Akurat.co - Cepat Tepat Benar
Login / Sign Up

Kasus Kasus BLBI Ngaku Lupa, Jaksa KPK Tunjukkan Boediono Hasil Ratas Terkait Penghapusan Hutang BDNI

Yudi Permana

Ngaku Lupa, Jaksa KPK Tunjukkan Boediono Hasil Ratas Terkait Penghapusan Hutang BDNI

Mantan Wakil Presiden RI Boediono | AKURAT.CO/Bayu Primanda

AKURAT.CO, Tim Jaksa Penuntut Umum (JPU) pada Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) mencecar pertanyaan mantan Wakil Presiden Boediono terkait keputusan hasil Rapat Terbatas (Ratas) pada Februari 2004 silam, yang membahas mengenai penghapusbukuan (write off) obligor Bank Dagang Nasional Indonesia (BDNI), Sjamsul Nursalim sebesar Rp2,8 triliun. 

Pasalnya apa yang menjadikan alasan mantan Menteri Keuangan (Menkeu) itu mengeluarkan keputusan terkait penghapusan hutang yang dimiliki  Sjamsul Nursalim Rp2,8 Triliun. 

Pada awalnya, mantan anggota Komite Kebijakan Sektor Keuangan (KKSK) itu mengaku lupa pada saat jaksa KPK menanyakan soal alasan usulan itu dikeluarkan terkait penghapusbukuan sebesar Rp2,8 triliun. 

baca juga:

Usulan itu, kata Boediono, muncul dari Kepala Badan Penyehatan Perbankan Nasional (BPPN), Syafruddin Arsyad Temenggung pada saat Ratas di Istana Negara pada Februari 2004. 

"Persetujuan begitu itu tentu ada semacam kesimpulan, (tapi) saya tidak ingat akhir rapat itu ada kesimpulan atau tidaknya," kata Boediono saat menjadi saksi untuk terdakwa Syafruddin di Pengadilan Tipikor, Jakarta Pusat, Kamis (19/7).

Mendengar jawaban Boediono yang mengaku lupa, kemudian tim Jaksa KPK menayangkan hasil notulensi Ratas di Istana Negara sebelum mencecarnya. Dalam notulensi yang ditampilkan Jaksa, hasil Ratas itu belum menyepakati keputusan untuk menghapusbukuan utang Sjamsul Nursalim sebesar Rp2,8 triliun.

Setelah hasil notulen diperlihatkan, baru Boediono mengakui dan membenarkan bahwa memang belum ada keputusan untuk menghapusbukukan utang Sjamsul Nursalim sebesar Rp2,8 triliun.‎ 

"Ya, bahwa sampai akhir sidang kabinet di istana, tidak ada kesimpulan yang dibacakan. Jadi sampai selesai (tidak ada keputusan)," ujar Boediono. 

Setelah adanya Ratas di Istana, Boediono mengatakan bahwa sempat mengadakan rapat lanjutan di tingkat KKSK. Rapat itu pun dihadiri oleh Kepala BPPN dan Boediono sendiri. Namun menurut terdakwa bahwa Ratas di Istana negara sudah menghasilkan kesimpulan, karena telah melaksanakan keputusan tersebut. 

Menurut jaksa, pada rapat lanjutan di tingkat KKSK, terdakwa Syafruddin tetap melaksanakan penghapusbukuan utang Sjamsul Nursalim. 

Syafruddin mengaku bahwa tindakannya itu telah disepakati atas persetujuan ratas di Istana Negara yang dihadiri Boediono. 

Diketahui sebelumnya dalam perkara dugaan korupsi BLBI, Syafruddin Arsyad Temenggung sebagai mantan Ketua Badan Penyehatan Perbankan Nasional (BPPN) didakwa atas kasus SKL BLBI.

Kasus itu berawal pada Mei 2002, terdakwa Syafruddin menyetujui Komite Kebijakan Sektor Keuangan (KKSK) atas proses litigasi terhadap kewajiban obligor menjadi restrukturisasi atas kewajiban penyerahan aset oleh obligor kepada BPPN sebesar Rp4,8 triliun.

Namun pada April 2004 saat itu, Syafruddin malah mengeluarkan surat pemenuhan kewajiban atau yang disebut SKL (Surat Keterangan Lunas) terhadap Sjamsul Nursalim selaku pemegang saham pengendali Bank Dagang Nasional Indonesia (BDNI) yang memiliki kewajiban pelunasan kepada BPPN.

SKL itu dikeluarkan mengacu pada Inpres nomor 8 tahun 2002 yang dikeluarkan pada 30 Desember 2002 oleh Megawati Soekarnoputri yang saat itu menjabat sebagai Presiden RI. Syafruddin diduga menyebabkan kerugian negara sebesar Rp 4,5 triliun.

Atas perbuatannya, Syafruddin didakwa melanggar Pasal 2 ayat (1) atau Pasal 3 Undang-undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana telah diubah dengan UU Nomor 20 Tahun 2001 tentang Perubahan Atas Undang-Undang RI Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi Jo. Pasal 55 ayat (1) Ke-1 Kitab Undang-undang Hukum Pidana. []

Editor: Ainurrahman

berita terkait

Image

News

Maqdir: Keterangan Saksi Jaksa KPK Buktikan Nurhadi Tidak Terlibat Pengurusan Perkara

Image

News

Boediono: Generasi Tua Harus Mendukung Generasi Muda di Tengah Pandemi ini

Image

Ekonomi

Mantan Wapres Ingatkan Pemerintah Jangan Dinina Bobokan Dengan Kondisi Ekonomi yang Menguntungkan

Image

News

Boediono Jenguk Ani Yudhoyono: We All Love Her

Image

News

Bekas Bupati Purbalingga Dituntut 8 Tahun Penjara

Image

Ekonomi

Fahri Hamzah Sebut Bohong Ada Dana Disembunyikan di Swiss, #HoaxSwiss

Image

News

Keponakan Novanto Yakin Putusan Hakim Atas Dirinya Bakal Ringan

Image

News

Sespri Johanes Kotjo Ungkap Pengiriman Uang ke Eni Saragih Lewat Rekening Bosnya

Image

News

Eni Saragih Didakwa Terima Suap dan Gratifikasi Proyek PLTU Riau-1

komentar

Image

0 komentar

terkini

Image
News

Ini Motif Oknum Polisi Curi Emas di Tabanan

Oknum Polisi yang bertugas di Satuan Sabhara Polres Tabanan, Bali, berinisial PR ditangkap karena mencuri tiga cincin emas.

Image
News

Oknum PNS Bakar Kantor Bupati Kabupaten Bireuen Aceh Gegara Sakit Hati

Fadilah mengatakan peristiwa kebakaran itu terjadi sekitar pukul 09.30 WIB.

Image
News

Polisi Tangkap Dua Pengedar Sabu di Palembang

Penangkapan dua kurir narkoba berkat laporan masyarakat.

Image
News

Penyelewengan Dana Investasi, Kejagung Periksa Direksi BPJS Ketenagakerjaan

Saksi yang diperiksa adalah AN selaku Direktur Pengembangan Investasi BPJS TK

Image
News

Ribuan Guru di Solo Terima Vaksin Covid-19

Sebanyak 3.200 tenaga pendidik atau guru di Kota Surakarta menerima vaksinasi Covid-19 secara serentak

Image
News

Jangan Panik, Corona B117 Belum Masuk Sumatera Utara

Aris mengimbau agar masyarakat Sumut tetap menerapkan 5M.

Image
News

Cirebon Panen Raya di 3 Kecamatan, Kementan Optimis Ketahanan Pangan Terjaga

Sebanyak 3 kecamatan melakukan panen raya, yaitu Kecamatan Lemahabang, Sedong Kidul dan Susukanlebak

Image
News

Pandemi Covid-19 Tingkatkan Angka Kemiskinan

Angka kemiskinan di Pamekasan bertambah 6,98 ribu jiwa dibanding tahun sebelumnya.

Image
News

Gagal Perbesar Penis, Koki di Thailand ini Bunuh Diri

Disebutkan juga bagaimana setelah operasi, penis Nai justru membengkak, dan bentuknya tidak sesuai dengan apa yang diidamkannya

Image
News

Pemkab Gresik Vaksinasi Covid-19 ke Sopir Angkutan Umum

Sopir angkutan umum dijadikan sebagai salah satu sasaran vaksinasi Covid-19 karena sehari-hari mereka berinteraksi langsung dengan warga.

terpopuler

  1. Masyarakat yang Tolak Vaksin COVID-19 Terancam Dihentikan Pemberian Bantuan Sosialnya

  2. 7 Pesona Joanina Rachma, Putri KSP Moeldoko yang Baru Menikah

  3. Murah dan Terkenal, ini 6 Mobil MPV Paling Rekomendasi Harga Cuma Rp70 Juta

  4. Pengamat: Kehancuran Demokrat di Bawah Kepemimpinan Moeldoko Sudah di Depan Mata

  5. Pamer Kehadiran Ketua DPD Se-Indonesia di KPU, Jansen: Jangan Ragu yang Sah Itu AHY!

  6. Kaesang Pangarep Tinggalkan Felicia Tissue Tanpa Sebab, Sang Kakak: Jijik

  7. Lagi Ngetren, Aplikasi ini Bisa 'Hidupkan' Orang Meninggal Tuk Obati Rasa Rindu

  8. Jaksa Agung Berharap Sidang Virtual Dimasukkan dalam Hukum Acara Pidana

  9. Meghan Markle Nyatakan Anaknya Mendapat Diskriminasi Rasial dari Kerajaan Inggris

  10. Jaksa Agung Burhanuddin Dapat 'Surat Cinta' dari Napi LP Sukamiskin

fokus

Info PUPR
Mendorong Pemerataan Ekonomi Secara Digital
Kaleidoskop 2020
Lawan Covid-19

kolom

Image
Ali Zulfugaroghlu, Elnur Elturk

Genosida Khojaly: Kejahatan Terhadap Kemanusiaan

Image
Ujang Komarudin

Takut Mengkritik

Image
Roosdinal Salim

Mimpi atau Realistis Mencapai 20.000 Kampung Iklim di 2024?

Image
Poetra Adi Soerjo

Pemuda Sumbawa Akui Pemikiran Prof Din Syamsuddin Radikal

Wawancara

Image
Video

Akurat Talk

VIDEO Duh! Laki-laki Sering Jadi Tersangka Toxic di Hubungan, Padahal Mah… | Akurat Talk (3/3)

Image
Video

Akurat Talk

VIDEO Hubungan yang Tidak Sehat Bisa 'Disembuhkan' | Akurat Talk (2/3)

Image
Video

Akurat Talk

VIDEO Toxic Relationship: Ini Salah Aku atau Dia? | Akurat Talk (1/3)

Sosok

Image
News

7 Potret Meilia Lau, Ibunda Felicia Tissue yang Memesona

Image
News

7 Pesona Joanina Rachma, Putri KSP Moeldoko yang Baru Menikah

Image
News

5 Fakta Anas Urbaningrum, Jabat Ketum Partai Demokrat hingga Terjerat Korupsi