama Istana Kepresidenan

Warga sangat terbantu.

Image
News
Wabah Corona

Relawan Gugus Tugas Sediakan Ambulans untuk Pasien Covid-19, Hubungi Nomor Ini Jika Diperlukan

Untuk masyarakat yang membutuhkan layanan ambulans untuk jemput antar pasien dapat menghubungi nomor +62812675764.

Image
News
Wabah Corona

Ketua DPR: Pemerintah Harus Punya Database Akurat Agar Distribusi APD Tepat Sasaran

Menurut Puan, pemerintah melalui Kementerian Dalam Negeri dan Tim Gugus Tugas Penanganan Covid-19 perlu menguatkan koordinasi dan sinergi.

Image
News
Wabah Corona

Willy Aditya: Anies Jangan Menunda-nunda Penerapan PSBB

"Ini sudah terlalu lama, saya harap Pak Anies bisa cepat mengeksekusinya sesegera mungkin," kata Willy Aditya.

Image
News

Puji Riza Patria, Politisi Demokrat: Menguasai Masalah Meski Baru Terpilih

Keren bang Riza Patria pak Wagub, ada warna baru di Jakarta.

Image
News
Wabah Corona

Sejumlah Puskesmas Ikut Sediakan Layanan Periksa COVID-19

Petugas puskesmas akan melakukan wawancara dan pemeriksaan epidemiologi.

Image
News

Polisi Tangkap Penyebar Hoaks Penjual Mie Ayam Tewas Dibunuh

Wendi Raya Anggara (28) harus berurusan dengan polisi setelah menyebarkan hoaks di media sosial.

terpopuler

  1. 5 Fakta Menarik Kim Soo Hyun, Aktor Korea yang Jadi 'Suami Baru' Rossa

  2. Sejumlah Ruas Jalan di Jakarta Mulai Padat, Warganet: Ketika Kebutuhan Sudah Mengalahkan Ketakutan

  3. Ahmad Riza Patria Terpilih Sebagai Wagub DKI, Ferdinand: Politik di Jakarta Akan Semakin Seru

  4. Cerita Ojol yang Tidak Tahu Ada Larangan Bawa Penumpang

  5. 5 Potret Olahraga Romantis Antonio Candreva & Pasangan, Selalu Ada Ciuman Bibir

  6. 22 Tahun Berlalu, Begini 8 Potret Terbaru Farida Pasha Pemeran ‘Mak Lampir’ yang Tetap Modis

  7. Riset: Mayoritas Masyarakat RI Respon Negatif Kebijakan Pemerintah Tangani COVID-19

  8. Beberapa Gejala Virus Corona yang Masih Jarang Diketahui

  9. Warga Diimbau Pakai Masker, Pakar Kesehatan: Tidak Ada Cara Lain, Itu Memang Untuk Perlindungan Berlapis

  10. Mengapa Kemenangan Riza Patria Jadi Wakil Gubernur Jakarta Tak Mengejutkan?

fokus

Pulih dengan Terapi Musik
Wabah Corona
Hutan Kecil Terarium

kolom

Image
Reza Fahlevi

Atas Nama Kemanusiaan, Stop Politisasi Covid-19

Image
Abdul Aziz SR

PKS dan Sindiran Partai Oposisi

Image
Achmad Fachrudin

Analisis Komunikasi Penanganan Covid-19

Image
UJANG KOMARUDIN

COVID-19 dan Kita

Wawancara

Image
Video

Terapi Musik

VIDEO Pulih dengan Terapi Musik

Image
Asian Games

Pria Paruh Baya Diduga Epilepsi Ditemukan Tewas Tenggelam di Kolam Majalaya

Image
Gaya Hidup

Literasi

Kala Buku, Akses dan Minat Baca Orang Indonesia Belum Sinkron

Sosok

Image
News

Wabah Corona

Olahraga hingga Donor Darah, 7 Potret Aktivitas Sandiaga Uno di Sela-sela WFH

Image
News

Dokter Ke-19 dari IDI yang Wafat karena Positif Corona, Ini 5 Fakta Menarik Naek L. Tobing

Image
News

Harta Kekayaan Capai Rp3,6 M, 5 Fakta Menarik Muhammad Syarifuddin, Ketua MA 2020-2025