image
Login / Sign Up
Image

Ujang Komarudin

Direktur Eksekutif Indonesia Political Review (IPR) & Pengamat Politik Universitas Al-Azhar Indonesia (UAI) Jakarta.

Pilkada Rasa Pilpres

Kolom

Image

Warga memasukan surat suara ke dalam kotak usai melakukan pencoblosan di TPS 9, Jalan Abdul Sahab, Sawangan, Depok, Jawa Barat, Rabu (27/6/2018). Di TPS 9 Sawangan, Kota Depok ini ada sekitar 237 pemilih yang tertera di daftar pemilih tetap (DPT) untuk ikut dalam pelaksanaan pilkada serentak 2018 di kawasan Jawa Barat. Ada empat calon pasangan yang maju dalam pemilihan Gubernur Jabar 2018 ini, mereka adalah Ridwan Kamil - Uu Ruzhanul Ulum (Nasdem, PPP, PKB, dan Hanura), Hasanuddin - Anton Charliyan (PDI-Perjuangan), Sudrajat - Ahmad Syaikhu (PKS, PAN, dan Gerindra), Deddy Mizwar - Dedi Mulyadi (Golkar dan Demokrat). | AKURAT.CO/Sopian

AKURAT.CO, Pilkada serentak tahun 2018 putaran ketiga baru saja usai. Pesta demokrasi yang terjadi di 171 daerah memang sangat menarik untuk diamati. Selain karena terjadi ditahun politik. Hasil Pilkada tahun ini juga menjadi bekal dan penentu pada Pemilu Legislatif (Pileg) dan Pemilihan Presiden (Pilpres) di tahun 2019 nanti, maka tidak mengherankan jika banyak analis politik menyebut Pilkada tahun 2018 merupakan “Pilkada dengan rasa Pilpres”.

Tidak berlebihan memang jika pada Pilkada kali ini menjadi salah satu penentu kemenangan pada Pileg dan Pilpres 2019 yang akan datang. Partai-partai politik mengusung dan mendukung kader dan non-kadernya untuk menjadi calon kepala daerah di 171 wilayah yang tersebar di seluruh Indonesia. Kemenangan dan kekalahan di Pilkada 2018 juga akan menentukan kemenangan dan kekalahan di Pilpres 2019.

Kemenangan calon kepala daerah yang diusung oleh partai-partai politik tertentu akan berimbas baik dan positif untuk partai-partai tersebut. Paling tidak partai-partai tersebut akan mendapatkan keuntungan-keuntungan, seperti pendanaan, power, jaringan untuk menjadi modal bagi pertarungan di Pileg dan Pilpres 2019. Partai yang menang dalam mengusung calon kepala daerahnya akan happy untuk menatap pertarungan yang sesungguhnya di pesta demokrasi terbesar tahun depan.

baca juga:

Para kepala daerah memang sangat diandalkan oleh partai-partai politik untuk memback-up partai-partai dalam setiap pertarungan politik. Paling tidak partai yang mendukung dan calonnya menang akan lebih ringan dalam menghadapi setiap persaingan politik dalam Pileg maupun Pilpres. Karena seperti kita tahu, pesta demokrasi di Indonesia seperti Pilkada, Pileg, dan Pilpres akan banyak menghabiskan banyak uang.

Kenapa Pilkada serentak tahun  2018 serasa Pilpres. Karena pada Pilkada kali ini melibatkan pemilih lebih dari 50% suara pemilih nasional. Dan Pilkada tahun ini melibatkan daerah-daerah strategis yang memiliki jumlah pemilih gemuk dan menjadi lumbung suara bagi partai-partai politik untuk bekal di Pileg dan Pilpres 2019 yang akan datang.

Pulau Jawa menjadi arena pertarungan yang keras bagi calon kepala daerah, partai-partai politik, dan juga para capres dan cawapres. Karena memenangkan pertarungan di Jawa dianggap sudah memenangi separuh pertarungan. Dan Jawa Barat menjadi andalan dalam perebutan suara pemilih se-nusantara. Jawa Barat memiliki jumlah pemilih terbesar di Indonesia.

Sejarah mencatat partai politik yang menang di Jawa Barat akan menang pula dalam Pemilu nasional (Pileg). Tahun 2004 Partai Golkar menang di Jawa Barat dan menang pula secara nasional. Tahun 2009 giliran Demokrat yang menang di Jawa Barat dan menang pula secara nasional. Dan pada tahun 2014, PDIP menang di Jawa Barat, menang pula secara nasional.

Karena begitu pentingnya Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur, maka wajar jika di ketiga wilayah tersebut, partai-partai akan mati-matian berjuang untuk menang sampai darah penghabisan. Menang di Pulau Jawa paling tidak akan memuluskan langkah partai-partai politik dan capresnya untuk menang di Pileg dan Pilpres tahun 2019.

Namun jangan lupakan luar Jawa. Sumatera Utara (Sumut) dan Sulawesi Selatan (Sulsel) menjadi faktor penentu dari luar Jawa. Memanangkan di kedua daerah ini sama pentingnya dengan memenangkan pertarungan di pulau Jawa. Dan harus diingat juga, daerah lain juga penting untuk kemenangan bagi siapapun yang akan menjadi capres dan cawapres.

Pilkada memang bukan Pileg atau Pilpres. Namun dengan Pilkada, kita sudah bisa melihat peta kekuatan dan kelemahan partai-partai, capres dan cawapres dalam pertarungan di 2019 nanti. Menang di Pilkada memang belum tentu menang di Pileg dan Pilpres. Tapi menang di Pilkada akan menjadi penting untuk memuluskan langkah menjadi pemenenang dalam Pileg dan Pilpres.

Ada beberapa faktor yang menjadi mengapa Pilkada menjadi serasa Pilpres. Jumlah pemilih dalam Pilkada serentak tahun 2018 yang terjadi di 171 wiilayah lebih dari 50% jumlah pemilih sementara pada Pilpres 2019 nanti. Daftar Pemilih Tetap (DPT) Pilkada tahun ini sekitar 152 juta orang. Sementara Daftar Pemilih Sementara (DPS) untuk Pemilu 2019 (Pileg dan Pilpres) sekitar 186 juta orang. Artinya meraih kemenangan di Pilkada kemarin menjadi penting dan akan menentukan masa depan partai-partai, Capres dan Cawapres.

Tiga Provinsi di Jawa yaitu Jawa Barat, Jawa Timur, dan Jawa Tengah akan menjadi penentu kemenangan di Pilpres 2019. Karena seperti yang kita tahu. Jawa Barat menjadi lumbung suara terbesar di Indonesia dengan jumlah pemilih 31 juta orang, disusul dengan Jawa Timur dengan jumlah pemilih sebanyak 30 juta, dan Jawa Tengah dengan jumlah pemilih sekitar 27 juta orang. Wajar jika tokoh-tokoh politik nasional termasuk para Capres dan Cawapres ikut berkampanye langsung di wilayah ini.

Dari ketiga Provinsi di Jawa tersebut yang mengikuti Pilkada 2018 jika ditotalkan jumlah pemilihnya mencapai 88 juta orang, artinya lebih dari 50% DPT pada Pilkada serentak tahun 2018 kali ini. Oleh karena itu, Pilkada serentak 2018 di Jawa menjadi arena pertarungan politik atau the last battle menjelang pertarungan di Pileg dan Pilpres tahun 2019.

Namun kemenangan di Jawa saja belum cukup. Harus ditambah dengan dua kemenangan di dua provinsi lain. Yaitu kemenangan di provinsi non-Jawa yang memiliki jumlah suara pemilih terbesar yaitu Sumut, dengan jumlah pemilih sekitar 9 juta orang. Dan provinsi di Indonesia bagian Timur yaitu Sulsel dengan jumlah pemilih sebesar 6 juta orang. Namun jangan lupakan juga provinsi-provinsi lain. Karena provinsi yang memiliki jumlah pemilih sedikit juga akan memberikan andil dalam kemenangan.

Di tiga provinsi di Jawa (Jawa Barat, Jawa Timur, dan Jawa Tengah) dan Provinsi non-Jawa, yaitu Provinsi Sumatera Utara dan Sulawesi Selatan merupakan provinsi dengan jumlah pemilih terbesar dari 171 Pilkada yang diselenggarakan tahun ini. Kelima provinsi tersebut akan menjadi penentu kemenangan di Pilpres yang akan datang. Menang di wilayah-wilayah ini sudah lebih cukup untuk para petinggi partai yang calon kepala daerahnya menang untuk tidur nyenyak sementara. Karena hari esok sudah harus mempersiapkan pertarungan di Pileg dan Pilpres.

Tidak mengherankan jika di kelima provinsi tersebut perhatian calon kepala daerah, calon presiden dan calon wakil presiden, begitu juga partai-partai politik sangat besar karena akan juga menentukan nasib mereka di Pemilu 2019 yang akan datang. Tahun 2019 adalah pertarungan terakhir bagi partai-partai, calon presiden dan pasangannya. Jika menang akan berkuasa. Dan jika kalah akan tersingkir dan juga tersungkur. Menang berarti jaya. Kalah berarti mati. Mati dalam karir politik. Karena politik di kita cenderung menerapkan the winner takes all. Yang menang ambil semua jabatan dan posisi. Dan yang kalah diinjak dan disingkirkan.

Kemenangan partai-partai dalam mendukung calon kepala daerah juga menjadi faktor penentu kemenangan partai di Pileg nanti. Dan siapa yang terpilih menjadi kepala daerah juga akan menentukan siapa pemenang Pileg dan Pilpres nanti. Partai-partai politik yang calon kepala daerahnya menang akan memiliki sumberdaya kekuatan yang cukup untuk bertarung di Pileg karena didukung oleh kepala daerah yang menang yang memiliki banyak sumber daya.

Begitu juga dengan Capres dan Cawapres yang mendukung kepala daerah tertentu. Dan kepala daerah tersebut sukses memenangkan Pilkada, maka akan berdampak positif untuk kemenangan Capres dan Cawapres yang mendukungnya. Capres dan Cawapres sangat membutuhkan kepala daerah, karena kepala daerah sangat berperan besar untuk kemenangan bagi siapapun yang bertarung di Pilpres nanti.

Pilkada serentak kemarin sangat menguntungkan Jokowi sang incumbent. Karena partai-partai koalisi pendukung Jokowi banyak menang di lima provinsi strategis dengan pemilih gemuk. Kepala daerah terpilih di Jabar dan Jateng sudah pasti akan mendukung Jokowi. Karena didukung oleh partai koalisi Jokowi. Begitu juga dengan Khofifah di Jawa Timur, walaupun didukung Demokrat, Khofifah dengan jelas kepada media mengatakan bahwa dia akan mendukung Jokowi di Pilpres 2019 nanti.

Sulsel juga yang dimenangkan oleh pasangan Nurdin Abdullah-Andi Sudarman Sulaiman kemungkinan juga akan lari dan mendukung Jokowi. Karena pasangan ini didukung oleh PDIP, PKS, dan PAN. Dan yang terakhir adalah Sumut, mungkin hanya Sumut yang bisa mendukung Prabowo, namun itu pun akan terpolarisasi, mengingat pasangan Edy Ramayadi-Musa Rajekshah didukung oleh Gerindra, PKS, Golkar, PAN, Nasdem, dan Hanura.

Namun harus diingat. Melejitnya suara Sudrajat-Ahmad Syaikhu yang didukung oleh Gerindra, PKS, dan PAN yang menempel Ridwan Kamil-UU. Juga mengalahkan Dua Dedi merupakan prestasi yang luar biasa. Melejitnya suara Sudrajat-Ahmad Syaikhu karena peran besar Prabowo yang turun langsung menyapa warga Jawa Barat untuk memenangkan pasangan tersebut. Karena bagaimanapun masyarakat Jawa Barat masih mencintai sosok Prabowo.

Begitu juga di Jawa Tengah, walaupun pasangan Sudirman Said-Ida Fauziah kalah oleh Ganjar Pranowo dan Taj Yasin, namun meningkat suara Sudirman Said-Ida Fauziah yang menempel incumbent harus diwaspadai. Karena bisa saja suara Sudirman Said-Ida Fauziah yang tinggi tersebut disumbangkan untuk Prabowo di Pilpres nanti.

Pilkada serentak tahun 2018 telah usai. Mari kita berjabat tangan. Dan mari kita menyongsong Pileg dan Pilpres 2019 dengan hati bersih dan pikiran jernih. Jokowi atau Prabowo. Atau tokoh lainnya itu terserah Anda.[]

Editor: Sunardi Panjaitan

berita terkait

Image

News

Politik Bohir Pencalegan

Image

News

Menanti Cawapres Jokowi

Image

News

Mencari Cawapres Ideal

Image

Olahraga

Piala Dunia Rusia 2018

Timnas Kolombia Cedera James Rodriguez Ganggu Fokus Kolombia

Image

Gaya Hidup

Piala Dunia Rusia 2018

Kenali 5 Masakan Khas Kolombia

Image

Olahraga

Piala Dunia Rusia 2018

Polandia 0-3 Kolombia Singkirkan Polandia, Los Cafeteros Jaga Asa Lolos   

Image

Olahraga

Piala Dunia Rusia 2018

Susunan Pemain Kolombia Duetkan James-Falcao, Lewandowski Tumpuan Polandia

Image

Olahraga

Piala Dunia Rusia 2018

Trivia 20 Statistik Menarik Pertandingan Piala Dunia 19-20 Juni

komentar

Image

0 komentar

terkini

Image
News

Ketua KPU Sebut Lima Mantan Napi Koruptor Jadi Caleg DPR RI

KPU pun menyatakan para bakal calon itu tidak memenuhi syarat dan seluruh berkasnya akan dikembalikan.

Image
News

KPK Ungkap Alasannya Turut Tangkap Inneke Koesherawati

Sebenarnya kami 'ambil' karena kami curigai dia mengetahui.

Image
News

KPK Ultimatum KemenkumHAM Jangan Melulu Salahkan Oknum

Lapas dan rutan seluruh Indonesia ada 528. Jumlah pegawai 43 ribu lebih. Dengan isi lapas 249 ribu orang. Ini barangkali kapasitas 124 ribu.

Image
News

Bamusi: Tokoh Islam di PDIP Dekatkan dengan Umat

Kehadiran tokoh-tokoh Islam itu semakin memantapkan PDI Perjuangan sebagai partai nasionalis religius dan berpihak pada kepentingan umat.

Image
News

Jelang Asian Games, BMKG Konsen Terhadap Olahraga Sensitif

nformasi prediksi cuaca di 16 lokasi cabang olahraga, baik yang di selenggarakan di Jakarta dan di Palembang.

Image
News

KPU Selesaikan Verifikasi Bakal Caleg DPR RI

KPU telah memeriksa kelengkapan dan keabsahan dokumen persyaratan pengajuan bakal calon serta dokumen persyaratan administrasi calon.

Image
News

Kemenkumham Mohon Maaf Usai Kecolongan Kasus Jual-Beli Fasilitas Lapas

Kejadian di sukamiskin, kami mohon maaf kepada seluruh rakyat Indonesia dan bapak Presiden.

Image
News

DirjenPas Akui Fasilitas di Sukamiskin Tak Sesuai Standar Lapas

Benar ada fasilitas yang tidak pada tempatnya di Sukamiskin.

Image
News

OTT Sukamiskin, Pemuda Muhammadiyah Minta KPK Periksa Menkumham

"Salah satu pihak yang paling bertanggungjawab terkait dengan hal ini adalah Menteri Bukum dan HAM,"

Image
News

KPK: Kepala Lapas Sukamiskin Tak Sesali Perbuatannya

Kalau lihat dari cerita yang kami pantau dari kemarin pagi sampai hari ini memang ada kesan itu sudah terbiasa.

Image
News

MDI Yakin Koalisi PDIP-Golkar Jaminan Suksesnya Periode Kedua Jokowi

PDI Perjuangan dan Golkar merupakan parpol tua penuh pengalaman pemerintahan.

Image
News

Kakanwil Jabar Siap Dicopot dari Jabatannya Atas Kasus Dugaan Jual-Beli Fasilitas Lapas

Boleh saja dicopot.

trending topics

terpopuler

  1. Jadi Tempat Penyebaran Radikalisme, LDNU Serukan Kelompok Moderat Kendalikan Masjid

  2. Hina Peserta Audisi, KPID DKI Jakarta Akan Tindak Tegas Program KDI

  3. Diduga Terima Suap dari Napi, Ternyata Segini Harta Kekayaan Kalapas Sukamiskin

  4. Kali Item Ditutupi Jaring, Warganet: Itu Kesalahan Fatal!

  5. Tiang Bendera Pakai Bambu, Ernest: Orang Singapura Memaki-maki Indonesia

  6. Diduga Tebar Ranjau di Jalan, Pria ini Disikat Ojol

  7. Keputusan Ahok Soal Water Way Marunda Diapresiasi Sandiaga

  8. Meski Sudah Dipasang Jaring, Anies Masih Endus Bau di Kali Item

  9. Meme Dukung Jokowi, Ustadz Abdul Somad: Hoax

  10. Diprotes Warga, Pemerintah Vietnam Bebaskan WN Amerika Serikat yang Ditahan

fokus

Idul Fitri 2018
Mudik Lebaran 2018
Piala Dunia Rusia 2018

kolom

Image
UJANG KOMARUDIN

Rame-rame Jadi Caleg

Image
Ridwansyah

Jakarta Bersolek untuk Asia

Image
Achmad Fahruddin

Politik Bohir Pencalegan

Image
Ujang Komarudin

Menanti Cawapres Jokowi

Wawancara

Image
News

Hari Kartini

Sehebat Apapun Wanita, Jangan Lupakan Kodratnya!

Image
News

Ariani Soekanwo, Tunanetra Pejuang Hak Politik Disabilitas

Image
News

Pembenahan Alutsista TNI dalam Pandangan Susaningtyas Kertopati

Sosok

Image
News

Brigjen Pol Teddy Minahasa Raih Bintang Bhayangkara Nararya dari Presiden Jokowi

Image
News

Menteri Termuda Kabinet Mahathir, Syed Saddiq Siap Jadi Panutan Pemuda Malaysia

Image
News

Idul Fitri 2018

8 Kali Puasa dan 8 Kali Lebaran, Polisi Ini Selalu Berada di Jalanan