Akurat.co - Cepat Tepat Benar
Login / Sign Up

Alissa Wahid: Membawa Sumpah Pemuda 1928 ke Anak Milenial

Siswanto

Alissa Wahid: Membawa Sumpah Pemuda 1928 ke Anak Milenial

Alissa Wahid | AKURAT.CO/Siswanto

AKURAT.CO Di atas panggung depan gedung Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Alissa Wahid bersama presidium Mafindo Ratih Ibrahim  dan Direktur Jenderal Kebudayaan Kemendikbud Hilmar Farid yang datang belakangan menjadi pembicara di acara talkshow peringatan Hari Sumpah Pemuda.

Talkshow yang diselenggarakan pada 28 Oktober 2018 pukul 09.00-10.00 WIB itu dihadiri oleh ratusan anak-anak muda dari berbagai sekolah. Di hadapan mereka, Alissa dan kedua narasumber berbicara dengan tema Pemuda untuk Bangsa. Mereka mengajak anak-anak generasi milenial untuk menengok pemuda masa lalu, kemudian menyadarkan tentang apa saja yang dihadapi pada masa kini.

Anak-anak muda duduk di halaman, di anak tangga, bahkan ada yang berdiri, antusias mendengarkan pesan-pesan Alissa Wahid. Putri pertama mendiang Gus Dur mengajak anak-anak muda yang hidup di zaman yang berbeda, mengambil semangat Sumpah Pemuda yang tetap relevan. “Nah, perjuangan apa, sesuai konteks, gitu. Nah, kenapa Sumpah Pemuda yang diambil karena itu merupakan momen yang paling bersejarah, kebangkitan Indonesia ada di situ,” kata Alissa Wahid.

baca juga:

Dia alumnus SMA Negeri 8 Jakarta, kemudian melanjutkan studi di Universitas Gadjah Mada Yogyakarta jurusan psikologi dan kini menjadi National Coordinator GUSDURian Network Indonesia. Lewat Gusdurian, Alissa Wahid dan kawan-kawan berjuang yang ujung-ujungnya adalah mencapai Indonesia yang adil, makmur, sentosa. Dia berjuang melalui cara membangun martabat kemanusiaan, keadilan, kearifan lokal, dan pembebasan dari setiap jenis penindasan.

“PR kita bersama makin besar: mencetak warga bangsa yang baik, adil, hormat pada sesama, berani bertanggungjawab, dab berintegritas. Bukan warga yang suka menyakiti, tidak adil, tidak kongruen dan berintegritas, karena tidak berani pertanggungjawabkan ucapannya,” kata Alissa Wahid di akun Twitter @AlissaWahid pada 1 November 2018.

Alissa Wahid aktif sekali di jejaring Twitter karena media ini memudahkannya untuk berinteraksi dengan publik. Cuitan-cuitannya tidak melulu serius, terkadang lucu. Pada tanggal 28 November itu, wartawan AKURAT.CO menemuinya usai acara talkshow. Dia tetap humble seperti dulu. “Wuih, UNISI,” kata Alissa Wahid mengomentari kaus yang saya kenakan. Saya jelaskan sebenarnya ini kaus hadiah dari alumnus Universitas Islam Indonesia Yogyakarta dan dia ngakak mendengar penjelasan itu.

Setelah AKURAT.CO menunggu dia untuk makan siang serta diskusi dengan panitia, akhirnya dia berhasil diwawancarai di tengah acara selanjutnya di dalam Gedung Kemendikbud.

Akurat: Apa makna sumpah pemuda yang mesti diambil bagi kalangan milenial?

Alissa: Yang harus diambil adalah semangatnya ya, karena tantangan zamannya berbeda. Tetapi semangat dan perannya sama. Semangat sebagai pembaharu dan pejuang, itu yang harus diambil. Nah, perjuangan apa, sesuai konteks, gitu. Nah, kenapa Sumpah Pemuda yang diambil karena itu merupakan momen yang paling bersejarah, kebangkitan Indonesia ada di situ.

Ketika kita memutuskan untuk meleburkan perbedaan dan memilih jalan persatuan. Kemudian yang kedua mengambil aksi, beraksi. Jadi bukan cuman sekedar ada dipikiran. Jadi itu yang harus diambil dari tahun 1928 itu dibawa ke sini itu yang bagian itu. Tapi tantangan zamannya yang dijawab adalah tantangan zaman di masa kini.

Akurat: Sebagian anak muda mempertanyakan relevansi Sumpah Pemuda dengan zaman sekarang, apa pendapat Anda?

Alissa: Sangat relevan karena kalau anak muda zaman sekarang itu dengan segala kenyamanan segala kemudahan yang tersedia itu bisa terjebak dengan kenyamanan itu. Sementara sebetulnya kalau kita melihat gambar besar Indonesia, kita masih jauh dari cita-cita kita, kehidupan adil, makmur, sentosa itu. Itu yang bisa mewujudkan adalah anak-anak muda sekarang.

Akurat: Sebagian generasi sekarang ada yang menganggap tak penting memahami makna Sumpah Pemuda, toh kehidupan juga berjalan terus tanpa memahaminya, apa pendapat Anda?

Alissa: Berarti itu anak-anak muda yang terjebak dengan kenyamanan dan kemudahan yang dimiliki. Tidak berpikir lebih besar, tidak berpikir bahwa sejarah bangsa ini adalah hak dan kewajiban para pemuda, mau diisi seperti apa gitu. Kalau pemuda Indonesia itu Cuma sibuk memikirkan dirinya sendiri, maka kemaslahatan bersama atau kesejahteraan bersama itu ya pasti akan sulit untuk terwujud karena orang akan mikir sendiri-sendiri atau mikir kelompoknya sendiri. Seperti sekarang, banyak kelompok yang maunya dengan kepentingan sendiri, gitu. Yang kita butuhkan adalah anak-anak muda yang mau mengasah dirinya untuk menjadi penggerak masyarakat. Seperti anak-anak muda pada tahun 1928 mengambil posisinya untuk menggerakkan perjuangan masyarakat Indonesia pada waktu itu.

Akurat: Apa sih sebetulnya akar masalah SARA yang selalu muncul, milenial perlu paham juga ini?

Alissa: Jadi begini, Indonesia itu ada kan karena keberagaman. Kalau tidak ada keberagaman, tidak ada Indonesia, kata Gus Dur. Jadi, maksudnya bagaimana? Indonesia itu sudah jelas punya banyak sekali kelompok di dalamnya. Ada kelompok suku, ada kelompok agama, ada kelompok usia, kelompok desa kota, ada banyak kelompok.

Tetapi semuanya diikat dengan persatuan Indonesia. Kita memutuskan untuk menjadi satu, jadi bangsa, negara Indonesia. Nah, itu kana da keberagamannya. Nah keberagaman itulah yang -- kita menyebutnya sebagai SARA: suku, agama, ras dan anatomi. Hahaha. Enggak ya. Nah, kenapa kok SARA itu menjadi isu yang paling gampang untuk dibakar, ya karena satu karena yaitu, Indonesia ada karena keberagaman. Memang beragam. Dan itu mudah sekali untuk dicomot bahwa: eh kita kan orang Jawa, orang Jawa begini… begini… atau dia orang ini… atau dia orang Islam, dia orang Kristen, eh dia orang ini… Jadi, apa namanya, identitas-identitas kelompok itu yang kemudian jadi modal untuk memecah belah.

Yang kedua, secara khusus untuk agama. Agama itu memang sangat mudah dipakai untuk kepentingan politik. Jadi kalau ada kepentingan politik, pasti ada pertikaian, pakai nama agama. Kenapa? Karena orang mau melakukan   banyak hal yang mereka tidak mau lakukan untuk uang, misalnya kalau itu berkaitan dengan Tuhan.

Akurat: Sepanjang pergaulan Anda dengan anak-anak muda, seperti apa yang Anda tangkap mengenai ketertarikan mereka terhadap pendidikan watak atau karakter bangsa?

Alissa: Banyak anak muda yang bagus-bagus di Indonesia ini. Dan mereka adalah anak-anak muda yang berpikir tentang perubahan, berpikir tentang kemajuan, berpikir tentang prestasi. Sayangnya justru merekanya sudah siap untuk maju, tetapi kita-kitanya para orangtua, yang lebih dewasa, yang justru kurang memfasilitasi itu. Kalau menurut saya problemnya bukan di anak mudanya, tetapi di sistem yang kita bangun yang belum memperkuat partisipasi anak-anak muda.

Kalau partisipasi anak muda itu kita kuatkan, insya Allah akan semakin banyak anak-anak muda yang bagus.

Akurat: Menurut Anda bagaimana cara penguatan partisipasi anak milenial yang tepat?

Alissa: Tentu yang pertama melalui Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, itu jelas. Karena pembentukan karakter di tingkat negara, itu dilakukannya di situ. Yang kedua, tentu  melalui keluarga. Bagaimana kemudian negara itu mendampingi keluarga supaya bisa membangun referensi keluarga yang lebih baik, gitu. Dan tokoh agama, tokoh masyarakat. Gus Dur selalu menyampaikan bahwa civil society harus mengambil posisinya. Nah, civil society dalam hal ini adalah organisasi-organisasi masyarakat sipil, tokoh agama, tokoh masyarakat, itu harus mengambil perannya untuk mendorong tumbuhnya anak-anak muda.

Kalau orang dewasanya belum beres, anak mudanya nggak beres, mas. Jadi, jangan dibebankan kepada anak mudanya. Dibebankannya harus kepada kita yang orang dewasa ini.

Akurat: Perilaku politikus lewat pesan yang disampaikan di media mainstream atau media social, apakah itu berpengaruh pada karakter generasi milenial?

Alissa: Jelas dong. Apalagi anak muda itu kan masih dalam tahap menyelesaikan kemandirian pikir mereka ya. Jadi abstraksinya, kemudian perkembangan moralitas, itu dimasa-masa remaja ini  diasah jadi orang dewasa. Bayangkan dalam kondisi seperti itu, dimana emosi masih meledak-ledak, idealism masih sangat tinggi, tetapi juga pada saat yang sama masih belum sepenuhnya matang dalam merespons, dijejelin sama sentiment-sentimen negatif, permusuhan, ya iya. Jadi anak muda yang gampang terbakar.

Akurat: Bagaimana seharusnya para politikus bersikap karena bisa mempengaruhi anak muda?

Alissa: Nah itu, persoalan kita memang bener-bener dikontestasi politik kekuasaan ya. Itu yang memang jadi problem besar bagi kita saat ini. Gimana caranya, para politisi itu ketika mereka menggunakan sentiment kebencian, itu mereka mendapatkan sanksi. Ini yang belum selesai. Sehingga para politisi itu dengan seenaknya menggunakan sentimen-sentimen populistik yang kira-kira bisa nembak emosi orang untuk kepentingan menang untuk kontestasi politik.

Kalau mengharapkan politisi yang benar-benar – kalau saya -- seperti politisi di masa lalunya Indonesia itu ada seperti Bung Karno, Bung Hatta, KH Wahid Hasyim.

Saya ada satu cerita: jadi, Bu Nyai Solihah Wahid Hasyim, itu kan aktivis NU ya. Suatu ketika, beliau ini ingin menyaksikan, mengobservasi, suaminya, KH Wahid Hasyim yang menteri agama itu rapat dengar pendapat di DPR. Jadi beliau nonton di balkon. Dan melihat bagaimana ada orang NU juga di anggota parlemen menteri agama (KH Wahid Hasyim). Jadi, nenek saya ini, Bu Nyai Solihah, berpikir gini, gimana sih sama-sama orang NU kok nggak belain, tetapi malah menghajar. Walaupun memang posisi politiknya bersebarangan: yang satu pemerintah (eksekutif, yang satu legislatif.

Terus beliau marah, wong temen sendiri kok begitu. Lalu, pas pulang beliau pulang, naik mobil berdua dengan KH Wahid Hasyim. Eh di tengah jalan lihat si orang parlemen itu, anggota parlemen itu, berdiri di pinggir jalan. Terus KH Wahid Hasyim itu menghentikan mobilnya, mengajak si bapak itu untuk masuk dan dianterin pulang. Lalu, Nyai Solilah bilang gini: Kok kita nganterin orang itu pulang, orang itu begitu, memaki-maki njenengan di rapat pendapat, wong sesama orang NU kok begitu, bukannya mbelain kok malah begitu, malah tadi kita anterin pulang itu gimana sih saya nggak paham.

Jawaban KH Wahid Hasyim waktu itu begini: Di ruang dengar pendapat itu, di DPR itu, dia menjalankan tugasnya, saya juga menjalankan tugas. Tugas dia memang mengkritik pemerintah, mengkritisi pemerintah. Tugas dia bersuara atas nama rakyat. Di luar ruang sidang itu, ya kita tetap sama-sama orang NU, tetap bersaudara.

Nah, itu kan sikap-sikap negarawan dan politisi yang kita harapkan. Dan sekarang itu dilupakan. Sekarang nggak ada salah aja disalah-salahin kok. Kita udah capek sih mengimbau para politisi, ayolah berpikir jangka panjang, yang kamu perebutkan itu hanya lima tahun, tapi Indonesia ini umurnya panjang. Jangan menggadaikan masa depan Indonesia dengan sikap-sikap politik yang asal. Tapi menurut saya harus pakai hukum sih. Itu pakai mekanisme incentive disincentive itu lho mas. Karena kalau mengharapkan mereka insaf sendiri kayaknya agak jadi.

Akurat: Anda konsisten berjuang bersama Gusdurian untuk menyuarakan ide-ide dan nilai perjuangan Gus Dur, boleh diceritakan untuk anak-anak muda yang barangkali belum paham?

Alissa: Gusdurian ini adalah arena untuk yang merasa terinspirasi oleh Gus Dur dan ingin melanjutkan perjuangannya. Jadi ini himpunan sebetulnya, himpunan orang-orang yang berpikir bahwa ide-ide Gus Dur itu baik untuk Indonesia dan saya mau berguru dan saya mau melanjutkan perjuangannya.

Akurat: Apa saja yang diperjuangkan?

Alissa: Yang kita diperjuangkan tentu saja di ujungnya adalah Indonesia yang adil makmur sentosa. Tetapi dengan cara apa? Dengan cara membangun martabat kemanusiaan, keadilan, kearifan lokal, dan pembebasan dari setiap jenis penindasan. Materinya atau tema apa saja yang kami perjuangkan, itu macem-macem, tergantung local content. Jadi misalnya kalau di Kalimantan, teman-teman Gusdurian lebih banyak bicara soal mendampingi keluarga korban tambang, kayak gitu. Sementara di tempat lain itu lintas iman. Tergantung isu ketidakadilan apa yang muncul. Jadi siapa saja boleh bergabung karena ini sifatnya komunitas terbuka.   

Akurat: Pesan hoax marak di media social, padahal media ini digandrungi banyak orang. Apa saran buat anak muda agar lebih bijak menangkap pesan-pesan yang bertebaran dan sebagian hoax?

Alissa: Yang pertama sih, anak muda itu perlu memperluas wawasannya. Jadi banyak-banyak membaca dari sumber-sumber yang ilmiah, bisa dipertanggungjawabkan. Buku sebagai jendela dunia bener-bener harus kita galakkan. Kenapa, karena itu modal nanti menghadapi berbagai pesan yang berseliweran di media social. Kalau wawasan kita luas, maka kita cenderung bisa kritis terhadap apapun pesan yang nyampai.

Yang kedua, jadi begitu kita menerima pesan cobalah kita kembali ke sebetulnya inti pesan ini apa. Kalau dia menanamkan kebencian atau permusuhan terhadap kelompok, itu sebaiknya kita  abaikan. Jangan ikut sharing itu. Kalau itu kebencian terhadap perilaku yang menurut kita tidak beretika atau tidak bermoral, nah itu oke. Jadi misalnya, informasi tentang ada anak yang jatuh ke lubang bekas tambang yang tidak diolah, itu sesuatu yang kita tolak sikap para pelaku tambang yang membiarkan begitu saja lubang bekas tambang itu. Itu sesuatu yang kita bisa terima. Kebencian terhadap sikap tidak bertanggungjawab itu oke.

Tetapi kalau kebenciannya melekat kepada kelompok, itu sudah. Jangan ikut sharing. Dan yang ketiga, kalau bisa malah ikut mengcounternya. Jadi, jangan hanya berhenti untuk diri sendiri deh. Itu udah nggak zamannya. Sekarang anak muda harus ikut berkontribusi juga. [] 

Editor: Siswanto

berita terkait

Image

News

Kasus Sekolah yang Paksa Siswi Berhijab, Alissa Wahid Beri Catatan ke Kemendikbud

Image

Ekonomi

Angkat Direksi Milenial, BRI Dinilai Jalankan Regenerasi dengan Baik

Image

Ekonomi

Tak Ada Kata Sulit, 5 Strategi Bisa Bikin Kamu Ketagihan Menabung

Image

Ekonomi

BNI Siap Tebar KPR Bagi Milenial

Image

Gaya Hidup

Literasi

Kebiasaan Membaca Bisa Ciptakan Daya Saing

Image

Gaya Hidup

Tempat Tinggal Sekaligus Ruang Bekerja, Ini Penampakan Olwen House, Lebar hanya 2,5 Meter!

Image

Ekonomi

Erick Thohir Minta 15 Persen Direksi BUMN Diisi Perempuan, Kenapa?

Image

Ekonomi

Halo Milenial, Kamu Ingin Jadi Kaya? Hindari 5 Pantangan Ini

Image

rahmah

Hikmah

Humor Lucu Gus Dur; Ketika Presiden Clinton Dibikin Ngakak

komentar

Image

1 komentar

Image
Resta Apriatami

good advice :) bagus buat dipahami sama anak-anak jaman now biar pada paham

terkini

Image
News

Petugas Transjakarta Tangkap Pencuri Botol Hand Sanitizer

Petugas keamanan Transjakarta tangkap terduga pelaku pencurian botol hand sanitizer.

Image
News

11 Guru Terpapar Covid-19 di Tarakan Jalani Isolasi Mandiri

Sebanyak 11 orang guru SMPN 1 Tarakan Provinsi Kalimantan Utara yang terpapar Covid-19 jalani isolasi mandiri.

Image
News

Pesan Lestari Moerdijat ke Pendidik: Jangan Abai Nilai-nilai Kebangsan

Lestari menyikapi adanya kewajiban berkerudung bagi siswi nonmuslim di SMK Negeri, Padang, Sumatera Barat (Sumbar)

Image
News

Banjarmasin Perpanjang Masa PPKM

Saat ini setiap hari masih ditemukan rata-rata 120 kasus positif baru COVID-19 di Banjarmasin

Image
News

TNI AD Bangun RS Darurat untuk Korban Gempa Sulbar

TNI Angkatan Darat (AD) membangun Rumah Sakit (RS) darurat di Mamuju.

Image
News
Lawan Covid-19

Airlangga: Kebijakan Perpanjang PPKM Sudah Diperhitungkan dan Dipertimbangkan Seksama

Kebijakan pemerintah memperpanjang pembatasan aktivitas masyarakat di Pulau Jawa-Bali telah dipertimbangkan secara matang.

Image
News

Antisipasi Banjir di Sungai Bengaris, Pemkab Barito Utara Pasang Pompa Air

Dinas PUPR mulai melakukan pekerjaan pemasangan pompa air di aliran Sungai Bengaris yang merupakan anak Sungai Barito di Muara Teweh

Image
News

Sebanyak 11 Guru SMPN 1 Tarakan Terpapar COVID-19

Kini semuanya menjalani isolasi mandiri di rumah masing-masing

Image
News

Kasus Positif COVID-19 di Kalimantan Timur Bertambah 432 Orang

Balikpapan masih menjadi penyumbang terbesar kasus aktif dengan adanya tambahan sebanyak 102 kasus

Image
News

Pasien Sembuh Covid-19 di RS Wisma Atlet Berjumlah 46.254 Orang

Jumlah pasien sembuh merupakan akumulasi dari pencatatan sejak 23 Maret 2020 hingga 24 Januari 2021

terpopuler

  1. Ditengah Lamaran Kalina - Vicky Prasetyo, Azka Ungkap Dirinya Hanya Putra Deddy Corbuzier

  2. Terima Tantangan Istri Daus Mini untuk Tes DNA, Yunita Lestari Sampaikan Pesan Ini

  3. Kocak! Humor Ketika Gus Dur Lupa Tanggal Lahir

  4. Humor Gus Dur; Salaman Gus Dur

  5. Bertindak Kebablasan pada Pacar Sewaan, Pria Taiwan Dipenjara

  6. Mainkan Nomor Lotre yang Sama Selama 20 Tahun, Wanita Kanada ini Akhirnya Dapat Jackpot

  7. Nekat Buka Sampai Larut Malam, Tempat Karoke Masterpiece Tanjung Duren Disegel Petugas

  8. Anies Dinilai Tak Transparan Soal Pembelian Lahan Makam Covid-19 Senilai Rp185 M

  9. Pemaksaan Siswi Non Muslim Untuk Berhijab di SMK Ditanggapi Miring Sejumlah Tokoh

  10. Dolar AS Melompat Seiring Melebarnya Infeksi COVID-19

fokus

Kaleidoskop 2020
Akurat Solusi: Kenaikan Cukai Tembakau
Lawan Covid-19

kolom

Image
Abdul Hamid

Ilusi Dilema Demokrasi dan Integrasi

Image
UJANG KOMARUDIN

Menanti Gebrakan Kapolri Baru Pilihan Jokowi

Image
Kementrian Luar Negeri Republik Azerbaijan

Tragedi Black January

Image
UJANG KOMARUDIN

Kapolri Baru

Wawancara

Image
Video

Akurat Talk

VIDEO Gesits Buktikan Kendaraan Listrik Ramah Perawatan | Akurat Talk (2/2)

Image
Video

VIDEO Gesits, Cita-cita Bangsa Ciptakan Kendaraan Listrik | Akurat Talk (1/2)

Image
Video

Bukan Mistis, Gangguan Jiwa Adalah Gangguan Medis | Akurat Talk (3/3)

Sosok

Image
News

5 Fakta Menarik Maya Nabila, Mahasiswa S3 ITB yang Baru Berusia 21 Tahun

Image
News

5 Fakta Penting Habib Muhammad bin Ahmad Al-Attas, Tunaikan Haji Lebih dari 29 Kali

Image
News

4 Fakta Penting Deva Rachman, Istri Kedua Syekh Ali Jaber yang Jarang Tersorot