image
Login / Sign Up
Image

Metik Marsiya

Praktisi Keuangan, Manajemen, dan Spiritual Politik

Membaca Aura Jokowi: Dulu, Sekarang dan Saat Akan Hadapi Pilpres 2019

Menuju Pilpres 2019

Image

Presiden Joko Widodo mendatangi Rumah Sakit YPK Mandiri di kawasan Menteng, Jakarta, Rabu (1/8/2018). Kedatangan ini adalah kali keduanya setelah tadi pagi hadir untuk memberikan keterangan kepada awak media terkait kelahiran cucunya dari Kahiyang Ayu. Ia belum memberikan bocoran nama cucu keduanya tersebut. Bahkan ia menyarankan untuk bertanya kepada Kahiyang dan Bobby. | AKURAT.CO/Endra Prakoso

AKURAT.CO, Sabtu malam Minggu (21/4/18), saya bersalaman dengan Jokowi, Presiden Republik Indonesia. Entah sudah ke berapa kali saya bersalaman langsung dengan beliau dalam beberapa acara, tetapi kali ini ada aura berbeda yang terpancar di wajahnya.

Setelah sekian lama saya tidak melihat beliau secara langsung, kali ini dengan jujur saya mengatakan bahwa ada rasa prihatin yang demikian dalam. Saat terakhir melihat langsung pada bulan Januari 2017, di wajahnya masih ada terpancar aura kuning. Tetapi kali ini, saya hanya melihat aura hitam yang menyelimuti wajahnya, gelap dan tidak menyejukkan.

Aura yang terpancar mengisyaratkan sebuah simbol yang bermakna adanya sebuah kelelahan yang demikian sangat, karena begitu banyak hal yang harus dihadapi seorang Jokowi, dalam tanggung jawabnya menjalankan tugas negara, dari hal yang sangat tidak penting sampai ke hal yang sangat penting, dari seremonial sampai membicarakan urusan genting negara dan politik, dari pencitraan sampai pencarian dukungan, negosiasi dan terjun langsung di lapangan. Sudah pasti, semua sama-sama melelahkan.

baca juga:

Seseorang mempunyai aura, dan itu bisa disebabkan adanya sinar yang muncul dari dalam dirinya sendiri atau aura yang muncul karena adanya doa-doa dari orang yang memberikan dukungan. Tetapi aura ini bisa juga berasal dari orang-orang yang sehari-hari berada di dekatnya. Saat ini yang terbaca adalah orang-orang di sekitar Jokowi sangat sedikit yang mempunyai ketulusan dan kemurnian dalam menjalankan tugasnya. Sebagian besar dari mereka dekat dan mendekat karena mempunyai kepentingan-kepentingan diri dan kelompok yang ingin diwujudkan dengan berada di sekeliling Jokowi. Karakter-karakter manusianya, boleh dikatakan tidak bagus.

Hal ini tentu bisa dipahami, saya mengikuti perjalanan seorang Jokowi dari saat melakukan pemilihan Gubernur DKI Jakarta, memulai dari awal. Pada waktu itu saya masih melihat wajah yang beraura kuning dengan semburat putih di sekitarnya. Bahkan pada awal-awal pelantikan presiden, warna kuning dan putih itu masih ada. Tetapi dalam perjalanan waktu, warna putih itu perlahan-lahan memudar, bahkan hilang sama sekali. Tinggal warna kuning yang tersisa dengan mulai bertambah semburat-semburat warna hitam.

Hal ini terjadi karena adanya doa dan harapan orang-orang yang hanya bermodalkan tekad dan nekad untuk memperjuangkan Jokowi dengan satu tujuan, menang. Semuanya dilandasi dengan ketulusan dan niat yang bersih. Mereka inilah yang bernar-benar pernah berdarah-darah berjuang selama masa kampanye sampai menjadi presiden dalam sebuah kemenangan, tetapi saat ini perlahan-lahan mereka mulai berjarak dengan Jokowi. Satu demi satu mereka telah ditinggalkan dan disingkirkan, atas nama sikut menyikut dalam arena panggung politik.

Saya mengerti dan sangat mengerti, pejuang-pejuang Jokowi sesungguhnya masih hijau di dunia politik. Taktik dan politiknya sangat mudah terbaca, membuat mereka sangat mudah dijatuhkan. Apalagi jika mereka dibenturkan pada perasaan harga diri dan martabat, dimana hal ini beda-beda tipis dengan kesombongan, maka mereka dengan sangat mudah disingkirkan. Bahkan apabila ditinjau dari sisi kemampuan finansial dan pengalaman di bidang politik kekuasaan, sebagian besar dari mereka belum mempunyai kemampuan itu. Akhirnya satu demi satu pejuang-pejuang itu berguguran. Semua rencana akhirnya dieksekusi oleh pihak-pihak lain yang datang belakangan sebagai penumpang gelap. Dan gigit jarilah mereka para pejuang yang sesungguhnya, ketika mereka telah berjuang untuk kemenangan tetapi orang lain yang berpesta pora. Rencana yang telah dieksekusi dan dibelokkan ke arah yang berbeda dengan penumpang yang berbeda pula.

Tidak bisa disalahkan, karena pejuang-pejuang itu adalah pasukan perang yang memang belum pernah mengalami dan menghadapi situasi yang demikian rumit dalam sebuah lingkaran kekuasaan, dalam sebuah jabatan yang penuh dengan intrik. Akhirnya, karena jatah, karena bisa dibilang kebodohan atau bisa juga karena persaingan dalam politik yang saling menghancurkan, saling menjatuhkan dan saling menyingkirkan, para penumpang gelap telah menguasai arena kekuasaan saat ini. Politik tampak muka demikian santun dan indah untuk sebuah citra, tapi permainan di belakangnya sungguh demikian sengitnya.

Makna aura hitam yang terbaca selanjutnya adalah kemungkinan kemenangan Jokowi dalam pertarungan Pilpres berikutnya di tahun 2019. Aura bisa juga dimaknai dengan wahyu keprabon, bisa juga dimaknai dengan simbol kemenangan atau kekalahan. Bukan hanya sekedar mitos, tetapi berkaca dari pengalaman Ahok, semoga saja tidak menjadi kejadian Ahok jilid 2. Beberapa kali saya sempat datang ke rumah Lembang, beberapa kali juga saya berkomunikasi melalui WA dengan Ahok, menyampaikan bahwa para pendukung Ahok sudah kepedean, dan akhirnya Ahok dan partainya Djarot seperti berjuang sendirian karena dukungan yang diperoleh adalah gerbong kosong, tanpa isi.

Dan kali ini, bisa jadi saya sangat salah, tetapi sepertinya perputaran sedang menuju arah demikian. Saya pernah berada di garda terdepan, tetapi kali ini saya sudah sangat jauh di belakang. Dan orang-orang yang seperti saya sangat banyak. Dulu orang dengan sukarela mendukung Jokowi dengan harapan dan doa yang tulus, tetapi kali ini saya tidak yakin, orang-orang di sekitar Jokowi adalah orang yang tulus mau berjuang untuk negeri ini, minimal berjuang dengan tulus untuk mencapai kemenangan.

Kemenangan dan kekalahan adalah hal biasa dalam sebuah pertandingan, bagaikan bola bulat, tidak bisa diduga kemana arahnya, bisa jadi meleset, bisa jadi tepat sasaran. Pertandingan pilpres belum dimulai, tetapi Pilkada 2018 akan menjadi indikator arah pilpres 2019. Pertemuan saya dan Jokowi yang tanpa kata-kata kemaren, bagi saya bisa dijadikan sebuah alur cerita, bahwa apa yang pernah diberikan semuanya telah kembali, apa yang pernah mengikutinya, semua telah berbalik.

Setiap orang mempunyai malaikat, bagaikan doa restu seorang ibu kepada anaknya, maka malaikat sang ibu akan mengikuti dan menjaga anaknya. Demikian juga gambaran untuk Jokowi, bahwa malaikat-malaikat pejuang-pejuang itu kini telah pudar, dan bisa dikatakan telah sirna. Akankah Jokowi kembali mendapatkannya untuk ajang Pilpres 2019 nanti? Sementara aura Jokowi berbentuk lingkaran yang semakin hari semakin menghitam. Lingkaran ini adalah simbol sekat yang dibuat demikian rapat oleh orang-orang berkepentingan di dekatnya, lingkaran yang menjadi tembok tebal penolak sebagian malaikat yang akan membantunya.

Kita tunggu saja, kadangkala ada saatnya menjadi penonton justru dapat menikmati kebahagiaan, bisa bertepuk tangan dengan sama kerasnya saat menghadapi kemenangan ataupun menghadapi kekalahan. Dinikmati selagi masih bisa menikmati. Selamat berjuang kembali Jokowi.[]

Editor: Deni Muhtarudin

berita terkait

Image

News

Menuju Pilpres 2019

Hasto Ajak Pendukung Jokowi di Sumut untuk Satukan Energi

Image

News

Menuju Pilpres 2019

Relawan Pena 45 Deklarasikan Dukungan ke Prabowo-Sandi

Image

News

4 Tahun Jokowi, PDIP: Membangun Budaya Kerja Indonesia Berprestasi

Image

News

Soal Konflik Agraria, Komnas HAM Beri Nilai 40 kepada Jokowi

Image

News

Menuju Pilpres 2019

Sejumlah Kader PAN Dukung Jokowi, Koalisi Prabowo Dianggap Rapuh

Image

News

Empat Tahun Berkuasa, Ini PR Jokowi-JK Versi Pangi

Image

News

Menuju Pilpres 2019

Jadi Timses Capres, Kepala Daerah Disebut Berkhianat kepada Rakyat

Image

News

Menuju Pilpres 2019

Iklan Nomor Rekening Dipermasalahkan, TKN Jokowi Ungkit Politik Uang Kubu Prabowo

Image

News

Menuju Pilpres 2019

IPPMI Tak Larang Anggotanya Dukung Pasangan Capres-Cawapres di Pilpres 2019

komentar

Image

0 komentar

terkini

Image
News

Gelar Kesultanan Jokowi Dinilai Mampu Dongkrak Suara di Sumut

"Partai koalisi harus bekerja ekstra menggerakkan mesin partai,"

Image
News
Menuju Pilpres 2019

Santri Jawa Tengah Solid Dukung Jokowi-Ma'ruf

Kita melanjutkan perjuangan di Jateng, dengan mendukung pasangan Capres Jokowi-Amin.

Image
News

Bareskrim Polri Catat Peredaran Narkotika Alami Peningkatan

Polda Metro Jaya mendominasi pengungkap kasus narkoba terbanya dengan jumlah 114 kasus dalam sepekan.

Image
News
HUT Golkar Ke-54

DPD Jatim Terus Gelorakan Tagline 'Golkar Bersih' di HUT Ke-54

HUT ini harus dimaknai penguatan kembali semangat partai sebagaimana awal kelahirannya.

Image
News

Puluhan Remaja Pecandu Lem Diamankan Polsek Koja

“Tercatat ada 35 anak , pria dan wanita. Mereka kami amankan saat kami gelar operasi,”

Image
News

PPP Nilai Saksi Parpol di TPS Penting Bila Terjadi Sengketa Pemilu

Jika terjadi sengketa penghitungan suara, form C1 ini menjadi bukti utama untuk melakukan klarifikasi penghitungan suara.

Image
News

Gempa Tektonik 5,4 SR Guncang Maluku Tengah

Episentris gempa -6.57 LS dan 128.33 BT pada kedalaman 356 KM dengan arah 258 KM Timur Laut kabupaten Maluku Barat Daya (MBD).

Image
News

Jokowi Didesak Tetapkan Hari Santri Jadi Hari Libur Nasional

"Ini menjadi salah satu bentuk penghargaan pemerintah kepada kaum santri."

Image
News

Begini Penjelasan Kubu Jokowi Soal Perbedaan Kasus Ratna dengan Novel Baswedan

Arsul Sani mengajak masyarakat jernih melihat perbedaan kasus penyidik KPK Novel Baswedan dengan kasus kebohongan Ratna Sarumpaet.

Image
News

Hubungan Indonesia-Arab Saudi Disebut Semakin Kuat

"Di bidang ekonomi, nilai transaksi perdagangan antara kedua negara sahabat ini menunjukkan tren positif"

trending topics

terpopuler

  1. Pasukan Oranye Serahkan Rp26 Juta ke Gubernur Anies, Buat Apa?

  2. Usai Debat di Televisi, Misbakhun Minta Tv One Seleksi Pembicara

  3. Soroti Kepemimpinan Anies, Pengamat: Jangan Berjanji Kalau Tidak Bisa Dijangkau

  4. Polda Jatim: Kami Tidak Terpancing dengan Pernyataan Ahmad Dhani

  5. Putin: ISIS Culik 700 Orang dan Eksekusi 10 Orang Tiap Hari

  6. 10 Potret Kebersamaan Lydia Kandou dan Jamal Mirdad Meski Telah Lama Berpisah

  7. Yordania Taklukkan Vietnam, Irak Ditahan Thailand

  8. Waduk di Jakbar, Dinormalisasi Ahok, Dikembangkan Anies

  9. Disindir Anies Baswedan, Djarot: Gitu Saja Dibawa ke Hati

  10. PSSI Jawab Kritikan Pelatih Qatar U-19 soal Rumput SUGBK

fokus

Satu Tahun Anies Pimpin Ibu Kota
Pray for Donggala
Dari Indonesia untuk Dunia

kolom

Image
Bayu Primanda Putra

Meikarta, Lippo Group dan James Riady

Image
Ujang Komarudin

Magnet Politik Pesantren

Image
Ilham M. Wijaya

Prospek Proyek Meikarta Pasca OTT

Image
Achmad Fachrudin

Penguatan Demokrasi di Era Digital

Wawancara

Image
Olahraga

Philippe Coutinho

"Kami Bermain Sepakbola dengan Tutup Botol"

Image
Ekonomi

Blak-blakan Strategi UUS Sinarmas dalam Tabungan Haji Hingga Rencana Spin Off

Image
Olahraga

Antoine Griezmann

"Saya Bertahan di Atletico Tidak karena Uang"

Sosok

Image
Ekonomi

Cerita Ketut Suarjana 

Image
Gaya Hidup

Inspirasi

Mimpi Munsiah yang Buta untuk Pendidikan Anaknya

Image
Ekonomi

Semringah Produsen Minuman Herbal Indonesia Merangsek Pasar Korea