Akurat.co - Cepat Tepat Benar
Login / Sign Up
Image

Abdul Hamid

Direktur Visi Indonesia Strategis

Penentu Sukses Pilkada di Masa Pandemi

Image

Petugas Panitia Pemungutan Suara (PPS) membantu warga melakukan Pemungutan Suara Ulang (PSU) di TPS 34 kelurahan Bambu Apus, Cipayung, Jakarta Timur, Sabtu (27/4/2019). Pemungutan suara ulang tersebut rata-rata dilakukan karena banyaknya pemilih yang menggunakan e-KTP tanpa memiliki A5 saat hari pencoblosan pada 17 April 2019. | AKURAT.CO/Dharma Wijayanto

AKURAT.CO, Di tengah ketidakpastian kapan pandemi coronavirus (Covid-19) akan berakhir, Pemerintah, DPR, dan Penyelenggara Pemilu sepakat menggelar pemilihan kepala daerah (Pilkada) 2020 pada 9 Desember 2020. Ini menjadi Pilkada bersejarah karena untuk pertama kalinya digelar dalam kondisi tidak biasa, di mana jutaan jiwa diintai virus mematikan setiap saat dan negara diintai krisis ekonomi terparah sepanjang sejarah.

Sebagai negara demokrasi, Indonesia menghadapi tekanan mendalam yang belum pernah terjadi sebelumnya. Selain dihadapkan pada masalah kesehatan dan ekonomi, saat bersamaan ia dituntut konsisten berpijak pada dasar- dasar yang menyangga tatanan demokrasi.  Salah satu dasar itu adalah hajatan demokrasi yang menjadi agenda rutin. Bisa dibayangkan, ada 270 daerah yang akan dipimpin kepala daerah berstatus pelaksana tugas (Plt) dengan kewenangan terbatas jika Pilkada 2020 ditunda terlalu lama.  

Selain Indonesia, negara demokrasi lain juga menghadapi tekanan serupa. Institute for Democracy and Electoral Assistance (IDEA) mencatat, setidaknya ada 59 negara yang dihadapkan pada kondisi sulit terkait hajatan demokrasi di masa pandemi. Pilihan sulit karena sesuai agenda harus dilaksanakan pada saat dimana pandemi belum berakhir. 51 negara diantaranya memilih menunda. Tetapi delapan negara memilih tetap menyelenggarakannya. Satu dari delapan negara itu adalah Korea Selatan.

baca juga:

Korsel menggelar Pemilihan Legislatif (Pileg) pada 15 April 2020. Meski dinilai berhasil mengendalikan sebaran Covid-19, bukan berarti Korsel sudah bebas betul dari virus ini. Masih ada tiga ribu lebih pasien positif saat Pileg digelar pada 15 April 2020. Tetapi kampium demokrasi Asia Timur ini tidak mau menyerah. Hasilnya, mereka sukses menggelar Pileg dengan angka partisipasi yang sangat tinggi, 66%. Menigkat 8,1 dari tahun sebelumnya, dan menjadi yang tertinggi sejak 1992.  

Kesuksesan Korsel memberikan harapan kepada kita, bahwa hajatan demokrasi bisa berjalan meski pandemi belum berakhir. Tentu dengan segala perubahan dan inovasi yang dilakukan di dalamnya. Pandemi membuat semuanya berubah, termasuk pelaksanaan hajatan demokrasi. Sebab selain memastikan semua tahapan berjalan lancar, kompetisi berlansung fair dan berkualitas, juga tidak menjadi klaster baru penambahan kasus positif Covid-19.

Tantangan Pilkada 2020

Kita bisa meniru sejumlah inovasi Korsel, tetapi tidak secara mentah. Indonesia dan Korsel adalah dua negara yang berbeda dalam banyak hal, mulai dari budaya politik hingga sistem ketatanegaraan.

Yang paling krusial, Indonesia dan Korsel berbeda sangat jauh dalam pra kondisi pelaksanaan pemilihan. Saat Korsel menggelar Pileg, kepercayaan publik terhadap pemerintah, penyelenggara (NEC), maupun kepada partai politik cukup tinggi. Berbeda dengan Indonesia. Pilkada 2020 berlangsung di saat kepercayaan publik sedang rendah, baik kepada pemerintah sebagai penanggungjawab, KPU sebagai penyelenggara, maupun kepada partai politik sebagai peserta.

Kepercayaan publik yang tinggi membuat kerja politik berjalan efektif di Korsel. Saat Komisi Pemilihan Nasional (NEC) mengajak pemilih menyalurkan hak pilihnya, mereka percaya NEC dan pemerintah sudah menjamin keselamatannya dari sebaran Covid-19. Saat datang ke TPS, NEC dengan mudah meminta pemilih mematuhi Kode Perilaku Pemilih, yang memuat instruksi mendetail untuk mencegah sebaran Covid-19. Partai politik juga mematuhinya. Kampanye konvensional berbentuk pengumpulan massa dihindari. Beralih ke kampanye digital yang inovatif, tanpa sentuhan fisik tapi menjangkau target pemilih.

Tanpa kepercayaan publik yang tinggi, semua itu sulit dijalankan. Dan itulah yang terjadi di Indonesia. Semua nampak serba sulit. Misalnya, yang paling menyedihkan, alih-alih menerapkan protokol kesehatan secara sukarela, yang terjadi adalah perebutan paksa jenazah pasien Covid-19 di sejumlah daerah. Mereka tidak percaya pasien itu benar-benar meninggal karena virus mematikan. Ketidakpercayaan pada pemerintah, mengular pada ketidakpercayaan terhadap tenaga medis.

Ketidakpercayaan ini juga akan melahirkan tindakan-tindakan destruktif dalam Pilkada 2020. Penentu keberhasilan Pileg di Korsel adalah kepercayaan tinggi, yang melahirkan kepatuhan pada sejumlah aturan yang dibuat, sehingga kerja politik berjalan sesuai tujuan. Lalu bagaimana dengan Indonesia? Inilah tantangan utama penyelenggara pemilu. Kepercayaan terhadap penyelenggara harus dipulihkan sebelum semua tahapan dilanjutkan.

Inovasi dalam Kompetisi

Selain kepercayaan publik, yang juga menentukan sukses Pileg di Korsel adalah sikap partai politik dan kandidat. Sebagai peserta, partai dan kandidat memegang peranan penting dalam perjalanan kompetisi. Sejak awal meraka menyadari bahwa ini bukan kompetisi di masa normal. Secara sukarela mereka mengubah cara-cara berkampanye, dari metode konvensional ke metode baru yang lebih inovatif tanpa sentuhan fisik.

Kesadaran serupa harus dimiliki oleh partai politik dan kandidat yang berlaga pada Pilkada 2020. Kurva sebaran Covid-19 di Indonesia masih tinggi. Ini harus disadari dengan membuat strategi dan model kampanye yang sesuai dengan kondisi pandemi. Kampanye akbar di lapangan terbuka maupun pidato terbatas di ruangan, bahkan kampanye dari rumah ke rumah (door to door) yang biasanya dilakukan di masa normal, itu semua membutuhkan kedekatan fisik dan karenanya hindari di masa pandemi ini.

Di Korsel, metode yang banyak dipakai adalah kampanye berbabis teknologi digital dan internet. Umumnya, partai politik dan kandidat menyampaikan pesan-pesan politik lewat video menarik yang disebar di media sosial. Selain itu, tidak sedikit yang menggunakan teknologi augmented reality (AR) untuk berinteraksi jarak jauh secara virutal dengan pendukung dan target pemilih. Kampanye offline tidak semuanya ditanggalkan, tetapi dilakukan secara inovatif. Misalnya, mengampanyekan gerakan bersih-bersih lingkungan dan penyemprotan disinfektan di tempat-tempat publik.

Selain metode, pemilihan isu dan konten kampanye juga menjadi faktor penentu. Debat publik dan isu sentral yang mewarnai jalannya kompetisi adalah masalah penanganan pandemi Covid-19.

Di Korsel, kemenangan telak Partai Demokrat tidak bisa dilepaskan dari kapitalisasi isu keberhasilan Presiden Moon Jae In dalam menanggulangi Covid-19. Di awal kompetisi, Partai Persatuan Masa Depan yang menjadi oposisi sempat unggul dalam sejumlah survei. Keunggulan itu dikarenakan partai ini berhasil menyerang pemerintah yang pada awalnya lambat mengantisipasi sebaran Covid-19. Namun, kondisi berbalik setelah pemerintah membuktikan kerjanya. Partai Demokrat lalu memperoleh 180 dari 300 kursi di parlemen. Perolehan terbesar sejak transisi demokrasi 1987.

Tidak hanya di Korsel, keberhasilan penanganan Covid-19 juga berbanding lurus dengan elektabilitas kandidat di sejumlah negara. Di Amerika Serikat misalnya, sebelum pandemi, elektabilitas Donald Trump cukup tinggi. Tetapi survei terbaru dari lembaga FiveThirtyEight bekerjasama dengan The New York Times menunjukan, elektabilitasnya kini turun sebesar 13,2%. Dalam survei yang dipublikasi pada 9 Juni 2020 itu, elektablitas Trump sudah kalah oleh kandidat presiden AS dari Partai Demokrat, Joe Biden. Biden kini diunggulkan dengan selisih sekitar 10% dari Donald Trump.

Di tengah ketidakpastian kapan pandemi Covid-19 akan berakhir, psikologi pemilih cenderung mendukung mereka yang dianggap mampu menangani virus yang berawal dari Wuhan ini. Di Indonesia juga begitu. Pemilih di 270 daerah yang menggelar Pilkada 2020 akan melihat siapa di antara kandidat dan partai yang meyakinkan dalam menawarkan program penanggulangan pandemi.

Pandemi membuat semuanya berjalan tidak normal. Dalam ketidaknormalan itu semua merindukan kenormalan. Hajatan demokrasi yang berlangsung di masa ini harus berlangsung dalam semangat mewujudkan kerinduan itu menjadi kenyataan. Kompetisi tidak saja menyesuaikan dengan kondisi pendemi, tetapi saat bersamaan berlangsung dalam visi mengembalikan keadaan normal dengan tawaran meyakinkan dalam penanggulangan Covid-19.[]

Editor: Arief Munandar

berita terkait

Image

News

Komunisme dan Kearifan

Image

News

Demokratisasi di Tengah Badai Pandemi

Image

News

Mengukuhkan Persaudaraan Sosial

Image

News

Menjual Tubuh

Image

News

Organisasi Penggerak Pendidikan

Image

News

Tapak Ir. H. Joko Widodo dan Tuan Syèkh Ibrahim Sitompul

Image

News

Kolom

Rebranding Pilkada Serentak 2020

Image

News

Kolom

Kontroversi RUU HIP

Image

News

Kolom

New Normal dan Mengerucutnya Oligarki

komentar

Image

0 komentar

terkini

Image
News

JAMAN: Jokowi Seperti Kerja Keras Sendiri Tanpa Tim yang Baik

Langkah menteri-menterinya seperti langkah pion yang kerja normal, yang tidak ada lagi kebijakan out of the box.

Image
News

Airlangga: Partai Golkar telah Malang Melintang Berkontribusi Untuk Bangsa

Sejak awal reformasi Golkar biasa menghadapi cobaan yang berat

Image
News

BPPTKG Sebut Ada Peningkatan Intensitas Kegempaan pada Gunung Merapi

Puluhan gempa guguran terjadi di Merapi selama periode 20 Oktober 2020

Image
News

Polisi Belum Tetapkan Tersangka Kebakaran Gedung Utama Kejagung

Penyidik terkesan kesulitan menetapkan terduga pelaku pembakaran gedung Kejagung sebagai tersangka.

Image
News
DPR RI

Indra Iskandar: Seluruh Aktifitas DPR Dilakukan Secara WFH

Indra menegaskan, adapun tujuan dari pemberlakuan ini upaya melakukan sterilisasi seluruh gedung DPR RI.

Image
News

Momen Jokowi Lupa Nyapa Wapres, Ma'ruf Amin: Lupa Itu Manusiawi

Ma'ruf Amin akhirnya buka suara untuk menanggapi pertanyaan beberapa pihak tentang keberadaannya yang jarang tampil ke publik.

Image
News

Viral Kakek 71 Tahun Nikahi Gadis Remaja, Warganet: Mungkin Jodohmu Lagi Loading

Perbedaan usia hingga 54 tahun membuat mempelai wanita lebih cocok menjadi cucu daripada istri dari pria tersebut.

Image
News

Ernest: Satu Tahun Pemerintahan Jokowi Periode Kedua, Saya sih Kecewa

Ia mengaku memiliki ekspetasi yang tinggi dalam pemerintahan Jokowi di periode kedua ini, namun hasilnya tidak sesuai dengan yang diharapkan

Image
News

Hindari Corona Sampai Melipir ke Puncak, Rapat APBD DKI Ternyata Diikuti 800 Peserta 

Ada-ada saja alasannya

Image
News
Lawan Covid-19

Antisipasi Covid-19, Pemprov Aceh Galakkan Gencar

Gerakan Nakes Aceh Cegah Covid-19 (Gencar).

terpopuler

  1. Andi Arief ke Jokowi: Rakyat Sudah Bergerak, Mohon Tanggapi Bukan Tangkapi

  2. Dibayar Hampir Rp5 Triliun, Donald Trump Hapus Sudan dari Daftar Terorisme

  3. Politisi Nasdem Sentil Risma, Minta Kembali ke 'Jalan Lurus' sebagai Wali Kota

  4. 5 Fakta Menarik Zomato, Valuasi Capai Rp51 Triliun hingga Tutup Operasional di Indonesia

  5. Ramalan Keberuntungan Finansial Bagi Masing-masing Zodiak, Ada yang Banjir Rejeki!

  6. Nigeria Makin Kisruh, Pengunjuk Rasa Sukses Lumpuhkan Kota Terbesar Lagos

  7. Hak Jawab Nasrul Abit-Indra Catri terhadap Berita Fitnah yang Terbit di Akurat.co

  8. 5 Fakta Penting Kasus Gus Nur, Diduga Lakukan Pencemaran Nama Baik NU

  9. Ternyata Ini Cara Cegah Ereksi Cepat, Bikin Tahan Lama

  10. Pelaku UMKM Penerima Bantuan Kembali Didata Jajaran Pemkot Tangerang

tokopedia

fokus

Lawan Covid-19
Webinar Akurat: Peran Strategis IJK
Akurat Solusi : Roadmap IHT

kolom

Image
Achsanul Qosasi

Membatalkan Kompetisi Liga 1

Image
Azhar Ilyas

Albert RRQ, ‘Baby Alien’ yang Bersinar di MPL ID Season 6

Image
UJANG KOMARUDIN

Mengawal Omnibus Law

Image
ABDUL MUKTI RO'UF

Tiga Nalar Pendidikan Islam

Wawancara

Image
Iptek

Saat Dominasi Kontraktor Besar Masih Kejam

Image
Video

Akurat Talk

VIDEO Fahri Hamzah: Saya Dari Kecil Jualan Kopi | Akurat Talk (2/2)

Image
Video

Akurat Talk

VIDEO Ngomongin Hobi Sampai Harga Outfit Fahri Hamzah | Akurat Talk (1/2)

Sosok

Image
Ekonomi

Jadi Bos Mandiri, Total Harta Kekayaan Darmawan Junaidi Rp23 Miliar

Image
News

7 Pesona Selmadena Aquilla, Istri Ahmad Baihaqy Rais yang Sukses Jadi Pebisnis

Image
News

7 Potret Transformasi Wajah Presiden Jokowi dari Masa ke Masa, Gagah Sejak Muda