Akurat.co - Cepat Tepat Benar
Login / Sign Up
Image

Afriadi, S.Fil.I, M.IKom

Anggota Dewan Redaksi Akurat.co

Langkah Politik Negarawan ala Jokowi

Image

Afriadi, S.Fil.I., M.IKom, Anggota Dewan Redaksi Akurat.co | Dok. Akurat.co

AKURAT.CO, Presiden Joko Widodo memiliki kecerdasan dalam membuat langkah-langkah politik mengejutkan, yang membletot mata dan menyedot perhatian publik. Terbaru, memberikan anugerah tanda jasa dan kehormatan kepada Fahri Hamzah dan Fadli Zon. Yaitu Penghargaan Bintang Mahaputera Nararya, bintang penghargaan sipil tertinggi karena dianggap berjasa ketika menjabat Wakil Ketua DPR 2014-2019.

Pemberian penghargaan terhadap Fahri Hamzah dan Fadli Zon bersamaan dengan pemberian tanda jasa dan kehormatan kepada 53 tokoh nasional lainnya pada Kamis, 13 Agustus. Ini merupakan seremoni rutin menjelang peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia, di mana tahun ini merupakan yang ke- 75.

Publik seantero Indonesia mengetahui bahwa Fahri Hamzah dan Fadli Zon adalah dua tokoh politik yang tidak saja berada dalam kubu yang berseberangan dalam dua kali pemilu presiden, tetapi juga sangat vokal dalam mengeritik pemerintahan Presiden Jokowi sejak 2014. Para lovers Jokowi sudah pasti mempunyai perasaan sangat tidak suka kepada dua tokoh ini.

baca juga:

Namun, menurut Presiden Jokowi, kedua tokoh tersebut juga berhak mendapat penghargaan karena telah berjasa terhadap bangsa dan negara. Argumen lainnya, ini bukanlah keputusan Presiden Jokowi sendiri, tetapi juga setelah melalui "… pertimbangan-pertimbangan yang matang oleh Dewan Gelar, Tanda Jasa, dan Tanda Kehormatan. Jadi pertimbangannya sudah matang,” ujar Jokowi.

Hal yang lebih menarik, tentu saja, seperti bisa dilihat dalam video wawancara pasca pemberian tanda kehormatan, adalah bagaimana Presiden Jokowi berekspresi dan berkomunikasi dengan penuh kerendahhatian. Dengan enteng beliau menjelaskan bahwa, “… pertanyaan mengenai Pak Fahri Hamzah kemudian Pak Fadli Zon yang berlawanan dalam politik, berbeda dalam politik, ini bukan berarti kita ini bermusuhan dalam berbangsa dan bernegara. Inilah yang namanya negara demokrasi."

Presiden Jokowi menyatakan juga bahwa dia “… berkawan baik dengan Pak Fahri Hamzah, berteman baik dengan Pak Fadli Zon.” Dan menegaskan lagi tentang demokrasi bahwa “Inilah Indonesia". Sangat mungkin publik mempertanyakan kebenaran ungkapan “berkawan baik” ini.

Bagi lawan politik Jokowi, penganugerahan gelar kepada dua politisi kritis tersebut, sangat terbuka dilihat dari sisi negatif. Dalam lingkup kecil, ini bisa saja dibahasakan sebagai salah satu cara untuk mengamankan dinasti politik. Dan, dalam lingkup yang besar, ini merupakan langkah demi mengamankan gerbong politik yang telah mengusung Jokowi sejak 2014 atau bahkan sebelum itu.

Seperti kita tahu, misalnya menjelang Pilkada, anak Presiden Jokowi, Gibran Rakabuming mencalonkan diri dalam  Pilkada Solo, dan menantunya, Bobby Nasution, mencalonkan diri dalam Pilkada Kota Medan. Demikian pula, anak Wakil Presiden Ma'ruf Amin, Siti Nur Azizah, juga mencalonkan diri dalam pemilihan Walikota Tangerang Selatan.

Dalam rentang waktu yang lebih panjang, bisa saja Jokowi dan gerbong politik yang mengitarinya tengah membidik tahun politik 2024. Dengan memperhatikan indikasi kemesraan  PDI-P dan Partai Gerindra sejak usai Pemilu 2019, misalnya, bukan tak mungkin langkah-langkah strategis menuju koalisi telah mulai dilakukan keduanya.

Jika Fadli Zon adalah ikon kontroversial dari Partai Gerindra, Fahri Hamzah adalah politisi yang terbuang dari Partai Keadilan Sejahtera (PKS) dan telah mendirikan partai baru yang pada dasarnya bermain dalam ceruk konstituensi yang sama. Keduanya, oleh karena itu, bisa saja dirangkul untuk memastikan supaya menjadi buah catur yang bisa bermain dan dimainkan dalam berbagai game politik ke depan.

Langkah Politik Negarawan

Sikap dan keputusan politik Presiden Jokowi memberikan penghargaan kepada Fahri Hamzah dan Fadli Zon, serta bagaimana beliau mengomunikasikannya kepada publik, pada dasarnya mudah dipahami. Secara psikologis, kita tahu, pembawaan yang tenang dan ndeso serta komunikasi yang langsung disertai guyon telah menjadi ciri khasnya. Konsisten terlihat sejak muncul di ranah politik dengan menjadi Walikota Surakarta, Gubernur DKI Jakarta dan kemudian Presiden RI. Dan, sejauh ini, itu amat efektif dalam komunikasi politik Jokowi kepada publik.

Di sisi lain, dalam periode keduanya, Presiden Jokowi tak memiliki beban untuk mempertahankan elektabilitas dirinya seperti pada periode pertama. Sebaliknya, secara kultural, periode terakhir ini adalah waktu untuk mengukir sejarah sebaik-baiknya. Sebagai presiden yang ke-7, Jokowi harus meninggalkan monumen-monumen mahakarya, legacy, baik yang bersifat bendawi maupun konseptual.

Seiring dengan faktor kultural tersebut, sikap dan keputusan Presiden Jokowi terkait penghargaan kepada dua pengeritik terdepannya bisa dilihat pula dalam kacamata kenegarawanan. Kata kunci Jokowi dalam hal ini adalah Indonesia, perbedaan dan demokrasi.

Sebagai negarawan, Jokowi ingin menunjukkan kekhasan demokrasi Indonesia. Demokratisasi yang didambakan dan diupayakan Jokowi berbasis pada harmoni dan kegotongroyongan, bukan demokrasi yang habis-menghabisi dengan menghalalkan segala macam cara. Presiden Jokowi adalah orang yang gerah dengan penggunaan politik identitas.

Dalam konteks demokratisasi harmonis ini, penganugerahan gelar kepada dua lawan politik tersebut bisa dipahami. Pertama, itu merupakan modelling atau memberikan teladan dan rekam jejak. Kedua, itu adalah sebagai langkah merangkul, terutama untuk seiring-sejalan dalam menyelesaikan persoalan-persoalan bangsa, apalagi di tengah badai krisis saat ini.

Selanjutnya, seperti ditegaskan oleh Fadli Zon dan Fahri Hamzah dalam kesempatan yang sama, perbedaan politik sendiri pada dasarnya adalah untuk check and balances. Dalam kapasitas sebagai wakil rakyat, keduanya wajib bersuara lantang, terutama sesuai dengan fungsi pengawasan sebagaimana dimanahkan oleh undang-undang.

Pilihan Presiden Jokowi untuk menempuh jalan demokratisasi harmoni ini sebenarnya bukan yang pertama kali. Dalam periode pertama pemerintahannya, 2014-2019, Presiden Jokowi menerima Partai Golongan Karya (Golkar), Partai Amanat Nasional (PAN) serta Partai Persatuan Pembangunan (PPP) untuk bergabung dalam koalisi pemerintah setelah sebelumnya berseberangan.

Demikian pula dalam periode kedua, 2019-2024. Sejauh ini  Presiden Jokowi telah mengangkat Prabowo Subianto, penantangnya dalam Pemilu Presiden, menjadi Menteri Pertahanan, Edy Prabowo sebagai Menteri Kelautan dan Perikanan, serta menerima dengan tangan terbuka kunjungan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY).

Dengan memberikan penghargaan kepada Fahri Hamzah dan Fadli Zon, Jokowi sedang memperteguh personal branding-nya sebagai Presiden yang mendambakan demokrasi Indonesia berbasis harmoni dan kegotongroyongan.

Aspek keteladanan pribadi dan politik serta langkah-langkah demokratisasi Sang Presiden adalah dua hal yang layak disyukuri dan diikuti di tengah kondisi politik Indonesia yang minus keteladanan.

Wallahualam bisshawab.

Editor: Arief Munandar

berita terkait

Image

News

Bobby Nasution: Tidak Ada Rapat di Keluarga Presiden Sebelum Penentuan Calon

Image

News

Ketimbang PSBB Gagasan Anies, Gerindra DKI Lebih Sreg Mini Lockdown Usulan Jokowi 

Image

News

Terkejut Biaya Swab Test Mahal, Teddy Minta Pemerintah Turunkan Harga Sampai Rp10 Ribu

Image

Ekonomi

Tol Manado Bitung Diresmikan Jokowi, Ampuh Gairahkan Ekonomi Sulawesi Utara?

Image

News

Pasca Dibubarkan, KAMI Tuntut Polri Tak Tebang Pilih Tegakkan Protokol Kesehatan

Image

News

LKIP: Tak Layak Isu Komunisme Digunakan di Era Ini

Image

News

Ladeni Pernyataan Jokowi Soal Mini Lockdown, Wagub Riza: Kami Sudah Melakukan Dengan Istilah Lain 

Image

News

Rustam Ibrahim Sarankan Presiden Jokowi Dialog Virtual Bersama Rakyat Seminggu Sekali

Image

Ekonomi

Menlu: Relawan Uji Fase III Vaksin COVID-19 Tak Ada Efek Samping Berat

komentar

Image

0 komentar

terkini

Image
News

Helikopter untuk Bubarkan Demo, Kapolri: Itu Melanggar SOP, Harus Diberi Sanksi

Idham mengatakan andai di masa sekarang masih boleh menerapkan hukuman badan, dia pasti menempeleng oknum

Image
News

Ucap 'Ishaallah' saat Debat, Joe Biden Dipuji Warga Muslim

Setelah melontarkan hadis Nabi Muhammad di kampanyenya, Biden terekam mengucapkan kata 'Ishaallah' dalam debat capres

Image
News

Pengelola Hotel Kosongkan 9 Kamar Dari Pasien Covid-19, untuk Apa?

Setiap hotel yang menampung pasien penyakit menular ini wajib mengosongkan 9 kamar dari pasien corona

Image
News
MPR RI

MPR: Kesuksesan Pilkada dan Penanganan Pandemi Harus Jadi Prioritas Utama

Setiap elemen masyarakat harus bertanggungjawab dan berkontribusi sesuai peran dan kemampuan masing-masing.

Image
News

3 Langkah Mudah Dapatkan Token Listrik Gratis Periode Oktober-Desember 2020

Subsidi tersebut diberikan pemerintah dalam rangka meringankan beban masyarakat di masa pandemi virus corona atau COVID-19

Image
News

Cerita AHY Tentang Sang Kakek yang Dikenal Sebagai Penumpas PKI

Dalam foto tersebut nampak sosok Letnan Jenderal TNI Sarwo Edhie Wibowo

Image
News

Pelaku Vandalisme Musala di Tangerang Muslim, Ferdinand: Inilah Wujud Provokasi Kebencian!

S mengaku bahwa ia belajar ilmu agama melalui channel Youtube dan yakin dengan aksi yang dilakukannya.

Image
News

Di Acara Mata Najwa, Gibran Tidak Mewajibkan Masyarakat Solo untuk Memilih Dirinya

Saya nothing too lose. Menang ya Alhamdulillah. Kalah ya nggak apa-apa

Image
News
DPR RI

34.959 Guru Honorer Segera Diangkat PPPK, Komisi X Desak Seleksi Dipercepat

Kami menyambut gembira terbitnya Perpres 98/2020. Mereka akan segera mendapatkan nomor induk pegawai (NIP).

Image
News

Prakiraan Cuaca  DKI Jakarta Awal Oktober

Prakiraan Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) cuaca cerah berawan mewarnai Ibu Kota Jakarta.

terpopuler

  1. Najwa Dikabarkan Tolak Dirjen Kemenkes, Denny: Kalau Benar, Memalukan!

  2. Baru Seminggu 'Lawan' Raja Salman, Anggota Partai Oposisi Arab Saudi Sudah Mundur

  3. Vandalisme Musala di Tangerang, Ferdinand: Yang Suka Gunakan Kata Kafir hanya Kaum Intoleran

  4. Duh! Wanita Berbibir Terbesar Dunia Melawan Dokter

  5. Vandalisme di Musala Tangerang, Fadli Zon: Bisa-bisa yang Melakukan Orang Gila Terlatih

  6. Saat Joe Biden dan Istri Pelukan Usai Debat, Donald Trump Justru Lakukan ini

  7. 5 Potret Anies Baswedan saat Muda, Disebut Mirip Artis Luar Negeri!

  8. Banjir Ancam Jakarta, Anies Baswedan Bilang Sekarang Durasi Hujan Pendek, tapi Airnya Banyak

  9. Najwa Shihab Wawancara Bangku Kosong, Ferdinand: ini Menyerang Terawan

  10. Gatot Nurmantyo Cuma Bisa Tersenyum Saat Melihat Demonstran Penolak KAMI Langgar Prokes

tokopedia

fokus

Webinar Akurat: Peran Strategis IJK
Akurat Solusi : Roadmap IHT
Webinar Akurat: Resesi Ekonomi

kolom

Image
Achsanul Qosasi

Komunisme dan Kearifan

Image
Dr. Abd. Muid N., MA.

Pandemi dan Pohon Khuldi

Image
UJANG KOMARUDIN

Pilkada yang Tak Ditunda

Image
Arif Hidayat

3 Cara untuk Anda Bisa Menjadi Karyawan Terbaik

Wawancara

Image
Iptek

Saat Dominasi Kontraktor Besar Masih Kejam

Image
Video

Akurat Talk

VIDEO Fahri Hamzah: Saya Dari Kecil Jualan Kopi | Akurat Talk (2/2)

Image
Video

Akurat Talk

VIDEO Ngomongin Hobi Sampai Harga Outfit Fahri Hamzah | Akurat Talk (1/2)

Sosok

Image
News

5 Momen Menteri Kelautan dan Perikanan Edhy Prabowo Tangkap Hasil Laut, Seru Banget!

Image
News

5 Fakta Menarik DN Aidit, Jadi Loper Koran hingga Dikenal Dekat dengan Presiden Soekarno

Image
News

Kisah Cinta Tragis Pierre Tendean dan Rukmini, Bikin Mewek