Komisi V Ingatkan BMKG dan Basarnas Buat Rencana Terukur Antisipasi Fenomena La Nina
DPR RI

Warga menembus hujan deras menggunakan papan di kawasan Komersial Mega Kuningan, Jakarta, Jumat (27/12/2019). Sebaran curah hujan di Jabodetabek masih berada di kisaran sedang (20-50 mm perhari) hingga lebat (50-100 mm perhari) yang disertai petir angin lebat hingga puting beliung. | AKURAT.CO/Dharma Wijayanto
AKURAT.CO, Anggota Komisi V DPR RI Sudewo mengingatkan BMKG, Basarnas untuk membuat perencanaan yang terukur untuk antisipasi fenomena La Nina yang diprediksi melanda Indonesia hingga akhir 2020.
Hal itu disampaikan dalam rapat Komisi V DPR RI bersama BMKG, Basarnas dan Bapel BPWS, di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Selasa (24/11/2020).
“Basarnas dalam upaya antisipasi fenomena La Nina pasti butuh anggaran. Ini perlu disampaikan kepada Komisi V. Komisi V pasti akan membantu dalam memperjuangkan peningkatan anggaran," ujarnya.
Menurut Sudewo Basarnas, menghadapi La Lina harus dipersiapkan segala sesuatunya, baik dari segi kebutuhan barang atau lainnya.
"Serta kegiatan pasti butuh anggaran dan perencanaan yang matang,” jelasnya.
Sementara itu, Kepala Basarnas Bagus Puruhito mengharapkan Komisi V DPR bisa membantu dalam pengajuan peningkatan anggaran di akhir tahun.
“Sebab, pada hakekatnya Basarnas sangat kesulitan dalam metode penyelesaian serapan anggaran pada tanggal 15 Desember. Karena, ada kemungkinan kebencanaan dan segala macam terjadi setelah tanggal itu," ungkap Bagus.
"Nah, darimana anggaran ini ada? Satu-satunya ada di bendahara negara, yaitu Menteri Keuangan. Dimana, biasanya kita ajukan dan diberikan pada tahun mendatang,” imbuhnya.
Kepala BMKG Dwikorita Karnawati mengungkapkan, pihaknya tengah mengoptimalisasi anggaran belanja barang yang berpotensi tidak terealisasi menjadi kegiatan yang produktif dan menyerap anggaran.
Ia menyebut, kegiatan tersebut yakni melakukan Focus group discussion (FGD) akhir tahun dengan membahas, bencana hidrometeorologi.
"Kami juga melakukan beberapa rakornas. Jadi ada rakornas dadakan biasanya satu tahun hanya sekali. Kali ini dengan adanya Covid-19 Kami lebih sering melakukan rakornas," klaimnya.
Bahkan BMKG, kata Dwi, telah mengalihkan anggaran sebesar kurang lebih 20 miliar khusus untuk menghadapi La Nina dengan merevisi POK dan memasang beberapa per-alatan ekstra untuk lebih cermat lagi dalam menghadapi La Nina.
"Serta meningkatkan, kerapatan jaringan peralatan dan ketepatan serta akulasinya," pungkasnya.[]