image
Login / Sign Up

Berpangkat Kompol, Ahrie Sonta Sandang Gelar Doktor

Miftahul Munir

Image

Kompol Ahrie Sonta/Polisi Berpangkat Kompol Pertama Yang Sandang Gelar Doktor. | AKURAT.CO/Miftahul Munir

AKURAT.CO Kompol Ahrie Sonta Doktor Pertama Ilmu Kepolisian di Indonesia. Kepolisian Republik Indonesia patut berbangga hati. Salah satu insan Bhayangkara kini bergelar Doktor Ilmu Kepolisian.

Nama Ahrie Sonta mungkin asing di telinga, namun kini dunia siap mendengarkan paparan ilmiah atas penelitian dalam desertasinya tentang formula reformasi budaya (kultural) dalam organisasi kepolisian. Sebelas penguji dari berbagai institusi perguruan tinggi angkat topi atas diraihnya gelar Doktoral, Ahrie.

Pria berpangkat Komisaris Polisi (Kompol) kini telah resmi menyandang gelar Doktor di depan namannya pada Kamis (7/6) lalu, Perwira Menengah (Pamen) ini meraih gelar akademisi tersebut. Penasaran akan hasil desertasi Ahrie.

baca juga:

Berikut sedikit ulasannya yakni soal penelitian dalam disertasi Ahrie mencoba membangun formula reformasi budaya (kultural) dalam organisasi kepolisian. Khususnya di kepolisian tingkat resor sebagai basic police unit yang berhadapan langsung dengan pelayanan masyarakat.

Bagi Polri, perubahan budaya merupakan suatu keniscayaan, yakni sebagai bagian dari reformasi kepolisian pasca pemisahan dengan militer (Angkatan Bersenjata Republik Indonesia-ABRI pada masa Orde Baru) sebagaimana tertuang dalam Inpres No. 2 tahun 1999.

Reformasi Kepolisian itu sendiri secara lengkapnya mencakup reformasi struktural, instrumental, dan kultural. Sejauh ini, reformasi struktural dan instrumental dinilai telah berhasil.

Sementara itu, reformasi kultural masih menjadi suatu persoalan yang dihadapi kepolisian Indonesia, yang membedakannya dari reformasi birokrasi kepolisian yang telah berhasil dilakukan di negara-negara lain. Sementara itu, reformasi kultural masih menjadi suatu persoalan yang dihadapi kepolisian Indonesia.

Perbedaannya dari reformasi birokrasi kepolisian, telah berhasil dilakukan di negara-negara lain. Adapun negara-negara yang telah berhasil mengatasi masalah kultural ini misalnya, Singapura, Hongkong, dan kepolisian di New South Wales Australia. "Dengan melihat berbagai faktor kondisi antara lembaga kepolisian satu dengan yang lain, pendekatan atau formula pengentasan masalah kultural ini tidak dapat ditempuh dengan jalan yang sama," jelas sang Doktor Ilmu Kepolisian itu Minggu (10/6).

Dalam desertasinya, Ahrie membangun model penguatan budaya etika kepolisian dengan pendekatan habitus. Ia membedah kultural dengan mempertemukan ‘agen’ (individu) dan ‘struktur’, yang kemudian dalam konteks organisasional dibedah dengan formula budaya etika. Banyak penelitian sebelumnya justru mempertentangkan agen dan struktur.

Pertentangan ini bisa dilihat dalam masalah police corruption and other unethical behavior, misalnya ketika mempersoalkan akar penyebab masalah-masalah tersebut. Para peneliti yang menggunakan perspektif agen, akar permasalahan dianggap terletak pada individu. Yakni adanya oknum-oknum petugas kepolisian yang bermental lemah dan memiliki kecenderungan melakukan pelanggaran norma dan penyalahgunaan wewenang sebagai petugas.

Sebaliknya, penelitian yang terlalu menekankan pada pendekatan struktur melihat bahwa sistem organisasi dan “budaya kepolisian” adalah faktor penghambat terbesar dalam perubahan organisasi kepolisian. Cara pandang melalui ‘teori habitus’ ini berusaha melampaui pertentangan agen-struktur, kebebasan-determinisme, individu-masyarakat, dan seterusnya; termasuk dalam konteks organisasi kepolisian.

Melalui pembacaan ‘konsep habitus’ ini pula, dapat terlihat jalan tengah untuk menyatukan pemisahan “struktur” dan “agen” dalam menjelaskan tindakan manusia, atau disebut pendekatan strukturalisme-genetik. Sejumlah akademisi kenamaan turut terlibat dalam mensukseskan disertasi ini antara lain, Haryatmoko, yang dikenal banyak menyumbangkan pemikiran kritisnya dalam bidang filsafat, sosial politik, etika dan komunikasi.

Haryatmoko mengatakan bahwa karya disertasi ini mampu memberikan solusi kongkrit. “Salah satu solusi yang ditelurkan riset promovendus Ahrie Sonta adalah program salute to service,” katanya Minggu (10/6).

Program ‘salute to service’ bisa diselenggarakan oleh pemerintah, pihak swasta atau perusahaan, atau komunitas masyarakat. Yakni, sebagai simbol rasa terima kasih kepada lembaga kepolisian yang telah menyumbang peranan penting di masyarakat.

“Hal ini membangun hubungan civil society antara kepolisian dan masyarakat secara lebih baik, sehingga ada kontrol positif masyarakat terhadap potensi tindakan negatif yang dilakukan oleh oknum anggota polisi,” jelasnya.

Sementara itu, Cendekiawan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Hermawan Sulistyo mengatakan bahwa adanya doktor ilmu kepolisian ini harusnya menjadi tonggak sejarah baru bagi institusi kepolisian.

“Produk doktor pertama ilmu kepolisian STIK ini bisa menjadi role model polisi masa depan. Pengetahuan dan integritas akademik yang dipadukan dengan kemampuan teknis operasional lapangan akan membuat Dr. Ahrie Sonta menjadi model polisi masa depan,” kata cendekiawan yang akrab disapa Kikiek ini.

Ditemui dalam sidang doktoral di PTIK, Kikiek yang dikenal juga sebagai pakar Anti Terorisme ini juga mengatakan bahwa Kapolri (Tito Karnavian) yang dirinya juga doktor harus memberi apresiasi.[]

Editor: Ainurrahman

berita terkait

Image

News

Pilkada Serentak 2018

Tito: Satgas Anti Money Politic Temukan 25 Kasus di Pilkada 2018

Image

News

Kapolri: Sistem Demokrasi yang Sangat Bebas Dapat Picu Konflik

Image

News

Mabes Polri Ringkus Calo Penipuan Masuk Sekolah Bintara

Image

Iptek

Menkominfo: Polri Harus Maksimalkan Teknologi Agar Ada Polisi Digital

Image

News

Kapolri: Nahkoda Sinar Bangun Bisa Diancam Pidana

Image

News

Polisi Selidiki Unsur Pidana Tenggelamnya KM Sinar Bangun

Image

News

Kapolri Perintahkan Jajarannya Amankan Malam Takbir Keliling

Image

News

Mudik Lebaran 2018

Arus Mudik Aman dan Lancar, Pengamat Puji Kesigapan Kapolri

Image

News

Wakapolri Apresiasi Pengamanan Arus Mudik Bandara Soetta

komentar

Image

0 komentar

terkini

Image
News

Gagal Nyagub, Kini Kapitra Ampera Jadi Bacaleg PDIP

Selain pernah jadi pengacara Habib Rizieq, Kapitra juga pernah menjadi pengacara Tommy Soeharto.

Image
News

Wamenlu RI: Kerja Sama Maritim ASEAN-India Adalah Sebuah Keharusan

Fachir juga menggaris bawahi berbagai potensi dan keunggulan ASEAN dan India, termasuk pertumbuhan ekonomi yang tinggi.

Image
News

Para Atlet Muda Korsel Kerap Diperkosa dan Disiksa Pelatihnya

Image
News

Burberry Bakar Tas, Baju dan Parfum Senilai Rp 541 Miliar Tahun Lalu

Burberry menghancurkan pakaian, asesoris dan parfum yang tak terjual senilai 28,6 juta poundsterling atau sekira Rp 541 miliar.

Image
News

Karena Kasus Bom Molotov di Rumahnya, Mardani Disebut 'Cemen' Oleh Warganet

Pemberitaan bom molotov membuat Mardani harus menerima kritikan pedas dari warganet.

Image
News

Gerindra Akui AHY Jadi Pertimbangan Partai Koalisi untuk Jadi Cawapres Prabowo

Selain AHY, koalisi Gerindra bersama PAN dan PKS juga telah mengerucutkan lima nama yang dimungkinkan akan menjadi pendamping Prabowo.

Image
News

Ruhut: Usut Kasus Bom Molotov di Rumah Mardani, Biar Tidak ada Dusta di Antara Kita

"Segera diungkap kasus bom molotov di rumah Inisiator # (Tagar) yang mulai layu sebelum berkembang," tulis Ruhut.

Image
News

Israel Sahkan UU Negara Bangsa Yahudi yang Kontroversial

Parlemen Israel mengesahkan Undang-undang (UU) yang mendefinisikan Israel sebagai negara bangsa rakyat Yahudi.

Image
News

Meski Dilindungi, Nelayan Muara Citepus Palabuhanratu Masih Buru Impun

Munculnya perlindungan Ikan impun Peraturan Menteri (Permen) Perikanan dan Kelautan No 2/2015 tak dihiraukan oleh Nelayan

Image
News

Masa Bodoh Kritik, Trump Ingin Bertemu Putin Lagi

Donald Trump dan Vladimir Putin menyalahkan kekuatan di AS yang hendak menutupi kesuksesan pertemuan mereka.

trending topics

terpopuler

  1. Rumah Pribadi Mardani Ali Sera Dilempar Bom Molotov oleh OTK

  2. Gerindra Menduga Teror di Rumah Mardani Ali Sera Terkait Gerakan #2019GantiPresiden

  3. Denny: Dulu Zaman Ahok, Merokok di Kafe Mal Dilarang Keras, Sekarang?

  4. Geger, Pelajar Berbaju Batik Ditemukan Tewas Bersimbah Darah Dipinggir Jalan

  5. Survei LIPI: Mayoritas Masyarakat Ingin Prabowo Jadi Cawapres Jokowi

  6. Pelemparan Bom Molotov Rumah Mardani, Polisi: Barang Bukti dan Empat Saksi Kita Periksa

  7. Begal Pembunuh Sadis di Tangerang Tertangkap, Keluarga Saripah Sujud Syukur

  8. Faizal: Bom Molotov di Rumah Mardani Bisa Jadi Kerjaan Kader PKS Sendiri

  9. Ngabalin Jadi Komisaris, Ferdinand: Memacu yang Lain Puji Jokowi Mati-matian

  10. Bamsoet: yang Penting Wakilnya Pak Jokowi Jangan dari Singapura atau Amerika

fokus

Idul Fitri 2018
Mudik Lebaran 2018
Piala Dunia Rusia 2018

kolom

Image
UJANG KOMARUDIN

Rame-rame Jadi Caleg

Image
Ridwansyah

Jakarta Bersolek untuk Asia

Image
Achmad Fahruddin

Politik Bohir Pencalegan

Image
Ujang Komarudin

Menanti Cawapres Jokowi

Wawancara

Image
News

Hari Kartini

Sehebat Apapun Wanita, Jangan Lupakan Kodratnya!

Image
News

Ariani Soekanwo, Tunanetra Pejuang Hak Politik Disabilitas

Image
News

Pembenahan Alutsista TNI dalam Pandangan Susaningtyas Kertopati

Sosok

Image
News

Brigjen Pol Teddy Minahasa Raih Bintang Bhayangkara Nararya dari Presiden Jokowi

Image
News

Menteri Termuda Kabinet Mahathir, Syed Saddiq Siap Jadi Panutan Pemuda Malaysia

Image
News

Idul Fitri 2018

8 Kali Puasa dan 8 Kali Lebaran, Polisi Ini Selalu Berada di Jalanan