image
Login / Sign Up
Image

Agnia Addini

Aktivis Perempuan Himpunan Mahasiswa Islam Cabang Malang

KOHATI dan Generasi Perempuan Indonesia Berkualitas

Image

Hari Anti Kekerasan terhadap Perempuan se-Dunia, sebanyak 12 komunitas di DIY adakan Even yang berlangsung dua hari hingga Sabtu (25/11), di adakan di selasar Kampus Fisipol UGM dengan diikuti 33 stan dari 12 komunitas dan individu. | AKURAT.CO/Ridwan Anshori

AKURAT.CO, Realitas sosial perilaku dehumanisasi terhadap perempuan nyatanya tidak hanya terjadi pada belahan dunia barat, namun juga belahan dunia timur termasuk dunia Islam. Kekerasan, minimnya keadilan terhadap korban pemerkosaan, lingkungan yang tidak ramah terhadap perempuan, dan lain sebagainya, masih kerap terjadi. Pun demikian pula di Indonesia. Sebagai negara yang mengadopsi sistem demokrasi, perilaku amoral terhadap perempuan justru masih marak terjadi di Indonesia. Kebebasan bermedia misalnya, seringkali menempatkan bagian-bagian tubuh sensitif pada perempuan sebagai objek yang renyah untuk dikonsumsi publik. Tidak sedikit berita maupun iklan televisi yang menjadikan perempuan sebagai komoditi.

Perempuan dan Perjuangan Bangsa

Pergerakan perempuan di Indonesia sudah berlangsung sejak zaman dahulu. Kita bisa melihat bagaimana perjuangan, pergerakan para Srikandi pada masa penjajahan Belanda seperti Nyai Ageng Serang, Cut Nyak Dien dan masih banyak lagi. Kemudian kita mengenal beberapa tokoh perempuan pada masa penjajahan Jepang yang kita kenal sebagai pintu masuknya feminis gelombang pertama, yakni angkatan RA Kartini yang dengan gerakan emansipasinya mampu membawa perempuan mendapatkan akses pendidikan. Tak hanya Kartini, Dewi Sartika juga menjadi bagian dari perempuan yang memperjuangkan persamaan hak antara laki-laki dan perempuan.

baca juga:

Gelombang pergerakan perempuan di Indonesia tidak hanya selesai pada masa RA Kartini. Di masa awal kemerdekaan Indonesia mulai bermunculan organisasi-organisasi perempuan yang menghimpun kekuatan besar untuk pemberdayaan perempuan di Indonesia. Organisasi-organisasi perempuan yang berbasis keagamaan pun mulai banyak bermunculan, seperti Aisyiyah yang menjadi wadah bagi para kader perempuan Muhammadiyah, organisasi Wanita Islam, Muslimat NU, dan organisasi-organisasi perempuan pesantren yang mulai merambah pada organisasi keprofesian. Persoalan perempuan yang tidak pernah terselesaikan semakin mengiringi gerilya kemunculan organisasi/lembaga perempuan.

Bangkitnya Semangat Kader Perempuan di Tubuh HMI

Tepat pada tanggal 17 September 1966, wadah khusus pemberdayaan perempuan di dalam tubuh Himpunan Mahasiswa Islam secara resmi di bentuk. Melihat pergerakan HMI yang pada saat itu begitu massif menghimpun golongan muda, ternyata tidak cukup untuk memberikan wadah bagi kader-kader HMI wati untuk turut serta mengembangkan potensi diri. Sebelum Korps HMI Wati resmi dibentuk, kader-kader perempuan HMI hanya diwadahi dalam salah satu bidang yang ada di struktur HMI, yakni bidang Pemberdayaan Perempuan. Sedangkan gejolak gerakan perempuan pada saat itu mulai massif berkembang di kalangan masyarakat, mulai organisasi perempuan elit hingga organisasi perempuan yang bergerak pada akar rumput.

Gejolak semangat revolusioner kader HMI wati yang di pelopori oleh 7 perempuan tangguh pada masa itu semakin membawa angin segar bagi perjuangan gerakan perempuan. Membawa platform gerakan yang menitik beratkan pada peningkatan kualitas perempuan menjadi semangat organisasi ini menjadi bagian dari perubahan bangsa Indonesia. Terbinanya muslimah berkualitas insan cita merupakan output yang ingin dicapai oleh seluruh anggota KOHATI. Selaras dengan tujuan HMI, insan cita merupakan pencapaian yang memfokuskan pada kualitas sumber daya manusia sebagai seorang akademis, pencipta, pengabdi, yang bernafaskan Islam dan bertanggung jawab atas terwujudnya masyarakat adil makmur yang di ridhoi Allah SWT.

Perempuan dan Masalahnya di Indonesia

Dalam temuan Komnas Perempuan yang tertulis dalam poin kunci catatan tahunan, pada tahun 2018 angka kekerasan terhadap anak perempuan tampaknya mengalami peningkatan yang cukup besar yaitu sebanyak 2.227 kasus. Sementara angka kekerasan terhadap istri tetap menempati peringkat pertama yakni 5.167 kasus. Angka tersebut semakin menegaskan bahwa perempuan belum sepenuhnya merdeka secara individu, dan pendidikan moral dalam masyarakat masih dalam taraf rendah.

Tidak hanya itu, maraknya kasus korupsi yang dilakukan oleh pejabat publik secara tidak langsung memperlihatkan perilaku amoral masyarakat hari ini yang turut serta merenggut hak-hak perempuan dan masyarakat kecil pada umumnya.

Satu hal yang masih menjadi pertanyaan saya hingga hari ini, apakah benar bahwa perempuan (tidak hanya perempuan elit) hari ini sudah mendapatkan akses yang setara dengan laki-laki pada umumnya? Perempuan dalam politik misalnya, kita melihat hari ini secara konstitusi telah diatur kuota 30 persen yang harus dipenuhi oleh perempuan. Namun keberadaan peraturan tersebut justru hanya menjadikan partisipasi politik perempuan bukan lagi sebagai langkah sadar yang harus diambil oleh perempuan, namun sebatas keharusan yang harus dijalankan oleh Partai Politik. 

Membaca Masa Depan Bangsa Indonesia dalam pergerakan KOHATI

Sejak tahun 1966 hingga hari ini, terhitung 52 tahun, KOHATI masih menunjukan eksistensinya sebagai organisasi perempuan, entah itu dalam dunia kemahasiswaan maupun dalam kemasyarakatan. KOHATI tetap konsisten dan istiqomah dalam membina dan mendidik perempuan dalam menjalankan perannya sebagai akademisi sekaligus anggota masyarakat. Sebagai organisasi mahasiswi yang selaras dengan pergerakan HMI, pergerakan KOHATI diarahkan pada pembinaan dan peningkatan kualitas baik akhlak, intelektual, keterampilan, kepemimpinan, keorganisasian, persiapan keluarga yang sejahtera, serta beberapa kualitas lain yang menjadi kebutuhan.

Pemberdayaan Perempuan. Istimewa

Atas dasar tersebutlah, pembinaan perempuan dalam KOHATI diarahkan untuk dapat melaksanakan peran perempuan secara optimal sebagai anak, istri, ibu dan anggota masyarakat yang bertanggung jawab dalam memperjuangakan nilai-nilai keislaman, keindonesiaan, keperempuanan dan anak.

Di tengah kondisi bangsa yang semakin carut marut dengan berbagai problematikanya, entah itu politik, ekonomi sampai pada persoalan kemanusiaan, tugas perempuan tidak hanya berupaya untuk menempati ruang-ruang publik yang secara mati-matian telah diperjuangkan. Di samping memperjuangkan akses ruang publik yang aman bagi perempuan. perjuangan perempuan harus pula diimbangi dengan peningkatan kualitas secara individu maupun kelompok.

Seperti kalimat di dalam sebuah sya’ir Arab bahwa “Perempuan adalah tiang negara bila perempuannya baik (berakhlak karimah) maka negara akan baik, sebaliknya apabila perempuannya telah rusak moralnya, maka rusaklah negara.” Akan menjadi tepat jika kebaikan atau keburukan sebuah bangsa sangat bergantung pada generasinya, sedangkan baik dan buruknya suatu generasi jelas tergantung pada seorang ibu (perempuan), karena kaum ibu merupakan sekolah pertama bagi anak-anaknya. Sehingga, merupakan sebuah keniscayaan menjadi seorang ibu yang harus mengajarkan nilai-nilai kebaikan pada seorang anak.

Berpijak pada landasan tersebut, Korps HMI-Wati mencoba menjawab persoalan perempuan hari ini dengan upaya-upaya pemberdayaan yang terus dijalankan, aktif dalam kegiatan kemasyarakatan dan mempersiapkan generasi terbaik bangsa Indonesia dengan kapasitas secara keintelektualan guna menjawab kebutuhan perempuan kekinian dan kebutuhan perempuan dimasa depan.

Editor: Dian Rosmala

berita terkait

Image

News

Kalau Ada Orang Tua atau Guru yang Lakukan Kekerasan pada Anak, Laporkan ke Ibu Menteri!

Image

News

Hari Kartini

KOHATI Harus Ambil Bagian Melahirkan Wanita Mandiri dan Visioner

Image

News

Pilkada Serentak 2018

Khofifah akan Jadikan Posyandu sebagai Pusat Pemberdayaan Perempuan

Image

News

Hari Ibu

Hari Ibu Mengingatkan Pentingnya Perempuan dalam Proses Pembangunan

Image

News

[FOTO] Penghormatan Terakhir Kepada Mantan Menteri Pemberdayaan Perempuan, Sri Redjeki Sumarjoto

Image

News

Kekerasan pada Anak

Yohana: Hentikan Mata Rantai Kekerasan Anak dan Perempuan

Image

Ekonomi

Bendahara Desa Sumut Dituntut Mahir Sistem Kelola Keuangan

Image

Iptek

Netizen Terbukti Banyak Berkontribusi pada Perubahan

Image

News

Kohati: Hanya Lewat Tulisan, Karya Akan Dikenang

komentar

Image

0 komentar

terkini

Image
News
HUT Golkar Ke-54

DPD Jatim Terus Gelorakan Tagline 'Golkar Bersih' di HUT Ke-54

HUT ini harus dimaknai penguatan kembali semangat partai sebagaimana awal kelahirannya.

Image
News

Puluhan Remaja Pecandu Lem Diamankan Polsek Koja

“Tercatat ada 35 anak , pria dan wanita. Mereka kami amankan saat kami gelar operasi,”

Image
News

PPP Nilai Saksi Parpol di TPS Penting Bila Terjadi Sengketa Pemilu

Jika terjadi sengketa penghitungan suara, form C1 ini menjadi bukti utama untuk melakukan klarifikasi penghitungan suara.

Image
News

Gempa Tektonik 5,4 SR Guncang Maluku Tengah

Episentris gempa -6.57 LS dan 128.33 BT pada kedalaman 356 KM dengan arah 258 KM Timur Laut kabupaten Maluku Barat Daya (MBD).

Image
News

Jokowi Didesak Tetapkan Hari Santri Jadi Hari Libur Nasional

"Ini menjadi salah satu bentuk penghargaan pemerintah kepada kaum santri."

Image
News

Begini Penjelasan Kubu Jokowi Soal Perbedaan Kasus Ratna dengan Novel Baswedan

Arsul Sani mengajak masyarakat jernih melihat perbedaan kasus penyidik KPK Novel Baswedan dengan kasus kebohongan Ratna Sarumpaet.

Image
News

Hubungan Indonesia-Arab Saudi Disebut Semakin Kuat

"Di bidang ekonomi, nilai transaksi perdagangan antara kedua negara sahabat ini menunjukkan tren positif"

Image
News

KPK Susun 10 Program untuk Cegah Suap-Gratifikasi

KPK telah melakukan sejumlah inisiatif pencegahan terkait praktik suap untuk kepentingan korporasi.

Image
News

Elektabilitas di Sumatera dan Jatim Turun, Jokowi: Kemenangan di Jateng Diperlukan

"Angka kemenangan di Jateng itu kita perlukan sekali, di Sumatera (elektabilitas) kita memang agak turun."

Image
News
Menuju Pilpres 2019

Saran Ma'ruf Amin untuk Pembangunan Ekonomi Umat

Sinergi yang saling menguntungkan akan mempercepat pertumbuhan ekonomi umat.

trending topics

terpopuler

  1. Pasukan Oranye Serahkan Rp26 Juta ke Gubernur Anies, Buat Apa?

  2. Usai Debat di Televisi, Misbakhun Minta Tv One Seleksi Pembicara

  3. Soroti Kepemimpinan Anies, Pengamat: Jangan Berjanji Kalau Tidak Bisa Dijangkau

  4. Polda Jatim: Kami Tidak Terpancing dengan Pernyataan Ahmad Dhani

  5. Putin: ISIS Culik 700 Orang dan Eksekusi 10 Orang Tiap Hari

  6. 10 Potret Kebersamaan Lydia Kandou dan Jamal Mirdad Meski Telah Lama Berpisah

  7. Yordania Taklukkan Vietnam, Irak Ditahan Thailand

  8. Waduk di Jakbar, Dinormalisasi Ahok, Dikembangkan Anies

  9. PSSI Jawab Kritikan Pelatih Qatar U-19 soal Rumput SUGBK

  10. Disindir Anies Baswedan, Djarot: Gitu Saja Dibawa ke Hati

fokus

Satu Tahun Anies Pimpin Ibu Kota
Pray for Donggala
Dari Indonesia untuk Dunia

kolom

Image
Bayu Primanda Putra

Meikarta, Lippo Group dan James Riady

Image
Ujang Komarudin

Magnet Politik Pesantren

Image
Ilham M. Wijaya

Prospek Proyek Meikarta Pasca OTT

Image
Achmad Fachrudin

Penguatan Demokrasi di Era Digital

Wawancara

Image
Olahraga

Philippe Coutinho

"Kami Bermain Sepakbola dengan Tutup Botol"

Image
Ekonomi

Blak-blakan Strategi UUS Sinarmas dalam Tabungan Haji Hingga Rencana Spin Off

Image
Olahraga

Antoine Griezmann

"Saya Bertahan di Atletico Tidak karena Uang"

Sosok

Image
Ekonomi

Cerita Ketut Suarjana 

Image
Gaya Hidup

Inspirasi

Mimpi Munsiah yang Buta untuk Pendidikan Anaknya

Image
Ekonomi

Semringah Produsen Minuman Herbal Indonesia Merangsek Pasar Korea