Akurat.co - Cepat Tepat Benar
Login / Sign Up

Tebang Pohon Jati Kakek Natu Dipenjara, Kajari Soppeng Jelaskan Fakta Hukumnya

Ainurrahman

Tebang Pohon Jati Kakek Natu Dipenjara, Kajari Soppeng Jelaskan Fakta Hukumnya

Ilustrasi Penjara | Luqaman Hakim Naba

AKURAT.CO, Kasus penebangan 55 pohon jati merah (tektona grandis) pada hutan lindung di Laposo Niniconang, Kecamatan Lalabata, Kabupaten Soppeng, Provinsi Sulawesi Selatan (Sulsel), yang memenjarakan seorang kakek bukan kriminalisasi.

"Terhadap perkara ini, jaksa penuntut umum tidak melakukan kriminalisasi, melainkan murni penegakan hukum sesuai undang-undang," kata Kepala Kejaksaan Negeri (Kajari) Soppeng, Mohammad Nasir dalam konferensi pers di Kejaksaan Agung (Kejagung), Jakarta, Senin malam (22/2/2021).

Kasus ini berawal saat Kejari Soppeng menerima perkara dugaan tindak pidana pencegahan dan pemberantasan perusakan hutan (P3H) di kawasan hutan lindung di Laposo Niniconang, Kecamatan Lalabata, Kabupaten Soppeng, Sulsel.

Perkara ini membelit tiga orang terdakwa, yakni Natu bin Takka, Ario Permadi alias Madi bin Natu, dan Sabang bin Beddu. Mereka didakwa melanggar Pasal 82 Ayat (1) huruf b atau Pasal 82 Ayat (2) atau Pasal 83 (1) huruf a juncto Pasal 12 huruf d atau Pasal 84 Ayat (1) juncto Pasal 12 huruf f atau Pasal 84 Ayat (3) UU Nomor 18 Tahun 2013 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Perusakan Hutan (P3H).

Nasir mengungkapkan, terdakwa Natu bin Takka, Aro Permadi alias Madi bin Natu, dan Sabang bin Beddu memasuki kawasan Hutan Lindung, kemudian melakukan penebangan kayu jenis jati merah (tektona grandis) sebanyak 55 pohon.

Para terdakwa tidak mempunyai izin dari pihak berwenang untuk melakukan penebangan terhadap pohon kayu yang berada di dalam kawasan hutan lindung Laposo Niniconang.

Ke-55 pohon jati merah yang ditebang para terdakwa itu kemudian dijadikan barang bukti. Pohon jati tersebut oleh mereka diolah menjadi 266 batang balok berbagai ukuran, yakni panjang minimal 3 meter hingga 11 meter.

Dalam persidangan kemudian diperiksa saksi-saksi, yakni ketua RT, 2 anggota Polisi Kehutanan, lurah, ahli di bidang pemantapan kawasan hutan, ahli di bidang perizinan dalam kawasan hutan, dan ahli kehutanan.

"Berdasarkan fakta tersebut bahwa benar para terdakwa melakukan kegiatan menebang pohon kayu di dalam kawasan hutan lindung," kata Nasir.

Atas fakta persidangan tersebut, jaksa penuntut umum pada Kejari Soppeng, kemudian menuntut para terdakwa dengan mempertimbangkan hal-hal yang memberatkan dan meringankan.

Hal yang meringankan bahwa terdakwa Natu bin Takka telah berusia lanjut dan kayu-kayu tersebut digunakan oleh terdakwa bukan untuk dijual. Adapun hal yang memberatkannya, yakni terdakwa mengambil kayu jati merah sebanyak 55 pohon dan sudah diolah menjadi 266 potong kayu berbagai bentuk ukuran.

Nasir melanjutkan, memperhatikan fakta-fakta hukum di persidangan dan juga mempertimbangkan faktor-faktor yang meringankan dan memberatkan dan selama dalam proses penanganan perkara para terdakwa tidak dilakukan penahanan, terhadap para terdakwa dituntut dengan hukuman yang paling ringan, yaitu pidana penjara selama 4 bulan.

"Lalu diputus oleh hakim Pengadilan Negeri Watansoppeng dengan putusan 3 bulan penjara sesuai Pasal 82 Ayat (1) huruf b jo Pasal 82 Ayat (2) Undang-Undang RI Nomor 18 Tahun 2013 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Perusakan Hutan," katanya.

Atas putusan majelis hakim Pengadilan Negeri Watansoppeng itu, para terdakwa melalui kuasa hukumnya, pada 19 Januari 2021 mengajukan langkah hukum, yakni banding ke Pengadilan Tinggi (PT) Makassar, Sulsel.

Sementara itu, Kasi Penkum Kejati Sulsel Idil menambahkan, JPU telah mempertimbangkan sisi moralitas pada tuntutan jaksa kepada Kakek Natu. Kakek Natu didakwa dengan Pasal 82 Undang-Undang P3H. Natu terancam hukuman maksimal 5 tahun penjara.

Pada praktiknya, jaksa hanya mendakwa Kakek Natu 4 bulan dan oleh majelis hakim divonis 3 bulan.

"Tapi coba dilihat, Kejari Soppeng hanya menuntut 4 bulan, dan ternyata majelis hakim jauh lebih bijak dan menjatuhkan hukuman selama 3 bulan penjara. Tuntutan itu dengan mempertimbangkan aspek moral," terang Idil.[]

baca juga:

Editor: Arief Munandar

berita terkait

komentar

Image

0 komentar

terkini

Image
News

Prangko Gerakan Vaksinasi Nasional Resmi Diluncurkan

Penerbitan prangko itu menjadi penanda kesigapan bangsa Indonesia dalam memerangi pandemi Covid-19

Image
News

Presiden Jokowi Apresiasi Kemenkominfo Terkait Program DTS

Diharapkan program ini bisa menyasar ke anak muda yang benar-benar berbakat

Image
News

Dianggap Tak Pantas, Dokter AS Ini Jalani Sidang Pengadilan sambil Operasi Pasien

Scott Green muncul di sidang daringnya pada Kamis (25/2) dengan mengenakan kostum bedah.

Image
News

5 Kasus Besar yang Pernah Ditangani Artidjo Alkostar

Sepanjang perjalanan kariernya di dunia hukum, Artidjo dikenal sebagai salah satu hakim yang sangat tegas dan ditakuti.

Image
News

Polda NTT Akan Tindak Tegas Anggota Polri yang Terciduk ke Tempat Hiburan Malam

Aturan ini menindaklanjuti larangan dari Divisi Propam Polri melarang personel kepolisian masuk ke tempat hiburan dan mabuk-mabukan

Image
News

Temanggung Siapkan Persemaian Jelang Masa Tanam Tembakau

Penyemaian benih tembakau dilakukan di sekitar rumah

Image
News

Soal Investasi Miras, Jimly Asshiddiqie: Dampaknya Sangat Merusak!

Jimly menyebut bahwa pemerintah lebih baik membatalkan investasi miras tersebut.

Image
News

Melayat Artidjo, Jokowi: Beliau Penegak Hukum Berintegritas Tinggi

Jokowi tiba di Masjid Ulil Albab UII kurang lebih pukul 08.00 WIB didampingi Menteri Sekretaris Negara, Pratikno.

Image
News

Pos Polisi Lalu Lintas Simpangan Depok Alami Longsor

Tidak lama setelah itu, bangunan pos polisi tersebut longsor dan mengalami roboh sampai tidak berbentuk.

Image
News

Indonesia Desak Myanmar Tak Gunakan Kekerasan dalam Menghadapi Demonstran

Kondisi ini membuat Indonesia sangat prihatin atas meningkatnya kekerasan di Myanmar yang telah memakan korban jiwa.

terpopuler

  1. 5 Prinsip Menabung ala Orang Jepang, Dijamin Hidup Enggak Kekurangan

  2. Pompeii Kembali Kejutkan Arkeolog, Ditemukan Kereta Upacara Romawi Kuno yang Langka

  3. Kunci Sukses Pengusaha Tionghoa, Pelajari Seni Bisnis Sun Tzu dan Filosofi Bambu

  4. Sudah Diperingatkan Tapi Masih Nekat, Pemecatan Jhoni Allen Dkk Dinilai Jadi Jalan Terbaik Bagi Demokrat

  5. Kabar Duka! Belum Lama Hijrah, Rhere Valentina Tutup Usia

  6. Papan Petunjuk Masuk Tol Surabaya-Gempol Bikin Bingung, Warganet: Langsung Sakit Kepala

  7. Eks Kepala Bapenda DKI: Masa Tiap Tahun Ngeluarin Rp9,8 Miliar Buat Samsat Nyetak Kertas?

  8. Nurdin Abdullah Tersangka Suap, Istana: Tanpa Berspekulasi, Kita Serahkan Proses Hukum ke KPK

  9. Hanya Butuh 3 Ronde, Canelo Pukul KO Yildirim

  10. Usai OTT Gubernur Sulsel Cs, Mahfud: Sistem Dan Mekanisme KPK Kuat

fokus

Mendorong Pemerataan Ekonomi Secara Digital
Kaleidoskop 2020
Akurat Solusi: Kenaikan Cukai Tembakau
Lawan Covid-19

kolom

Image
Ali Zulfugaroghlu, Elnur Elturk

Genosida Khojaly: Kejahatan Terhadap Kemanusiaan

Image
Ujang Komarudin

Takut Mengkritik

Image
Roosdinal Salim

Mimpi atau Realistis Mencapai 20.000 Kampung Iklim di 2024?

Image
Poetra Adi Soerjo

Pemuda Sumbawa Akui Pemikiran Prof Din Syamsuddin Radikal

Wawancara

Image
Video

Akurat Talk

VIDEO Duh! Laki-laki Sering Jadi Tersangka Toxic di Hubungan, Padahal Mah… | Akurat Talk (3/3)

Image
Video

Akurat Talk

VIDEO Hubungan yang Tidak Sehat Bisa 'Disembuhkan' | Akurat Talk (2/3)

Image
Video

Akurat Talk

VIDEO Toxic Relationship: Ini Salah Aku atau Dia? | Akurat Talk (1/3)

Sosok

Image
News

5 Kasus Besar yang Pernah Ditangani Artidjo Alkostar

Image
News

6 Potret Santai Menteri Yasonna Laoly di Berbagai Kegiatan, Bersepeda hingga Keliling Kebun

Image
News

Tertangkap OTT KPK, Ini 5 Fakta Penting Nurdin Abdullah Gubernur Sulawesi Selatan