Akurat.co - Cepat Tepat Benar
Login / Sign Up
Image

Dr. Arli Aditya Parikesit  

Ketua Program Studi S1 Bioinformatika Indonesia International Institute for Life Sciences (I3L), dapat dihubungi pada akun twitter @arli_ap

Diskursus antara WHO dan Sains 'Vis a Vis Post-truth' Era Pandemi COVID-19

Image

Ahli juga mengatakan bahwa orang-orang di seluruh dunia harus terbiasa hidup dengan COVID-19 | SCMP

AKURAT.CO, Kasus positif COVID-19 di Indonesia sudah menembus angka 100 ribu. Sementara itu, berdasarkan data WHO (Organisasi Kesehatan Dunia), penderita COVID-19 seluruh dunia sudah menembus angka 16 juta penduduk dunia, dengan jumlah terbesar per hari ini masih di Amerika Serikat. Sejalan dengan kenaikan kasus tersebut, diskursus yang mengajak publik secara terbuka untuk meninggalkan pedoman (standard operating procedure/SOP) WHO dalam menghadapi adaptasi kebiasaan baru, yang juga didukung dan disosialisasikan pemerintah, semakin menggema.

Publik semakin tidak comply terhadap pemakaian masker, jaga jarak, dan cuci tangan. Kerumunan massa yang melanggar SOP WHO tersebut semakin sering terjadi di mana-mana. Pendengung anti-WHO mendapatkan suara di berbagai forum, termasuk di media massa dan terutama di media sosial. Di satu sisi, walaupun baik WHO dan pemerintah kita sudah melakukan upaya ‘policing’ terhadap media massa dan sosial, namun selalu saja suara-suara anti-WHO masih menggema di berbagai penjuru. Namun disisi lain, Terjadi kegamangan, karena jika pemerintah bertindak terlalu keras terhadap pihak yang mempromosikan pelanggaran SOP WHO, maka tuduhan pelanggaran HAM akan digemakan para aktivis tersebut. Aktivis anti-WHO memang berpendapat bahwa pemaksaan SOP WHO di era kebiasaan baru ini adalah melanggar kebebasan individu, dan terutama menggangu aktivitas ekonomi mereka yang biasanya dilakukan di platform luring pada era pra-pandemi.

Tragedi wabah seperti COVID-19 sebenarnya sudah diabadikan oleh seniman Albert Camus dalam novel ‘Sampar’. Novel ini bercerita mengenai wabah mengerikan yang datang ke kota Oran, di Aljazair, yang saat itu masih menjadi koloninya Perancis. Walaupun sebagai filosof eksistensialis, Camus tidak membawa pesan moral apapun di buku tersebut karena berpegang pada episteme absurditas, namun kami sebagai ilmuwan bisa terlihat bahwa Camus menunjukkan sangat jelas bahwa nakes berusaha sangat keras untuk melawan wabah mengerikan tersebut. Sayang sekali diskursus mengenai perjuangan nakes di buku ini tenggelam dengan wacana ‘dekonstruksi’ maupun ‘melawan narasi besar’ dari WHO atas nama kebebasan berbicara atau freedom of speech. Camus tidak tertarik melawan atau mendekonstruksi narasi besar dari WHO atau darimanapun. Camus hanya tertarik menunjukkan walaupun resikonya sangat besar, dan resiko besar inilah konsekuensi dari absurditas eksistensi manusia, perjuangan nakes di buku ‘sampar’ patut diapresiasi dengan sebaik-baiknya. Camus menunjukkan bahwa Seni bisa bergandengan tangan dengan sains, yang diwakili oleh para nakes.

baca juga:

Albert Camus berkarya di era dimana post-truth belum menjadi diskursus utama, dan para filusuf post-modern di Perancis dan Amerika Serikat yang menjadi ‘bidan’ diskursus post-truth masih berkuliah di kampus masing-masing. Sekarang, diskursus post-truth menunjukkan bahwa banyak pihak, termasuk publik pada umumnya, hanya percaya terhadap informasi yang membuat diri mereka nyaman, terlepas informasi tersebut benar atau tidak, valid atau tidak. Jika SOP WHO membuat mereka tidak nyaman menggunakan masker, mereka akan menolak mempercayainya, karena itu membuat mereka keluar dari zona nyaman. Menghindari ketidaknyamanan harus dilakukan dengan segala cara, salah satu caranya adalah mengkonfirmasi semua informasi yang sesuai kepercayaan mereka, tidak penting itu benar atau salah secara ilmiah dan faktual. Kondisi ini diperburuk dengan algoritma media sosial yang akan memberikan informasi maupun iklan yang sesuai dengan profil, preferensi, maupun ideologi kita sendiri. Sehingga wawasan kita akan semakin terbatas di kolam informasi yang sama. Hal yang memprihatinkan ini sebenarnya bisa diatasi dengan langkah sederhana.

Solusinya adalah Log out dari semua media sosial dan jaringan internet, lakukan diskusi kelompok (hang out) dengan tetap ikuti pedoman WHO, dan mulailah membaca buku yang memperkaya wawasan kita. Jika kelompok diskusinya terlalu besar (lebih dari 10 orang), opsi terakhir adalah menggunakan video conferencing, dengan tetap log out dari semua media sosial tanpa kecuali. Aktiflah pada forum group discussion yang membahas berbagai buku yang bahkan bertentangan dengan belief kita sendiri. Jika kita pro-WHO, coba dilihat bahwa WHO juga punya kelemahan, misalnya penolakan mereka mengakomodasi suara Taiwan, yang sangat sukses mengatasi pandemi COVID-19 di negaranya walaupun jarak mereka dengan Wuhan, episenter pertama pandemi sangatlah dekat, hanya semata-mata karena mereka bukan anggota WHO.

Kemajuan riset epidemiologi dan biomedis negara Taiwan yang sangat luar biasa dianggap WHO tidak signifikan sama sekali karena mereka mengadopsi ‘one China policy’, sesuai dengan kesepakatan majelis umum PBB, yang dikawal oleh dewan keamanan PBB juga. Walaupun diisolasi oleh WHO, Taiwan bisa bertahan, bahkan menunjukkan performans menghadapi pandemi COVID-19 yang jauh lebih baik dari hampir semua negara barat, Jepang, Korea Selatan, dan China sendiri yang sangat benci dengan mereka karena warisan permusuhan era perang dingin. Kemudian, WHO juga awalnya berpendapat bahwa pemakaian masker hanya untuk yang sakit, walau itu sudah direvisi. Policy mengenai maskerisasi ini seharusnya diterapkan dari awal. Salah satu juga hal yang disayangkan dari WHO adalah kegagalan mereka menegosiasi Amerika Serikat untuk jangan meninggalkan organisasi tersebut. Amerika adalah salah satu negara dengan peraih nobel sains terbanyak di dunia, sehingga jika WHO melanjutkan pertempuran melawan COVID-19 tanpa negara paman Sam tersebut, bisa dipastikan upayanya tidak akan optimal karena resource lab biomedis terbaik di dunia salah satunya ada di negara adidaya tersebut. WHO gagal menegosiasi pemerintahan Trump, karena kurang memahami logika bisnis yang digunakan Trump. Sebagai seorang pengusaha, Trump hanya memahami bahasa bisnis. Seharusnya WHO juga mengirim negosiator yang paham akan bahasa dan jargon-jargon bisnis dalam menghadapi Trump dan timnya.

Jika kita anti-WHO, cobalah membuka diri bahwa riset epidemiologi dan biomedis di seluruh dunia menunjukkan bahaya yang sangat nyata dari pandemi COVID-19. Virus SARS-CoV-2 merupakan virus yang masih dipelajari dengan sangat ekstensif, dan obat maupun vaksinya sedang dalam pengembangan oleh berbagai pihak yang melakukan uji klinis. Jika kita tidak memiliki kompetensi dalam bidang medis, kita tidak punya wewenang untuk membantah mereka yang sudah berpuluh-puluh tahun mempelajari virus korona, dengan berbagai variannya. Sesama nakes dan peneliti biomedis pun akan ‘samina wa athona’ terhadap apapun yang ditemukan dan diputuskan para ahli virologi virus korona terkait pandemi COVID-19, semata karena itu bukan bidang kajian mereka. Apalagi kita-kita yang bukan nakes. Sekali lagi, dengan berdiskusi dan membaca buku yang menyajikan diskursus kritis terhadap kepercayaan kita, maka kita akan diperkaya wawasannya, dan akan dengan mudah memflush semua hoax yang mengkonfirmasi belief kita ke keranjang sampah.

Kita akan bisa menghadapi pandemi COVID-19 ini dengan bijak, dan terutama lebih mengapresiasi kerja keras nakes di garis depan pertempuran melawan pandemi ini. Namun satu hal yang perlu dipertimbangkan, terlepas dari bertumpuk-tumpuk publikasi ilmiah di jurnal internasional bereputasi dan sejumlah laporan yang disahkan pejabat tinggi WHO mengenai bahaya COVID-19, sebenarnya sudah banyak jurnalis sains yang melakukan investigasi terhadap masalah pandemi ini. Apa yang dilaporkan oleh jurnalis desk sains dari berbagai media, sebenarnya memperkuat apa yang telah dilaporkan ilmuwan dan oficial WHO, bahwa mengikuti pedoman WHO seperti physical distancing, gunakan masker, dan sebagainya adalah cara yang paling efektif dalam menghadapi COVID-19. Jurnalis sains bahkan sudah banyak melakukan riset jurnalistik dengan melibatkan berbagai pihak yang berada di garis depan dalam menghadapi pandemi, seperti nakes. Mereka tidak pernah memuat atau mengendorse pendukung teori konspirasi atau anti-WHO dalam reportase mereka kepada publik. Jurnalis sains tidak hanya menggali informasi dari media sosial atau googling, namun mereka mencari fakta di lapangan, secara luring, dengan melakukan scientific investigation dalam ilmu publisistik. Disana, mereka menemukan bahwa mereka memiliki kepentingan yang sama dengan WHO.

WHO memang tidak sempurna dan banyak kelemahannya. Itu harus kita sadari. Namun WHO adalah partner yang paling cocok bagi kita semua dalam menghadapi pandemi mengerikan ini. Bekerjasama dengan WHO, walaupun tetap kritis terhadap kekurangan mereka, akan menguntungkan kita semua. WHO sudah berhasil membantu dunia mengeradikasi penyakit cacar (smallpox) di tahun 80an, dan semoga selanjutnya COVID-19 bisa dieradikasi dengan bantuan dan dorongan dari mereka.

Sekali lagi, solusinya adalah log out, discussion, and reading books. Tidak mengakses media sosial dalam waktu cukup lama tidak akan membuat hidup kita kekurangan sesuatu hal pun, jurnalis desk sains sudah menunjukkan hal tersebut. Ingat saja bahwa berdasarkan banyak riset psikologi, kegagalan kita bersosialisasi di dunia nyata, akan membuat masalah bagi pengembangan diri kita. Kegagalan itu lebih nyata lagi, jika kita hanya memilih bergaul dengan mereka yang menshare belief system yang sama.[]

 

Editor: Ainurrahman

berita terkait

Image

News

Ketua Komite III DPD RI Sylviana Murni Dukung Penundaan Pilkada 2020

Image

Gaya Hidup

Wabah Corona

Pergantian Cuaca Pengaruhi Penyebaran COVID-19? Begini Penjelasannya

Image

News

Wabah Corona

Kinerjanya Kurang, Menkes Terawan Dikritik Pedas oleh Media Asing

Image

News

Wabah Corona

Kabar Baik, Arab Saudi Gelar Umrah Secara Bertahap Mulai Oktober

Image

News

Wabah Corona

Tempat Tidur Pasien di Rumah Sakit Rujukan COVID-19 Terus Menyusut

Image

Hiburan

Wanita ini Kebingungan Cari Masker saat Disidak, Ternyata Nyantol di Kepala

Image

News

Pemkot Depok Minta Tambahan Nakes COVID- 19

Image

News

Pilkada Tetap Jalan Meski Covid-19, Akademisi: Sebaiknya Tiru Selandia Baru

Image

Olahraga

Liga Primer Inggris 2020-2021

Inggris Kemungkinan Batal Izinkan Penonton ke Stadion

komentar

Image

0 komentar

terkini

Image
News

Jamkrindo Berpartisipasi dalam Pembangunan Kampus UNU

Jamkrindo ingin berkontribusi dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia di sektor pendidikan.

Image
News

Polda Metro Jaya Kembali Bongkar Klinik Aborsi

Salah satu pelaku ada yang berprofesi sebagai dokter.

Image
News

Rumah Nuraini yang Minta Dibangun Masih Terkendala Lahan Milik Keluarga

Salah satu persyaratan program bedah rumah dari Pemkot Tangsel adalah status lahan yang jelas kepemilikannya

Image
News

Merasa Dikhianati Timur Tengah, Palestina Mundur dari Kursi Ketua Pertemuan Liga Arab

Palestina menganggap kesepakatan antara Uni Emirat Arab (UEA) dan Bahrain dengan Israel itu sebagai pengkhianatan perjuangan mereka.

Image
News

Gelar Acara Nobar Liga 1 2020 dan Buat Kerumunan, Cafe dan Mall Bakal Ditutup

Pemerintah DIY mengimbau bagi warganya agar tak menciptakan kerumunan di luar stadion, dalam hal ini dengan menggelar acara nobar

Image
News

Hari Maritim Nasional, Rektor Unhan Ingatkan Laut Halaman Depan NKRI

Maritim bukan sekedar soal laut saja, namun juga ruang udara di atasnya.

Image
News

Webinar Sekolah Kajian Stratejik UI Bahas Soal Pencegahan Residivisme Teroris

Hasil diskusi ini untuk memberikan masukan atau pendapat kepada negara.

Image
News

Wagub DKI Ahmad Riza Patria Usulkan Sanksi Pidana Bagi Pelanggar Protokol Covid-19 di Raperda

Perda penanganan Covid-19 ini akan lebih memiliki kekuatan hukum dan kepastian bagi kepala daerah menangani wabah corona

Image
News

Sah! Gibran-Teguh dan Bajo Siap Berlaga di Pilkada Surakarta

Keduanya telah memenuhi persyaratan administrasi pendaftaran secara secara lengkap dan sah.

Image
News

Ketua Komite III DPD RI Sylviana Murni Dukung Penundaan Pilkada 2020

Pasal 120 Ayat (1) menjelaskan, jika ada bencana non alam mengakibatkan tahapan pilkada tidak dapat lanjut dilaksanakan, maka penundaan bisa

terpopuler

  1. Kwik Kian Gie Kutip Pernyataan UAS Soal Penanganan Covid-19

  2. Pembangunan Trotoar Biang Kerok Banjir Jakarta, Anies Baswedan Kena Omel DPRD 

  3. Hukum Menahan Kentut saat Salat

  4. 5 Fakta Lika Liku Hidup Benyamin Sueb, dari Pengamen hingga Raih Piala Citra

  5. Demi Anak Istri, Driver Ojol Ini Tak Pernah Tolak Orderan Pasien COVID-19 di Wisma Atlet

  6. Habis Pamer Program Andalan, Wagub Riza Malah Minta Warga Bersiap Hadapi Banjir

  7. 5 Bintang Sepak Bola dengan Gaji Termahal di Liga Inggris, Ada yang Makan Gaji Buta

  8. KPK Lanjutkan Penyidikan Perkara Pinangki, Jampidsus Enggan Spekulasi

  9. Positif Covid-19, Sule Belum Hubungi Keluarga Nunung

  10. 360 Karyawan Kesehatan di DIY Terkonfirmasi COVID-19

fokus

Akurat Solusi : Roadmap IHT
Webinar Akurat: Resesi Ekonomi
Tokopedia Dorong Digitalisasi UMKM dan Inklusi Keuangan

kolom

Image
Achsanul Qosasi

Kerjasama Tim, Inkonsistensi Kebijakan dan Covid-19

Image
Khalifah Al Kays Yusuf dan Tim Riset ALSA

Dampak Kebijakan PSBB Terhadap Hak Pekerja

Image
Dr. Arli Aditya Parikesit

Pandemi COVID-19 dan Bencana Ekologis Planet Bumi

Image
Dr. Abd. Muid N., MA

Dilema Mayoritas-Minoritas dalam Islam

Wawancara

Image
Iptek

Saat Dominasi Kontraktor Besar Masih Kejam

Image
Video

Akurat Talk

VIDEO Fahri Hamzah: Saya Dari Kecil Jualan Kopi | Akurat Talk (2/2)

Image
Video

Akurat Talk

VIDEO Ngomongin Hobi Sampai Harga Outfit Fahri Hamzah | Akurat Talk (1/2)

Sosok

Image
News

5 Pesona Mutiara Annisa Baswedan dengan Rambut Pendek, Lebih Fresh!

Image
News

5 Potret Pramono Anung saat Bersepeda, Capai Puluhan Kilometer!

Image
News

5 Potret Annisa Yudhoyono saat Berhijab, Pesonanya Terpancar!