image
Login / Sign Up
Image

Ujang Komarudin

Direktur Eksekutif Indonesia Political Review (IPR) & Pengamat Politik Universitas Al-Azhar Indonesia (UAI) Jakarta

Magnet Politik Pesantren

Image

Cawapres Nomor Urut 01, Ma'ruf Amin, saat menghadiri acara Doa Bersama untuk Sulteng dan Halaqah Kebangsaan Syuriyah NU dan Kyai Lembur II-III Jawa Barat di Pesantren Al Muhajirin, Sukatani, Purwakarta, Rabu (3/10). | AKURAT.CO/Kosim Rahman

AKURAT.CO, Jangan aneh dan jangan heran jika pondok pesantren menjadi magnet dan menjadi tempat yang paling sering dikunjungi oleh para Capres dan Cawapres. Sebagai institusi pendidikan yang bertugas membangun karakter bangsa yang berakhlak mulia, pesantren juga memiliki santri, guru, dan alumni yang jumlahnya jutaan. Pada saat yang sama, para santri sangat hormat dan taat kepada sang kiyai, sehingga apa yang dikatakan kiyai akan didengar dan ditaati.

Ketaatan total santri kepada kiyai merupakan ciri khas yang hanya ada di pondok pesantren. Jadi jika kiyai mendukung Capres dan Cawapres tertentu, maka sudah pasti akan diikuti oleh para santri-santrinya. Apa yang menjadi titah kiyai akan ditaati secara total lahir dan batin. Dikalangan pesantren dikenal istilah “sami’na wa athona”, kami dengar dan kami juga taat. Menghormati dan mentaati kiyai adalah suatu kehormatan. Dan juga merupakan suatu kebanggaan yang akan membawa keberkahan.

Pondok pesantren jangan pernah dan jangan sampai alergi terhadap politik. Hadirnya para kontestan Pilpres 2019 ke pondok pesantren harus dimaknai positif, selama para Capres dan Cawapres tersebut tidak berpolitik praktis. Politik pesantren adalah politik yang mengedepankan etika, politik kebangsaan, politik kenegaraan, politik keteladanan, politik untuk memuliakan sesama, politik yang mengedepankan kesederhanaan, kejujuran, dan keadilan. Bukan politik yang menjungkir balikan keadaan.

baca juga:

Selama para kandidat Capres dan Cawapres Pilpres 2019 tidak mengajak kepada politik praktis. Tidak berkampanye untuk menawarkan visi, misi, dan program-programnya, kehadiran mereka sejatinya harus dapat menjadi teladan bagi para santri dan guru-gurunya, bahwa kedua pasangan Jokowi-Ma’ruf Amin dan Prabowo-Sandiaga Uno, merupakan anak bangsa terbaik yang sedang memperebutkan simpati dan dukungan kaum sarungan dan seluruh rakyat Indonesia.

Enam tahun saya merasakan nikmatnya hidup di pondok pesantren, tiga tahun di Cirebon dan tiga tahun di Jakarta. Dalam rentang tahun 1993-1999, selama enam tahun tersebut saya banyak bertemu para tokoh nasional termasuk para politisi hilir mudik, keluar-masuk pondok pesantren. Ada yang meminta doa dan ada juga yang meminta dukungan poitik. Sejak itu pula saya sudah membanyangkan betapa hebatnya pondok pesantren dan betapa strategisnya para santri bisa dikunjungi dan didatangi oleh para pejabat negara.

Begitu strategisnya pondok pesantren dengan jutaan santri menjadi magnet politik tersendiri. Dan mendekati pesantren merupakan syarat mutlak dan suatu keniscayaan bagi para kontestan Pilpres tersebut. Menghindarinya adalah kesalahan. Menjauhinya adalah kesombongan. Memperalat adalah kebiadaban. Memanfaatkannya adalah kemunafikan. Mengabaikannya adalah keteledoran. Membencinya adalah keangkuhan. Dan membusuki dan memfitnahnya adalah kejahatan.

Pesantren, kiyai, guru, dan santrinya, bukan hanya tempat untuk sekedar mencari simpati dan dukungan semata. Namun keluarga besar pondok pesantren harus dihormati, dimuliakan, diayomi, dilindungi, dimengerti, didengarkan, dan ditempatkan di tempat yang tinggi. Jangan sampai para Capres dan Cawapres tersebut datang ke pesantren, ketika butuh dan ketika masa kampanye. Namun setelah Pilpres, menghindar dan menjauh. Setelah terpilih melupakan dan melarikan diri dari pesantren.

Menjaga pesantren agar tetap netral dan tidak dimasuki politik praktis itu penting. Menjaga independensi juga penting. Dan disaat bersamaan pesantren juga harus melek politik. Dengan harapan, kedepan akan lahir negarawan-negarawan dari kalangan pesantren. Jadi perpolitikan nasional tidak hanya diisi oleh politisi pragmatis yang tidak bisa membedakan mana yang halal dan mana yang haram. Tidak bisa membedakan mana yang baik dan mana yang buruk. Semua diembat dan semua disikat.

Politik pesantren adalah politik moralitas. Ya, politik untuk menjaga moralitas. Hilangnya politik yang berlandaskan dan berbasis moral inilah menjadikan perpolitian Indonesia berwajah bopeng, kotor, dan diwarnai politik yang mengandalkan dan menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuan. Sehingga apapun dilakukan demi untuk mendapatkan jabatan dan kekuasaan. Potret inilah yang sedang terjadi pada bangsa ini. Oleh karena itu, menghadirkan politik yang bermoral ala pesantren di tengah-tengah politik yang rusak adalah keniscayaan.

Politik yang tidak berlandaskan moral hanya akan menjadikan bangsa ini rusak. Politik tanpa nilai juga akan menjadikan republik ini tanpa arah dan hancur. Yang berkembang akhirnya politik berbasis dan berlandaskan hawa nafsu, menjadi bandit politik yang menghalalkan segala cara, apapun disikat dan diembat, korupsi dilakukan, dipenjara tak merasa takut, penegak hukum dikondisikan dan disuap, dan masyarakat pun dibodohi. Akhirnya yang muncul adalah politik tanpa moralitas dan tanpa keteladanan.

Yang hilang dari bangsa ini adalah keteladanan. Keteladanan hilang karena tidak adanya politik yang menjaga moralitas. Moralitas hilang dan keteladanan juga hilang. Lantas siapa yang akan menjadi panutan. Hilir mudiknya Capres dan Cawapres haruslah menjadi pembelajaran berharga bagi para pengelola pondok pesantren di seluruh Indonesia, untuk mempersiapkan kader-kader bangsa kedepan dari kalangan pesantren. Jangan sampai pengasuh pondok pesantren lupa akan misi tersebut. Dan jangan sampai hanya dimanfaatkan Capres dan Cawapres tertentu hanya untuk menambah elektoral, namun lupa untuk mendidik santri untuk menjadi pemimpin masa depan Indonesia.

Student now, leader tomorrow. Hari ini menjadi santri, besok hari akan menjadi pemimpin. Dan sesuai dengan pepatah Arab yang mengatakan “syubbanul yaum rijaalul ghodd”, pemuda hari ini adalah pemimpin masa depan. Silahkan para kiyai berpolitik. Namun jangan lupakan misi utama untuk menjadikan dan membangun santri-santri yang tangguh dan berkarakter yang siap untuk menjadi pemimpin Indonesia masa depan. Semua harus dipersiapkan. Jangan hanya menjadi penonton. Tapi harus menjadi aktor politik masa depan bangsa.

Politik santri adalah politik pengabdian dan pelayanan. Dan itu sudah ditanamkan di pondok pesantren. Kepentingan umat, bangsa, dan negara akan lebih diutamakan, dari pada kepentingan pribadi, kelompok, dan partai. Politik yang berlandaskan moralitas yang diimplementasikan dengan pengabdian dan pelayanan akan lahir dari pondok pesantren. Bukan lahir dari jalanan atau lembaga-lembaga lain. Jika bangsa ini ingin aman, damai, adil, makmur, dan sejahera, maka tanamkan dalam hati dan hadirkan dalam perilaku politik pengabdian dan pelayanan. Bukan politik saling tikam dan ingin dilayani.

Mencetak generasi millenial dari kalangan pesantren untuk menjadi pemimpi-pemimpin bangsa kedepan adalah tugas kita bersama. Bukan hanya tugas kiyai dan guru di pondok pesantren. Sehingga pesantren bukan hanya tempat yang dikunjungi ketika kampanye. Tapi dilupakan ketika sudah terpilih. Mencetak generasi politisi yang santun dan berbudi pekerti yang baik, jauh lebih penting dari sekedar memperdebatkan apakah Capres dan Cawapres boleh masuk pesantren atau tidak. Pesantren akan tetap menjadi magnet politik, dimanapun dan sampai kapanpun. Hanya Capres dan Cawapres yang dungu yang tidak mau berkunjung ke pesantren!.

Editor: Sunardi Panjaitan

berita terkait

Image

News

Paradigma Baru Kampanye Pemilu 2019

Image

News

Nyinyiran Politik

Image

News

Politikus Sontoloyo

Image

Ekonomi

Prospek Proyek Meikarta Pasca OTT

Image

News

Penguatan Demokrasi di Era Digital

Image

News

Membidik Amien Rais

Image

News

Kampanye Pemilu dalam Demokrasi Kontraktual

Image

News

Demokrasi Up and Down

Image

News

Kampanye Tanpa Hoaks dan SARA

komentar

Image

0 komentar

terkini

Image
News

Satu Tersangka Pembunuh Sopir Taksi Online Berumur 17, Pengacara akan Awasi Proses Interogasi

Proses hukum terhadap FF harus diawasi, karena dirinya masih berumur 17

Image
News

PA 212 Minta Aparat Kepolisian Tak menghalangi Reuni Akbar

Novel meminta aparat keamanan untuk membiarkan reuni akbar itu berjalan apa adannya

Image
News

Rekonstruksi Digelar, Tiga Pembunuh Sopir Taksi Online Peragakan 18 Adegan

Rekonstruksi dilakukan untuk melihat langsung tindak pidana yang dilakukan tersangka. Rekonstruksi ini dilakukan sebanyak 18 adegan.

Image
News

AS Ungkap Puluhan Situs Uji Coba dan Peluncuran Rudal Korea Utara

Donald Trump menyatakan bahwa dirinya tidak terkejut dan telah mengetahui keberadaan situs-situs tersebut

Image
News

Tanggapan Warganet Soal Opang yang Intimidasi Ojol: Lawan Aja Orang Kaya Gitu

"Lawan, enak bener capek-capek narik seharian di tengah jalan di pintain gocap. Emang bapak moyangnya yang punya jalanan," kata warganet

Image
News

Mampukah Reuni Akbar Alumni 212 Menggaet Generasi Milenial

Generasi milenial tak terlalu hobi dengan acara yang barbau agama

Image
News

Tiga Mobil di Bandung Kehilangan Pentil, Ini Alasannya

Menurutnya, titik yang rawan parkir liar, yaitu jalur niaga, sekolah atau pendidikan, tempat kuliner dan perkantoran.

Image
News

Pemimpin Khmer Merah Dinyatakan Bersalah Atas Kejahatan Genosida

Mereka akan menjalani hukuman penjara seumur hidup.

Image
News

Cendekiawan Muslim: Reuni Akbar 212 "Bigger than Ahok"

Aksi 212 tidak hanya persoalan penistaan agama Ahok, tapi lebih dari itu, yakni ketidaksukaan terhadap pemerintah

Image
News

Idrus Marham: Nasib Sofyan Basir Tergantung Penyidik KPK

Menurut Idrus, bukti-bukti tersebutlah yang nantinya akan menguatkan dugaan keterlibatan pihak lain dalam kasus ini.

trending topics

terpopuler

  1. Faizal: Sikap Grace Tolak Perda Syariah adalah Wajar dan Tidak Arahan Pak Jokowi

  2. Dahnil Vs Rustam Soal Strategi Pertarungan Politik SBY: Ngajari Bebek Ngelangi atau Mitos?

  3. Touring Bareng, Begini Candaan Uus ke Ariel Noah

  4. Soal Film Hanum dan Ahok, Grace: Kalau Film Bagus, Nggak Usah Disuruh, Penonton Datang Sendiri

  5. HS, Terduga Pembunuh Satu Keluarga di Bekasi Ternyata Adik Ipar Diperum Nainggolan

  6. 5 Manfaat dari Menyisir Rambut, Bikin Berkilau Lho

  7. Hasil Survei di 9 Provinsi Jika Perda Syariah Diberlakukan, Mencengangkan!

  8. Curhat Wapres JK yang Bisnisnya Bangkrut Karena Tak Percaya Teknologi

  9. Desain Kurang Matang, Pembangunan Skybridge Tanah Abang Dikeluhkan Pejalan Kaki

  10. Ternyata HS Ditangkap Setelah Pemilik Kontrakan Melapor ke Polisi

fokus

Semangat Pahlawan di Dadaku
Info MPR RI
Tragedi Lion Air

kolom

Image
Ujang Komarudin

Buta dan Budek dalam Politik

Image
Pangi Syarwi Chaniago

Bising di Ruang Publik: Perang Diksi Namun Jauh dari Substansi

Image
Karyono Wibowo

Harus Dibedakan antara Penegakan Hukum dan Kriminalisasi

Image
Pangi Syarwi Chaniago

Ancaman Pemilu Serentak, Kekhawatiran Yusril yang Belum Menemukan Jawaban

Wawancara

Image
News

DKPP, Penjaga Marwah dan Etika Penyelenggara Pemilu yang 'Haus' Infrastruktur

Image
Olahraga

Piala Libertadores 2018

"Mari Jadikan Final Boca-River Tanpa Kekerasan"

Image
News

Alissa Wahid: Membawa Sumpah Pemuda 1928 ke Anak Milenial

Sosok

Image
Ekonomi

Cukai Rokok Batal Naik, Kekayaan Bersih Para Pengusaha Ini Tambah Moncer

Image
Gaya Hidup

Sibuk Banget, Bagaimana Soal Olahraga dan Liburan Arzeti Bilbina?

Image
Ekonomi

Tragedi Lion Air

Cerita Rusdi Kirana, Sosok di Balik Terbangnya 'Singa Merah' ke Angkasa