breaking news: Stormy Daniels Dapat Panggilan Baru Usai Kalah Gugatan di Pengadilan

image
Login / Sign Up
Image

Ujang Komarudin

Direktur Eksekutif Indonesia Political Review (IPR) & Pengamat Politik Universitas Al-Azhar Indonesia (UAI) Jakarta

Demokrasi Up and Down

Image

Aktivis ratna Sarumpaet (tengah) mengadakan jumpa media untuk mengklarifikasi berita pemukulan di kediamannya di kawasan Kampung Melayu Kecil 5, Bukit Duri, Jakarta, Rabu (3/10/2018). Ratna Sarumpaet mengakui bahwa berita tentang pemukulan yang terjadi pada 21 September silam adalah bohong. Fakta yang sebenarnya ibunda dari Atiqah Hasiholan itu melakukan operasi sedot lemak pada bagian wajah. Karena terlanjur cerita kepada anaknya bahwa itu adalah pemukulan, maka berita tersebut kini menyebar luas. | AKURAT.CO/Endra Prakoso

AKURAT.CO, Menjadi negara demokrasi tak semudah membalik telapak tangan. Perlu perjuangan sesama anak bangsa agar demokrasi di Indonesia berjalan on the track. Perjalanan demokrasi berjalan fluktuatif, up and down, maju mundur, pasang surut, dan penuh dinamika. Demokrasi sejatinya segaris dan senafas dengan kebebasan. Kebebasan berserikat, menyampaikan pendapat, mengkritik siapapun, dimanapun, dan kapanpun, termasuk dalam mengkritik penguasa. Demokrasi juga meniscayakan perbedaan pendapat. Berbeda pendapat dalam alam demokrasi merupakan kewajaran.  

Perbedaan pendapat dalam menyikapi kasus Ratna Sarumpaet menjadi ujian bagi demokrasi. Karena sejatinya demokrasi tidak dikotori dan lumuri oleh hoaks dari kaum oposan. Mengkritik dan menuduh pemerintah dengan berita yang kebenarannya diragukan, apalagi berlandaskan berita bohong, tentu sangat merugikan bagi sang pengkritik. Bukan menjadi amunisi yang mematikan, sekali tembak langsung mati, namun seperti menembak dengan peluru kosong, bahkan seperti senjata makan tuan. Mengkritik lalu berbalik.

Kebohongan yang sudah diakui Ratna Sarumpaet merupakan pernak-pernik, dinamika, up and down dalam berdemokrasi. Demokrasi jangan diisi dengan cara-cara kotor, manipulasi, dan kebohongan. Demokrasi yang berlandaskan dan mengacu pada hoaks akan menjadikan demokrasi kehilangan jadi diri dan terkebiri. Demokrasi jangan dikacaukan dengan berita hoaks. Sengaja atau tidak sengaja, berita bohong Ratna Sarumpaet bukan hanya merugikan dirinya, tetapi merugikan Prabowo sebagai calon presiden dan rakyat Indonesia yang menerima hoaks tersebut.

baca juga:

Siapapun boleh kritis. Siapapun boleh keras dalam mengkritik. Namun jika narasi yang dikembangkan adalah hoaks, maka demokrasi dalam pertaruhan. Kualitas demokrasi bisa menurun, karena bukan narasi objektifitas yang dikembangkan. Kasus Ratna Sarumpaet harus menjadi kasus pertama dan terakhir dimana para tokoh atau aktivis jangan seenaknya bicara. Jangan seenaknya berbohong. Jangan seenaknya menebar hoaks. Dan jangan seenaknya mengumbar pernyataan yang tak berdasar. Demokrasi harus dibangun dengan nilai-nilai kebenaran.

Kita tahu Ratna Sarumpaet merupakan bagian dari tim nasional Prabowo-Sandi. Jadi tindakan Ratna Sarumpaet pasti akan berdampak pada citra baik Prabowo-Sandi. Apalagi kubu Prabowo-Sandi bersuara lantang menuduh penguasa melakukan cara-cara kotor untuk membungkam para aktivis yang keras mengkritik pemerintah. Bukan simpati yang didapat Prabowo-Sandi, tetapi empati, karena dianggap ikut serta menyebarkan berita hoaks. Walaupun Prabowo dan Ratna Sarumpaet sudah meminta maaf. Namun publik sudah terlanjur muak dengan berita hoaks tersebut.  

Menuduh rejim berkuasa harus dengan data dan fakta. Jika tidak, maka akan sia-sia dan percuma. Jangan mengkritik berdasarkan pada asumsi dan kebohongan hasil laporan orang. Perlu klarifikasi dan verifikasi. Bagaimanapun penguasa yang dikritik punya instrumen untuk membungkam kritik. Demokrasi mengajarkan kebebasan yang bertanggung jawab. Bebas tapi bertanggung jawab. Bebas tapi penuh kreativitas. Bebas tapi waras. Bebas tapi sesuai koridor hukum. Bebas untuk menjadi apapun yang kita inginkan. Dan bebas untuk mengkritisi siapapun di muka bumi ini.

Membangun dan menjaga demokrasi memang sangat mahal harganya. Kebebasan bersuara, berpendapat, dan mengkritik sangat mahal harganya. Dan dalam negara demokrasi yang stabil, semua itu dijamin dan dilindungi untuk saling mengingatkan bahwa dalam pengelolaan bernegara dibutuhkan kontrol dari masyarakat. Ketika lembaga legislatif mandul untuk menyuarakan aspirasi rakyat, maka rakyatlah secara individu ataupun secara kelompok bergerak dan bersuara keras dalam mengkritik penguasa.

Demokrasi di Indonesia kadang naik kadang turun. Demokrasi menjadi terjaga dan naik, jika kasus-kasus dan permasalah-permasalah yang mencederai demokrasi dapat diselesaikan oleh pemerintah. Namun demokrasi akan menjadi turun kualitasnya, jika ada hal-hal yang mengancam demokrasi dibiarkan. Pura-pura tidak tahu, diabaikan, ditinggalkan, bahkan sampai dimainkan. Naik turunnya kualitas demokrasi, bergantung pada pemerintah dan rakyatnya dalam mengawal dan menjaga demokrasi itu sendiri. Demokrasi yang tidak dipertahankan akan mengarah ke otoritarian.  

Kasus penyiraman air keras kepada Novel Baswedan menjadi tantangan sendiri bagi pemerintah untuk mengungkap siapa pelakunya. Dalam negara demokrasi yang menjunjung nilai keadilan dan transparansi, maka seharusnya Polisi sudah mampu untuk menangkap pelakunya. Jika kasus tersebut dibiarkan tanpa perkembangan dan kejelasan, maka rakyat bisa marah dan bisa menuduh pemerintah tidak mau mengungkap kasus tersebut hingga tuntas. Tidak tuntasnya kasus penyiraman air keras yang menimpa Novel Baswedan, menjadikan demokrasi kehilangan jalan dan kendali.

Membangun demokrasi yang sehat dan berkualitas adalah dambaan kita semua. Mencederai demokrasi sama saja merusak bangunan besar peradaban bangsa. Merubah arah ombak perubahan dan kebebasan. Demokrasi yang sehat dan berkualitas akan terjadi jika kita yang berbeda pendapat saling menghargai, menghormati, mencintai, berbagi, bersilaturrahmi, tidak menyakiti, dan saling menjaga. Demokrasi yang sehat dikembangkan dengan narasi dan perdebatan yang sehat pula. Bukan saling serang dan kritik dengan berita hoaks.

Demokrasi yang tidak dikelola dan dijaga akan mati. Kematian demokrasi akan menandai kembalinya jaman kegelapan yang otoritarian. Hidup di alam demokrasi jauh lebih baik dari hidup yang penuh kekangan, ketakutan, dan kejumudan. Demokrasi menghendaki kebebasan, bebas berfikir, bebas berkarya, berbas berpendapat, bebas mengkrtik tanpa harus dihantu oleh ketakutan-ketakutan. Dengan kebebasan diharapkan tercipta kemajuan, kreatifitas, inovasi, dan keterbukaan.

Bebas yang terbatas. Bebas yang yang tetap harus mengikuti norma-norma hukum. Bukan bebas se bebas-bebasnya, bukan bebas tanpa sensor, bukan bebas total, bukan bebas yang seenaknya, bukan bebas yang kebablasan, bukan bebas yang menafikan penghormatan, bukan bebas yang menenggelamkan kepribadian, bukan bebas yang menjerumuskan, bukan bebas yang menghancurkan. Tapi kebebasan yang bertanggung jawab, yang patuh pada ketentuan hukum. Oleh karena itu, tidak ada negara demokrasi di dunia ini yang penegakan hukumnya tidak jalan. Demokrasi dengan penegakan hukum harus jalan beriringan dan seirama.

Demokrasi juga terkadang mengalami kualitas penurunan, jika para pengkritik atau para oposan dibungkam. Atau suara-suara yang berbeda dan bertentangan diredam. Pelarangan tayangan ditelevisi yang temanya bersebrangan dengan pemerintah, membubarkan gerakan ganti presiden, mengkondisikan media-media agar tidak bersuara keras mengkritik pemerintah adalah bagian dari penurunan kualitas demokrasi yang sesungguhnya. Media sebagai pilar demokrasi, harusnya menjadi garda terdepan dalam peningkatan kualitas demokrasi, agar demokrasi tetap stabil dan terjaga.  

Bangsa ini sudah terlanjur memilih demokrasi. Jadi harus dijaga dan diperbaiki. Dijunjung jangan digantung. Dijalankan bukan dinafikan. Dikembangkan bukan dimatikan. Disyukuri dan dinikmati bukan dikhianati. Dicintai bukan dibenci. Ditinggikan bukan direndahkan. Dilindungi bukan dipentungi. Dirawat bukan disikat. Dimengerti dan ditaati bukan dikebiri. Dipupuk dan dirawat bukan dibuat gawat.

Menajaga demokrasi agar tetap bersemi adalah tugas kita semua. Tidak boleh ada seorangpun yang tidak merawat demokrasi sebagai sebuah pilihan politik. Walapun demokrasi di Indonesia masih up and down, namun kita patut berbangga dan bersyukur kita masih bisa menghirup udara segar kebebasan. Air jernih keindahan. Batukarang kekokohan. Air Terjun kegagahan. Ombak kearifan. Pegunungan kecukupan. Dan pantai kehidupan.  

Demokrasi akan menjadi indah jika kita secara bersama-sama saling menjaga, menghormati, menyayangi, mengasihi, memberi, berbagi, dan mencintai. Demokrasi tak akan ada jika kita tak menjaga. Jangan biarkan demokrasi lenyap dari muka bumi Indonesia. Oleh karena itu, mengadili para penebar berita hoaks adalah keniscayaan. Siapapun pelakunya. Karena hoaks merupakan musuh demokrasi, negara, dan kita semua.[]

Editor: Sunardi Panjaitan

berita terkait

Image

News

Magnet Politik Pesantren

Image

Ekonomi

Prospek Proyek Meikarta Pasca OTT

Image

News

Penguatan Demokrasi di Era Digital

Image

News

Membidik Amien Rais

Image

News

Kampanye Pemilu dalam Demokrasi Kontraktual

Image

News

Kampanye Tanpa Hoaks dan SARA

Image

News

Mengatasi Problem Data Pemilih

Image

News

Berebut Dukungan Ulama

Image

News

Menangkal Radikalisme di Media Sosial

komentar

Image

0 komentar

terkini

Image
News
Satu Tahun Anies Pimpin Ibu Kota

Area Hijau di Pluit, Zaman Ahok Steril dari PKL, Saat ini Dijadikan Lapak Kaki Lima

Surat Izin Mendirikan Bangunan (IMB) di kawasan hijau diteken Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan

Image
News

Ombudsman Lampung Dorong Agar Pelayanan Publik Ditingkatkan di Seluruh Wilayah

"Memang masih perlu dibenahi, utamanya pelayanan publik,"

Image
News
Satu Tahun Anies Pimpin Ibu Kota

Lima Hal yang Berubah di Balai Kota Sejak Anies Jadi Gubernur

AKURAT.CO mencatat sedikitnya ada lima hal yang terjadi dilingkungan Balai Kota DKI Jakarta selama 365 hari Anies menjabat sebagai Gubernur.

Image
News

Magnet Politik Pesantren

Politik pesantren adalah politik yang mengedepankan etika, politik kebangsaan dan politik untuk memuliakan sesama.

Image
News

Jika Penanganan Tidak Ditingkatkan, Wabah Ebola di Kongo Akan Semakin Parah

"Kami memiliki beberapa keyakinan bahwa wabah itu akan terkendali dalam waktu wajar,"

Image
News

Winter Semester Dimulai, Bahasa Indonesia Masuk Kurikulum di Universitas Austria

Program yang diinisiasi KBRI Wina didukung Kementerian Kebudayaan RI itu terbuka bagi mahasiswa dan staf University of Vienna.

Image
News

Sempat Mangkir, KPK Akan Panggil Steffy Burase untuk Saksi Suap Gubernur Aceh

Pemanggilan kali ini merupakan penjadwalan ulang dari panggilan sebelumnya.

Image
News

Menteri Muda Urusan Luar Negeri India Mundur karena Tuduhan Pelecehan Seksual

Kasus itu merupakan kejadian paling menggemparkan di tengah gerakan antipelecehan seksual, #MeToo, di India.

Image
News

Banjir di Aceh Utara Meluas, Warga Mengungsi ke Tempat yang Lebih Aman

Warga desa tersebut mulai mengungsi baik ke mesjid, meunasah dan juga gedung serbaguna desa.

Image
News

Pakar Ingatkan Pengguna Media Sosial untuk Bijak, Agar Kasus Seperti Augie Tak Terulang

Kasus yang menimpa pembawa acara Augie Fantinus baru-baru ini menjadi pelajaran bagi semua pengguna media sosial, terutama anak muda.

trending topics

terpopuler

  1. Anthony Ginting Tersingkir, Gregoria Susul Jojo

  2. Bawaslu DKI Jakarta akan Pulihkan Nama Baik Guru Nelty

  3. Akan Dimiskinkan, KPK Telisik Kekayaan Adik Kandung Ketua MPR

  4. Cadangan Dolar AS di Dunia Anjlok Karena Sanksi Anti-Rusia

  5. Polisi Temukan Puluhan Senjata Api di Kamar Ommy

  6. Barcelona Umumkan Tur Musim Panas ke Asia, Ini Dua Negara yang Dituju

  7. Jadi Pengacara Meikarta, Pakar Hukum Ini Sindir Denny Indrayana

  8. Anies Siap Bayar Denda Rp 186 Juta atas Keteledoran Anak Buahnya

  9. Pura-pura Mati untuk Cairkan Asuransi, Sang Istri pun Bunuh Diri

  10. Fan Irlandia Masuk ke Ring karena Berpikir McGregor Bisa Mati

fokus

Satu Tahun Anies Pimpin Ibu Kota
Pray for Donggala
Dari Indonesia untuk Dunia

kolom

Image
Ujang Komarudin

Magnet Politik Pesantren

Image
Ilham M. Wijaya

Prospek Proyek Meikarta Pasca OTT

Image
Achmad Fachrudin

Penguatan Demokrasi di Era Digital

Image
Ujang Komarudin

Membidik Amien Rais

Wawancara

Image
Olahraga

Philippe Coutinho

"Kami Bermain Sepakbola dengan Tutup Botol"

Image
Ekonomi

Blak-blakan Strategi UUS Sinarmas dalam Tabungan Haji Hingga Rencana Spin Off

Image
Olahraga

Antoine Griezmann

"Saya Bertahan di Atletico Tidak karena Uang"

Sosok

Image
Ekonomi

Pria terkaya di Australia Bagikan Solusi Radikal untuk Pecahkan Masalah Petani

Image
Gaya Hidup

Insiden Bikin Laura Aurelia Dinda Sekar Devanti Pede Jadi Atlet Renang Difabel

Image
Ekonomi

IMF-WB Annual Meeting

Mengulik Liku Hidup Jatuh Bangun Jack Ma Memeluk Mimpi