Akurat.co - Cepat Tepat Benar
Login / Sign Up
Image

Dr. Arli Aditya Parikesit

Ketua Prodi S1 Bioinformatika Indonesia International Institute for Life Sciences (I3L) dapat dihubungi pada akun twitter @arli_ap

Pandemi COVID-19 dan Bencana Ekologis Planet Bumi

Image

Doktor Tjandrawati Mozef Peneliti Biokimia Farmasi LIPI yang juga penemu menunjukan detection kit 'QIRANI 19' atau alat deteksi alternatif virus corona di Laboratorium Kimia Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Puspiptek Serpong, Tangerang Selatan, Banten, Rabu (26/8/2020). LIPI berhasil menemukan formula deteksi virus Corona dengan metode RT LAMP untuk menentukan negatif atau positif seorang pasien yang terpapar COVID-19 dengan waktu deteksi kurang dari satu jam yang dinamai QIRANI 19 KIT. | AKURAT.CO/Dharma Wijayanto

AKURAT.CO, Pandemi COVID-19 di dunia telah mencapai angka mortalitas yang signifikan per hari ini, yaitu menembus angka 950 ribu. Sementara penderitanya sudah menembus angka 30 juta umat manusia. Berbagai pakar di seluruh dunia sudah membahas fenomena bencana yang sangat mengerikan ini dari sudut pandang kesehatan dan ekonomi. Namun, ada satu sudut pandang yang selama ini belum terlalu diangkat, yaitu dari aspek lingkungan hidup. Relasi antara masalah kesehatan manusia dengan pengrusakan lingkungan sudah dibahas lama sekali, jauh sebelum bencana COVID-19 ini terjadi.

Di film dokumenter ‘Inconvenient Truth’, yang juga telah dirilis juga buku pendampingnya, mantan wapres Amerika Serikat, Albert Gore, menyatakan, perubahan iklim (climate change) berhubungan erat dengan kerusakan lingkungan akibat ulah manusia atau antropogenik. Gore menunjukkan berbagai foto Bumi dari luar angkasa, untuk menunjukkan kerusakan lingkungan yang masif. Gore juga menekankan berbagai masalah lingkungan karena efek rumah kaca, dengan menunjukkan video lelehan es di Antartika. Gore juga menekankan bahwa pemanasan global adalah isu sains, bukan politik. Gore menutup dokumenternya dengan pernyataan ‘Setiap manusia bertanggung jawab atas terjadinya pemanasan global, namun kita bisa membuat aksi untuk menekan emisi karbon’. Lalu, apa hubungannya pandemi COVID-19 dengan perubahan iklim maupun ekosistem kita? Ternyata korelasinya erat sekali. 

WHO dan UNEP, sebagai organ PBB, sama-sama berpendapat bahwa pandemi COVID-19 adalah salah satu ancaman utama bagi umat manusia. Hanya saja, WHO menggunakan kacamata ilmu kesehatan untuk mengkaji COVID-19, dan UNEP menggunakan kacamata ilmu lingkungan. Menurut laporan UNEP, lebih dari 30 patogen manusia telah dideteksi dalam tiga dekade terakhir, dan 75 persennya berasal dari hewan. Menurut UNEP lagi, beberapa penyebab antropogenik dari penyakit zoonosis diantaranya adalah meningkatnya tuntutan terhadap protein hewani, intensifikasi pertanian yang tidak sustain, traveling, eksploitasi ‘wildlife’, perubahan iklim yang menyebabkan migrasi hewan liar.

baca juga:

Semua ini menjadi faktor pendorong bagi semua pandemi, termasuk COVID-19. Pengrusakan lingkungan, termasuk habitat hewan liar, sangat jelas berkorelasi kuat dengan peningkatan emisi karbon di atmosfer bumi dan menyebabkan perubahan iklim. Fenomena perubahan iklim inilah yang menyebabkan migrasi hewan liar, yang meninggalkan habitat aslinya, sehingga semakin dekat dengan manusia. Karena kebutuhan protein hewani yang sangat tinggi, kondisi tersebut diperparah dengan perburuan hewan liar tanpa henti, dan merusak habitat mereka. Interaksi intensif antara hewan liar dengan manusia mengakibatkan virus seperti SARS-CoV-2 yang tidak menimbulkan masalah kesehatan berarti di hewan, menjadi menginfeksi manusia dan menimbulkan masalah kesehatan global, mulai dari wabah, epidemi, dan tentu saja pandemi.

Perkembangan pandemi COVID-19 ini mengakibatkan disrupsi besar-besaran pada perburuan dan perdagangan satwa liar seperti kelelawar dan trenggiling. Walaupun pasar hewan liar di Wuhan dan tempat lain sementara sangat dibatasi, kita tidak tahu sampai kapan, karena kebutuhan hewan liar sangatlah tinggi. Seringkali kebutuhan tersebut hanyalah berdasarkan mitos, dan bahkan hoax, seperti keperkasaan dan stamina, dan tidak ada kajian ilmu peternakan maupun gizi yang mendukung hal tersebut. Berbeda dengan hewan ternak seperti sapi, babi dan ayam, hewan liar tidak pernah beradaptasi dengan manusia. Mereka seharusnya dibiarkan saja di habitat masing-masing. Hewan ternak pun, jika kesehatannya tidak dijaga dengan baik, bisa menimbulkan infeksi zoonosis juga. Apalagi hewan liar yang monitoring kesehatannya oleh dinas veteriner tidak mungkin serutin hewan ternak. Jangan lupa bahwa sebelumnya, kasus zoonosis juga sering terjadi, salah satunya adalah berpindahnya virus simian dari primata non-manusia ke manusia, dan bermutasi menjadi virus HIV.

Perspektif ekologis untuk memandang permasalahan ini sangat penting, karena paradigma kita dalam memandang mikro-organisme atau jasad renik akan berubah. Karena kesadaran lingkungan hidup kurang diangkat, jarang diangkat fakta bahwa 90% dari bakteri ternyata non-patogen, dan banyak mikroorganisme yang membantu kita untuk mendekomposisi sampah organik, mempersiapkan makanan fermentasi, menjaga flora usus, dan sebagainya. Virus yang merupakan parasit intraseluler obligat sekalipun, jika hostnya tidak diganggu, dalam hal ini hewannya, maka tidak akan mengganggu kita. Permasalahannya, kita mengganggu habitat jasad renik dan virus tersebut, juga hostnya, demi pemuasan hasrat konsumtif kita terhadap protein hewani, maupun untuk kepentingan ekstensifikasi pertanian. Kita ‘mengumumkan perang’ terhadap mereka yang tidak bisa kita lihat tersebut. Sehingga, paradigma eradikasi akan menyebabkan mereka menjadi lawan kita, dan memusnahkan mereka adalah satu-satunya pilihan dalam framework ‘perang eksistensi’. Sementara bakteri dan virus berusaha beradaptasi dengan menginfeksi kita sebisa mungkin, untuk bertahan hidup atau mereplikasi materi genetik kita untuk kasus virus.

Dalam kondisi darurat seperti pandemi sekarang ini, paradigma eradikasi memang tidak bisa dihindarkan, yaitu kita harus kembangkan obat maupun prosedur sterilisasi untuk hentikan infeksi tersebut ‘once and for all’. Namun jika berpikir lebih strategis atau jangka panjang, pendekatan yang lebih holistik untuk menghadapi problematika ini sangat dibutuhkan. Kita sama sekali tidak perlu takut dengan makhluk yang tidak bisa kita lihat. Walaupun berat, over konsumsi terhadap protein hewani, maupun produk pertanian memang harus dihentikan, dan dikonsumsi sewajarnya sesuai anjuran ahli gizi. Namun, berfilosofi supaya menjadi bijak seperti itu ternyata tidak mudah.

Mengapa seakan ilmu pengetahuan modern seperti kesulitan menghadapi pandemi COVID-19? Padahal ilmu biologi molekuler sudah berkembang sangat pesat, dan melahirkan ilmu-ilmu baru lainnya seperti Bioinformatika dan Biomedik. Di sisi lain, ilmu manajemen kepemimpinan modern juga sudah berkembang pesat, sehingga mampu mengelola organisasi yang paling kompleks sekalipun. Dengan perkembangan yang pesat ini, sains dan manajemen justru seharusnya berkontribusi mengatasi pandemi. Apa yang sesungguhnya terjadi? Salah satu penyebabnya adalah masalah lingkungan hidup juga semakin kompleks, sejalan dengan berkembangnya ilmu pengetahuan dan manajemen modern. Paradigma ‘menaklukkan dan mengeksploitasi alam’ justru semakin intensif sejalan dengan berkembangnya peradaban manusia modern, untuk kepentingan konsumsi kebutuhan manusia yang seakan tidak ada habisnya. Peradaban manusia modern banyak mengkonsumsi barang dan jasa yang diinginkan (want), tidak hanya yang dibutuhkan (need). Hasrat (desire) ternyata kejar-kejaran dengan kebutuhan primer dan sekunder manusia. Episteme rasionalisme Descartes “Aku berpikir, maka aku ada”, sudah secara total digantikan oleh episteme keserakahan “aku ingin, maka aku ada” atau “aku berhasrat, maka aku ada”. Hasrat yang tiada henti akan eksploitasi lingkungan telah mengakibatkan hadirnya penyakit zoonosis seperti COVID-19 diantara kita. Ini bukan yang pertama, karena sebelumnya telah terjadi dengan pandemi avian influenza, flu spanyol, HIV/AIDS, flu hongkong, Dengue, dan lain-lain. Belum lagi berbagai penyakit ‘non-communicable’ yang berkorelasi langsung dengan gaya hidup hiper konsumtif yang tidak ramah lingkungan.

Kemajuan ilmu pengetahuan modern belum secara optimal dibarengi dengan paradigma ekologis, sebab masih banyak yang berpendapat bahwa temuan ilmu lingkungan seperti perubahan iklim adalah hoax, dan paradigma lingkungan hidup selalu dibenturkan secara simetris dengan pertumbuhan ekonomi oleh para ‘deniers’ tersebut. Jauh sebelum pandemi COVID-19, ahli lingkungan sudah dibenturkan secara frontal dengan politisasi perubahan iklim, dan hoax di media sosial oleh aktivis climate change deniers. Di sini pentingnya supaya semua cabang ilmu hayati atau biosains di universitas menyisipkan muatan lingkungan hidup dan biodiversitas pada pengembangan keilmuannya, terutama pada kurikulum perguruan tinggi.

Editor: Ridwansyah Rakhman

berita terkait

Image

News

Waduh! Bukannya Terima Vaksin Corona, 3 Nenek di India Malah Disuntik Anti-Rabies

Image

Olahraga

Piala Eropa 2020

Delapan dari 12 Kota Tuan Rumah Piala Eropa Perbolehkan Kehadiran Penonton

Image

News

Harapan Sultan Atas Aturan Larangan Mudik Lebaran

Image

News

Golek Garwo Ora Iso Mudik, Ajang Pencarian Bakat di Masa Pandemi

Image

News

788 Pasien Positif Covid-19 Dirawat di Kota Bogor

Image

Gaya Hidup

Lawan Covid-19

Lawan Covid-19, SehatQ Hadirkan Sentra Vaksinasi di BSD City

Image

News

5 Fakta Penting Paspor Vaksinasi COVID-19, Didukung Banyak Negara namun Ditentang WHO

Image

News

Lawan Covid-19

Cuma Punya 37 Dokter, Bhutan Sukses Vaksinasi 470 Ribu Orang Hanya dalam 9 Hari

Image

News

Pekerja Seks Brasil Gelar Demo, Tuntut Dijadikan Prioritas Penerima Vaksin Corona

komentar

Image

0 komentar

terkini

Image
News

Pemkab Kapuas Hulu Sidak Toko Sembako Demi Pastikan Stok Pangan Jelang Ramadan

dari hasil pengecekan, masih ditemukan sejumlah toko yang menjual makanan dan minuman yang tidak layak konsums

Image
News

Pemkab Malang Tetapkan Status Tanggap Darurat Gempa Bumi

Gempa yang mengguncang Jawa Timur mengakibatkan sejumlah korban jiwa

Image
News

Pemprov Jatim Jamin Biaya Pengobatan Korban Gempa

umlah korban luka ringan hingga berat yang dirawat di RSSA Malang berjumlah 11 orang.

Image
News

Tambang Batu Bara Xinjiang Kebanjiran, 21 Pekerja Masih Terjebak

Banjir yang menggenangi sebagian tambang telah menyebabkan listrik padam pada Sabtu (10/4) jam 6 petang waktu setempat.

Image
News

Sidang Isbat Awal Ramadan Bakal Digelar Besok

Sidang akan digelar secara terbuka dan disiarkan live

Image
News
MPR RI

Strategi Pelaksanaan Vaksinasi Harus Ditingkatkan Jelang Ramadan

Pemahaman masyarakat terkait vaksinasi yang tidak membatalkan puasa, harus ditingkatkan

Image
News

Tampil Beda, Wanita AS Ini Ekspos Video Kentutnya di OnlyFans

Emma Martin 'menjual' konten kentutnya secara online hingga meraih pendapatan senilai USD 4.200 (Rp60 juta) per bulan.

Image
News

DPR Minta TNI-Polri Perketat Penjagaan Pasca Teror KKB Terhadap Guru

Masyarakat diminta tetap tenang

Image
News

Komisi VIII: Perlu Kerja Keras Untuk Atasi Masalah Kemiskinan

Pasalnya kemiskinan terjadi multi dimensi

Image
News

Jelang Ramadhan, Pemkab Garut Pastikan Stok Kebutuhan Pokok Aman

Masyarakat tidak perlu khawatir akan kehabisan bahan pokok maupun harga naik

terpopuler

  1. Haris Pertama: Silahkan Hancurkan Saya, Laporan Terhadap Abu Janda Tidak Akan Pernah Ditarik!

  2. Bikin Baper, 6 Potret Romantis Teuku Rassya dan Kekasih yang Manis Abis!

  3. Flyover Tapal Kuda Bikin Macet, Pemprov Berencana Lakukan Pelebaran Jalan di Lenteng Agung

  4. 5 Potret Seru Kahiyang Ayu Momong Anak, Ibu Idaman!

  5. Iseng Banget! Warganet Hitung Harga Outfit Pilot di Sinetron Indonesia

  6. Pangeran Philip Meninggal Dunia, Berapa Total Harta Kekayaannya?

  7. Polemik Penceramah Agama di PT Pelni Dibatalkan, Said Didu: Pak Menteri BUMN Hendaknya Tidak Diam

  8. Soal Anggaran Rp800 Juta untuk Tugu Sepeda, Wagub DKI: Silahkan Tanya ke Konsultan

  9. Ringan Tangan, 7 Zodiak Ini Dikenal Senang Membantu Orang Lain

  10. Pembangunan Tugu Sepeda Sudah 80 Persen, Pekerja: Tinggal Pasang Lampu 

tokopedia

fokus

Webinar Akurat: DP 0 Persen
Info Kementan
Paramount Land
Lawan Covid-19

kolom

Image
Ajib Hamdani

Peningkatan Plafond KUR Pemerintah, Menguntungkan UKM atau Konglomerasi?

Image
Abdul Bari

Merefleksikan Kembali Arti Kesuksesan

Image
Khazangul Huseynova

Tahun Nizami Ganjavi

Image
Roso Daras

Pesan Doni Monardo kepada Putra-putri “Pahlawan Citarum Harum”

Wawancara

Image
Video

VIDEO Menstruasi Gak Lancar Tanda Ada Kista dan Berujung ‘Angkat’ Rahim?!? | Akurat Talk (2/3)

Image
Video

VIDEO Keliling Ruang Kontrol BMKG, Tempat Pantau Cuaca Hingga Bencana se-Indonesia | Akurat Talk

Image
Video

Akurat Talk

VIDEO Duh! Laki-laki Sering Jadi Tersangka Toxic di Hubungan, Padahal Mah… | Akurat Talk (3/3)

Sosok

Image
Gaya Hidup

Hartini Chairudin, Pemilik Brand Radwah Meninggal Dunia

Image
News

6 Potret Menyentuh Jokowi dengan Warga, Terbaru Berikan Jaket ke Pemuda NTT Korban Longsor

Image
News

5 Gaya Sporty Menlu Retno Marsudi Berolahraga, Kece Abis!