Akurat.co - Cepat Tepat Benar
Login / Sign Up

Achmad Baidowi: PPP Padukan Tradisi Lama dan Baru

Dedi Ermansyah

Achmad Baidowi: PPP Padukan Tradisi Lama dan Baru

AKURAT.CO, Achmad Baidowi, politisi muda yang saat ini mulai bersinar di DPR mempunyai banyak kisah menarik tentang kiprahnya di dunia politik nasional. Pemuda berdarah Madura kelahiran 13 April 1980 ini memang baru dikenal sebagai politisi Partai Persatuan Pembangunan (PPP) yaitu sejak dilantik menjadi anggota DPR pada 28 Juli 2016, namun sebenarnya sejak kecil ia sudah bergelut dengan partai berlambang Ka’bah tersebut.

Kepada wartawan Akurat.co, Dedi Ermansyah, Baidowi bercerita tentang bagaimana suasana PPP yang dirasakan di kampungnya di Kecamatan Kalibaru Banyuwangi Jawa Timur. Kedua orang tuanya memang berasal dari Madura, namun  Baidowi dilahirkan di Banyuwangi dan menempuh pendidikan dasar dan menengah utama di kabupaten paling ujung timur Pulau Jawa tersebut.

Sejak dahulu, masyarakat Madura pada khususnya dan Jawa Timur pada umumnya memang tidak bisa dilepaskan dari PPP. Apalagi di zaman Orde Baru, PPP adalah satu-satunya representasi partai umat Islam. Orang Madura yang memegang teguh keislaman mereka pun secara ideologis saat itu hanya dekat dengan PPP. Tidak heran jika kemudian, keluarga Baidowi juga menjadi simpatisan PPP.

baca juga:

Berikut wawancara lengkap Dedi dengan Anggota Komisi II DPR RI tersebut di kantornya yang berada di lantai 15, Gedung Nusantara I DPR beberapa waktu lalu.

Sejak kapan Anda berkenalan dengan PPP?

Sejak kecil saya sudah berada di lingkungan PPP. Masyarakat desa saya di Kalibaru, Banyuwangi rata-rata adalam simpatisan PPP di masa Orde Baru. Ayah saya bahkan merupakan salah satu pengurus ranting PPP tingkat desa. Saya sudah merasakan perjuangan PPP dari ayah saya yang saat itu menjadi pengurus PPP, walaupun di tingkat desa.

Waktu kecil apakah sudah pernah ikut aktivitas PPP?

Saat usia SMP saya pernah diajak ayah mengikuti sebuah seminar atau pelatihan, saya lupa bentuknya kegiatannya, yang diadakan PPP. Saat itulah saya mengenal PPP sebagai sebuah organisasi. Saya juga mengenal organisasi IPNU yang merupakan salah satu yang tak terpisahkan dengan PPP saat itu. NU memang merupakan salah satu pilar kekuatan PPP sejak adanya fusi partai pada 1973 silam, dan sejak itu keduanya tidak bisa dipisahkan.

Apakah hubungan dengan PPP itu tetap terjalin di masa remaja hingga dewasa?

Ya. Setelah SMP, saya melanjutkan pendidikan di Madrasah Aliyah (MA) dan sekaligus mondok di Pesantren Darul Ulum Banyuanyar Pamekasan. Nuansa PPP di pesantren ini sangat kental. Ini adalah salah satu pesantren PPP di Madura. KH Muhammad Syamsul Arifin yang mengasuh pondok pesantren ini merupakan kyai khos PPP. Pengaruh beliau sangat besar bagi PPP di Madura, khususnya di Pamekasan.

Pesantren dan PPP juga merupakan dua hal yang tak terpisahkan sejak lama. PPP adalah media perjuangan kaum santri di bidang politik. Pesantren Banyuanyar sejak dulu meyakini bahwa perjuangan politik juga harus dilakukan disamping perjuangan di bidang pendidikan yang sudah dilakukan sejak pesantren ini berdiri.

Pada tahun 1997, yang merupakan Pemilu terakhir di masa Orde Baru, saya dan para santri Pesantren Banyuanyar juga ikut kampanye PPP. Saya saat itu sudah 17 tahun dan bisa menyalurkan suara politik.

Foto: AKURAT.CO/Sopian

Apakah karena itu semua Anda mempunyai ikatan emosional dengan PPP.

Ya, semua pengalaman berjuang bersama PPP sejak kecil itulah membuat ikatan emosional saya dengan PPP tercipta dengan sendirinya. Saat kuliah di UIN Sunan Kalijaga (angkatan 2000) Yogyakarta pun saya merasa ada ikatan yang kuat dengan PPP. Sehingga saat ada pembicaraan politik, khususnya tentang PPP, saya sedikit tersentak dan merasa ada ikatan emosional.

Setelah dari Yogyakarta, Anda kemudian menjadi wartawan. apakah saat itu juga tetap menjaga hubungan emosional dengan PPP?

Inilah uniknya. Karena saya mempunyai ikatan emosional yang kuat dengan PPP, maka secara tidak langsung mendorong saya untuk mengetahui lebih banyak tentang partai ini saat menjadi Wartawan di Koran SINDO. Ketertarikan saya dengan PPP ini membuat saya sering berhubungan dengan para petinggi PPP dan bertanya serta memberitkan dinamika politik PPP di tingkat nasional.

Saya pun saat itu mulai banyak bersinggungan dengan Bapak Suryadharma Ali sebagai Ketua Umum PPP saat itu. Juga dengan Bapak Muhammad Romahurmuziy, saat itu menjabat Wasekjen DPP PPP (sekarang Ketum PPP) dan Bapak Arwani Thomafi (dulu menjabat Wasekjen sekarang Waketum PPP) yang kebetulan satu almamater dengan saya di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.

Kedekatan saya dengan PPP ini membuat saya selalu hadir dalam acara-acara PPP, walaupun saat itu kapasitas saya adalah wartawan. Para pengurus tampaknya juga menyadari bahwa secara ideologis, saya adalah simpatisan PPP. Akhirnya pada Muktamar VII PPP di Bandung pada 2011, saya ditawari menjadi salah satu pengurus PPP.

Saya saat itu masih menjadi wartawan dan saya tidak izin ke kantor, karena itu adalah hak politik sepanjang tidak melanggar kode jurnalistik.

Foto: AKURAT.CO/Sopian

Banyak orang mengatakan bahwa masa depan karir seorang politisi tidak bisa diprediksi dan tidak selalu berakhir bagus. Kenapa Anda memilih keluar dari wartawan yang saat itu sudah jadi redaktur?

Saat masih jadi mahasiswa dan masuk organisasi HMI saya memang tidak bersinggungan dengan politik praktis, apalagi di tingkat nasional. Begitu juga saat pertama kali ke Jakarta pun belum terpikir masuk politik. Namun saat transisi dari wartawan menjadi politisi itu tetap ada prosesnya yang panjang dan tidak serta merta.

Selain karena mempunyai sejarah ideologis dengan PPP sejak kecil, pergaulan dengan politisi PPP di tingkat nasional pun merupakan faktor yang membuat saya akhirnya mengambil keputusan terjun langsung ke dunia politik. Dan memilih PPP sebagai saluran politiknya. Saya keluar dari profesi wartawan pada 2013 dan mencurahkan semua waktu di partai.

Proses menjadi calon legislatif bagaimana?

Proses inipun tidak instan. Saya punya modal sosial sebagai alumni Pesantren Banyuanyar yang merupakan pesantren PPP. Komunikasi politik saya sebagai wartawan politik juga baik. Saya bisa berkomunikasi dengan baik dengan para politisi dan konstituen serta dengan calon pemilih pada umumnya. Saya juga sudah lama bersinggungan dengan partai dan isu politik.

Pada 2008, saat ada Pansus RUU Pemilu saya sudah di bertugas DPR. Saat itu anggota Pansus dari PPP adalah Lukman Hakin Saifuddin, Lena Maryana Mukti, dan Tamam Achda yang semuanya sekarang berada di kepengurusan PPP bersama saya.

Apakah pengalaman sebagai wartawan juga sangat berpengaruh pada profesi Anda sekarang?

Porfesi wartawan adalah jembatan emas menuju pengembangan kualitas diri dan profesi yang lebih baik. Para wartawan lebih mudah nyambung saat berkomunikasi dengan berbagai hal dan bisa berhubungan dengan berbagai profesi.

Pilihan keluar dari wartawan juga mempertimbangkan banyak hal. Diantaranya adanya afiliasi pemilik media tempat saya bekerja dengan partai tertentu, saat pemilik media tempat saya bekerja masuk ke partai politik.

Foto: AKURAT.CO/Sopian

Apa perbedaan yang dirasakan, jika dulu hanya merasakan PPP dari luar, dan kini berada di kepengurusan partai?

Berada di kepengurusan PPP saya bisa merasakan langsung atmosfir pengambilan keputusan politik di tingkat nasional. Kalau sebelumnya kan hanya mendengarkan dari berita-berita.

Apa yang Anda perjuangkan di kepengurusan PPP?

Saat masuk PPP saya bisa lebih memberikan gambaran tentang basis-basis PPP dimana saya menyatu dengannya. Misalnya saya memperlihatkan bahwa Madura itu adalah basis PPP, termasuk pesantren-presantrenya seperti Pesantren Banyuanyar dan lainnya. Saya mencoba memotret kantong PPP dari prespektif orang lokal.

Orang yang tiba-tiba berada di pusat berbeda dengan mereka yang berproses dari bawah yang mengalami langsung kondisi di masyarakat. Masing-masing kantong PPP mempunyai dinamika berbeda yang juga harus disikapi berbeda juga. Saya sebagai orang Madura mengetahui dinamika di Madura ada khususnya dan Jawa Timur pada umumnya. Saya bisa memberikan prespektif lokal yang bisa dipertimbangkan dalam mengambil keputusan di tingkat nasional.

Misalnya saat ada kekecewaan saat DPW PPP Jakarta memilih Ahok-Djarot pada Pilkada DKI lalu, saya memberikan penjelasan dengan pendekatan yang baik kepda masyarakat Madura. Misalnya memberi pengertian bahwa itu adalah keputusan DPW DKI Jakarta bukan DPP PPP dan itu adalah hak politik DPW Jakarta. Dalam menghadapi masalah ini jangan serta merta kita juga frontal membela, namun memberikan pengertian, terutama jika ada berita media yang tak benar.

Kita lakukan pendekatan dan komunikasi dengan para kyai yang merupakan simpul-simpul massa PPP. Kita datangi satu-satu.

Foto: AKURAT.CO/Sopian

Bagaimana Anda berkomunikasi dengan konsituen di Madura?

Saya melakukan pendekatan yang berbeda kepada masing-masing kalangan. Misalnya kepada anak muda, kita memaksimalkan media sosial. Mereka tidak bisa didekati dengan “peci”, namun dengan program yang menyentuh kebutuhan dan aspirasi mereka.

Kepada kalangan umum umat Islam di Madura misalnya kita membuat program wakaf al-Quran. Dan terlihat responya sangat positif. Masyarakat bisa mengakses al-Qur’an dengan kualitas cetakan yang bagus sehingga bisa mengaji dan beribadah dengan lebih baik.

Dalam memajukan PPP, kami memegang berprinsip “al-Muhafadhotu ‘ala qadimi al-Shalih wa al-Akhdzu bi al-Jadid al-Ashlah” (menjaga tradisi-tradisi lama sembari menyesuaikan dengan tradisi-tradisi modern yang lebih baik). []

Editor: Ridwansyah Rakhman

berita terkait

Image

News

Hetifah Syaifudian: Nadiem Layak Pimpin Kemdikbud Ristek

Image

News

Sekjen PPP Bantah Adanya Wacana Pembentukan Koalisi Partai Islam di Pemilu 2024

Image

News

Politisi Gerindra Desak Anies Tuntaskan Janji Kampanye Sebelum Lengser

Image

News

Lengser Tahun Depan, Gerindra Sebut Anies Baru Penuhi 50 Persen Janji Kampanyenya

Image

News

DPR RI

Wakil Ketua DPR Desak BKN Selesaikan Persoalan Seleksi PPPK 2019

Image

News

KPK Tetapkan 2 Tersangka Baru Kasus Suap Banprov Kabupaten Indramayu

Image

News

DPRD Usulkan Perwali Guna Penertiban Badut di Banjarmasin

Image

News

Jabatannya Tinggal Setahun, Anies Baswedan Dorong Anak Buah Tuntaskan Programnya

Image

News

Komisi X DPR RI Sebut Tak Lihat Ada Urgensi untuk Mereshuffle Mendikbud Nadiem Makarim

komentar

Image

0 komentar

terkini

Image
News

Cipayung Plus Bicara Pemuda dan Kepemimpinan Politik Nasional

Peran pemuda dalam perpolitikan Indonesia di abad ke-21 merupakan fenomena khas generasi milenial

Image
News

Larangan Mudik Lebaran 2021, Ini Alasan yang Dilontarkan Presiden Jokowi

Presiden menegaskan larangan mudik berlaku bagi seluruh masyarakat Indonesia.

Image
News

Pakistan Dilanda Demonstrasi Rusuh Anti-Prancis, Pemimpin Partai Radikal Ditangkap

Partai Tehreek-e-Labiak mengobarkan kekerasan, sehingga properti pribadi dan umum rusak serta mengganggu pasokan oksigen rumah sakit.

Image
News

Tewas Ditembak, Mabes Polri Beberkan Peran Tersangka Teroris MT

Image
News

Puji Habib Rizieq Shihab, Tengku Zul: Beliau Itu Sebenarnya Aset Negara

Tengku Zulkarnain memuji eks pimpinan Front Pembela Islam (FPI) Habib Rizieq Shihab yang sukses meraih gelar S3.

Image
News
DPR RI

Dorong BNPT dan PPATK Bergerak, Azis Duga Lima Jaringan Teroris Masih Bermain

Lima jaringan teroris masih aktif di Indonesia adalah, JI, NII, MMI, JAT, dan JAK.

Image
News

AP I Siapkan Lahan 85 Hektare Untuk Airport City di YIA

Airport city rencananya mengusung konsep integrated facilities, mengedepankan pasar komersial.

Image
News

Mardani Ali Sera: Aspirasi Lansung dari Rakyat Papua Wajib Didengar

Mardani Ali Sera prihatin teror yang dilakukan kelompok kriminal bersenjata (KKB) tidak bisa dibendung selama satu pekan terakhir.

Image
News

Kisah Wanita Makassar Dilamar dengan Dua Keping Bitcoin, Nilainya Capai Rp1,7 M

Seserahan atau mahar menjadi salah satu elemen paling penting

Image
News

Ingatkan Presiden, Jammi: Reshuffle Kabinet Harus Berdasarkan Asas Kemaslahatan Bersama

Reshuffle kabinet merupakan hak prerogatif presiden.

terpopuler

  1. Kelebihan Bayar Peralatan Damkar Rp6,5 Miliar, Anies Dicurigai Banyak Lakukan Kesalahan Transaksi 

  2. Cipinang Melayu Banjir Lagi, Wagub DKI Salahkan Pembangunan GBK

  3. Penataan Balai Kota Cuma Pindahkan Kursi, Anies Siapkan Anggaran Hingga Rp2 Miliar 

  4. Gus Baha: Begini Hukum Puasa Orang yang Bekerja

  5. Indonesia Bangun Silicon Valley, Ekonom: Jangan Sampai Jadi Bandara Kertajati Jilid Dua!

  6. Resep Indomie Soto Versi 'Elite' ala Jerry Andrean, Juara Masterchef Indonesia Season 7

  7. Anggaran Pengadaan Alat Damkar DKI Diduga Diarahkan ke Perusahaan Tertentu

  8. China Tantang Wakil PM Jepang Minum Air Limbah Nuklir Fukushima

  9. Ladies, Lakukan Ini Tuk Buat Pria Bersyukur Memilikimu

  10. Pengamat: Tugu Senilai Rp800 Juta Tidak Ada Pengaruhnya Mendorong Warga Beralih ke Sepeda

fokus

Ramadan 1442 Hijriah
Webinar Akurat: DP 0 Persen
Info Kementan

kolom

Image
Tantan Hermansah

Tantangan Keberlanjutan Pariwisata Desa

Image
Ajib Hamdani

Peningkatan Plafond KUR Pemerintah, Menguntungkan UKM atau Konglomerasi?

Image
Abdul Bari

Merefleksikan Kembali Arti Kesuksesan

Image
Khazangul Huseynova

Tahun Nizami Ganjavi

Wawancara

Image
Video

VIDEO Menstruasi Gak Lancar Tanda Ada Kista dan Berujung ‘Angkat’ Rahim?!? | Akurat Talk (2/3)

Image
Video

VIDEO Keliling Ruang Kontrol BMKG, Tempat Pantau Cuaca Hingga Bencana se-Indonesia | Akurat Talk

Image
Video

Akurat Talk

VIDEO Duh! Laki-laki Sering Jadi Tersangka Toxic di Hubungan, Padahal Mah… | Akurat Talk (3/3)

Sosok

Image
News

5 Fakta Menarik Ade Armando, Pakar Komunikasi yang Sempat Sindir Atta Halilintar

Image
Gaya Hidup

Ramadan 1442 H

Masjid Terindah di Bengkulu, Hadiah Ramadan Maya Miranda Ambarsari

Image
Ekonomi

Intip Karier Hingga Kekayaan Song Joong Ki yang Makin Gemerlap!