Akurat.co - Cepat Tepat Benar
Login / Sign Up
Image

Achsanul Qosasi

Anggota III BPK RI

Tanggung Jawab Kemerdekaan

Image

Anggota III BPK RI Achsanul Qosasi | Istimewa

AKURAT.CO "Kita tak akan pernah sama, tapi kita pasti bisa bersama. Perbedaan itu ada bukan untuk dipermasalahkan, tapi untuk kita rayakan.”

Oleh karena itu, makna hakiki kemerdekaan adalah kebebasan untuk menjadi mandiri: menjadi diri sendiri, berbudaya sendiri, beragama sendiri, memilih profesi sendiri dan seterusnya. Negara hadir, dengan semua pranata sosialnya, untuk memastikan bahwa hak-hak setiap warga negara dan kelompok sosial terjamin dan bahwa setiap irisan sosial yang memerlukan peraturan perundang-undangan tak terbengkalai dan berujung sebagai ladang konflik.

Demikian pula, kemerdekaan benar-benar dimiliki sebuah negara jika ia berdaulat penuh secara politik, ekonomi, budaya dan aspek-aspek kehidupan sosial lainnya. Bahwa antar negara terdapat interdependensi atau kesalingtergantungan adalah hal yang tak bisa ditolak. Akan tetapi, interdependensi yang mencederai kedaulatan adalah independensi, ketergantungan dengan posisi tawar yang lemah, yang sejatinya merupakan bentuk keterjajahan.

Untuk saat ini, jika diri kita ditanya mendalam dan berulang-ulang, “Sudahkah bangsa dan negara ini benar-benar merdeka?” Jawabannya boleh jadi akan beragam dan berubah-ubah. Secara patriotis-simbolik semua atau mayoritas kita akan menjawab “Sudah!” Sebab saat ini kita sudah bebas merayakannya di manapun kita berada, kecuali mungkin di wilayah konflik seperti pedalaman Papua karena alasan keamanan. Tak akan ada negara lain yang mencegah atau melarang.

Akan tetapi, kemerdekaan dalam arti semata-mata sebagai kebebasan melakukan perayaan adalah semu. Kemerdekaan yang sekadar berbentuk upacara atau pemasangan simbol-simbol adalah amat naif.

Kemerdekaan yang hakiki dijelaskan dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar (UUD) 1945. Indikasi pertama dan ini yang paling umum dirayakan adalah bahwa sebagai sebuah negara dan bangsa kita sudah terlepas dari penjajahan fisik. Tak ada lagi negara yang mengklaim bahwa rangkaian kepulauan yang kini bernama Indonesia adalah milik atau berada dalam pemerintahan mereka.

Imperialisme dan kolonialisme fisik telah lama usai. Hampir semua kelompok sosial yang menginginkan sebuah negara di seluruh belahan dunia telah berhasil memilikinya. Atau paling kurang, jika bukan dalam bentuk sebuah negara yang berdaulat penuh, kelompok-kelompok sosial yang mendiami wilayah tertentu telah memiliki otonomi luas yang menjamin kemerdekaan mereka dalam mengurus diri sendiri.

Namun dalam alinea pertama terdapat frase perikemanusiaan dan perikeadilan. Seiring dengan itu, pada alinea kedua kata “merdeka” dirangkai dengan kata “bersatu, berdaulat, adil dan makmur”. Dan dalam Alinea keempat merupakan tugas negara untuk melindungi seluruh rakyat dan wilayah, memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial.

Dalam usia yang sudah genap 75 tahun ini, hemat saya, sesuai amanah UUD 1945, tugas utama setiap anak bangsa adalah menyikapi dan berbuat sesuai kemampuan dan bidang masing-masing untuk mengisi kemerdekaan. Perikemanusiaan, perikeadilan, kemakmuran dan kesejahteraan adalah isi kemerdekaan yang masih harus terus diperjuangkan dan tak akan pernah diberikan cuma-cuma oleh siapapun atau oleh negara manapun.

Dan untuk itu kita tak bisa berkilah bahwa sesuai Pembukaan UUD 1945 itu semua adalah tugas “Pemerintah Negara Indonesia”. Selain bahwa kemampuan sebuah pemerintahan negara bukan tak terbatas, sistem demokrasi yang menjadi pilihan bangsa ini hanya akan berjalan ketika terjadi dialektika yang kuat dan kontinu antara warga negara yang berkeadaban (civilians) dengan para penyelenggara pemerintahan, aparatur sipil maupun aparatur militer.

Di satu sisi, warga negara yang duduk sebagai penyelenggara pemerintahan dan aparatur negara, yang pada hakikatnya hidup dari pajak dan penghasilan negara lainnya, merupakan pengemban amanah yang wajib bertanggung jawab atas amanah tersebut. Di sisi lain, pertanggungjawaban amanah hanya akan terwujud memadai jika warga sipil sebagai pemberi amanah bertindak dalam koridor kebijakan yang dibuat penyelenggara negara serta di saat bersamaan menjalankan fungsi pengawasan demi adanya checks and balances.

Berangkat dari kerangka pemikiran demokrasi ini, kualitas perikemanusiaan, perikeadilan, kemakmuran dan kesejahteraan sebagai isi kemerdekaan hanya akan terwujud dalam suatu kegotong-royongan. Setiap warga negara harus saling membantu, baik antar sesama dalam satu relasi atau jaringan sosial maupun dalam hubungan dengan para penyelenggara dan aparatur negara.

Tetapi ini adalah kerangka teoritis sekaligus sebagai sebuah cita-cita bersama sebelum dan setelah kemerdekaan. Kita tahu, misalnya, meskipun sudah 75 tahun merdeka, ketimpangan tingkat kemakmuran dan kesejahteraan rakyat di mana di dalamnya melekat perikemanusiaan dan perikeadilan masih terjadi dari tahun ke tahun.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik pada Maret 2020, tingkat ketimpangan pengeluaran penduduk Indonesia yang diukur dengan Rasio Gini adalah pada angka 0,381. Ini meningkat 0,001 poin dibandingkan dengan angka pada September 2019, yakni sebesar 0,380 dan menurun 0,001 poin dibanding dengan Maret 2019 yang sebesar 0,382.

Seiring dengan itu, Rasio Gini perkotaan pada Maret 2020 sebesar 0,393, yakni naik dibanding Rasio Gini September 2019 yang sebesar 0,391 serta Rasio Gini Maret 2019 yang sebesar 0,392. Sedangkan rasio gini di daerah pedesaan pada Maret 2020 sebesar 0,317, yakni naik dibanding Rasio Gini pada September 2019 yang sebesar 0,315 dan sama dengan Rasio Gini pada Maret 2019 yang sebesar 0,317.

Contoh lain betapa kemerdekaan ini harus dimaknai dan diisi dengan lebih baik adalah persoalan gizi buruk. Negara yang merdeka, maju, makmur dan sejahtera tak akan mengalami ini. Data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018 terkait anak-anak menunjukkan tingkat obesitas mencapai 8 persen, tingkat kekurangan gizi (wasting) sebesar 10,2 persen dan tingkat kegagalan pertumbuhan tubuh dan otak (stunting) mencapai 30,8 persen. Dan Studi Status Gizi Balita di Indonesia (SSGBI) yang dilakukan di 34 provinsi pada 2019 menunjukkan betapa angka stunting pada balita mencapai 27,67 persen.

Sementara itu, di tengah wabah Covid-19, kasus-kasus gizi buruk tentu akan meningkat. Perkiraan UNICEF, jumlah anak yang mengalami wasting dan stunting di seluruh dunia akan meningkat 15 persen (atau 7 juta) pada tahun pertama pandemi Covid-19. Cara hitungnya adalah bahwa setiap satu persen penurunan produk domestik bruto (GDP) secara global akan menaikkan jumlah kasus gizi buruk sebanyak 0,7 juta.

Kembali pada cita-cita demokrasi negara dan bangsa ini, bahwa harus terwujud perikemanusiaan, perikeadilan, kemakmuran dan kesejahteraan, alangkah baiknya jika di hari-hari peringatan kemerdekaan ini bukan lagi simbolisasi dalam bentuk seremoni dan basa-basi yang menonjol. Segenap penyelenggara pemerintahan dan aparatur negara, dengan segala sumber daya yang telah dikuasakan oleh rakyat, harus berpikir dan bertindak lebih produktif dan visioner daripada sekadar sebagai penyalur atau pengawas bantuan sosial.

Sementara setiap warga negara, dalam momentum bencana ini, harus menyadari bahwa makna kemerdekaan bukanlah sekadar perlombaan-perlombaan atau perayaan. Kemerdekaan itu justru bermakna sebagai kebebasan dalam berbuat yang terbaik bagi diri, keluarga dan lingkungan sosial. Kemerdekaan semestinya menjadikan setiap diri mandiri dan bermartabat sehingga tak menjadi beban bagi siapapun.

Allaahu a’lam bi al-shawaab.

baca juga:

Editor: Bayu Primanda

berita terkait

Image

Iptek

Desain Kolom Pencarian Google Pada Ponsel Kini Lebih Efisien

Image

News

Tragedi Black January

Image

Ekonomi

Syekh Ali Jaber Wafat, Medsos Bergema Ungkapkan Duka Cita

Image

News

Transformasi Episode Dalam Dimensi Merdeka Belajar

Image

News

Tiga Cerita Selera Humor Prof Muladi, Sisi Lain

Image

Olahraga

Madura United

Abimanyu dan Zulfiandi Diminta Jangan Tolak Tawaran Klub Luar Negeri

Image

News

Keterbukaan Informasi: Gapura Pencegahan Korupsi

Image

News

Hidup Sukses dengan Lima Jari

Image

News

Memangkas Birokrasi

komentar

Image

0 komentar

terkini

Image
News
Lawan Covid-19

Hari Ini Jokowi Jalani Vaksinasi COVID-19 Kedua

Sebelumnya Presiden Jokowi menerima suntikan pertama pada 13 Januari 2021.

Image
News

Pasutri Jadikan Bocah 13 Tahun PSK, Sekali Kencan Rp500 Ribu

Polisi menangkap sepasang suami istri muda karena menjadi otak prostitusi online.

Image
News
Lawan Covid-19

Pemprov DKI Segera Tambah Rumah Sakit Rujukan Covid-19

Penambahan kasus positif COVID-19 di Indonesia melebihi angka 1 juta.

Image
News

Minta Anies Mundur, Politisi PAN: Ali Lubis Tidak Etis

Lumkanul menilai apa yang dinyatakan Ali Lubis tidak etis.

Image
News

Dua Pelajar Tewas Terseret Air Bah di Bima

Seluruh k.rban berhasil dievakuasi dalam keadaan meninggal dunia dan langsung dibawa ke rumah duka,

Image
News

Penerapan PPKM Kota Mojokerto Efektif Tekan COVID-19

Mojokerto menjadi kota yang tidak termasuk dalam daftar kabupaten kota yang ikut perpanjangan PPKM jilid dua

Image
News

Pasien COVID-19 Sembuh di Sulawesi Tenggara Mencapai 7.720 Orang

Kasus sembuh hari ini tercatat lebih banyak dari kasus baru

Image
News

Polri Sebut Tidak Ada Jenderal yang Menganggur

Brigjen Rusdi Hartono menegaskan bahwa tidak ada istilahnya perwira menganggur di kepolisian.

Image
News

Hamdan Zoelva: Bawaslu Berhak Mendiskualifikasi Paslon yang Terbukti Lakukan Pelanggaran TSM

Paslon Nomor Urut 03 Eva Dwiana-Deddy Amarullah didiskualifikasi karena menyalahgunakan dana bansos Covid.

Image
News

Kasus Positif COVID-19 di Bali Bertambah 542 Orang

Angka ini sekaligus sebagai rekor harian tertinggi, terhitung sejak kasus pertama Maret 2020

terpopuler

  1. Istri Diopname, Suami Diam-diam Sisipkan Rp50 Juta di Dompetnya untuk Pesan Makan

  2. Bikin Ngakak! Humor Gus Dur tentang Teroris Bukan Mati Syahid, Tapi Mati Sakit

  3. Catat! 4 Waktu Ketika Malaikat Turun ke Bumi dan Mendoakanmu

  4. Agar Kamu Selamat dari Ganasnya Covid-19, Baca Doa dan Amalan ini

  5. Ada 'Taliban' di KPK, Alexander Marwata: Mungkin Maksudnya 'Militan' Berantas Korupsi

  6. Wow! 18 Ribu Laki-laki Sudah Daftar Jadi Pacar Bayaran Dinar Candy, Kamu Termasuk?

  7. Seorang Wanita Nekat Bunuh Diri Lompat dari Apartemen, Sialnya Ada Wanita Lain yang Malah Tertimpa Jasadnya

  8. Awas Tertipu! Ini Daftar Lengkap 154 Layanan Investasi Ilegal yang Ditutup

  9. Geram dengan Hoax Vaksin Covid-19, Ruhut: Tolonglah Hormati Kerja Keras Pak Jokowi!

  10. Punya Modal Cuma Rp2 Juta, Putar Lewat Bisnis Ini Aja!

fokus

Kaleidoskop 2020
Akurat Solusi: Kenaikan Cukai Tembakau
Lawan Covid-19

kolom

Image
Abdul Hamid

Ilusi Dilema Demokrasi dan Integrasi

Image
UJANG KOMARUDIN

Menanti Gebrakan Kapolri Baru Pilihan Jokowi

Image
Kementrian Luar Negeri Republik Azerbaijan

Tragedi Black January

Image
UJANG KOMARUDIN

Kapolri Baru

Wawancara

Image
Video

Akurat Talk

VIDEO Gesits Buktikan Kendaraan Listrik Ramah Perawatan | Akurat Talk (2/2)

Image
Video

VIDEO Gesits, Cita-cita Bangsa Ciptakan Kendaraan Listrik | Akurat Talk (1/2)

Image
Video

Bukan Mistis, Gangguan Jiwa Adalah Gangguan Medis | Akurat Talk (3/3)

Sosok

Image
News

5 Fakta Menarik Maya Nabila, Mahasiswa S3 ITB yang Baru Berusia 21 Tahun

Image
News

5 Fakta Penting Habib Muhammad bin Ahmad Al-Attas, Tunaikan Haji Lebih dari 29 Kali

Image
News

4 Fakta Penting Deva Rachman, Istri Kedua Syekh Ali Jaber yang Jarang Tersorot